Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Ada apa dengan Emak ?


__ADS_3

Meski buah kopi cenderung kurang dari tahun tahun sebelumnya, tapi karena memang kami memakai uang yang sejatinya akan digunakan untuk membangun rumah, maka walaupun sedikit biji kopi masih bisa dikumpulkan.


Semangatku semakin besar sekarang , karena berangsur-angsur sifat bang Dadang telah kembali lagi seperti dulu.


"Dek, kok Bara belum mandi sih jam segini ?"


Bang Dadang menghampiriku sambil mengendong Bara yang masih memakai baju tidur.


" Maaf ya Bang. Aku belum selesai masak nih , kan hari ini Abang bilang sendiri kalau bakalan banyak ngajak orang buat ikut panen kopi kita."


" Iya sih. Yaudah biar abang yang mandiin Bara ya Dek.."


Tak kuperdulikan ucapan bang Dadang, karena memang tugasku di dapur masih sangat banyak, karena hari ini aku bekerja sendirian , Salsa yang biasanya selalu membantu hari ini lagi menginap di rumah temannya, karena ada tugas kelompok dari dosen..


Rupanya bang Dadang benar-benar melakukan apa yang tadi dia ucapkan, diam-diam aku tersenyum. berterima kasih pada Tuhan yang telah menggerakkan hati suamiku itu


" Loh Dang kok kamu yang mandiin Bara, ibunya mana?" Suara emak terdengar hingga kesini, Bara memang sudah dimandikan oleh bang Dadang, dan digendong suamiku itu menuju ruang tengah , aku yang sudah selesai dengan tugasku di dapur malah menghentikan langkahku yang hendak mengambil Bara yang sedang diganti bajunya oleh bang Dadang.


" Jangan dimanja itu istrimu, Tugasmu cari nafkah, bukan jadi pengasuh. kan nggak adil, semuanya kamu lakuin sementara istrimu santai saja.."


"Siti lagi masak Mak di dapur, hari ini Dadang banyak bawa orang buat bantuin panen makanya agak lama masaknya, Sambilan nunggu pekerjaan Siti selesai , ya apa salahnya


jika Dadang inisiatif memandikan Bara, Biar ganteng dan wangi ya kan dek Bara..."


Aku dibuat terharu dan merasa lebih dihargai oleh bang Dadang, sekarang. Meski emak bersikap seperti membenciku tapi jika bang Dadang di sampingku dan selalu mendukungku maka aku tak akan kenapa-napa, meski harus selalu membasuh luka hati yang selalu berdarah..


" Terserah mu lah Dang, istri ngelunjak baru tahu rasa kamu. Kalau dia semakin malas, dan tak lagi perduli akan keberadaan mu..."


" jangan galak-galak nek, nanti cepat tua loh .." Bang Dadang menirukan suara anak kecil, sambil mengendong bara kearah ku, meski sedikit terkejut melihatku yang mematung tak bergerak didekat pintu pembatas antara dapur dan ruang tengah, namun bang Dadang bersikap biasa saja,


" Sudah selesai Dek ? Kalau sudah Abang mau berangkat nggak enak kalau terlalu siang,"


" Sudah bang, sudah Siti susun didalam ransel, abang tinggal angkat dan berangkat aja, insya Allah semuanya sudah lengkap, nggak ada yang tertinggal.."


" Makasih Bu, Emang paling the best lah istriku ini..heheh"


Bang Dadang mencium Bara gemas dan melangkah kearah dapur.


Tak lama ayah dari ketiga anakku itu kembali lagi, membawa ransel yang tadi ku sebutkan.


" Abang berangkat ya dek. Bara jangan nakal sayang " Lagi bang Dadang mencium Bara, anak bungsuku itu nampak geli akan kelakuan bapaknya, bahkan Bara memekik saking bahagianya.


***


Saat masuk ke dalam selesai mengantar bang Dadang sampai depan pintu. Aku menemukan Emak memandangku dengan tatapan yang tak aku mengerti.


" Siti, kamu itu sebenarnya sudah enak bersuamikan Dadang. Sebagai seorang istri petani kamu bahkan nggak pernah melihat kebun kalian secara langsung . Jadi perbesar syukurmu jangan buat suamimu harus kerja juga di rumah..."


