Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Akhir dan Awal


__ADS_3

Waktu dua hari ini di manfaatkan Siti dengan seefektif mungkin, dia meminta bantuan Salsa untuk mengurus berkas kepindahan Rama, untungnya selama sibuk bolak balik, anak-anaknya yang lain, ada bude yang siap sedia menjaga.


Sudah dua malam ini pula, para tetangga berdatangan, baik sekedar silahturahmi dan bahkan ada yang menanyakan secara frontal akan perceraian yang terjadi antara Siti dan Dadang. Ada yang menyayangkan keputusan mereka, ada yang membela Dadang, dan sebaliknya.


Namun Siti tak ambil pusing lagi, toh dia akan segera pindah dari rumah ini, dan juga ini adalah hidupnya, orang lain hanya bisa berkomentar sedangkan yang menjalani adalah dirinya sendiri.


Hari beranjak sore, Semua berkas akan kepindahan Rama kini telah selesai. seolah tahu jika Siti kelelahan, bude kini sibuk di dapur dan Siti ditugaskan mengajak Bara jalan-jalan, karena Dio masih lelap dalam tidurnya.


" Mbak, soal arisan. Nanti biar aku transfer aja ke rekening mbak, kalau Bang Dadang nggak mau bayar.."


Siti kini sengaja membawa Bara ke rumah Salma karena Dadang sedang di rumah mereka mengambil baju. Bukan mau menghindar dan memperburuk hubungan mereka, tapi menjaga hatinya yang memang masih terasa panas jika melihat Dadang.


Kebetulan juga dia ingat akan Arisan tahunan mereka. Siti tak mau dianggap tak bertanggung jawab dan juga penipu. Jadi dia perlu menjelaskan soal ini pada Mbak Salma.


" Dadang udah ada ngomong kok ,Ti. kalau masalah Arisan. kamu tenang aja, mbak nggak akan memberatkan kamu lagi, toh itu tanggung jawab Dadang sebagai kepala rumah tangga dan pihak laki-laki..


Sudah cukup selama ini kamu terbebani dengan semua urusan yang harusnya bukan tanggung jawabmu sebagai IRT.."


" Aku juga nggak pernah berpikir jika hubungan dan rumah tanggaku akan jadi seperti ini, Mbak.Tapi semakin aku memaksakan diri, aku malah semakin sakit hati, mbak.


ini adalah jalan terbaik dan juga satu-satunya solusi dari semua ini." Siti mengerti jika perempuan didepannya ini sangat mendukung apapun yang jadi keputusannya.


" Tapi, mbak sedih Lo Siti. Kitakan belum lama tetanggaan, kamu malah pindah. Jauh lagi, gimana nanti kalau Mbak kangen sama Dio dan Bara ..!!"


" humm, ya gimana Mbak sudah takdirnya begini. aku kan cuma menjalani, selebihnya aku serahkan kepada yang di atas.


Sabar ku, nggak terlalu luas dan banyak. Hingga akhirnya jadi tragis seperti ini..Soal anak-anak. Aku akan titip pesan ke Salsa jika kebetulan mereka dijemput ayahnya supaya diajak main kesini.."


Siti kini menangis, bukan karena merasa menyesali keputusannya, tapi karena matanya kini bertubrukan dengan mata polos Bara, merasa bersalah karena dia tak bisa bertahan demi senyum anak-anaknya. Tapi, tentu saja kewarasannya juga tak kalah penting , percuma bersama jika akhirnya akan menyakiti secara perlahan.

__ADS_1


Mereka akhirnya berpelukan, meski singkat. kebersamaan ini membuat Siti seolah dikaruniai sosok kakak perempuan.


" Semoga setelah ini kamu menemukan kebahagiaanmu. Siti..!!!"


" Aamiin mba, Mbak juga semoga selalu bahagia dan rukun dengan suami hehehe"


***


Besok merupakan hari kepindahan Siti dan anak-anak. Emak Lastri sengaja bermalam di rumah Siti agar bisa membantu berkemas sekaligus menemani cucu-cucunya untuk terakhir kali.


Lastri bahkan tak bisa tidur, dan lebih memilih memandang wajah damai Rama, cucu pertamanya.


" Belum tidur Bu Lastri ?"


Dewi, kini malah bangkit dari pembaringannya dan menatap kearah Lastri yang kini nampak menangis,


" Belum, rasanya masih seperti mimpi. Tadi bang Nurdin menanyakan ke Rama, dia mau ikut ibu atau Ayah. Dan Rama menjawab tanpa harus berpikir lagi. Dia memilih ibunya, meskipun itu adalah jawaban wajar dari seorang anak. Tapi rasanya sesak disini Bu. kami bahkan menyaksikan secara langsung pertumbuhan dan perkembangan Rama, karena dia tentu sangat istimewa sebagai cucu pertama..." Lastri mengatakan semua yang ada dihatinya.


