Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
ketemu Keluarga Dadang


__ADS_3

Setelah satu jam lebih perjalananan akhirnya kami sampai juga ditempat tujuan. Rumah bergaya minimalis kini nampak di mataku, dengan cat warna dominan putih. halaman nya amat luas, meski terlihat lapang karena sepertinya pemilik rumah tak terlalu suka jika banyak tanaman.


Wanita yang kira-kira hampir seumuran dengan bude nampak menyambut kunjungan ku dengan ramah, Apakah ini ibunya Dadang ?


ah ..rasanya terlalu cepat aku menyimpulkan.


Dengan sopan aku mengenalkan diriku, pada sosok wanita paruh baya tadi.


" Emak ini Siti.." Dadang malah kembali memperkenalkanku sekarang. Dan dugaan ku ternyata tepat, wanita yang masih memiliki aura kecantikan dari wajahnya ini adalah ibunya Dadang.


Emak hanya diam saja, dia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Dadang. Tanpa basa-basi mereka masuk kedalam dan Aku mengikuti meski agak aneh karena emak diam saja, hanya Dadang yang mengandeng tanganku untuk masuk kedalam rumah yang ternyata sedang ramai. Nampaknya memang benar jika mereka sengaja berkumpul untuk berkenalan denganku. Mengingat itu aku sedikit khawatir jika mereka kecewa denganku karena mungkin tak sesuai dengan yang ada dipikiran mereka.


Wajah-wajah asing itu menatapku dengan ramah. Ada 3 pemuda ABG, dan juga gadis kecil yang kutaksir usianya masih sebelas tahunan.


Dadang memperkenalkanku pada mereka satu- persatu, beruntung tak ada yang nyeletuk iseng ataupun menggoda Dadang dan aku.


Mereka seolah telah diultimatum Dadang untuk berbuat manis, dan tak berulah.


Atau karena memang Dadang disegani oleh adik-adiknya itu.


Wajah mereka hampir mirip apalagi ketiga adik laki-laki Dadang terlihat seperti kembar, mungkin jarak kelahiran mereka memang dekat !!!


aku memberikan kesimpulan sendiri.


Seperti yang ke ketahui sebelumnya Dadang adalah putra sulung Emak, Anak kedua emak adalah Andri, ketiga hafiz, keempat agung dan yang paling bungsu adalah Salsa. Salsa juga merupakan anak perempuan satu-satunya Emak.


Emak yang pamit langsung kearah dapur sedari tadi, kini datang dengan membawa nampan minuman dan juga cemilan berupa pisang goreng dan tahu bunting, lengkap dengan cabe rawit muda sebagai pelengkap.

__ADS_1


" Silahkan Mbak diminum dan dimakan..hehhe"


Salsa menatapku seraya memperlihatkan tahu dan cabe rawit di masing -masing tangan kanan dan kirinya. Ia menampakkan Giginya yang putih berbaris rapi, tersenyum manis dan senyum itu pun kini menular kepadaku " ini gorengan kesukaan Bang Dadang. Tapi jadi favorit Salsa. makanya kita sering rebutan..".


Aku menoleh kearah Dadang, nampaknya ucapan Salsa membuatnya merasa malu, Dia menunduk entah karena apa..Sedangkan mulutnya yang tadi mengunyah terhenti seketika.


" Oh ya.. kalau begitu mbak harus belajar bikin. Biar bisa sering-sering ngasih kamu .. Iyakan..."


Salsa malah melet kearah Dadang, " hahahha pasti Abang mikirnya tadi mbak Siti mau belajar karena Abang. tahu-taunya nya buat Salsa...Ya udah mbak kalau nanti bikin, kita bareng-bareng aja ,biar sama-sama belajar. Ya kan mak ??"


" Iyah perempuan itu memang harus pandai memanjakan lidah suami. Biar suami betah dirumah dan tak tergoda penjaga warteg.."


Semua nampak tertawa dengan ucapan emak tapi tidak denganku entah kenapa nada suara emak tak enak saat mengatakan itu " Kamu bisa masak kan Siti ? "


Emak kini memandangku dengan penuh selidik.


Emak memperhatikanku dari atas kebawah " Salsa saja sudah emak ajari sedini mungkin. walau tak punya titel tinggi ya minimal punya keahlian dan kemampuan yang bisa dibanggakan oleh suami dan mertuamu. Jangan jadi wanita manja, apalagi jika ingin menikah muda. semuanya bukan lagi tentang berdua . Ada keluarga besar yang harus dipikirkan.."