Rupanya Emak memang menunggu kepergian bang Dadang untuk menegurku soal ini. Aku yang terbiasa patuh hanya mengangguk saja sebagai jawaban, takut jika mulutku malah salah bicara nantinya dan malah membuat keadaan makin panas.


" Simpati sedikitlah pada Suami. urusan rumah dan anak itu tanggung jawab mu, dan soal kebun biar jadi urusan Dadang. Emak rasa itu cukup adil ,bukan?"


" Iya, Mak. Maaf jika Siti telah salah.." Aku pamit dari hadapan Emak hendak menyusui Bara yang telah sedikit gelisah di gendongan ku.


Didalam kamar, aku menidurkan Bara di kasur, dan kini aku ikut berbaring di samping bocah gembul ku itu, mengAsihinya. Bara memang terbiasa menyusu sambil tiduran.


Sebenarnya apa yang emak ucapkan tadi ada benarnya, Karena memang semenjak menikah, hamil Rama dan kini bahkan telah memiliki tiga orang putra aku tidak pernah sekalipun ikut bang Dadang ke kebun, Meski saat panen sekalipun.


Jika dulu saat Rama masih jadi cucu satu-satunya, Bapak dan Emak memang melarang aku ikut bang Dadang walau sebentar, takut jika Rama digigit nyamuk, dan setelah lahirnya Dio. Rupanya aku sedikit kerepotan dan sekarang kehadiran Bara membuat emak berpikir jika Bara seperti senjata bagi ku, yang aku gunakan untuk mempengaruhi emak agar mengerti jika aku tak bisa ke kebun kami , tapi rupanya emak kesal karena semua ini. Dan malah membahas ini sebagai pembelaan pada putranya, yang merupakan suamiku.

__ADS_1


" Kamu kenapa Bu. Kok ngomong ke Siti sinis kayak gitu.."


Itu suara Bapak, meski heran kenapa mertuaku itu tak pergi kekantor, tapi aku juga tak punya hak dan keberanian jika harus menanyakan sebab bapak malah masih di rumah jam segini.


" Apa kamu mau, momong ketiga anak Siti ? Biar dia sekalian ikut Dadang buat panen kopi ?"


" Udahlah pak, kok malah dibela terus tuh si Siti, disini yang namanya istri petani yang harus juga ikut membantu suami pergi ke kebun. Banyak kok yang bawa anak, ke kebun. Mereka aja bisa kok, masa menantu kita malah berpangku tangan..!"


" Kamu juga gitu kan Mak saat anak-anak masih kecil ! jangan terlalu keras, anak orang loh itu. gimana kalau dia malah nggak kerasan disini, lagian Dadang saja menerima kenapa kamu yang malah protes . Bapak bukan membela, tapi membenarkan arah pikiran emak yang sedikit salah..! "


" humm.. kita lihat aja pak nanti. Katanya mereka mau bangun rumah, duit darimana. Emangnya cukup dengan uang dari Indra " Suara Emak terdengar Sewot dan meremehkan.


" Ngomong-ngomong soal rencana Dadang dan Siti. Bapak mau mengajukan pensiun dini, biar bisa dapat uang pensiunan. Bisalah nanti kita pakai uangnya buat bantu Dadang dan Siti , walau sedikit.."


"Loh pak, nggak bisa gitu dong. anak kita masih dua loh yang kuliah meski Agung selesai tahun ini tapikan Salsa masih dua tahun lebih lagi pak kuliahnya. Nanti malah anak kita nggak wisuda karena bantuin mereka..!"


" Pikiran mu itu, Bu. Dadang juga kan anak kita, Apa kamu lupa jika selama ini Dadang selalu membantu membiayai adik-adiknya saat kuliah, Indra aja ingat, Kok kamu sebagai ibunya malah seolah tutup mata. pokoknya Bapak akan bantu mereka, soal kuliah Salsa dan Agung, insya Allah nanti ada rezekinya tersendiri. jadi jangan terlalu khawatir.."


