
Satu bulan kurang tiga hari, suamiku tiba-tiba pulang. Tanpa membawa koper, dan hanya membawa kantung kresek hitam yang katanya wadah baju kotor. Jujur saja aku merasa heran, dan juga khawatir akan apa yang terjadi sebenarnya pada suamiku itu.
Bang Dadang belum juga mau bicara, dia hanya diam dan bergegas menuju kamar mandi. Aku yang berniat mengikutinya malah mendengar suara Mbak Salma, yang berteriak mengatakan jika Bara pup dan sepertinya anak bontotku itu terserang diare.
Aku pun segera pergi ke rumah mbak Salma dan membersihkan kotoran putraku, yang tercecer mengotori lantai rumah mbak Salma.
" Kayaknya Bara masuk angin deh Ti. Soalnya nggak biasanya pupnya encer kayak gitu. Pulang nanti kamu balurkan bawang merah, sekalian juga dikerok, tapi jangan terlalu kencang Ya,.. "
" Iya Mbak, maaf ya. anak-anak Malah bikin repot Mbak terus-terusan,.."
" Nggak papa kok Ti. kan kita tetangga wajarlah saling mengerti dan membantu, lagian kamu tahu sendiri kan jika mbak nggak punya kesibukan di rumah, hadirnya anak-anak kamu malah jadi semangat buat Mbak."
Aku sedikit tak enak mendengar ucapan keluhan dari mbak Salma, seolah aku mengingatkan dirinya yang masih belum juga dipercayakan soal momongan.
Aku akhirnya pamit, dengan membawa Bara yang kini tak lagi pakai celana.
Sampai di rumah aku lihat bang Dadang telah selesai mandi dan duduk dengan santai di dekat meja makan.
secangkir kopi dan juga sebungkus rokok, menemani sosok suamiku itu. keheranan ku semakin bertambah tumben bang Dadang tak minta dibuatkan dan malah menyeduh kopi sendiri. Padahal aku tahu jika dia sedang lelah, karena perjalanan yang cukup lama.
" Dari mana Bara, dek. ? Kok nggak pakai celana?"
" Dari rumah Mbak Salma bang. Bara diare, tapi untungnya badannya nggak panas.."
Bang Dadang tak menanggapi keluhan ku dan kini malah nampak melamun, sedangkan aku kini memakaikan celana Bara , setelah selesai aku segera mengambil
bawang merah dan minyak telon. Melakukan apa yang tadi mbak Salma sarankan.
" Mau diapakan Itu dek ?"
" dibalurin ke badan Bara bang, dikerokin juga. Kata mbak Salma ini ampuh, kalau bayi masuk angin.."
" Sok tahu tuh mbak Salma, memangnya dia bidan. nggak punya anak kok malah sok tahu soal beginian.."
Aku diam, kenapa juga bang Dadang jadi sewot dengan mbak Salma, ada apa sih dengan suamiku ini sebenarnya..
" Aku mau ke rumahnya Emak dulu, dek. Suntuk di rumah.."
Aku semakin dibuat terperangah dan keheranan. Kopi di gelas bahkan masih tampak utuh tak tersentuh.. Daripada pusing aku kini lebih memfokuskan diri pada Bara yang telah telungkup di depanku. Sebenarnya aku juga tahu, jika bawang merah memang baik untuk anak-anak yang masuk angin. Karena pernah baca artikel yang berhamburan di media sosial.
Makanya aku langsung ingin mengaplikasikannya pada bungsuku.
Bara tampaknya sangat menikmati sentuhan tanganku pada tubuhnya. Berhubung dia memang belum tidur siang. Jadinya bocah itu malah tertidur lelap. Setelah memastikan semua tubuh Bara sudah rata terkena minyak telon . Aku mengubah posisinya menjadi telentang, memakaikan baju padanya tak lupa mencium pipi gembul nya yang semakin hari semakin terlihat seperti bakpao saja.
__ADS_1
aku masih kepikiran tentang sikap bang Dadang yang menurutku aneh, maka dari itu aku segera menghubungi Rio, menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Nada dering kini terdengar di telingaku, sedikit was-was takut telpon dariku malah menganggu pekerjaannya, syukurlah tak terlalu lama menunggu teleponku diangkat .
' Assalammualaikum Rio, apa kabar ?'
Aku mengucapkan salam, dan bertanya kabar sebagai basa-basi. Tak enak jika langsung bertanya ke intinya.
'Waalaikumsalam.. Eh aku baik. Dadang sudah sampai ke rumah kalian belum, Siti ?'
Aku yang heran tetap menanggapi pertanyaan Rio dengan santai.
' Sudah. Tapi dia sedikit aneh. Kalau boleh tahu kenapa ya dengan bang Dadang ?'
