Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Siti mengadu !!


__ADS_3

Siti memandang kearah tangan Dadang!!


Entah apa yang dilihat Dadang di sana, tapi untuk mendekat dan melihat langsung, Siti merasa tak nyaman. Jadilah Dia hanya memandang Rama mencoba membuat anaknya menjelaskan ..


" Abang ? Abang tahu dari mana, soal Ayah...?"


Rama menatap Siti, dengan mata berurai.


" Tadi Abang masuk kamar kita dulu, mau cari Ayah tapi malah ketemu foto ayah sama Tante itu !!,"


Rama menunjuk kearah Dadang, dan kemudian menatap Siti dengan sedih,


" Pantes , ayah berubah. Dia sudah nggak sayang lagi sama kita. huhuhu" Rama menangis dengan lirih , membuat semua mata memandang sedih kearahnya.


Siti mendekati Rama, memeluknya erat, menguatkan Rama. Ternyata tak mudah lagi mengelabui Rama yang kini beranjak remaja, entah kenapa Siti merasa jika Rama berubah, karena biasanya Rama lebih memendam perasaannya dengan diam, tapi entah pengecualian akan hal yang dilakukan ayahnya ini.


" Maafkan Ibu ,nak !!" Siti berucap Lirih. Bagaimanapun dia merasa turut andil atas hal yang kini terjadi.


" MBAK....!!!"


Suara Salsa menggema, membuat Semua mata memandang kearah pintu, dan mereka malah menemukan Sandra yang memegang perutnya yang membuncit, Mata Istri baru Dadang itu memandang sinis sosok Siti.


" Mbak Sandra bener-bener ya. ." Salsa ngos-ngosan. Mungkin ada adegan kejar-kejaran sebelum ini ..


" Salah kamu sendiri. Mbak kan cuma mau ketemu Abang-nya anak yang ada didalam perut Mbak. Tapi kamu malah heboh sendiri. seolah mbak akan mengacau di rumah ini !!"


Lastri menatap kearah cucu-cucunya. Dan menemukan wajah Rama yang sedari tadi memeluk Siti kini memandang ibu tirinya dengan tajam.


" Adik Rama cuma Dio dan Bara. Selain itu NGGAK ADA LAGI. .!!"


Rama berteriak ke arah Sandra,


" Eh yang sopan ya. Gini-gini aku juga ibu kamu. Jangan terlalu ikutin ajaran sesat yang diberikan ibumu yang mandul itu !!!"


Rama mendelik ingin membalas, Namun ditahan oleh Siti dengan memegang tangan anaknya dengan lembut.


Semua mata sebenarnya nampak kaget akan reaksi Rama akan ucapan Sandra,


Sandra sendiri kini mendekati Rama, baru saja tangannya hendak menyentuh telinga bocah itu. Siti dengan cepat menepis tangan Sandra. Menatap perempuan hamil itu dengan tajam.


"Maaf Ya. Bukankah kamu yang sesat !! bisa-bisanya menghalangi anak-anak untuk menghubungi Ayahnya ? Jangan-jangan karena kamu terlalu banyak menuntut, makanya bang Dadang kini abai soal silahturahmi dan nafkah akan mereka. ."


Siti memandang tajam sosok Sandra, dia akui. Perempuan ini cantik dan juga muda. Wajar jika Dadang kepincut pesonanya. Tapi yang mencuri perhatian Siti adalah perut Sandra yang membuncit


" Bukankah, kalian baru menikah dua bulan ? Yakin, itu anak suamimu yang sekarang ?"

__ADS_1


Entah kenapa ,ucapan seperti itu yang meluncur dari mulut Siti.


Dadang menggamit kencang bahu Sandra, ketika istrinya hendak membalas ucapan tajam dari Siti.


" Ngapain kesini ? Pulang !! atau aku ceraikan kamu sekarang juga !"


Dadang berbisik dengan pelan, dia memastikan jika tak ada yang mendengar ucapannya ini.


"Kamu kenapa Sih bang. Kok malah belain mantan istrimu. Aku ini sekarang istrimu Bang. Aku juga hamil anak kamu sekarang. . Tega ya ,kamu NGUSIR aku..!!"


Sandra memekik kencang, sembari mendorong Dadang.


" KAMU JAHAT...!!!"


Sandra menghentakkan kakinya, ciri khasnya saat sedang kesal. Membuat Dadang menggaruk pelipisnya yang gatal. Dadang malu dengan tingkah laku Sandra yang sangat kekanak-kanakan, dan juga tak kenal tempat.


Sandra berlari keluar, dengan deraian air mata. Sementara Dadang ragu, antara mengikuti Sandra atau merangkul Rama yang masih menatapnya dengan kecewa.


" Pergilah Dang, tenangkan Istrimu dulu. Tak baik bagi kehamilannya jika ibunya terlalu stress. Soal anak-anak, serahkan sama Emak.."


Lastri akhirnya bersuara, membuat Dadang mengambil keputusan, Tapi baru saja hendak melewati pintu, Salsa menghadang Dadang.


" Biar Salsa saja bang, Tenangkan saja anak-anak Abang. Kasihan mereka jauh-jauh kesini malah melihat drama yang tak penting.."


