
Semakin hari, semakin terasa jika kehidupan rumah tanggaku dan bang Dadang sudah tak harmonis, namun sebisa mungkin aku masih merahasiakan ini pada bude, dan tak mengumbar aib rumah tanggaku pada sekitar.
Dan mulai sebulan yang lalu aku inisiatif mengirimi bude uang, meski tak banyak. Uang yang merupakan laba hasil penjualan online ku. Bang Dadang sengaja tak ku beri tahu, karena Aku ingin meyakinkan bude jika hidup kami lebih baik setelah menghuni rumah baru. Ini juga aku lakukan supaya bude tak lagi mengirimi kami uang bulanan, dengan dalih untuk cucu-cucunya.
" Bude sudah kirim uang dek ?"
Baru saja pikiran tentang bude melintas di otakku, sosok bang Dadang malah menanyakan soal uang kiriman.
" Nggak ada bang, Sawit lagi turun harganya. lagian bude juga kan sudah membantu pembangunan rumah kita. Nggak enak kalau Siti malah seolah ngemis ke bude atas nama anak-anak.."
"Humm ,.,seharusnya bude tahu loh dek. kalau habis bangun rumah, setiap orang pasti mengalami kemunduran soal ekonomi. Meskipun sawit murah sekalipun , bude kan sendirian. nggak terlalu banyak memerlukan biaya.."
Aku hampir saja mengeluarkan makian mendengar ucapan tak tahu malu dari lelaki yang telah delapan tahun menjadi pendamping hidupku itu. Bisa-bisanya bang Dadang berpikir seperti itu. Jikapun bude mempunyai tabungan yang banyak, terserah beliau mau digunakan untuk apa.
Selama ini aku tak menyadari jika suamiku malah terlena dan terkesan memanfaatkan kebaikan bude.
" Bang. kok kesannya kamu malah keenakan menerima kiriman dari bude. Lagian mau kebutuhan banyak atau sedikit seharusnya kamu tak perlu repot untuk komentar, harusnya kamu malu bang, Kita sudah cukup merepotkan bude selama ini, waktunya kita mandiri. Kamu harus bekerja lebih giat lagi . jujur bang, modal ku berjualan online semakin menipis, nggak akan cukup untuk bayar angsuran bank bulan ini.." Akhirnya keluar juga semua unek-unekku meski tak memaki.
"Abang benar kan , bude itu sebatang kara. Jadi untuk apa semua harta dan uangnya kalau bukan untuk kamu dan cucu-cucunya, pelit kok di pelihara.." Bang Dadang tak menatapku saat mengatakan semua itu, aku juga enggan jika harus membahas hal sensitif ini . Aku memang sudah dianggap anak sendiri oleh budeku itu, tapi tetap saja, aku pikir bang Dadang yang kini telah memegang tanggung jawab atas diriku. Bukan bude lagi.
"Lagian dek, bukannya sudah dua Minggu ini Abang jadi buruh ikut pak haji, emangnya uangnya kamu kemana kan ?"
Aku segera masuk kedalam kamar kami, dan keluar membawa selembar kertas. Ya, aku sudah mempersiapkan nota, mengantisipasi pertanyaan ini akan terdengar dari mulut bang Dadang. Dengan segera aku memberikan catatan kebutuhan kami selama dua Minggu ini, semuanya aku beri rincian secara detail, biar tak ada yang mengganjal dan malah ditanyakan kepadaku lagi.
__ADS_1
" Kenapa mesti pakai beginian segala sih dek, tinggal ngomong saja apa susahnya sih ." Meski protes, bang Dadang tetap menerimanya . Kini mata bang Dadang fokus kearah kertas yang kuberikan tadi. Beberapa kali ku lihat jika keningnya nampak berkerut , mungkin pusing, bingung atau tidak percaya akan apa yang telah dibacanya .
" Kok boros gini sih dek. Jajan anak-anak juga kenapa bahkan sampai 10 ribu sehari. .?"
