Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Kejutan Untuk Rama


__ADS_3

Pagi menjelang, meski hujan turun dengan rintik-rintik sejak subuh. Hal itu tak menyurutkan semangat anak-anak Siti. Hari ini adalah hari yang dijanjikan oleh sang nenek, dimana mereka akan dibawa ke Mall. Itu yang dikatakan Rama pada adik-adiknya saat membangunkan mereka pagi-pagi sekali.


" Yeyy...Ayo nek . Cepat. " Rama langsung menghampiri sang nenek yang baru saja keluar dari kamar,


" Ayo kemana ? kok tumben sudah mandi kamu bang? kan masih libur sekolahnya ?"


Bude Dewi menatap ketiga anak Siti yang telah rapih itu dengan mata penasaran.


" Loh bukannya satu Minggu lagi lebaran Nek. Kan nenek sudah janji bakalan ajak kita belanja baju baru dan sendal baru !!" Rama menampakkan wajah kecewanya,


" Iyah tapi kan masih lama Bang ?! Kan baru beberapa hari kita puasanya !"


" Tapi aku denger ibu sama om Fian telponan katanya mau pergi buat belanja.." Dewi kini mengalihkan pandangan pada sosok Siti yang baru selesai mandi, kebetulan sekali sosok ibu dari ketiga cucunya itu datang .


" Kenapa Bude ?"


" Anakmu ini loh, Ti !! nagih janji ke bude, padahal kan belum sampai waktunya !" Bude Dewi tersenyum


"emangnya bener kamu mau pergi belanja sama Fian ,?"


Siti gelagapan, niatnya memang hari ini dia akan belanja karena ingin memberi kejutan pada Rama, yang berulang tahun. Tak disangka sang target malah mendengar pembicaraannya meski hanya setengah-setengah..


Dia kemudian memindai penampilan anak-anaknya yang sudah wangi dan tampak keren


" Bara siapa yang mandiin dan siapin bajunya, Bang?"


" Bang Rama. Bu !! katanya biar ibu nggak terlalu repot, makanya dibantuin..."


Jawaban polos Dio membuat Siti terharu akan sosok putra sulungnya itu. Rama selalu saja berhasil membuatnya terkejut sekaligus terpukau dengan semua kelakuan dan tingkahnya yang seolah telah dewasa.


" oke.!!! Kita berangkat hari ini , tapi tunggu om Fiannya datang ya ,!!"


Siti sengaja menatap Dio saat menyebut nama Fian, ingin tahu apakah trauma yang dirasakan anak keduanya itu masih sangat kuat atau malah sudah hilang sama sekali.


Namun Dio cuek saja, Sekarang malah dia nampak asyik mendengarkan cerita Rama yang antusias melakukan perencanaan akan apa saja yang mereka lakukan nanti saat berada di mall..


Siti lega, dan kini matanya menatap bude Dewi


" Bude mandi sana !!! bude juga harus ikut hari ini... Aku yang traktir...!!"


" Tapi Siti.. !!"


" Ayolah nek. ikut kita yah...!!!" kompak ketiga cucunya juga membujuk akhirnya membuat bude mengalah dan melangkah kearah kamar mandi membersihkan diri.


Rama dan adik-adiknya sangatlah antusias hingga mereka memilih duduk di teras rumah, untuk menunggu kedatangan Fian.


Sementara itu, Siti kini tengah dilanda kebingungan , dia memang telah berjanji pada Fian tapi hanya berdua, dan niatnya pun untuk menyiapkan segala sesuatu untuk merayakan ulang tahun si sulung Rama.


" bagaimana ini bude ? Kasian mereka kalau batal !!"


" Yah salah kamu sendiri, telponan didekat Rama. Kan kamu tahu sendiri anak kamu yang satu itu, sensitifnya minta ampun..!" Bude ikut memandang keluar, terdengar tawa Rama dan adik-adiknya dari sana.

__ADS_1


" Jangan dibatalkan Ti, Ubah saja waktunya jadi sore, sekalian kita buka diluar buat perayaan ultahnya Rama ! Gimana ?"


Siti tampak berpikir dan tak lama senyum terbit di bibirnya, dia menatap sang bude dengan mata penuh kebahagiaan.


" Makasih bude, bude emang the best. Sekarang aku telpon Fian dulu bude ,untuk perubahan rencana hehheh!!"


