Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
kamu istimewa


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, meski telah ada jawaban dari lubuk hati terdalam , namun permintaan bude seolah selalu menahan lidahku, aku tidak sanggup jika nanti jawabanku malah membuat bude kecewa. lagipula bude benar, aku bahkan belum pernah bertemu dengan keluarga Dadang. Yang kutahu hanyalah jika Bapaknya Dadang merupakan seorang PNS, selebihnya aku benar-benar buta. jika begini maka komitmen apa yang nantinya akan aku pegang jika ternyata, keluarganya memang buruk dan tak sesuai ekspektasi yang ada dalam pikiranku.


Meski begitu, hubunganku dengan Dadang kini semakin dekat ,kami hanya bertukar kabar melalui sambungan telepon. ini juga memberiku banyak informasi yang ingin ku ketahui, aku pun tak lagi sungkan bertanya tentang apapun yang sekiranya meski aku ketahui tentang Dadang dan keluarga besar lelaki itu.


Ternyata Dadang adalah anak pertama, dari lima bersaudara.


Ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Yang aku dengar dari Dadang, ibunya orang yang supel dan juga ramah. Mengingat hal itu , mestinya aku tak perlu khawatir jika beliau tak menyambut ku dengan baik kan ? . Pasti kekhawatiran bude tak akan terjadi.


" Bude. Aku izin main ke rumah Dadang. Boleh yah "


Saat ini bude tengah memasak di dapur, Aku memberanikan diri mengutarakan keinginanku yang sedari semalam telah aku niatkan, tapi baru bisa keluar dengan lancar sekarang. Bude tetap melanjutkan aktifitasnya memotong paha ayam yang dibelinya di tukang sayur keliling,,


" Kata bude, aku belum kenal keluarganya, jadi niatnya pengen kenalan aja bude. boleh kan ? "


Bude kini menghentikan gerakan tangannya, ia mematikan kompor yang tengah merebus air untuk membuat kopi, kebetulan airnya juga sudah matang, setelah menuangkan air panas kedalam cangkir yang berisi bubuk kopi dan gula . Bude memandang ke arahku dengan serius


"Kamu yakin dengan keputusanmu Siti ?"


"maksud bude apa?Aku masih belum berpikiran ke arah sana.!!"


Aku kan belum bilang ke bude jika aku menerima Dadang, kenapa seolah bude sudah tau ..Batinku bersuara.


" Jangan membodohi bude Siti. atau kamu memang benar-benar nggak tahu. Jika kamu datang ke rumah Dadang dan dikenalkan dengan seluruh keluarganya. Itu sama saja kamu menerima pinangan Dadang, , "


"Aku hanya menuruti saran bude, bukankah bude bilang kalau aku harus mengenal keluarganya terlebih dahulu. !!"


" Lalu ? setelah itu apa ? Kamu bakalan maju dan menerima Dadang jika kamu merasa keluarganya baik. begitu !!


Atau kamu bakalan mundur dan bilang nggak cocok ke Dadang ketika kamu merasa keluarganya itu kurang baik.


Semuanya tak sesederhana itu Siti...


Kamu harus lebih bijak dalam bersikap, jika kamu memang menerima Dadang itu artinya kamu harus menerima bagaimanapun nanti keluarganya memperlakukanmu. .."


Bude kini duduk di kursi makan , Sementara aku masih betah pada posisiku


" Kamu terlalu muda Siti. mungkin menurutmu bude melarang karena nggak suka sama Dadang. tapi pada dasarnya, Bude hanya takut kamu malah menyesal dengan langkah yang kamu ambil sekarang.."

__ADS_1


Matanya kini nampak berkaca-kaca. Memandangku dengan lembut, kedua tangannya mengulur kearah ku . Aku menyambutnya dan memeluk bude dengan erat.


" Kamu adalah harta bude Siti. Meski tak terlahir dari rahim bude, kebahagiaan kamu lebih penting dari apapun yang bude punya. Pikirkan baik-baik sayang. Karena dalam pernikahan, tak ada kata mencoba. lalu ketika tak cocok kita malah berbalik arah. Tidak Siti, sekali lagi pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Meski cerai diperbolehkan di agama kita , tapi jangan jadikan hal itu sebagai alibi pembenaran akan sesuatu yang sebenarnya sangat salah.."


ku tatap wajah bude dengan lembut, sungguh aku tak ingin membuatnya merasa sedih akan sesuatu yang belum tentu terjadi.


" Aku merasakan kenyamanan ketika bersamanya bude. Aku bahkan nggak tahu apa sebenarnya perasaanku terhadap Dadang. Tapi bolehkah aku menjalani kisah ini dulu, bude. Aku juga belum siap jika harus menikah sekarang. Jadi, apakah aku harus membatalkan kunjunganku ke rumah Dadang bude ?"


Aku akhirnya bisa mengutarakan isi hatiku didepan bude. sekaligus meminta pendapatnya langsung.


" Kalau sudah terlanjur berjanji ya sudah, Siti. Tapi ingat jaga dirimu dengan baik, bude izinkan kamu. Asalkan Dadang yang menjemputmu kesini..!".


Aku mengurai pelukanku pada bude ,menatap wajah itu lagi.


" Terima kasih bude. Bude selalu jadi tempat ternyaman bagiku,.."


kami kembali berpelukan .


" Ini ayamnya mau dimasak apa bude..!!"


Aku melanjutkan pekerjaan bude yang tertunda karena aku. aku juga meminta bude untuk duduk manis dan menikmati kopi yang telah diseduhnya tadi.


