Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
ikatan Ayah dan anak


__ADS_3

Fian merasa asing disini, ketika sang tuan rumah malah menatap kearah Dadang dan anak-anak yang masih larut dalam nyamannya melepas rindu.


Melihat semua ini rasanya Fian dapat merasakan secara nyata, kasih sayang antara anak dan Ayah, meskipun kini orang tuanya telah bercerai. Fian ikut sedih dan merasa gamang sekarang.


pemandangan ini tentu saja menyentuh nuraninya. Dia tak akan bisa menahan air matanya jika dia berlama-lama berada disini. Namun untuk membuka mulutnya dia merasa berat. Tak ingin merusak pertemuan haru antara Ayah dan anak didepannya.


" Fian, soal pembayarannya bagaimana ?"


Bude seolah tahu akan kegelisahan Fian, karena sedari tadi bude melihat dengan jelas gerak-gerik dan kegelisahan Fian. Hingga ia berinisiatif mengajaknya bicara terlebih dahulu.


" Oh iya ,bude. semua sesuai kesepakatan awal . Karena memang harga sawit mengalami penurunan. Tapi khusus untuk bude, harga akan tetap sama dengan panen sebelumnya, seperti biasa harga sesuai kualitas. ." Fian menjelaskan dengan detail. merasa terselamatkan akan pertanyaan yang diajukan bude dari Siti tersebut.


"oh. kalau begitu, terima kasih loh nak Fian. Bude pikir akan mendapatkan harga yang rendah pula.." Bude tertawa senang, dan menatap lembut kearah Siti yang nampak gelisah.


" Kamu kenapa Siti ?"


Siti tersenyum canggung


" Nggak kenapa-napa kok bude. Cuma rada panas aja hawanya.."


Siti juga tak tahu, kenapa dia gelisah tak menentu begini. mungkinkah keberadaan Dadang yang telah membuatnya tak nyaman.


" Bude. Saya pamit ya. Seperti biasa, Nanti Fian akan transfer uangnya ke bude.." Fian pamit, mengangguk sopan pada Siti, Dadang dan juga bude Dewi.


Dewi juga nampak mengangguk menanggapi. Sebenarnya dia agak sedih melihat Fian. masih muda tapi sudah menyandang status Duda, karena Istrinya meninggal saat melahirkan, dan kini anaknya diasuh oleh sang nenek dari pihak perempuan.

__ADS_1


melihat Dadang datang kesini dan disambut dengan haru, Pasti membuat hati laki-laki itu teringat akan sosok anaknya yang kini telah berusia dua tahun lebih.


Dadang memutuskan untuk bermalam di rumah bude Dewi. karena anak-anak yang masih rindu, menahannya untuk tetap berada disini dan tak pulang..Sebenarnya Siti agak keberatan, entah apa kata tetangga nantinya. Tapi melihat anak-anaknya yang seolah tak mau lepas dengan sosok Dadang membuatnya tak bisa berbuat banyak.


karena baginya sekarang kebahagian ketiga putranya lebih penting daripada apapun,


Lagipula mereka baru bertemu ketika telah melewati satu bulan tanpa sosok Ayah.


Siti tak mau dianggap ibu yang jahat ,hanya karena memikirkan egonya sendiri.


" Yah. Ayah nggak akan pisah lagi kan sama kita ? Dio nggak mau jauh-jauh lagi dari ayah.!!" Dio menatap Dadang dengan mata polosnya, sekarang mereka tengah berada dimeja makan. Dio sedari tadi memang minta disuapi Dadang, kebiasaan yang dulu memang selalu Dadang lakukan kepada anak keduanya tersebut.


" Ayah harus balik ke rumah nenek , Dio. Tapi kalau Dio mau ikut ayah boleh kok. Syaratnya Dio nggak boleh nangis dan minta pulang ketemu Ibu. Bagaimana Dio setuju atau tidak ?"


Dio memandang kedua orang tuanya bergantian. Dia tetap saja diam seolah berat memberi keputusan.


" Memangnya nggak bisa kalau kita sama-sama seperti dulu.."


Dadang terdiam, menatap kearah Siti.