Salsa memang sengaja mengejar sang kakak ipar saat akan kesini tadi. Karena tahu kekacauan ini akan terjadi jika Sandra datang kesini. Dia tak habis pikir, kenapa Sandra seolah ingin membuat keluarganya hancur. Bahkan saat mau datang kesini, kakak ipar barunya itu malah mengingatkan Abangnya akan pengusiran tempo hari, yang dilakukan oleh Bapak.


Dadang mendekat kearah kedua anaknya, setelah memastikan jika Salsa telah pergi menyusul Sandra.


" Maafin Ayah ya.."


Dio malah mengencangkan pelukannya, mencium pipi Dadang dengan kelembutan khas bocah.


Dadang mengendong keduanya, bermaksud mengajak mereka duduk di sofa tamu, namun Dadang malah mendapati sosok Fian yang duduk dengan santai di sana,


" Eh Fian. Maaf ya aku nggak sadar ada kamu disini !" Dadang mendudukkan kedua jagoannya dan menyalami Fian,


" Mobil didepan mobil kamu Yan ?"


" Iya. Anak-anak nggak bisa nginap soalnya. . Makanya mereka bareng Fian agar nggak repot dijalan..!!" Lastri menjawab Dadang, dan menatap Dadang, mencoba Mengisyaratkan anaknya itu agar membujuk Rama yang kini masih menyembunyikan wajah di pelukan sang Ibu..


Dadang merasa gagal menjadi Ayah, bagaimana bisa dia mengabaikan Rama dan lupa akan kekecewaan putranya itu .


Dengan pelan dia mendekati Siti dan Rama, rupanya putra sulungnya itu masih menangis dalam diam.


Siti yang menyadari kehadiran Dadang melonggarkan pelukan Rama, memberi ruang agar Dadang bisa bicara dari hati ke hati dengan Rama.

__ADS_1


" Bang, maafkan Ayah yah ?" Dadang mencoba menarik tangan Rama, agar Rama melihat kearahnya.


" Lihat Ayah bang. Abang nggak rindu sama Ayah?"


Rama semakin terisak, matanya kini menatap Dadang, tak terlalu lama, Rama menumbrukkan tubuhnya kearah sang Ayah, memeluk Dadang dengan erat. membuat Dadang sedikit kaget, namun tetap membalas pelukan anaknya dengan sama kencangnya.


" Rama minta maaf Yah. Rama sudah nggak sopan tadi. Ayah mau kan maafkan Rama. .huhuhu"


Dadang tak menjawab, namun tangisnya malah semakin deras, sembari semakin dalam memeluk Rama. Dia sudah gagal jadi suami bagi Siti, apakah akan gagal juga menjadi Ayah untuk ketiga anaknya.


" Sudah ya Bang. Katanya mau ketemu Ayah buat kangen-kangenan. Kok ini malah nangis-nangisan sih bang ?"


Rama melepaskan pelukan Dadang, dan menatap kearah sang ibu yang tadi bicara.


" Maaf ya , Bu. Rama nggak bisa jaga sikap !!"


Siti menggeleng dan tersenyum lembut, " ibu ngerti, Bang !! seharusnya Ibu cerita sama Abang soal ini. Maaf karena Ibu lupa jika Abang sudah beranjak dewasa.."


Sebenarnya Siti ingin memeluk Rama, tapi posisi sang anak yang masih menempel pada Dadang membuatnya mengurungkan niatnya, Dia lebih mengisyaratkan cintanya untuk Rama dengan tatapan matanya.


***


Dadang akhirnya mengajak ketiga buah hatinya bermain di teras. Mainan yang memang sebelumnya belum sempat dibawa pindah, kini dikeluarkan oleh Lastri agar mereka puas bermain. Sementara Siti, Fian dan Nurdin kini masih duduk di ruang tamu.


" Bapak malu sebenarnya Siti !


Entah kenapa Kepergian kamu membuat suasana rumah tak seperti dulu lagi.." Nurdin memandang Siti, mengingat masa dimana Siti masih menjadi menantunya, istri dari Dadang.


" oh iya Ti. Apa Dadang masih rutin ngirimin jajan buat anak-anak ?"


Pertanyaan mantan bapak mertuanya, membuat Siti ingat jika Dadang mengambil uang di rekeningnya.


Siti Diam antara mengadukan hal ini atau tidak,


Tapi jika dia diam saja, Mungkin Dadang bisa saja melakukan hal nekad, seperti menjual rumah mereka misalnya .


Tapi jika dia mengadu, akankah Dadang mengaku dan mau mengembalikan uang itu ?


"Semenjak mereka menikah, bang Dadang nggak pernah lagi menghubungi anak-anak Pak !! Apalagi soal nafkah.."


Nurdin menghela nafas panjang. " Maafkan Bapak lagi ya Ti. karena gagal mengingatkan Dadang, entah kenapa anak itu semakin kesini kelakuannya semakin tak bisa dikendalikan . ."


Siti melirik kearah Fian, dia harus jujur dengan kelakuan Dadang pada Bapak.


" Pak, sebenarnya kemarin bang Dadang menggunakan kartu ATM milikku. Dia mengambil uang dua puluh juta dari tabungan Siti pak !!"

__ADS_1


Siti berucap hati-hati. Meski tahu jika mantan mertuanya ini tidak punya riwayat sakit jantung. Tapi tetap saja dia merasa sedikit takut, membuat pria paruh baya itu kaget.


" Astagfirullah benar seperti itu Siti..?"


__ADS_2