Kini terdengar suara hentakan kaki didepan kamar kami, dan akhirnya suasana kini menjadi hening, Hanya suara hape yang dimainkan Dio yang terdengar, Mungkin Emak dan Bapak mengira jika aku tak mendengar obrolan mereka karena asyik menemani Dio bermain ponsel,


" bang Dio, mau ikut ibu nggak ?"


Bara telah selesai menyusu, dan anakku itu malah berceloteh, celotehan khas Bayi.


"kemana Bu?"


" Ke depan jajan, Yukk ! Taro dulu ya hapenya, nggak usah dibawa, okey."


Dio bergegas meletakkan hape di atas nakas, kemudian mendekatiku yang kini tengah memperbaiki posisi Bara dalam gendongan.


Aku baru ingat jika hari ini aku memang punya janji sama ibu-ibu anggota arisan, karena hari ini adalah hari yang telah disepakati untuk melakukan penyetoran uang arisan, sebagai tanda dimulainya arisan tahunan kami.


" Eh cucu kakek mau kemana ?"


" Mau kumpulan sama ibu-ibu tetangga sekitar sini Pak, mau bahas soal arisan tahunan., buat nambah-nambah kalau ada yang kurang dengan rencana kami pak .."


" oh , Bagus itu Siti, biar nggak kerasa memang sebaiknya ikut arisan daripada pinjam sama orang kan !! Sini biar Bara dan Dio bapak aja yang temenin, soalnya Bapak libur juga hari ini , jadi bisa bantu kamu momong Bara dan Dio. Kan repot kalau harus bawa mereka."


Aku ragu sekaligus merasa sungkan, nanti malah disalahkan lagi sama emak. Tapi, " Apa nggak ngerepotin Pak. Nanti mereka rewel.."


" Sudah nggak usah dipikirin ,bapak nggak repot kok. Sana berangkat, aman mah kalau bapak yang jaga.."


" Makasih ya pak, kalau begitu Siti pamit ya pak ."


Aku menyalami Bapak setelah meletakkan segala perlengkapan Dio dan Bara kembali kedalam kamar, kebetulan kedua anakku itu sudah aku pakaikan pampers .


" Ini, susu Bara ya Pak. Dan yang ini punya Dio." akku meletakkan dua botol susu di kursi yang berada di samping Bapak,


"Assalammualaikum..!!


" Waalaikumsalam, Dadah ibu.."


Kulihat Bara dan Dio malah tenang dan tak menangis melihat kepergian ku. kedua putraku itu malah nampak bahagia, memandang wajah kakeknya.


" Ee Siti. Rama mana?" Bapak sedikit teriak, karena posisiku memang telah agak jauh.


Aku hampir lupa, dengan anak pertamaku itu. huh Apakah aku ibu yang jahat kkekeke


" Di rumah Revan pak, anaknya Sinta. Tetangga sebelah.."

__ADS_1


" Oh iya, nanti biar Agung yang jemput..."


Bapak mengangguk mengerti dan kini mengajak Bara bermain ciluk Ba. Rama putra sulung ku itu memang senang bermain diluar bersama taman sebayanya sekarang, dan tak lagi betah di rumah. Anak itu hanya akan pulang saat lapar dan jika dia pengen jajan. Meski begitu aku selalu menasehatinya agar jangan terlalu jauh kalau mau main, dan mendisiplinkan nya agar pulang tepat waktu,


Akhirnya aku sampai juga di rumah Mbak Salma, Kami memang telah menyepakati jika pertemuan kali ini dilakukan disini. wanita yang berusia 40 tahunan itu menyambutku dengan antusias , tapi matanya kini malah seolah sedang mencari-cari sesuatu saat aku datang seorang diri.


" Kenapa ya Mbak ? Cari apa "


" Loh Siti . Anak-anakmu mana ?"


" Oh .. anak-anak sama kakeknya mbak, kebetulan Bapak nggak kerja. jadi, beliau menawarkan diri menjaga anak-anak. katanya biar aku nggak repot juga hehhe."


