
Malam ini bang Dadang pulang ke rumah dengan wajah yang Ramah. Anak-anak juga telah tertidur lelap.
Meski memiliki dua kamar namun nyatanya Anak-anak masih tidur dikamar yang sama dengan kami .
Rama bilang dia takut jika tidur sendirian. Jadilah lemari terpaksa diletakkan dikamar lain agar kamar ini bisa muat untuk kami berlima.
Kini bang Dadang mendekatiku yang tengah melipat pakaian didepan kamar.
" Maafin Abang ya dek, soal tadi. Besok kita beli mesin cuci ya. Biar nanti kamu nggak kerepotan.."
Aku memandang lekat ke arah bang Dadang, rasa kesal ku dikalahkan oleh rasa penasaran
" Duit darimana bang ? "
" Abang pinjam ke bapak, sekalian tadi nanya, gimana cara pinjam uang ke bank. Biar kita bisa selesaikan teras depan, kalau nggak segera dikasih atap nanti pintu kita malah cepat rusak. Bapak juga sudah setuju dan mengizinkan kita buat menggunakan sertifikat rumahnya sebagai jaminan.."
Memang benar jika teras kami masih belum di beri atap. Tadinya memang aku mengusulkan mengunakan baja ringan saja, tapi setelah dihitung-hitung uangnya tak mencukupi. Jadinya kami biarkan saja dulu, kami tak tahu jika air hujan akan memercik kearah pintu, sehingga air hujan sering rembes ke dalam melalui pintu yang basah..
" nggak usah beli mesin cuci bang. Lagian juga nggak terlalu penting kok itu. Kalau memang bapak ada uangnya, kenapa nggak pinjam ke bapak saja bang, daripada pinjam ke bank. kan jatuhnya malah riba.."
" Bapak kan masih berat tanggungannya dek, gimana kalau seandainya mereka punya kebutuhan mendesak, kan nggak enak. Lagian kalau ke bank kan bisa dicicil bayarnya. Jadi nggak kerasa.."
Aku termenung, meneliti wajah bang Dadang yang seolah meminta persetujuan.
" Emang Abang sanggup ,bayar perbulannya..."
" Insya Allah dek, kalau cuma segitu mah Abang mampu.."
Aku diam. Jikapun aku menyuarakan keberatan atas usulannya, pasti nanti bang Dadang akan tetap melakukan hal itu.
" Sekali lagi Abang minta maaf ya dek. Soal tadi pagi. Abang khilaf.."
__ADS_1
" Huum. Aku mau nyuci dulu bang. Biar besok bisa lebih santai,."
Aku tahu jika suamiku itu lagi kepingin. Sengaja aku menghindar dan menolaknya secara halus.
Entah kenapa sikap bang Dadang yang selalu menggampangkan permasalahan yang ada membuatku diam-diam menyimpan dendam. Selalu minta maaf dengan cepat dan tanpa dosa, dan akhirnya mengulangi lagi kesalahan yang sama.
Tangan kekar itu menahan ku,
" kenapa nggak besok aja dek ?"
" Nggak bisa . Nanti kamu malah ngomel lagi, karena aku selalu nitipin anak-anak ke mbak Salma. Kecuali kamu mau bantu momong, atau gantiin tugasku mencuci..!!!"
Bang Dadang diam, kini pegangan tangannya pada lenganku melemah. Seperti biasa dia tak akan berkutik hanya dengan ucapan ku itu, nafsunya yang besar, rupanya dikalahkan dengan kemalasan untuk membantuku, meski sejatinya aku adalah istrinya sendiri...
***
Beberapa hari ini, orderan dari penjualan online ku meningkat.
" Hari ini. Abang ke bank ya Dek sama Bapak. Kita sudah janji dari semalam karena pencairan pinjaman kita dilakukan hari ini.."
" Hmm..Iya..!!"
Aku memfokuskan diriku pada pesan yang masuk di Facebook. Tak terlalu berminat akan obrolan tentang hutang itu.