' Dia minggat Ti. nggak pamit sama mandor yang baru. aku juga nggak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya terjadi, yang jelas Dadang terlibat cekcok mulut dan minggat dari Mes.. Dia juga mencuri uang rekannya satu juta..'
Sebagai Istri tentu aku shock, Tapi aku harus tahu alasan pasti dari mulut bang Dadang sendiri. Aku tak mau gegabah dan menyalahkan sikap tak menyenangkan yang bang Dadang lakukan.
' Eh Ti, sudah dulu ya, aku masih ada pekerjaan ini. Untuk lebih jelasnya, kamu tanya sendiri nanti sama suamimu. Dan soal uang satu juta itu, anggap saja gaji untuk Dadang, sisanya nanti aku transfer..'
Telpon terputus membuatku memandang kosong benda pipih yang kini layarnya telah menggelap. Kenapa mesti seperti ini sih Bang?
***
" Bu, Ayah sudah pulang ya?"
Aku tersadar dari lamunan, menatap Rama yang sedari tadi belajar membaca di depanku,
Aku hanya mengangguk mengiyakan,
" Tapi, Kamu tahu darimana ?"
" Tadikan aku ke rumah nenek, Ayah ada di sana lagi tidur.."
" Oohh..Rama belajar sendiri ya, ibu mau ke rumah nenek sebentar, ketemu Ayah..oke!!"
" Oke Bu..!!,"
Belum sampai didepan pintu bang Dadang sudah pulang dengan mengendong Bara, Dio juga terlihat mengikuti langkah ayahnya.
" Aku tidur di rumah emak tadi. Soalnya kalau di rumah ini pasti rame dan malah nggak jadi istirahat."
" Oh ,nggak papa kok Bang. Sudah makan belum? kalau belum makan gih sana. Kami semua sudah duluan tadi."
__ADS_1
" Sudah . Tadi makan di rumah emak."
Dio dan Bara kini merecoki Rama yang kini sedang anteng bermain dengan mobil-mobilan. Rupanya anakku itu sudah menyudahi kegiatan belajarnya. Jadilah kini mereka sibuk berebut, meski akhirnya main bersama..
" Ada apa sih Bang ! Kok pulangnya mendadak. Terus, koper kamu mana ?"
Aku kini duduk lesehan didekat bang Dadang, yang memang sudah duduk terlebih dulu.
Aku sengaja tak memberi tahu bang Dadang jika aku sudah menelpon Rio, aku ingin mendengar versi dari suamiku dulu.
" Rio dipindah tugaskan dek, dua Minggu yang lalu..
Mandor dan supervisor nya juga diganti orang lain. Jadinya Abang kerjanya nggak nyaman. Dikit-dikit kena omel, dikit-dikit disalahkan . Ya Abang lawanlah mereka.. Kita memang kerja dibawah arahan mereka tapi nggak harus dijajah juga kan.." Bang Dadang masih terlihat kesal, saat menceritakan kronologinya.
" Oh jadi kamu pulang kesini, minggat bang ?"
Suamiku itu menunduk, seolah mengakui hal yang baru saja ku katakan "Ongkosnya dapat dari mana bang ?"
Dapat kulihat jelas jika wajah bang Dadang kini tampak memucat, Aku akan menghargai kejujurannya jika nanti memang dia mencuri.
" Abang pinjam dek, lima ratus, ke teman yang satu kamar dengan abang.."
Pinjam!!!
Lima ratus ?
Aku memang tak bisa memastikan jika suamiku ini sedang jujur atau tidak, tapi mana mungkin juga Rio mau menjatuhkan harga diri bang Dadang dengan berbohong padaku kan..?
" Kamu yakin pinjam, bang ! nggak nyuri ?"
" Enggak lah dek, masa Abang nyuri sih ? Tapi jangan bilang soal ini ke emak sama bapak ya dek. Abang tetap bilang ke mereka jika abang dikasih gaji yang utuh. Nggak enak kan kalau mereka mikirnya Rio malah mencurangi Abang dengan tak memberikan hak Abang sebagai pekerja "
" Iya, Abang tenang aja. Aman kok ."
Aku memberikan senyum terbaikku agar bang Dadang tenang.
" Padahal kalau Abang, bisa bertahan tiga hari lagi saja. Pasti Abang bisa bawa pulang uang sisa gaji yang dua juta itu.."
Aku menyuarakan juga isi hatiku, yang sedikit kecewa dengan sikap bang Dadang yang gegabah..
" Kamu bisa ngomong doang dek, abang yang rasain. Harga diri suamimu ini diinjak-injak. Kok malah nyuruh bertahan, hanya demi uang dua juta.."
Bang Dadang melempar uang tiga ratus ribu ke wajahku. Dan meninggalkan obrolan kami yang seharusnya masih berlanjut. Apakah semua akan kembali lagi seperti beberapa bulan yang lalu..?
__ADS_1