" Buat rendang aja Ti ! Bumbunya sudah bude buat didalam kulkas , Kamu tinggal tumis, santannya juga sudah bude siapkan. jadi tinggal eksekusi aja.."


Aku memeriksa kedalam kulkas , benar saja semua sudah tersedia. Bude memang wanita tangguh dan juga cekatan, untungnya sikap itu menurun padaku, dan aku berharap ini juga akan menjadi bekalku jika aku berumah tangga nanti. memikirkan hal itu aku malah senyum-senyum sendiri.


"kenapa kamu Ti. Nanti gosong loh. masak kok sambil senyum-senyum nggak jelas..."


Rupanya bude sedari tadi memperhatikanku. aku hanya mendelik dengan memamerkan deretan gigi putihku.


Tak ingin menjawab , karena kebiasaan bude yang suka nyerocos nggak jelas jika ocehannya ditanggapi.


***


Tepat pukul 09 pagi. Dadang datang menjemputku, Wajahnya nampak berseri-seri di mataku, entah perasaanku saja atau tidak yang jelas Dadang terlihat sumringah bahkan ketika menyalami bude Dewi yang memang sekarang duduk bersamaku di teras depan rumah.


" Sudah siap Ti. .? kalau sudah ayo, sekarang kita langsung berangkat saja..."

__ADS_1


Dadang langsung mengutarakan niatnya datang kesini..Aku menoleh ketempat dimana bude berada, bude mengangguk membuatku juga melakukan yang sama kearah Dadang sebagai jawaban.


" Bude saya izin bawa Siti ke rumah Ya.. Janji nanti nggak akan terlalu sore kami bakalan pulang kesini.."


Dadang seolah tahu apa yang akan bude sampaikan, itu membuatku sedikit merasa lega. Setidaknya Dadang berusaha sebaik mungkin untuk mengambil hati bude.


" Yah. Titip Siti ya Dang. Jagain dia baik-baik. Sudah sana buruan berangkat, cuacanya mendung takutnya malah kehujanan dijalan. Apalagi kalian kan pake motor.."


Bude memandang kearah motor H*nda milik Dadang. Entah bude bermaksud apa tapi ada nada sedikit kesal saat bude mengatakan itu. Apakah bude berharap jika Dadang menjemput ku mengunakan mobil ? entahlah hanya bude yang tahu isi hatinya.


Sebenarnya Dadang telah memberi tahuku jika dia hanya akan menggunakan motor saja. Makanya aku hanya menggunakan jeans boyfriend dipadukan dengan kaos crop oversize, aku juga menambahkan cardigan panjang agar terlihat lebih sopan. Sementara rambutku yang biasa ku gerai kini aku kuncir Cepol saja. mengantisipasi rambutku berantakan akibat angin menerpa nantinya .


Disepanjang jalan kami hanya terdiam , menikmati sepoy angin yang hadir karena cuaca memang sedang mendung. Motor Dadang juga melaju pelan, menambah kesan romantis yang tiba-tiba terasa. Hawa dingin membuatku memeluk erat tubuhku sendiri, sungguh aku pun ingin merasakan bagaimana rasanya berboncengan memeluk orang yang spesial, tapi jika aku melakukannya sekarang, Apakah aku akan dianggap murahan, Meski aku tahu Dadang bukan lelaki yang bermulut pedas, namun tetap saja sikap diam Dadang membuatku sedikit takut melakukan sesuatu yang sedikit agresif.


" Waktu itu ,saat kamu masih pacaran sama Angga kamu duduknya nggak gini "


Kami sekarang tengah berteduh karena gerimis mendadak datang. Dadang mengucapkan hal itu tanpa membawa tubuh kami untuk turun dari kendaraan roda dua miliknya.


Kami memang menepikan motor diparkiran ruko yang tampak tak berpenghuni.


" Apakah ini artinya jika Angga lebih spesial dariku ?"


Aku gelagapan karena posisiku yang kini semakin dekat dengannya dan juga kakiku semakin menghimpit tubuh Dadang karena dia menoleh sembari memegang kedua kakiku dikedua tangannya. mata itu bahkan menatapku tajam meminta jawaban.


" Nnnn ngak kok.. perasaan kamu aja kali..." Aku mencoba untuk turun namun Dadang semakin membuatku susah untuk sekedar bergerak.


" sebaiknya kita turun, Aku agak ri-sih dengan posisi i...iini..!!!"


Dadang tertawa, " Nggak usah tegang Ti. lagian aku bercanda kok. sebaiknya kita melanjutkan perjalanan. kita masih setengah jalan ini. Takutnya malah kelamaan dijalan , pacarannya nanti saja kita lanjutkan di rumah. Gerimis nya juga udah pergi"


Tuh kan. Sifat jailnya kumat. Dadang tak tahu saja jika aku sudah deg-deg an setengah mati. Sedang kini dia malah santai seolah tak terjadi apa-apa.


Tapi ucapannya tadi membuatku lebih rileks ,kini aku bahkan memberanikan diri memeluknya, sembari menyenderkan kepalaku di punggungnya yang lapang.


" kamu dan Angga itu berbeda, Tapi kamu lebih istimewa.."


Ucapan itu mengalun begitu saja dari bibirku, entah Dadang mendengarnya atau tidak, yang jelas aku merasa lega karena sudah mengatakan isi hatiku padanya..

__ADS_1


__ADS_2