Wajahku terasa panas, mataku juga berkabut entah kenapa..


Namun aku memberanikan menatap emak kembali, tak sopan rasanya jika aku malah menunduk seolah acuh akan nasehat emak. " Iyah mak. Lagian kita belum kepikiran buat nikah mak. Masih muda ini.." Aku tertawa canggung menatap wanita yang melahirkan Dadang itu, mencoba mengurangi ketegangan yang aku rasakan. Tapi Emak malah diam saja tak menjawab membuatku semakin tak nyaman.


" Mbak nggak usah tegang, rileks aja. Emak emang suka horor kalau sama orang baru. Apalagi Bang Dadang bilang kalau mbak ini akan jadi istrinya.." Salsa berbicara dengan mulut penuh, ucapannya membuatku menoleh kearah Dadang. Jadi aku datang kesini sebagai calon istri bukan pacar ?


"Bang . Kami mau main keluar boleh Ya ?"


Indra akhirnya membuka suaranya, tatapan matanya memelas kearah Dadang, ketiga pemuda itu nampak kompak sekarang. aku jadi tahu jika mereka pasti dipaksa Dadang agar tetap berada di rumah saat libur seperti ini.

__ADS_1


aku hargai niat Dadang, dengan usahanya yang membuatku merasa disambut dengan hangat dan nyaman saat datang kesini. Meski aku tahu jika Emak sepertinya terlihat tak terlalu menyukaiku. Entahlah !!!


" Boleh kok . Iyakan Dang ?"


Aku menatap Dadang dengan senyum termanis ku dan juga mengedipkan mata pada ketiga adik Dadang itu, Bagaimanapun aku merasa tidak enak, karena kehadiranku mereka yang seharusnya bisa menikmati liburan tapi malah terjebak di situasi ini . Sekalian usaha agar bisa memenangkan hati adik-adiknya juga. hehhe


" Ya udah sana.. Ingat jangan buat ulah. Terutama kamu Indra. Jaga sikap kamu, jangan membuat onar lagi.."


Indra hanya cengengesan memandang kearah Dadang. Sekarang aku tahu pasti , mereka bertahan disini karena mereka menghormati abangnya, bukan karena dipaksa.


***


Waktu berjalan terasa sangat lambat, Setelah kepergian tiga adik Dadang tadi. Mendadak Salsa juga meminta Dadang mengantarnya ke rumah teman, Karena memang ada janji yang hampir saja dia lupakan. Jadilah kini hanya aku dan Emak, kami saling diam. Membuatku kikuk karena tak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana.


" Kenapa tidak melanjutkan kuliah ? " Emak akhirnya membuka suara, aku lega karena tak perlu mencari topik lagi..


"Nggak ada minat Mak. Sekarang fokus menekuni hobi, lagi asyik nulis novel. Meski nggak tahu akan dipublish atau enggak.."


Emak memperbaiki duduknya menatap tepat kearahku .


" Kamu nggak minat atau terkendala biaya ? lagian kenapa capek-capek nulis kalau akhirnya nggak dipublish ?"


Aku merasa emak sedang merendahkan kondisi ekonomi bude. Atau apa mungkin Dadang belum cerita kalau aku yatim piatu dan hanya dirawat bude sejak kecil. " Alhamdulilah kalau masalah biaya insya Allah ada. Tapi memang nggak ada niat di hati makanya nggak memaksakan.."


" Zaman sekarang , apa-apa dinilai orang dari tingginya pendidikan. Dadang sudah memutuskan untuk tak melanjutkan kuliah, kamu juga demikian. Jadi bagaimana rumah tangga yang akan kalian jalani nanti . Jika nggak ada salah satu dari kalian yang punya modal untuk digunakan agar ekonomi lebih baik.."


Aku menatap Emak yang asyik menyantap pisang goreng, matanya nampak fokus kearah luar rumah yang nampak sepi. Ada rasa pedih di hati. Apa iyahh sebesar itu pengaruh gelar dan ijazah kuliah demi untuk meningkatkan ekonomi keluarga, bukankah Dadang sendiri yang mengatakan jika dia telah nyaman dengan profesinya sebagai petani,karena sukses tak harus Sarjana...!!

__ADS_1


Aku tak tahu harus menjawab seperti apa. Jadilah aku hanya menunduk diam, menatap kakiku yang telanjang dengan perasaan tak menentu. Dalam hati aku berdo'a agar Dadang secepatnya datang dan menyelamatkanku dari situasi canggung nan horor ini...


__ADS_2