
Hari sudah beranjak semakin siang, Siti baru saja hendak ikut memejamkan mata didekat kedua anaknya yang kini telah tertidur pulas, hujan sedari tadi sudah mulai reda, bahkan kini matahari tak lagi malu-malu menampakkan diri. Cuaca kini terasa panas, hujan seolah tak meninggalkan tanda sedikitpun akan kedatangannya tadi.
Ting !!!
Sebuah pemberitahuan masuk, penarikan uang dengan nominal dua puluh juta dari rekening miliknya, membuat Siti mengerutkan kening.
Siapa yang telah lancang mengunakan kartu miliknya ?
Apakah ini ulah Dadang, mantan suaminya. Siti mendadak gelisah, takut besok orang itu, yang entah siapa. Akan mengulangi penarikan dengan jumlah yang sama.
Dia berpikir sejenak, sepertinya pemblokiran kartu adalah solusi terbaik. Mau menanyakan hal ini pada Dadang juga percuma, karena mantan suaminya itu tak akan mengakuinya. jika pun benar dia adalah tersangkanya..
[Maaf Siti. Tadi ada sedikit insiden. Maaf juga karena aku nggak ngabarin sama sekali 🙏]
Sebuah pesan dari Fian, memancing Siti untuk mengambil keputusan. Dia harus datang ke cabang bank terdekat.
Masalah ini harus segera menemukan solusi,
[Iya. Nggak apa kok..
Tapi kalau sekarang ? bisakah Kamu temani aku ?]
Send..
Siti menunggu beberapa saat, hingga pesannya dibuka dan dia menatap benda pipih ditangannya dengan harap-harap cemas, takut jika Fian menolak permintaannya !!
[ sekarang ?! Bisa kok. Aku Otw..!!]
Yes..
Siti hampir berteriak kegirangan, ekspresi yang dia perlihatkan seharusnya tak seperti itu, untuk seseorang yang telah kehilangan uang dengan nominal lumayan. Tapi entah karena apa ada sesuatu yang menggelitik rasa senangnya akan balasan dari Fian.
Siti kini beranjak, setelah sebelumnya mencium kening Dio dan Bara yang kini terlelap dan terbuai dalam mimpi.
" BUDE...!!! Bude....Bude dimana ?"
Siti berteriak kencang, membuat Dewi tergopoh-gopoh menghampirinya,
" Kenapa kamu Siti ? kok teriak-teriak. Anak-anak lagi tidur kan ?"
Bude bertanya panik dan melihat kearah kamar dimana cucu-cucunya tidur, untungnya mereka tak terpengaruh dengan teriakan sang ibu..
Siti malah senyum santai, menanggapi sang Bude
"Siti jadi ke kantor cabang bank, ya bude ! Fian lagi dalam perjalanan kesini .."
"Loh Siti. Kamu sendiri kan tadi yang bilang jika batal ? Kenapa mendadak berubah ?"
" Ada yang menyalah gunakan kartu ATM milik Siti, bude. Aku mau blokir kartu sekaligus buat rekening baru.."
" Menyalah gunakan bagaimana ? Uangmu dicuri begitu ?"
Bude bertanya dengan tak sabaran.
"Iya bude, dia mengambil uangku dua puluh juta. Mungkin karena hanya nominal itu yang bisa ditarik perharinya. Aku harus segera mengurusnya. agar dia , entah siapa itu tak lagi seenaknya..!!"
" Itu bisa dilacak kan dia melakukan penarikan dimana ? Kamu laporkan saja ,Ti. Bisakan Jika menggunakan pasal pencurian ?"
__ADS_1
Siti tampak berpikir, jika dia melaporkan ini. Dan ternyata ini adalah ulah Ayah dari anaknya. Maka dia harus apa?
" Emangnya kartu itu sudah lama hilang, Ya..? Setahu bude kamu kalau ngambil uang selalu menggunakan buku tabungan ?"
" Kartunya tinggal di rumah anak-anak, bude ..." Siti berucap pelan,
" APA, jadi ini kelakuan Dadang ? Dasar!! kenapa kelakuannya semakin buat darah tinggi sih Siti !! "
Siti hanya menatap bude dengan tak enak, dia juga heran kenapa bisa Dadang lancang seperti ini. Jika bude saja berpikir demikian bagaimana dengan dirinya, bukannya asal menuduh. karena dia juga tahu jika Dadang pasti akan menemukan kartu itu karena memang merupakan tempat dimana biasa mereka menyimpan uang . Jadi jelas tak ada nama yang bisa dijadikan tersangka selain Dadang, sang mantan suami..