Aku dapat melihat raut kekecewaan pada wajah mbak Salma, mbak Salma memang sudah menikah belasan tahun namun tak juga dikaruniai momongan. Itu yang kudengar dari beberapa ibu-ibu saat berkumpul di pos ronda waktu tempo hari


" Oh kupikir Emak Salsa yang nawarin diri buat momong, hahah.


kalau ada pak Nurdin mah pantes atuh bisa ditinggal.." Bu Ida menanggapi ucapan ku dengan santai.


" La iyah, dulu saja kata ibuku Pak Nurdin itu selalu momong anak-anaknya tiap sore, mandiin, nemenin main dan juga nyuapin makan, beruntung banget emak Salsa bisa dapet suami kayak gitu. Ya nggak ibu-ibu..."


Kini giliran Sandra yang buka mulut, usia ibu muda itu dua tahun di bawahku.


" Huum , aku kalau suami modelan pak Nurdin gitu. Pasti tenang -tenang aja walau brojol tiap tahun.."


Tawa kini memenuhi rumah mbak Salma, karena celetukan Bu Ida yang memang terkenal blak-blakan.


Aku juga bahkan tak sadar jika ikut tertawa, meski sedikit tak percaya jika Bapak mertuaku itu, berlaku seperti apa yang diucapkan ibu-ibu disini.


" Eh Tapi Siti. Gimana kalau suamimu ? sama kah sama Pak Nurdin ..Biasanya kan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.."


Kini bu Ida memandang lekat kearah ku , meski sedikit salah tingkah mendapatkan tatapan itu, namun sebisa mungkin aku menampilkan senyum ceria sebagai jawaban.


" Alhamdullilah Bu, Aman hehehhe"


" Syukur dong. Kamu kan pasti repot ngurusin tiga bocah yang jarak lahirnya dekat, apa lagi masih seatap sama mertua, kalau nggak dapet dukungan dan bantuan dari suami, alamat bisa stress .."


Aku kembalinhanya mengulum senyum, menanggapi ucapan Bu Ida. Meski agak risih kenapa malah soal ini yang dibahas sedari tadi.


Bagaimanapun keadaan rumah tanggaku, aku memang tak pernah menceritakannya pada tetangga, ketika kumpul kumpul dengan para ibu-ibu yang merupakan tetangga dekat rumah Emak.


Ucapan bude selalu aku jadikan alarm pengingat, agar tak sampai keceplosan membuka aib suami, karena aib suamiku juga merupakan aibku. Jadi sebisa mungkin aku mengerem ucapan yang bisa mengarah ke ghibah tentang para suami..


" Jadi, Mana uangnya ibu-ibu..


Setor , setor..." Aku nampak bersemangat, mengalihkan obrolan yang jujur saja membuat tak nyaman.


kini menunggu para anggota mengeluarkan uang setoran arisan mereka.


Setelah menghitung satu- persatu jumlah uang setoran dari masing-masing member, dan dirasa semua sudah cukup, aku mengumpulkannya menjadi satu dan meletakkan uang itu dalam sebuah amplop coklat yang telah aku siapkan.


Arisan kami ini memang tak begitu besar nominalnya. Hanya tiga juta rupiah pertahun. Dengan anggota 11 orang,


" jadi. Kalian bakalan tetanggaan dong sama mbak Salma ya kan , mbak Siti ?" aku memang mengutarakan ingin membangun rumah walau kecil pada Sandra dan tak aku sangka ,jika perempuan berparas manis itu mengusulkan agar aku membentuk arisan tahunan saja, dan alhamdulilah anggotanya kini berjumlah 11 orang, termasuk aku.


" Iya San, Doakan semuanya lancar ya. Dan uangnya bisa mencukupi.."


" Aamiin.."


Serentak ibu-ibu yang berjumlah 10 orang ini mengaminkan ucapan ku, Aku haturkan banyak syukur akan hadirnya mereka di hidupku. Meski aku memang tergolong orang asing dan tak mereka kenal sebelumnya. Tapi disini, aku diperlakukan dengan baik dan juga tak dibeda-bedakan.

__ADS_1


Seperti sebuah nasihat, carilah tempat dimana kamu dihargai, bukan dibutuhkan.


Semoga saja semua hal yang aku rencanakan berjalan dengan baik dan berakhir dengan kebaikan pula ..


__ADS_2