Bude mengangguk, dia tahu jika Siti sudah membuka hati sepenuhnya pada Fian. Dapat dilihatnya raut wajah yang sama saat dia bilang jika dia dan Dadang akan menikah belasan tahun yang lalu. Meski mendukung dan sudah tahu tabiat Fian, namun hati Dewi Masih menyisakan ketakutan bagi Siti. Takut keponakannya itu mendapatkan hal yang sama akan perlakuan mantan suaminya terdahulu.


" Semoga kekhawatiran bude tak menjadi do'a bagimu. Nak !! Kamu pantas Bahagia...!!!"


***


Meski diwarnai dengan tangisan Dio dan juga Bara. Serta ngambeknya Rama. Namun ketiga bocah itu terlihat menyambut Kedatangan Fian dengan bahagia. Mereka bahkan mengabaikan Siti dan lebih memilih meminta Fian untuk Menganti baju mereka saat akan berangkat.


" Kalian kenapa sama Ibu kok kayak gitu ?" Fian membuka percakapan sembari menunggu bude Dewi berganti baju, selepas sholat ashar..


" Ibu jahat,masa kita sudah siap malah dibatalin. Kan. bikin kesal ..!!" Dio menyahut, sementara Rama memilih diam.


" Loh ini kan kita jadi berangkatnya, waktunya aja yang berubah. Kalau pergi kan tetap pergi. Lagian kasian Abang Rama , Dio. Kan Abang puasa. Nanti kita sekalian buka diluar sama nenek juga ..!!" Fian menjelaskan dan mengelus kepala Dio. Dia senang, Dio tak lagi menampakkan sikap anti dan takut pada dirinya.


Bude datang dan kini telah terlihat rapi dengan jilbab instan berwarna ungu, warna kesukaan bude . Mereka kini keluar rumah beriringan,


" Jadi kita sekalian buka diluar ya Bu ?" Rama tampaknya melunak, " Abang boleh request tempat nggak ?"Rama menatap Siti yang berjalan disampingnya


" Boleh! tapi tempatnya harus yang bisa membuat Adik-adik juga nyaman ya, Bang.!!"


" Sipp..!!" Rama tersenyum, dia mendahului Siti dan membantu Bara yang sedari tadi kesulitan naik ke mobil.


"Bude didepan saja ya, nanti mabuk !!" Siti mengusulkan itu ketika bude baru saja hendak masuk mobil di kursi tengah.


Perjalanan mereka memang agak jauh, butuh kurang lebih satu jam untuk ke pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka, apalagi desa tempat dimana bude dan Siti tinggal memang masih tergolong pelosok..!!


waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ketika mereka sampai di area parkiran mall, Bude sedikit pusing, namun untungnya tak sampai muntah.


Melihat itu Siti segera memberi bude minyak angin, sekaligus tangannya mengoleskannya ke tengkuk bude Dewi.


" Bu !! Cepetan nanti keburu tutup !!" Rama berucap tak sabaran matanya sibuk melihat keluar dan menemukan barisan mobil dan motor yang berjajar rapih. " Tapi kok rame ya Bu !! Apa mereka juga mau buka disini ?"


Fian tersenyum, mendengar pertanyaan penuh rasa penasaran anak Pertama Siti tersebut.


" Iyah bang !! mereka biasanya tutup jam sembilan atau sepuluh malam..!!"


" Jadi mereka semuanya nggak sholat Maghrib ya om ?"


" Oh tentu Sholat dong, Bang !! kan didalam ada musholanya..!!"


Rama takjub, dia memang beberapa kali merasakan masuk kesini bersama sang Tante, namun tak terlalu lama mereka berkeliling, karena tantenya itu lebih menyibukkan diri belanja kebutuhan Dapur.


Dan melarang Rama bermain, karena waktu yang memang sedikit.


" Bu !! Rama hari ini boleh main sepuasnya kan ?"

__ADS_1


" Boleh sayang . tapi harus tetap dalam jangkauan ibu sama nenek ya, jangan malah keliling sendirian.!"


Melihat interaksi ibu dan anak itu Fian tersenyum, kemudian dia memandang bude Dewi yang kini telah terlihat lebih segar


" Bude sudah mendingan ? Kalau begitu kita turun ya !!"


Bude mengangguk menanggapi ucapan Fian. Dia membuka pintu kabin dan keluar mengikuti langkah riang cucu-cucunya yang telah lebih dulu melangkah kearah pintu utama mall..


