
Pria yang masih tampak gagah itu menyentuh dadanya, membuat Siti dan Fian panik dan ingin segera menghampiri, namun syukurlah tidak terjadi apa-apa pada kakek dari anak-anak Siti itu, meski Nurdin sedikit dibuat senam jantung oleh kabar yang di ucapkan Siti.
" Berikan nomor rekening kamu Siti. Bapak akan ganti uang yang Dadang ambil dari kamu!!.."
Nurdin menyodorkan hapenya ke arah Siti. Tapi Siti menolaknya.
" Uang apa Pak ?" Lastri sang istri menyahuti ucapan Nurdin, sedari tadi dia memang masuk kedalam entah ada pekerjaan apa. Tapi rupanya ucapan sang suami yang cukup kuat memancingnya untuk bertanya, mencoba mencari tahu.
" Dan kenapa diganti segala ?"
Siti menunduk tidak mengira jika emak harus mendengar juga semua hal ini.
" ini loh , Mak. Anakmu, bikin ulah, uang Siti di ATM miliknya malah diambil, bukannya kasih nafkah malah menggerogoti. Apa nggak mikir anak-anaknya mau makan apa ?"
Lastri memandang Siti " Benar Ti ? kok bisa ?"
" Kartu ATM Siti ketinggalan di rumah belakang, Mak. nggak ada waktu juga untuk kesini mau ambil. Dan kemarin ada yang menggunakan kartuku untuk tarik tunai di mesin ATM yang didekat Pasar. Bukan su'udzon Mak. Tapi cuma bang Dadang yang tahu kode PIN nya"
Siti berucap lancar, dan memandang ekspresi emak yang menatapnya penasaran. mendengar itu Emak nampak menunduk, seolah mencerna apa yang baru saja Siti sampaikan.
" Dang. .....Dadang....!!!,"
Lastri malah memanggil Dadang dengan keras, seolah tak bisa menahan emosinya lagi.
Dadang yang Asyik dengan kegiatan bermainnya dengan anak-anak, kini tersenyum untuk pamit. Setelah mendapat izin, Dadang bergegas masuk kedalam rumah menemui Emak yang seolah tak sabaran,
" Ada apa Mak ?" Dadang menyadari jika keempat orang yang berada didepannya kini menatapnya lekat, seolah dia melakukan kesalahan , entah apa ?
" Mana kartu ATM milik Siti ? Kembalikan ke Emak . Cepat !!"
Suara penuh penekanan itu, membuat Dadang kaget dan kebingungan, ia malah menatap Siti heran.
" Kenapa nanya ke Dadang Mak !! Kan itu ATM Siti, otomatis dipegang sama Siti lah!!"
Dadang menjawab cuek, tak perduli ketika mata Nurdin melotot kearahnya dengan diselimuti amarah yang besar.
" Jangan pancing Bapak untuk berkata jahat dan kasar Dang !! Kembalikan sekarang, atau kamu bapak laporkan atas tuduhan pencurian. Ngerti kamu!!"
Dadang semakin dilanda kebingungan, tadi Emak menanyakan kartu ATM Siti dan sekarang Bapak malah menyingung soal pencurian..
" Maksudnya apa sih pak. Dadang beneran nggak ngerti tahu nggak . Bisa-bisanya Bapak mengancam ditengah ketidak tahuan Dadang.."
" Kembalikan kartu milikku bang. Meski kartu itu sudah aku blokir, tapi aku perlu kejujuran kamu. Itu adalah uang hasil kerja kerasku, dan aku peruntukan bagi anak-anak . . Jadi, jika kamu tak bisa lagi menafkahi mereka, setidaknya jangan kamu ambil uang yang menjadi hak mutlak milik mereka"
Dadang merenung. perkataan Siti yang mengatakan jika kartu telah dia blokir mengingatkan Dadang akan kelakuan Sandra sang istri saat mengambil uang di ATM tadi.
Apakah ini ulah Sandra, memikirkan ini juga membuat ingatannya kembali pada hari kemarin, dimana Sandra memborong banyak makanan dan juga sembako. Dia harus memastikan sendiri,
Tanpa kata, Dadang akhirnya keluar untuk pulang..
Jika benar, dia tak tahu akan bereaksi seperti apa terhadap istrinya yang tengah hamil itu, tapi yang jelas dia amat malu dan kecewa jika memang benar Sandra telah menyalahgunakan kartu Siti.