Suara salam dari Fian terdengar, rupanya pria itu telah sampai. Bude memandang Siti dengan prihatin, meski Dadang dan Siti telah bercerai, entah kenapa Dadang malah selalu saja membuat pikiran Siti semrawut seperti ini, ada saja tingkah mantan menantunya itu yang membuatnya tak habis pikir.
Mereka berdua kini menuju ke depan setelah menjawab salam Fian.
" Eh Nak Fian. Silahkan masuk "
Bude bicara sembari memberi senyum ramah pada Fian yang berdiri didepan pintu. sementara Siti sendiri, lebih memilih duduk terlebih dahulu.
Fian masuk dan langsung duduk, matanya memandang sekitar.
" Anak-anak lagi tidur. kalau Rama malah belum pulang , tadi pamit ke rumah teman, kerja kelompok. ."
Siti menjelaskan seolah tahu jika Fian tengah mencari dimana anak-anak berada.
" Ohh ,pantes sepi. Aku pikir mereka kemana ?" Fian tersenyum kearah Siti. " Mau berangkat sekarang ,Ti. .?"
" Iya Siti. Mending kalian berangkat sekarang, nanti anak -anak keburu bangun, dan malah mau ikut lagi !!"
Bude ikut menimpali, karena memang anak-anak sudah cukup lama tertidur.
Kini mereka telah diperjalanan menuju kantor bank terdekat.
" Kenapa nggak buat rekening baru aja sih , Ti ? Atau minta lagi kartu ke bank nya, jadi nggak mesti ke bank langsung untuk ngambil uang . Di desa kita kan sudah ada agen bank yang dilengkapi Mesin ATM, biar bisa narik uangnya dengan mudah.."
Siti memang bukan hanya sekali minta ditemani oleh Fian, jadi Fian tahu jika kartu ATM milik Siti hilang. Itu yang diberitahukan oleh Siti kepadanya.
" Iya ni, Yan..hari ini aku mau buka rekening baru, karena kartuku yang lama disalah gunakan sama orang yang tak bertanggung jawab..
Semua uang akan aku alihkan ke rekening baru dan juga mau memblokir kartu yang lama..!!"
Fian memandang Siti, dia juga memperlambat laju mobilnya
" Disalah gunakan gimana , uang kamu diambil ? Kok bisa ?"
" Hu'ummm.. Tapi nggak seberapa sih nominalnya, aku cuma takut aja jika data pribadiku malah ikut disalah gunakan nantinya.."
Siti menjawab dengan memandang ke arah lain. Bagaimanapun Dadang adalah Ayah dari anak-anaknya, Dia tidak mau menjatuhkan wibawa Dadang didepan Fian.
" Oh syukurlah kalau gitu !! Lebih baik memang kamu buka rekening baru, agar tak repot dikemudian hari.."
Suasana kini mendadak hening. kantor cabang bank, memang agak jauh dari desa mereka. memerlukan waktu hampir satu jam perjalanan, untuk sampai di sana.
Apalagi kini jalanan tampak basah, karena hujan yang sepertinya baru reda, di daerah yang mereka lalui, ,
***
Sementara itu . Sandra kini tengah menenteng banyak belanjaan ditangannya, memberikan senyuman paling manis kearah Tantenya. Dia memang jarang memegang uang, seolah mendapat durian runtuh sekarang. Makanya dia memanfaatkan uang ini dengan sebaik-baiknya. Dia bahagia Uang sebanyak ini kini menjadi miliknya tanpa harus kerja keras.
__ADS_1
Fatma memandang Sandra dengan heran, beras dua puluh kilo, telur, gula, minyak cabe dan segala kawan-kawannya kini memenuhi motornya. Bagaimana mereka akan pulang dengan bawaan sebanyak ini. Seolah Sandra ingin memindahkan isi tokoh kelontong dan sayuran kedalam rumahnya..
" Apa nggak, sebaiknya kamu sewa ojek, San. Tante takut jika harus membawa barang belanjaan ini dengan motor. Apalagi Tante juga harus membonceng kamu!! Kita bisa celaka nanti..."
" Tante tenang, tadi Sandra sudah pesan ojek kok.."
Fatma sebenarnya heran, jika hanya satu juta tak mungkin sebanyak ini bahan pokok yang bisa dibeli oleh Sandra. Tapi melihat raut gembira dan semangat yang kini menguar dari aura yang dipancarkan oleh Sandra membuat Fatma, tak ingin merusak Mood keponakannya itu.
Ojek yang dipesan Sandra akhirnya datang, sudah ada satu kantong kresek besar di depan bang Ojek, yang tak diketahui Fatma entah berisi apa ?