Kini mereka sebagai orang dewasa hanya mengawasi anak-anak yang sibuk bermain di playground. Siti merasa sangat senang bisa melihat anak-anaknya bermain dengan bebas seperti itu..


" Ti. Apa nggak sebaiknya kita belikan mereka baju sekarang ? Biar mereka lebih senang lagi. Bude juga sudah bawa uangnya khusus untuk mereka !!" ujar Bude dengan mata menatap lekat pada sang cucu yang kini tertawa riang bersama.


" Kayaknya nanti-nanti aja bude !! mereka lagi menikmati semua wahana disini, Nanti malah cucu bude itu ngambek lagi. Bara juga, sudah bisa ikut-ikutan abangnya .." tolak Siti dengan tersenyum, ketika mengingat jika Bara meniru semua ucapan dan tingkah Dio saat ngambek tadi..


Bude ikut tertawa, dan tentu saja hal itu menular pada Fian yang sedari tadi menyimak obrolan Siti dan budenya.


" Anak-anak kamu beneran lucu ya ...!! "


Siti tak menanggapi ucapan Fia karena Bude memekik kecil ketika Bara malah tergelincir sedikit saat main perosotan, meski tak membuat bocah itu menangis tapi naluri seorang nenek membuat bude Dewi mendekat ke Bara. Menjaganya lebih intens lagi..


" Aku nggak bakalan bisa bayangin wajah anak-anak kita nantinya..!!"


Fian berucap lagi, membuat Siti menoleh dengan cepat, mata keduanya bertemu, namun Siti cepat-cepat menoleh kearah lain. Tiba-tiba perasaan Sedih memenuhi hatinya. Fian memang belum tahu, jika dia tak akan pernah bisa punya anak kembali.


" Kamu kenapa ? aku salah ucap kah ? Apakah kamu nggak mau menjadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti ?"


Sudah sering. Terlalu sering Siti mendengar perkataan ini dari bibir Fian . Namun entah kenapa kali ini dia merasakan lidahnya keluh, dan tak tahu harus merespon seperti apa ?


" Bu !! Haus ..!! "


Siti bernafas lega karena kedatangan Bara dan Dio seolah telah menyelamatkannya..


Dengan cepat dia membuka tasnya, mengambil botol air mineral yang dibelinya didepan tadi dan memberikannya pada Bara dan juga Dio.


Rama juga ikut mendekat, rupanya mereka sudah kelelahan. Tapi Rama malah menampilkan senyum bahagianya, meski dengan nafas ngos-ngosan dan keringat yang membasahi baju yang dipakainya.


" Jam berapa Bu ?"


Fian melihat jam, saat mendengar pertanyaan Rama, sudah pukul delapan belas lewat, yang artinya mereka sudah berada disini lebih dari satu jam dan sekarang telah mendekati waktu berbuka puasa.


" Sudah dekat buka nih !! Ayo kita cari tempat, , " Fian mengendong Bara yang kini telah wangi karena telah diganti bajunya oleh Siti. Sementara yang lainnya tampak mengekor ..


Rama tampak takjub akan dekorasi khas ulang tahun di restoran yang mereka injak sekarang, apalagi temanya merupakan tema kesukaan Rama, yaitu transformer. Tiba-tiba dia ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, tapi dia tak ingin berharap terlalu jauh, tapi kini Om Fian malah mengandeng tangannya semakin mendekat. Dan malah mereka duduk di kursi yang telah tertata rapi di sana.


" Happy birthday Bang Rama..!!"


Fian mengucapkan itu seraya mempersilahkan Siti dan bude Dewi untuk segera duduk di kursi dengan meja berisi kue ultah yang cukup besar.


" Apa ini Yan ? " Siti berucap lirih, tak percaya akan apa yang dia lihat. " Kamu yang siapkan ini untuk Rama?"


" Yups , sekali lagi selamat bertambah usia ya bang.. Tunggu sebentar yah, selesai adzan Maghrib nanti,kita langsung potong kue .. oke !!" Rama kini memeluk Fian dengan ucapan terima kasih bertubi-tubi. Bahkan Dadang sang Ayah pun tak pernah ingat ulang tahunnya apalagi memberikan surprise seperti ini..!!

__ADS_1


Siti semakin merasakan sesak sekarang..


Jika Fian selalu sebaik dan se peduli ini dengan anak-anaknya, bagaimana caranya Siti mengatakan hal yang mungkin saja akan membuat Fian kecewa padanya nanti


__ADS_2