" Nggak bisa nak, Ayah harus kerja cari uang buat sekolah Dio nanti, Tapi kalau Dio mau ikut ayah nggak apa-apa kok.. Nanti di sana Dio ditemani tante Salsa.."


" Dio nggak mau ahh.. kalau nggak sama dedek Bara dan Bang Rama.." Bocah itu menunduk dalam, membuat mata Siti berkaca-kaca. Hal seperti inilah yang sangat dihindarinya selama ini. Tapi jika kembali lagi ke Dadang, dia takut jiwanya malah terguncang dan menyebabkan warasnya menghilang.


" Ya sudah .kalau gitu, biar Ayah saja sering-sering datang kesini ketemu Dio. Dio setuju kan sama usulan nenek ?"

__ADS_1


Bude Dewi akhirnya ikut membantu memberi solusi menghadapi tingkah polos sang cucu.


mendengar itu Dio akhirnya tersenyum senang. Tapi yang tak mereka sadari adalah sosok Rama yang sedari tadi bahkan hanya mengaduk-ngaduk makanan di piringnya tanpa menyentuhnya sedikit pun, bagaimanapun rasa rindunya pada sang Ayah, sama besarnya dengan apa yang dirasakan Dio sang adik. Tapi kini di pandangannya seolah hanya Dio saja yang terluka karena perpisahan kedua orang tuanya. Dan itu tentu saja membuatnya sedikit tak senang.


Sarapan kini telah selesai. Kini waktunya Rama berangkat ke sekolah, meski banyak drama karena Rama seolah juga tak mau lepas dengan sosok Dadang. sebenarnya Dadang ingin mengantar putra sulungnya itu tapi takut nanti dia malah nyasar, karena lokasi sekolah yang jauh dengan jalan berkelok-kelok memasuki perkampungan.


Jadilah Dia hanya menatap putranya yang kini dibonceng oleh Siti.


Memberi uang jajan Pada Rama dan memintanya untuk berhemat. Setelah dibujuk dan diberi pengertian akhirnya Rama mengerti juga dan mau berangkat ke sekolah. Diantar Siti seperti biasa.


" Dang, lain kali kalau mau kesini . kamu kasih tahu dulu.. Biar bude bisa siapkan makanan kesukaan kamu..!!"


Mereka kini tengah duduk di teras , dengan Dadang yang memangku Bara, sementara Dio ngotot untuk ikut mengantar Rama ke sekolah karena memang setiap hari rutinitasnya seperti itu.


" Dadang malu sebenarnya untuk datang kesini bude. Tapi rasa rindu Dadang tak bisa ditahan lagi.." Dadang berucap pelan, sembari memandang lekat wajah Bara yang sedang sibuk dengan mainan robot ditangannya.


" Kenapa mesti malu ? Hubunganmu dengan Siti memang telah berakhir, dan sudah menjadi mantan. Tapi sampai kapanpun juga. Rama, Dio dan Bara tetaplah anak-anakmu . Karena tak ada yang namanya istilah mantan anak. Sampai kapanpun mereka tetaplah darah daging mu." Bude berucap tegas , seolah marah akan pikiran Dadang yang salah.


" Entahlah bude, bukan maksudku untuk menolak memikirkan hati anak-anak. Tapi melihat Siti, jujur saja seolah ada cermin besar yang selalu mengingatkan ku akan perbuatan ku padanya . Ini membuatku merasa sangat berdosa dan tak mampu memaafkan diri sendiri .."


"semuanya akan berlalu seiring waktu Dang. Yang penting sekarang adalah hubunganmu dengan anak-anak. karena sejatinya, mereka harus jadi prioritas untuk kamu dan Siti sebagai orang tua , rumah tangga kalian boleh gagal. Tapi jangan sampai kalian juga menjadi orang tua yang gagal.."


Dadang hanya mengangguk menanggapi nasehat bude Dewi. Ada sedikit rasa adem melingkupi hatinya kini. Jika rumah tangganya tak bisa diperbaiki lagi. Maka fokusnya sekarang adalah kebahagian anak-anak dan masa depan mereka.


Biarlah waktu menjawab . Yang penting kini hatinya telah tenang dapat menerima semua yang telah dilaluinya.

__ADS_1


__ADS_2