
Plakk...
Gubrakkk....
Suara tamparan terdengar keras, diiringi dengan jatuhnya seseorang yang diduga sebagai korban yang ditampar, namun nyatanya yang jatuh itu adalah sosok Indah yang sekarang memasang wajah heran dan marah.
Bukan dirinya yang di tampar!! Tapi sang ibu. Namun Fatma sang tersangka penamparan, juga mendorongnya hingga jatuh dengan posisi yang sangat membuatnya malu.
" Eh Mba, bisa nggak sih nggak usah anarkis .."
Indah Sewot. Seolah tak sadar jika ini adalah timbal balik dari ucapan ibunya yang asal ceplos saja. Meski begitu, Dia tampak mengibaskan tangannya lagi. Kali ini rupanya ia ingin pamer ke Salma dan juga Emak yang sedari tadi mengigit bibir mereka menahan tawa, terlebih kini Indah seolah tak kapok untuk pamer disaat yang sama sekali tak tepat.
" Kalian lebih anarkis, kenapa juga melarang orang untuk bertamu ? Pergi sana , sudah diusir masih saja betah di rumah saya .."
Fatma memandang nyalang ke arah Bu Uci yang masih betah memegangi wajahnya,
" Eh ini kita mau pulang ya, jangan sampai saya nekad laporin kamu ke kepolisian karena sudah bertindak keterlaluan sama saya dan anak saya..!"
Bu Uci menarik Indah dengan keras, menyadarkan putrinya, yang sedari tadi masih betah pada posisinya saat jatuh tadi..
" Silahkan, Bu !! Saya juga akan melaporkan Ibu juga dengan tuduhan mengganggu ketentraman di rumah saya..!"
Bu Uci berlalu. Tak ia pedulikan lagi Indah yang ingin membalas ucapan Fatma. Rupanya dia punya malu juga, karena memang kini para tetangga sudah banyak berkerumun, ingin membesuk Sandra dan juga tentu saja penasaran akan suara ribut-ribut yang ditimbulkan oleh dirinya dan sang anak, dengan si tuan rumah .
" Ibu !! kok aku ditinggal sih ?" Indah menghentakkan kakinya , menyusul Bu Uci yang tak pernah menoleh lagi.
Para ibu-ibu kini tersenyum puas, jujur saja mereka sebenarnya sudah lama merasa gerah akan kelakuan Bu Uci yang mulai julid lagi, bahkan sekarang bertambah parah, karena pulangnya sang anak dan menantunya yang sempat diusir oleh Bu Uci sendiri dari rumah.
" Hahahha Puas saya Bu !!! Si Uci memang seharusnya diberi sedikit pelajaran, karena mulutnya kayak nggak pernah sekolah aja " Saroh bersuara, perempuan itu merupakan tetangga sebelah rumah Bu Uci.
Meski pendiam kali ini rupanya Bu Saroh tak tahan untuk berkomentar, Dan diamini oleh yang lain
" Ayo masuk Mak !! Sandra ada didalam. "
Fatma kembali bersuara setelah kepergian Indah dan Ibunya. Emak mengangguk dan tersenyum ia kemudian masuk, diikuti oleh Salma.
" Eh kalian juga silahkan masuk, maaf ya harus melihat sedikit pertunjukan yang tidak pantas tadi .."
__ADS_1
Seolah tersadar jika yang lainnya tak ikut masuk, Fatma mengulangi ucapannya, dengan ramah Fatma mempersilahkan semua ibu-ibu itu untuk masuk, ia juga masuk ketika diluar sudah sepi.
Sandra yang masih betah menatap sang putri yang terlelap dengan air mata berderai, sama sekali tak sadar akan kehadiran Emak mertuanya dan juga para rombongan ibu-ibu. Matanya terlampau Fokus seolah jima ia berkedip sosok malaikat kecilnya itu akan hilang dari pandangannya
" Eh San !! Kenapa kamu ?"
Salma bersuara lebih dahulu karena yang lainnya,lebih memilih diam dan hanya memperhatikan saja. Meski mereka memasang wajah iba akan kondisi yang Sandra alami.
Sandra gelagapan dan memperhatikan setiap wajah yang hadir dengan panik, kemudian dia menunduk dalam, tak tahu harus menjawab apa akan pertanyaan yang diajukan Salma.
Seolah tahu perasaan Sandra, Lastri mendekat. Melihat kearah bayi Sandra yang tertidur pulas. kemudian kembali lagi melihat wajah Sandra yang masih betah menunduk, dia meraih tangan Sandra dan menyelipkan uang ditangan menantunya.
" Maaf Ya nak, Dadang belum bisa kesini sekarang !!"
Sandra menatap uang yang diberikan sang mertua dengan datar, namun matanya masih mengalirkan butir bening tanpa bisa dicegah, Dia terharu Emak masih perduli akan dia dan bayinya.
" Terima kasih Mak !! Aku ngerti kok kenapa bang Dadang seperti itu ?"
Sandra menangis, dia tak sanggup diingatkan lagi akan hal ini ? Tapi, kenyataan ini seolah menghukumnya, lagi dan lagi.
