
Setelah drama Dadang yang memohon maaf pada bude Dewi ,kini mereka langsung memutuskan untuk ke rumah Siti. Agar semuanya cepat terselesaikan dan menemui keputusan terbaik bagi kedua belah pihak, meski tentu saja Dadang tidak akan menerima dengan lapang dada jika harus menempuh perceraian sebagai penyelesaian permasalahan mereka.
Pertemuan kembali antara Siti dan bude Dewi kini malah dipenuhi dengan air mata. Ibu dan anak itu berpelukan ,menangis seolah saling menguatkan satu sama lain. Setelah tenang, semuanya kini memilih duduk lesehan diruang tamu sederhana rumah Siti dan Dadang.
Siti memandang orang-orang di ruangan ini dengan pandangan penuh tanya, kenapa malah seolah dia tak tahu menahu jika bude Dewi telah dijemput oleh bapak dan juga Emak..?
Namun Siti berusaha bersikap tenang, cepat atau lambat pertemuan seperti ini pasti akan terjadi,
Tangisan Bara kini terdengar samar, semenjak keluarga Dadang dan Bude Dewi datang seolah Bara telah memiliki firasat tersendiri, batita itu tak mau digendong maupun disentuh oleh siapapun. Bahkan Salsa pun tak bisa membujuk bocah itu untuk diam, jadinya sang Tante berinisiatif mengajak Bara untuk jajan ke warung mbak Fatma.
akhirnya suara Bara tak terdengar lagi. Mereka semua merasa lega , karena jujur saja siapa yang tega melihat bocah itu menangis. Apalagi nanti jika dipisahkan dari salah satu orang tuanya, membayangkan saja rasanya sudah tak sanggup.
" Siti !! Tentu kamu tahukan maksud kami berkumpul disini, menemui mu ? Dadang sudah cerita jika kamu tertekan dengan hubungan kalian ini .." Bude membuka obrolan dengan langsung ke intinya, membuat Siti menunduk, tak mau menatap wajah sang Bude .
" Maafkan Siti bude, karena sekuat apapun aku berusaha menjalani nasehat bude, semuanya malah semakin membuatku tersiksa. aku nggak sanggup lagi, menjalani pernikahan ini. Aku benar-benar menyerah..."
Siti kini bersimpuh, di kaki Dewi, memohon pada budenya untuk mengerti akan posisinya kini..
" Izinkan aku pulang . Aku rindu Bude, sangat Rindu pulang ke rumah, karena rumah ini sudah tak nyaman lagi untukku...."
" Bude akan menerima kamu sayang. Maafkan jika bude memaksamu. Maafkan bude karena tak mampu membaca rasa sakit mu. Kita akan pulang Siti. Bawa anak-anakmu. Karena bude siap sedia kapanpun kamu akan kembali.."
Dadang sepertinya ingin protes mendengar bude Dewi yang meminta Siti membawa anak-anaknya, namun Nurdin menyentuh tangan Dadang memintanya diam saja untuk sekarang.
__ADS_1
Semuanya seolah larut, dalam rasa sedih. Emak bahkan telah menangis tersedu-sedu sedari tadi.
" Apa tak ada kesempatan lagi dek, demi anak-anak. Kasihan mereka , jika kita bercerai.."
Dadang mengiba ke Siti dengan air mata berderai.
" Seharusnya memikirkan mereka bukan hanya tugasku, bang. Tapi juga tugasmu, tapi nyatanya kamu sama sekali tak pernah memikirkan mereka saat dengan tega menyakitiku, menganggap ku istri yang banyak menuntut . Padahal kamu tahu jika kebutuhan ekonomi kita sudah tak sama seperti dulu.." Siti berucap datar, Sembari mempererat pelukannya pada sang Bude.
" Kita pulang sekarang saja bude, bisakah ? Aku akan berkemas,,"
" Tinggallah dulu disini barang sehari ,dua hari lagi ya nak. Kasihan jika anak-anak tiba-tiba dipisahkan dari bapaknya .."
Lastri akhirnya buka suara, menatap Siti dan Dewi bergantian. Ucapan Emak membuat Siti terdiam lama, antara ragu dan tak perduli, apakah hatinya benar-benar telah mati rasa terhadap Dadang ?