" Kenapa belakangan ini kamu sering banget main hape sih. Tetangga juga bilang, kalau rumah ini sering kedatangan kurir paket. Kamu beli apa aja, hingga rutin tiap hari belanjanya..,?"
Aku kini memang lebih sering diam , jika bang Dadang ada di rumah. lebih menyibukkan diri ke hal positif daripada bicara padanya yang akhirnya malah menimbulkan pertengkaran.
" Aku jualan online bang. Dan soal kurir yang datang, itu pesanan pelanggan semua. Tenang saja, aku nggak beli untuk diri sendiri.."
" owh.. Ya sudah. Yang penting anak-anak masih keurus, meski ke suami kamu jadi cuek minta ampun.."
__ADS_1
Aku meletakkan hape ke atas meja lesehan yang ada di depanku. " Mau kamu apa sih bang ?" Aku kini mendekatkan diri padanya, kesal mulai menyesakkan diri. " Bukankah aku tak pernah menolak, jika kamu menginginkan hak mu bang.?"
" ..ya.. Benar sih. Tapi kamu nggak ada gairahnya sama sekali, sudah kayak kayu aja yang ku gauli..!!" Suara itu terdengar kesal,
Aku menggeleng tak percaya, "Harusnya Abang bersyukur meski aku capek dengan rutinitas ku seharian di rumah, setidaknya aku masih bersedia melayani meski tak sepenuh hati.."
" Nah itu, kamu berdosa dek. Harusnya kamu bisa melayani suamimu dengan baik dan sepenuh hati.."
" Abang nggak ngaca apa? Memangnya, selama kepindahan kita di rumah ini emangnya abang ada atau pernahkan ngasih nafkah ke kami sebagai keluarga. Semua kebutuhan rumah ini, sekarang kita yang bayar bang. Nggak akan ada lagi bantuan emak dan Bapak. Daripada Abang selalu mikirin kebutuhan dibawah perut abang. Sebaiknya Abang mikir bagaimana anak istrimu ini bisa kenyang.."
Tumpah sudah. Yang aku takutkan akhirnya terjadi. Hal yang aku hindari beberapa minggu ini malah di pancing oleh suamiku itu.
Selalu akan seperti ini, jika kami sudah bicara berdua. Aku muak, tapi tak tahu juga harus melakukan apa ?
pikiranku sudah terlampau penuh, memikirkan uang jajan, beli minyak dan gula, ngisi token listrik, beli gas dan segala kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sementara uang ditangan semakin menipis, akibat lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan.
Dan bang Dadang malah tambah membebani dengan hal ranjang yang selalu saja dibahas.
" Kamu itu. Sama suami kok nggak ada sopan-sopannya, bukannya sekarang kamu jualan online, pakai saja uang itu. Jangan selalu merongrong suami hanya karena aku diam di rumah belakangan ini, kalau ngomong jangan asal, seolah aku ini gak guna disini..."
Seperti yang sudah-sudah. bang Dadang akan pergi dengan membanting apapun yang ada didepannya.
aku menangis , entah untuk keberapa kalinya. Rengekan Dio yang minta jajan kini malah menambah sesak di dada.
Kupeluk anak ke dua ku itu dan mengecup keningnya berkali-kali. " I-ya.. Nak ..kita jemput dedek Bara ya. Biar bisa jajan sama-sama. ."
Dio menatap lekat kearah ku, biasanya dia akan tantrum jika keinginnannya terlalu lama di turuti, rupanya kali ini dia diam saja, seolah mengerti jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.
Aku menghapus air mata yang masih betah mengalir, begitulah. Jika menangis, maka aku akan susah mengendalikan diri lagi untuk berhenti.
__ADS_1
Semua rasa sakit yang telah lama kini malah kuingat kembali, entahlah. Sesak yang ada mungkin sudah terlanjur mendarah daging. Dan susah untuk diobati, apalagi jika terus ditambah dengan luka yang baru.