Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Menantu pertama


__ADS_3

Ternyata perkiraan ku salah, bude memaklumi dan tak bertanya alasan apa yang menyebabkan aku tak ikut sholat subuh bersama. Mungkin aku dan bang Dadang saja yang terlalu parno . Aku memutuskan untuk rebahan setelah mandi. mencoba meredakan rasa nyeri yang masih terasa.


Setelah pukul 6 pagi , bude masuk ke kamar. Bude tahu jika bang Dadang sedang didepan memanaskan mesin motor karena itulah beliau langsung masuk saja.


" Mau makan apa hari ini Siti ?"


kami memang tak biasa, jika sarapan terlalu pagi. biasanya saat pagi kami hanya mengganjal perut dengan pisang goreng ataupun makanan ringan lainnya.


" Apa saja boleh. Emang bude ada kepingin sesuatu ? Ayok kita masak bersama.."


Bude ternyata bukan semata ingin melihat keadaanku, karena sedari tadi beliau sibuk membongkar susunan pakaian di lemari milikku.


" Bude cari apa ?"


" Bude lupa dimana naro baju yang dipinjam si Ani, waktu jadi pendamping kamu. Mungkin aja ketumpuk sama baju kamu dan ada disini..!!"


Aku turun dari ranjang, mendekati bude yang sepertinya belum menemukan apa yang dicarinya,


" Yang warna pink kan bude ? "


"Iya . . Eh ini ketemu Ti..! Bude pikir bakal ganti rugi lagi, ini sewa sama si Minah kamu tahu sendiri kan mulut nya kayak gimana kalau kesal, atau ada masalah, bisa jadi panjang dan diomongin satu kampung hhhh. .."


Aku tersenyum, membayangkan Mpok Minah yang bertubuh gempal itu. Memang orangnya baik, tapi ceplas-ceplosnya kadang nggak tahu tempat dan nggak mikirin perasaan orang lain..!


"mau nungguin kang sayur atau ke pasar aja bude. biar diantar sama bang Dadang..." Aku kepikiran kang sayur yang biasa datang beberapa hari ini tak terlihat datang , karena khawatir tak ada lauk untuk dimasak, maka tak salah kan jika mengantisipasinya dengan langsung saja ke pasar. Daripada menunggu sesuatu yang tak pasti.


" Iyah bude memang mau ke pasar sekalian mau balikin ini baju.."


Bude melipat dan merapikan baju itu dengan koran, kemudian memasukkannya kedalam kantong plastik hitam ..


" Bude juga sudah ngomong Ke Dadang kalau minta dianterin..!!"

__ADS_1


***


Setelah mendengar motor bang Dadang melaju meninggalkan rumah, aku segera menuju dapur. Bude sempat bilang kalau dia kepingin Soto babat . Jadi tugasku sekarang adalah menyiapkan bumbunya sementara bahan utama masih dibeli oleh bude.


Karena memang belum tahu persis sambel kesukaan bang Dadang jadinya aku hanya membuat sambel teri dengan tomat yang banyak.


Rupanya kesibukanku membuat aku tak sadar jika kini bude dan suamiku itu telah kembali.


" Ini Ti. Bude sengaja pilih yang sudah bersih plus tadi minta dipotong-potong sama mamang yang jualan ..Jadi, kamu tinggal keringkan airnya.


Masukkan presto aja biar cepat prosesnya.."


" Loh kenapa bude , bude udah laper ?"


" Nggak bude belom laper kok. Kitakan emang terbiasa nggak sarapan nasi kalau pagi, tapi kan sekarang ada suami kamu jadi kita harus menyiapkan sarapan. Siapa tahu kan Dadang terbiasa sarapan nasi. nggak lucu kan suamimu malah kelaparan diawal pernikahan kalian..."


" Iya juga ya bude hehehe !!"


Aku menghampiri Bang Dadang yang nampak asyik menonton televisi, disampingnya terdapat gelas kopi yang hanya tinggal ampasnya, Dia nampak menguap meskipun jam baru menunjukan pukul sembilan pagi.


" Makan dulu bang !! Aku belum tau kebiasaan Abang, Jadi nggak salah kan kalau aku nawarin makan jam segini..?"