__ADS_1
Kepergian Dadang membuat suasana menjadi hening, tak ada yang mau beranjak untuk mengejar Dadang, tapi mereka malah berperang dengan pikiran masing-masing. Sikap Dadang memang tenang seolah tak melakukan apa yang Siti tuduhkan, namun kepergiannya tanpa kata, malah semakin membuat tuduhan ini terasa benar adanya.
Suara langkah kaki kini mendekat kearah pintu masuk. Siti sudah berpikir jika Dadang lah yang kembali tapi rupanya, yang datang adalah Salsa. Gadis itu langsung masuk dan duduk didekat Emak.
Salsa kemudian mengedarkan pandangannya, ketika merasa jika hawa di ruangan ini terkesan dingin. Apalagi ia menemukan wajah Emak yang sembab karena tangis, jiwa penasaran Salsa, kini menguar.
" Mbak, Gimana tulisannya ? lancar !" Salsa memandang Siti antusias, apapun pembicaraan mereka sebelum kedatangannya, ia tak perduli. Tugasnya sekarang adalah mengalihkan pikiran keempat orang didepannya.
" Alhamdulilah Sa, semua lancar. Bolehlah cuannya meski harus ngumpulin nya setengah mati.." Siti tersenyum,
" Iyah. Tapi Abangmu yang nggak punya Akhlak itu malah mengambil uang yang seharusnya dinikmati anak-anaknya. Bapak kehabisan sabar , Sa. Entah kenapa Bapak merasa asing dengan sosok Abang mu sekarang ?"
Siti menunduk, tak menyangka jika jawabannya disambungkan juga oleh Bapak akan hal ini ?
" Maksudnya apa Pak ?"
Salsa yang penasaran akhirnya mengutarakan juga pertanyaan itu dari bibirnya.
Emak menyentuh tangan Salsa, naluri ibu memang selalu membela anaknya ternyata adalah kebenaran, hingga Lastri malah mencoba mengalihkan pembicaraan sang suami pada putri mereka satu-satunya
"Kamu tadi ke rumah Abang mu Sa ?" Pertanyaan Emak membuat Salsa menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
" Ya Mak...! kenapa memangnya ?"
" Kamu ada lihat sesuatu yang aneh nggak dirumahnya abang mu Dadang,, ?Mereka ada beli barang baru nggak Sa ?"
pertanyaan emak memaksa pikiran Salsa untuk mengingat akan setiap sudut rumah abangnya, namun semuanya tampak biasa dan tak ada barang baru apapun yang dia temui.
Salsa tertawa ngenes, kelakuan kakak ipar barunya itu memang ajaib, ingatannya malah tertuju saat dia mengejar Sandra tadi. Bukannya menangis seperti perkiraan Salsa, tapi Sandra malah asyik ngemil didalam kamar, sama sekali tak terbebani dengan peristiwa yang baru saja terjadi, kesempatan itu Salsa gunakan untuk nebeng makan , dan memuaskan diri dengan camilan ukuran jumbo dan jarang bisa dibelinya karena sayang uangnya hihihi
" Sudahlah, Lastri !! Nggak usah cari alasan untuk membela Dadang. Tak akan ada asap jika tak ada api kan ?"
***
Sementara itu di rumah yang dibangunnya bersama Siti. Dadang kini tengah mengeledah kamarnya dengan Sandra, Karena istrinya itu berlari keluar saat dia masuk tadi. Hal itu tentu saja menguntungkan Dadang karena tak perlu adu mulut dengan Sandra terlebih dahulu.
Dadang semakin merasa beruntung, bisa menemukan uang didalam tas bahu yang digunakan Sandra untuk tarik tunai kemarin.
Masih ada lima belas juta sisa uang di tas itu. Dadang sejujurnya tak tahu berapa nominal yang telah diambil Sandra. Tapi lebih baik dia mengembalikan ini dulu dan bertanya langsung ke Siti .
Baru saja hendak melangkah keluar , Dia ingat akan kartu yang ditanyakan Emak. Dadang berbalik lagi, mengulangi pengeledahan, ia tak perduli dengan kamar yang berantakan akan ulahnya, ditambah lagi semua sampah bungkus Snack yang terinjak-injak dikakinya.
Cukup lama, pria 32 tahun itu mengeledah kamar mereka. Tapi tak juga menemukan kartu
ATM yang dicarinya.
Ditengah kesalnya dia malah menemukan kantung kresek yang masih dipenuhi aneka camilan. Entah kapan dan dimana Sandra membeli ini. Tapi yang jelas , Dadang segera membawa semuanya ke rumah Emak, dan berinisiatif memberikannya pada anak-anak saja.