" Maafkan Sandra Mak. Sudah jadi menantu yang buruk dan sekarang malah semakin menunjukkan akan perilaku yang tak pantas "
Lastri turut menangis, secara tidak langsung Sandra sudah mengakui jika anak yang telah dilahirkannya ini, bukanlah anak dari putranya, Dadang. Namun untuk bertanya lebih lanjut, Emak tak tega. Biarlah aib ini akan jadi rahasia di diri Sandra.
" Jangan isi pikiranmu dengan sesuatu yang membuatmu menangis, Sandra . Jalani saja semuanya. Ingat, ada putrimu yang harus kau perhatikan dan butuh kasih sayangmu sekarang !!"
mereka berpelukan erat, cukup lama.
" Mak Salsa, bisa bicara sebentar ?" Fatma yang beberapa saat yang lalu baru saja duduk menghidangkan roti dan teh untuk para tamunya kini berbisik kearah Lastri.
" Aku tunggu dapur !!!"
Sandra yang mendengar ucapan tantenya, kini melepaskan pelukan Emak. Memberi ruang sang mertua untuk bicara empat mata dengan sang Tante.
Dan disinilah mereka sekarang ! Duduk berhadapan dimeja makan milik Fatma yang tampak bersih dan rapih.
Emak mengalihkan pandangannya pada sosok Fatma, dia menunggu besannya itu membuka mulut untuk bicara, namun malah menemukan jika Fatma yang dikenal sangat ramah dan ceria kini tampak menangis dalam diam.
__ADS_1
" Fat !! Kenapa kamu ? " Emak membuka suara pada akhirnya , karena memang dia sedikit tak nyaman jika berada di situasi seperti ini !
" Mak..!! Mak bisa kan bujuk Dadang untuk menerima Sandra dan bayinya ? Aku tahu aku lancang, seolah aku tak memikirkan perasaan Dadang, tapi !!!
Aku juga kasihan pada Sandra, dia masih terlalu muda, jika harus dihadapkan dengan hal seperti ini !!"
Emak menatap lekat Fatma, tubuhnya dia condongkan agak ke depan, " Kamu tahu siapa ayah dari bayinya ?"
Fatma menatap mata Emak yang penasaran, kemudian dia menggeleng.
" Aku nggak tahu Mak !! Sandra nggak mau cerita. Baru satu hari aku melihatnya sendiri dan menangis seperti ini, tapi hatiku sudah nggak tega Mak. Gimana kalau nanti Dadang benar-benar menalak Sandra, aku...aku...."
Fatma terisak, mulutnya sengaja dia tutup dengan tangannya, supaya tak terdengar sampai ke depan, dimana para tamu dan Sandra berada.
" Aku nggak bisa memberi keputusan apapun Fatma !!! ini adalah masalah mereka, meskipun aku ingin, aku harus tahu batasan ku. Jujur saja ,Dadang putraku sudah banyak berubah. Tapi untuk hal satu ini, akupun tak yakin jika Dadang akan bertahan dengan pilihannya untuk tetap bersama Sandra lagi, kecuali jika Sandra memberikan penjelasan yang tepat, akan apa yang sebenarnya telah menimpa dirinya sebelum datang ke desa kita ..."
Keduanya kini terdiam,sibuk dengan pikiran masing-masing..
Sementara para ibu-ibu diluar tadi, terdengar tengah berebut untuk mengendong bayi Sandra.
***
Nurdin dan Salsa kini tengah berada diruang keluarga, mereka tengah melakukan video call dengan Indra dan Hesti. Sebenarnya Indra sudah cukup lama bicara dengan Salsa, tapi kebetulan Bapak keluar kamar. Salsa menyodorkan hapenya ke Nurdin.
" Jadi benar Pak, mbak Sandra sudah lahiran ?"
"Kalau kata Emak sewaktu pamit tadi, benar seperti itu Ndra !!" Bapak menjawab pertanyaan anak keduanya itu dengan lesu, dia saja syok, karena mereka sudah dibodohi oleh perempuan muda seperti Sandra.
" Kok , Indra merasa. Ini teguran buat bang Dadang pak !! walau bagaimanapun mereka sudah zinah, itu dosa besar Pak. Kita tak bisa menghakimi pihak perempuan, karena dia juga kemungkinan korban, lagian juga bang Dadang asal tabrak saja, tanpa cari tahu dulu asal usulnya..."
Nurdin diam. Jujur saja dia sudah lelah membahas Dadang, meski dia sendiri telah mengusir putranya itu, tapi nalurinya sebagai seorang Ayah, tentu saja dia merasa simpati akan apa yang kini tengah dihadapi Dadang.
Salsa mengambil alih hape dan mengucapkan salam perpisahan, Dia tahu jika sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas abangnya Dadang didepan sang Bapak.
Bagaimanapun juga Dadang adalah anak pertama Bapak, dan sudah pasti memiliki kedudukan yang lebih istimewa di hati para orang tua, terutama Ayah. Bapak juga sering melamun belakangan ini, tepatnya setelah pengusiran Dadang waktu itu.
Salsa menatap mata tua itu dengan sedih. Dibuat malu dan terhina bertubi-tubi oleh Dadang, membuat Salsa khawatir kesehatan Nurdin menurun.
__ADS_1