" Kamu nggak lupa kan bang kalau anak kita ada tiga ...?"
" Ya..Iya.. Tapi seharusnya kamu beri pengertian ke mereka agar tak terlalu sering jajan. Kamu kan bisa kreatif sedikit bikin pempek kek, atau camilan yang hemat lainnya.."
" Kamu nggak lupa kan bang, kalau dulu di rumah emak mereka bahkan bisa habis 30 ribu sehari. Tahu sendiri anak sekarang memang lebih suka jajan daripada cemilan rumahan.
Dan juga Mereka masih kecil mana ngerti susahnya cari duit. .
Jangan limpahkan perasaan ketidak mampuan kamu pada anak-anak kita.."
rumah ini.."
Aku mencelos, kenapa bang Dadang malah salah pengertian soal apa yang aku utarakan.
" Bang, Anak kita sudah tiga. Dan pertumbuhan anak-anak itu sangat cepat. Aku nggak mau kamu seolah menuduhku boros terus, dan soal bude, aku malu, seharusnya kita yang ngasih ke bude. Tapi nyatanya apa ? Bude yang selalu menyokong ekonomi kita, bahkan sampai kemarin kita bangun rumah tak luput dari bantuan bude. Kamu semakin hari semakin perhitungan, makanya aku beri perincian. Agar kamu tahu dan mengerti jika kebutuhan rumah tangga ini sebesar itu.."
Bang Dadang kini menunduk, waktu pembayaran angsuran bank, seminggu lagi. Aku yang selalu sigap dan tanpa kata melakukan pembayaran, kini merasa lelah. Entah kenapa, sikap bang dadang membuatku kini seperti istri dzolim. Tapi jika
tidak dibuat seperti ini mungkin suamiku itu tak akan sadar dan malah terlena.
__ADS_1
" Ya ,sudah. Nanti Abang pikirkan solusi soal uang bank, hari ini Abang libur dulu ya dek, capek!! "
" huum nggak apa , Tapi aku minta libur juga bang, boleh? satu hari saja. Mau ikut mbak Sari tetangga depan panen cabe, besok. Lumayan, nggak usah beli cabe, kan cabe lagi mahal..."
Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu ibu-ibu mengajakku, waktu yang digunakan untuk panen juga tak terlalu lama , jadi Bara bisa ditinggal dengan bang Dadang untuk sementara. Kuharap suamiku kali ini mengerti akan keinginanku.
" Enggak usah ikut-ikutan kayak gituan dek, lagian tugas kamu itu di rumah, urus anak. Bukannya ngikutin sinetron yang dulu trend, dunia terbalik. lagian cabe rawit kan sudah ada, Abang ambil banyak di kebun pak haji kemarin. Pakai saja itu, lebih pedas malahan.."
" Ya niatnya biar buat campuran bang. Kan nggak enak dilihat, kalau cabenya ijo semua.."
" Yang penting itu rasanya dek, soal penampilan Abang nggak akan protes!"
Padahal aku ingin sekali, merubah rutinitas kesibukanku walau hanya sehari saja. Bukan tak sayang anak, tapi jenuh juga kadang datang, karena aktifitas sebagai ibu rumah tangga yang tak pernah ada habisnya.
" Abang mau tidur ya dek, Biar besok bisa segar lagi. Dan semangat bekerja, hehe.."
Bang Dadang mengecup keningku, dan masuk ke dalam kamar.
Aku mengambil hape dan melihat jam yang tertera, hari masih pukul sepuluh pagi. Apakah ini artinya, suamiku itu akan tidur sampai besok.
Entahlah, daripada memikirkan itu kini aku memilih membuka Facebook, mengecek pesan dan komentar. Siapa tahu, orderan datang.
kebetulan juga Bara dan Dio, diajak main ke rumah Mbak Salma. Mereka biasanya akan betah di sana, jadi aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk posting produk terbaru, maupun berselancar menonton live akun penjualan yang ada di aplikasi berlogo f itu.
__ADS_1