" ayokk.. Abang biasanya langsung sarapan nasi kalau pagi dek, hehe..Tapi ya namanya juga baru, kan mesti perlu penyesuaian dalam hal apapun .." Suamiku itu tersenyum seraya mengelus tanganku, dan kini dia malah menggandengku menuju dapur.


"Loh bude mana ? " Bang Dadang bertanya karena sosok bude memang tak ada di dapur.


" Katanya mau makan !!"


" Aku sama bude nggak biasa makan jam segini bang. Biasanya jam 11 an sekalian makan siang.. "


Bang Dadang mengangguk mengerti, dia segera duduk sedangkan aku berinisiatif mengambilkan nasi dan lauk untuk lelaki yang baru saja jadi suamiku itu..

__ADS_1


" Mudah-mudahan abang suka Ya. Ini Siti masakin khusus buat abang.." Aku ikut duduk di samping bang Dadang, menatapnya yang nampak lahap memakan Soto dan sambal teri.


" Abang nggak pemilih kok dek. Kalau soal makanan. yang penting manusia makan, abang juga pasti ikut makan. ." Tuturnya disela-sela mengunyah makanan...


***


Seminggu tak terasa kini telah berlalu, Malam ini bang Dadang nampaknya ingin membicarakan hal yang serius..Karena sedari tadi, lelakiku itu hanya diam. Dan memandang kosong ke TV yang menyala.


Hingga akhirnya dia seolah telah menemukan momentnya, hingga mengajakku memasuki kamar kami.


" Kenapa bang, kok kelihatan gelisah sedari tadi ?"


Aku yang greget sedari tadi akhirnya menyuarakan juga rasa penasaranku.


" Dek, kamu bilang ke emak jika kamu mau kita serumah sama beliau ?"


Aku mengangguk ragu " Iya, tapi aku nggak tahu kalau kamu sudah bilang ke emak kalau pengen ngontrak aja. Aku serasa dijebak..." Aku menunduk, sepertinya aku belum siap mental jika harus serumah dengan mertua.


" Jadi. kamu tetap mau kita ngontrak ?"


" Apa boleh, Apa nggak kenapa-napa sama Emak dan Bapak. Aku kan sudah bilang mau. .."


" itulah yang Abang bingung. rencana Abang sudah matang saat datang kesini, memintamu sama bude. Abang mau turutin keinginan kamu agar kita misah dari emak ..Tapi, kalau kamu sendiri bilang setuju , ya gimana dek. masa abang ngotot sama mereka.." Kulihat bang Dadang meremas rambutnya, Setelah satu Minggu kebersamaan kami tentu aku hapal walau sedikit, Cara bang Dadang saat mengutarakan rasa cemasnya. Melihat itu aku merasa bersalah


" Nggak usah terlalu dipikirin bang. Aku siap kok tinggal serumah sama Emak dan Bapak. Lagian kan mereka orang tua kamu, jadi setelah kita menikah otomatis mereka juga jadi orang tuaku juga. Insya Allah. semuanya akan baik-baik saja."


" Aku bukan mengkhawatirkan kamu dan emak bisa akur atau tidak dek. Tapi, lebih ke nggak enak karena sudah ingkar janji sama kamu..


Masa baru seminggu kita nikah, aku sudah ingkar janji. aku takut kamu malah mengurangi nilai plus ku sebagai suami..Lagian kalau masalah emak dan juga keluarga besar ku . aku yakin kamu pasti bisa diterima dan diperlakukan dengan baik. Karena kamu menantu pertama di keluarga kami. Jadi jangan khawatir..."


Bang Dadang mengelus keningku, dan memandangku lekat. entah aku yang terlalu takut ,atau ini karena aku keseringan baca novel tentang mertua dzolim. Tapi rasa tak nyaman terasa datang tiba-tiba ketika aku sadar jika seminggu waktu yang ku pinta pada emak mertua ,telah berakhir. Dan ini berarti, aku akan meninggalkan bude sendiri dan menjadi menantu yang serumah dengan mertua. Ucapan Emak setahun yang lalu masih membekas, meski kemarin saat pernikahan dia memperlakukan ku dengan baik. Tapi , kekhawatiran itu tetap datang.

__ADS_1


__ADS_2