Dadang tak tahan lagi, akhirnya dia membuka suara.
" untuk sementara biarkan mereka di rumah bude dang, jangan mempermasalahkan ini untuk sekarang, Nggak mungkin juga kamu mengurus mereka ditengah masalah kalian, yang ada kamu malah menjadikan mereka pelampiasan atas emosi kamu.."
Dadang menunduk, rupanya tabiat buruknya telah dibuka Siti habis-habisan didepan sang Bude. Membuat Dadang lagi-lagi harus menerima apapun yang jadi keputusan sang bude. Karena sejatinya dia bahkan tak tahu akan melakukan apa nantinya jika perpisahan ini akhirnya terjadi juga.
" Aku akan tinggal disini Mak, dua hari ke depan. Juga untuk mengurus kepindahan Rama. Tapi aku mohon padamu bang, untuk sementara , aku memintamu tidur di rumah Emak. Sampai kami keluar dari rumah ini.. Silahkan jika Abang Ingin menempatinya "
Bude mengenggam tangan Siti yang kini terasa dingin , bagaimanapun keadaan hubungan mereka kini, Dewi tahu hati Siti pasti hancur saat meminta ayah dari anak-anaknya itu untuk pergi. Meski hanya sementara.
__ADS_1
Dadang akhirnya beranjak pergi, terlihat jelas jika wajah yang biasanya penuh gengsi dan amarah itu, kini dipenuhi air mata.
Tapi Siti seolah telah benar-benar mati rasa, karena ini bukan yang pertama kali baginya melihat Dadang menangis, tapi tetap berujung melakukan kesalahan yang sama. Jadi wajar, jika Siti mengangap air mata Dadang Adalah air mata buaya, yang sama sekali tak bisa dipercaya.
Nurdin menatap Siti sang menantu dan juga Dadang secara bergantian, bagaimanapun ada rasa sesak didadanya karena anak sulungnya mesti melewati ini dalam hidupnya, meski dia tetap menyalahkan Dadang , tetap saja, dia menyimpan kesal akan kegigihan hati Siti yang mantap bercerai.
"Bu Dewi, sebagai wali dari Siti, bagaimana menurut Bu Dewi, akan harta gono-gini Dadang dan juga Siti ? Jujur sebagai pihak dari laki-laki saya merasa malu, menanyakan soal ini. Tapi, hal ini harus segera dibahas agar tak jadi masalah dikemudian hari...,"
Bude kini memandang lekat kearah Siti, sebelum menjawab pertanyaan sang besan, yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
" Kalau menurut saya ,pak. Alangkah baiknya jika rumah ini di balik nama menjadi milik anak-anak. Dan soal hutang pembuatannya, saya akan bertanggung jawab untuk melunasinya. Inipun jika bapak dan juga ibu tak keberatan dengan usulan saya.."
Lastri mengangguk sebagai tanda setuju akan ucapan Dewi,
" Soal hutang pembuatan itu akan jadi tanggungan Dadang bu Dewi, karena dia adalah pihak laki-Laki disini. Dan soal rumah ini saya sangat setuju jika ini menjadi haknya anak-anak .."
Lastri kini beranjak dan mendekati Siti, memeluk menantu yang selama ini telah berbakti padanya, menantu yang pernah dianggapnya rendah hanya karena berpendidikan rendah, menantu yang selama ini tak pernah berkata nanti apalagi tidak atas semua keinginan dan perintahnya. Sungguh dia menyesal akan waktu yang dilewati oleh dirinya dan juga Siti. Belum juga dia menebus kesalahannya ,rumah tangga anaknya malah harus berakhir seperti ini..
Siti juga ikut menangis di pelukan nenek dari anak-anaknya itu, Meski singkat merasakan ketulusan Emak, tapi Siti merasa sangat berat. perpisahan ini nyatanya tak bisa lagi dihindari.
" Maafkan Siti Mak.. !! Keputusan ini terpaksa Siti ambil, .."
Lastri malah semakin menangis karena mendengar permintaan maaf dari bibir Siti, seharusnya dialah yang meminta maaf, tapi kini bibirnya seolah terkunci rapat hingga tak ada satu ucapan pun yang lolos,,sebagai bentuk timbal balik.
__ADS_1