" Semuanya sudah ketentuan Takdir Bu. Jadi kita hanya tinggal menjalani, kita juga nggak tahu kan seperti apa perasaan Siti menjalani rumah tangga yang sudah tak sehat ini, tanpa bisa menceritakan sedikitpun sesak dihatinya karena kelakuan Dadang. Ini aku katakan bukan karena membela Siti sebagai ibunya, tapi lebih ke mencoba mengerti posisi Siti sebagai seorang perempuan.."


Lastri kini memperbaiki posisinya, dia juga duduk. Kini matanya menatap sosok Siti yang tidur membelakangi mereka,


" Maafkan saya Bu Dewi, karena telah memperlakukan Siti dengan buruk. Saya seakan lupa, jika disini saya bertanggung jawab juga sebagai ibunya. Tapi saya malah membuat Siti seolah terpojok dan menelan luka ini sendirian.."


posisi Dewi yang berjarak akan Rama dan Dio membuatnya tak bisa berbuat banyak, untuk menenangkan ibu dari Dadang itu, dia hanya Mendesah pelan. Bukankah semua sudah berlalu, tak pantas rasanya jika selalu mengungkit masa lalu yang memang tak akan pernah bisa diulang kembali.


" Doakan saja, anak-anak kita bisa bahagia kedepannya Bu Lastri, meski mereka memang jodohnya hanya sampai disini.."


" Aamiin..!!"

__ADS_1


Siti meremas dadanya kuat, menahan isakkan yang hendak lolos dari bibirnya,sedari tadi dia juga belum bisa untuk memejamkan matanya. Mendengar ini Siti sadar jika begitu banyak hati yang tersakiti akan keputusan yang diambilnya. Tapi, bisakah dia egois untuk kali ini saja ?


Dia juga berhak bahagia, bersama anak-anaknya, dan juga bersama sang bude. Yang selama ini selalu tulus menemaninya.


***


Pagi akhirnya menyapa. Meski waktu seolah berjalan lambat.


Hari ini adalah awal dan juga akhir bagi Siti. Semuanya akan berbeda kedepannya nanti. Meski begitu, dia sudah membulatkan tekad agar tak lagi menoleh kebelakang. Membiarkan masa lalunya yang buruk berlalu seiring waktu. Dan soal anak-anak, dia sudah berjanji akan menemani mereka hingga sukses, dan dia akan memastikan mereka tak akan kekurangan kasih sayang. Meski dia akan menjadi single parent untuk mereka.


" Semuanya sudah siap Siti. Nggak ada yang ketinggalan kan ? "


Bude menanyakan hal ini karena kini , Siti malah terdiam ditempatnya .


" Sudah kok bude. Semuanya sudah berada di mobil.."


Travel memang telah menunggu didepan rumah, semua barang bahkan sudah tersusun rapi didalam mobil itu, Para tetangga kini telah berkumpul, seolah mengantarkan kepergian Siti. Rasa haru seketika menyeruak saat Lastri dengan bertubi-tubi menciumi cucu-cucunya secara bergantian. Bagaimanapun perpisahan adalah hal yang menyedihkan, apalagi membayangkan jika sebagai nenek dia akan sangat jarang bisa bertemu lagi dengan sang cucu.


Melihat itu sang Suami menenangkan Lastri, karena Bara malah menangis kencang, tak mengerti kenapa neneknya menciuminya seperti itu.


"Ayah nggak ikut kita ,Bu ?"


Suara kecil Dio, menciptakan keheningan seketika. Sedari tadi sosok Dadang memang tak terlihat. Pantas jika Dio menanyakan Ayahnya.


" Enggak Sayang. Tapi nanti ayah akan nyusul kita ke rumah nenek kok.."


Suara Siti tercekat. Meski sering berbohong tentang sang Ayah pada anak-anak. Tapi kebohongan kali ini seolah menghantam dadanya dengan kuat, membuat tulangnya terasa menusuk dalam hingga ia merasakan sakit yang sangat.


" Ayah nggak ngantar kita Bu..?"

__ADS_1


Rama kini bersuara, Siti tahu jika Rama telah mengerti akan perpisahan kedua orang tuanya. Hal ini membuat Siti, melemparkan pandangan kearah Lastri. menanyakan keberadaan Dadang lewat tatapan matanya..


Lastri menggeleng. Ia tahu betul akan hancur hati putranya itu, bagaimana dia akan kuat jika keluarga yang telah meninggalkan banyak kenangan malah pergi, tanpa menawarkan dirinya untuk ikut serta ..


__ADS_2