Sesampainya didepan rumah Emak Dadang lega, melihat anak-anaknya masih asyik bermain, dia segera masuk mencari Salsa. Berniat menyuruh Salsa mendampingi anak-anak sementara ia menyelesaikan permasalahan yang telah ditimbulkan oleh Sandra, sang istri.
" Sa ,temani ponakanmu gih sana !! ini kasihkan ke mereka.."
__ADS_1
" Wihh... Snack Favorit Salsa nih bang.. Kirain tadi sudah habis jadi cemilan mbak Sandra, rupanya masih ada stok nya yah "
Salsa menenteng kantung itu keluar, memanggil keponakannya dengan ceria, sembari mengeluarkan satu pack Kripik kentang ditangannya, membuat ketiga putra Dadang itu menghambur kearah Sang Tante. Dan tak memperdulikan mainan yang masih berantakan.
" Yey camilan...!!!"
Rama berseru senang.
" Mainannya nanti saja Rama rapikan ya ,Tan ? Rama mau nyemil dulu...hehehe"
" Oke , nggak apa ! Tapi semuanya masuk kedalam dulu ya , cuci tangan dan kaki .Ok..!!"
Si kecil Bara seolah tak sabaran dan malah meminta digendong oleh Salsa sembari tangannya ikut repot membantu sang Tante memegang kresek yang berukuran sedang ditangannya. Membuat Salsa gemas dan menciumi Bara bertubi-tubi.
Mereka berjalan beriringan melewati ruang tamu dan langsung menuju kamar mandi yang ada di dapur, setelah semua bersih . Salsa mengajak ketiganya masuk kedalam kamarnya.
Dadang melirik kedalam, dan setelah memastikan Salsa telah masuk ke kamarnya bersama anak-anak .Dadang langsung mengeluarkan uang yang tadi, dibawanya.
" Ini Dek. Kamu hitung, Abang nggak tahu sudah pakai berapa banyak. ."
Dadang melirik Emak yang tak percaya dengan kelakuan anak sulungnya.
" maafkan Abang Dek ,Abang khilaf . Bener-bener nggak tahu meski cari uang kemana ?"
Dadang kini menunduk, sementara Siti kini sibuk menghitung uang tersebut. Tak terlalu mendengarkan ucapan Dadang.
" ini lima belas juta bang. Jadi yang Abang sudah pakai lima juta. Oh iya kartunya mana Bang ?"
Siti menengadahkan tangannya dan menatap datar pada Dadang.
Dadang gelagapan, entah kenapa tadi dia malah mengakui kesalahan yang sama sekali bukan ulahnya, jika sudah ditanya begini. Dia malah bingung sendiri.
" Abang lupa narok dek !! Kata kamu kan sudah diblokir, jadi nggak apa-apalah kalau kapan-kapan Abang pulangkan kartunya..!!"
Dadang berucap dengan senyuman tak enak. Melirik ke arah Fian , yang sedari tadi mungkin sudah sariawan karena terlalu banyak diam dan disuguhi Sesuatu yang merupakan aib ini.
" Bukan masalah Kartunya bang, tapi kejujuran Abang. Tapi terima kasih ya sudah dibalikin uangnya..!"
Siti menyimpan uang itu kedalam tas, dan memasukkannya ke dalam Amplop yang memang selalu ada didalam tas tangan Siti.
" Istri kamu tahu kelakuan kamu yang nggak manusiawi ini Dang ?"
Bapak bersuara lagi, menatap Dadang masih dengan emosi penuh. " Jika dia tahu dan mendukung. Sungguh kamu sudah jadi lelaki gagal Dang, bukannya mengingatkan malah mengajak masuk lobang neraka bersama. Entah kemana sekarang otakmu kamu tempatkan. Itu uang untuk anak-anakmu loh Dang !! Bisa-bisanya kamu malah..."
" Sudahlah Pak , yang penting Dadang sudah mengakui kesalahannya . Dan mudah-mudahan dia bisa berubah jadi lebih baik kedepannya, .."
" Iya. Tapi jangan lupa ganti uang Siti, sekalian juga uang nafkah anak-anak yang sudah kamu abaikan beberapa Minggu ini.."
" Iya Pak. Sekali lagi Maafkan Dadang. ."
Dadang menunduk, semuanya kini menyalahkannya, dia sangat berharap saat dia pulang nanti Sandra tidak di rumah. jika ada, maka dia tak tahu apa yang akan dia lakukan pada istrinya yang perangainya berbanding terbalik dengan Siti , Istri pertamanya..
__ADS_1