Setelah hampir setengah jam mengatur letak belanjaan supaya muat di dua motor. Fatma dan Sandra akhirnya melajukan motornya kearah jalan pulang.
Sampai di depan rumah, Dadang sudah menunggu. Ayah tiga anak itu, nampak santai dengan secangkir kopi disampingnya.
Fatma menyadari jika Dadang sempat kaget dengan semua barang yang kini diturunkan bang ojek didepan rumahnya.
" Ini semua belanjaan kamu Sandra ?"
"Iya bang. Buruan gih dibawa kedalam, nanti malah dijulidin tetangga karena belanja banyak.."
Sandra melirik mbak Salma , yang sedari tadi berada didepan rumahnya. Sementara Salma merasa heran kenapa Sandra seolah memusuhinya..
Fatma juga menggelengkan kepalanya, kenapa bisa dia mempunyai keponakan yang tak punya malu seperti Sandra..
" Kamu juga bantuin sana biar cepat kelar..!!" Fatma mendorong pelan Sandra yang berkacak pinggang masih betah berdiri didekat motornya.
" Ihh Tante, aku kan lagi hamil. Nggak boleh kerja yang berat-berat.." Sandra ngedumel membuat sang Tante keheranan.
" Loh bukannya kamu tadi malah melakukan hal yang lebih berat dari sekedar pegang kantung tomat ? "
" E...eeh. Iya Sih. Tapikan aku sudah capek Tante. Lagian kan Ada bang Dadang sekarang. Dia harus menjadi suami dan Ayah yang selalu siaga untukku dan anak kami nantinya.."
" Sudah Mbak , biar aku saja. Kalian pasti capek . Mbak masuk saja kedalam istirahat.."
Dadang akhirnya menengahi perdebatan antara Tante dan keponakan itu.
Fatma memutuskan masuk mengambil gelas dan sendok, untuk wadah es dawet yang tadi dibeli Sandra ketika mereka akan pulang, meski cuaca tak terlalu panas tapi tetap saja dia kegerahan dan juga merasa sangat haus..
Saat tak sengaja melihat Dadang mengambil kantung kresek hitam , Sandra cepat-cepat merebut kresek itu. dia juga langsung melangkah masuk membawanya ke dalam kamar.
" Apaan itu San ? " Dadang ternyata mengikutinya karena penasaran, kenapa kresek hitam itu malah dibawa ke kamar.
" Oh .. Anu.bang.. Ce.milan.." Terbata Sandra menjawab karena cukup kaget, akan suara Dadang yang tepat dibelakangnya. Dia langsung memperlihatkan semua cemilan yang berada didalam kresek tersebut..
Dadang tertegun, semua merk Snack dengan ukuran jumbo itu memiliki harga yang lumayan mahal. Dia menatap Sandra dengan lembut, mencoba memberi rasa nyaman Kepada Sandra agar bisa segera memberi tahu darimana asal uang yang digunakan Sandra, untuk membeli semua ini ?
" Kamu yakin semua ini merupakan uang kamu, San ? Kenapa nggak cerita jika kamu punya simpanan uang sebanyak ini ? Padahal kamu bilang setiap uang yang aku beri selalu kurang ?" Dadang mengeluh, sikap Sandra yang memerasnya bak sapi perah dua bulanan ini cukup membuatnya kewalahan, tapi rupanya sang Istri malah punya uang sebanyak ini di bank.
" Kan untuk keadaan mendesak bang, dan sekarang terbuktikan ? Kita beneran lagi kepepet sekarang. Lagian kenapa malah ngungkit uang yang kamu kasih, itukan uang nafkah kok malah marah kalau habis ?"
"Bukan gitu maksudku San. Tapi kamu tahu sendiri kan tanggungan yang harus aku lunasi, aku bahkan tak lagi mengirim nafkah untuk anak-anak, dua bulanan ini. Kamu sebagai istri harusnya mengerti akan kesusahan ku sekarang .."
Sembari bicara, Dadang mencoba menetralkan emosinya, kemarahannya saat masih bersama dengan Siti seolah mengingatkannya jika dia emosi bisa saja terjadi sesuatu yang buruk terhadap sang istri yang sedang hamil.
" Maaf bang.. Mulai hari ini aku janji kok, aku akan coba memahami keadaan kamu.." Sandra mencium pipi Dadang dengan lembut, meninggalkan jejak basah dan dingin di sana.
" Dadang , Sandra !! ini es nya keburu nggak dingin lagi.." Suara Fatma terdengar dari teras, membuat Dadang dan Sandra segera mendatangi Fatma.
__ADS_1