Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Restu bude


__ADS_3

Setahun berlalu tanpa terasa, setelah memergoki bude menangis karena mengkhawatirkan masa depan ku , aku lebih memilih tak membahas tentang Dadang lagi didepan bude.


Hubunganku dengan Dadang juga masih tetap berjalan ditempat. Entahlah mungkin lelaki itu berubah pikiran karena aku memutuskan untuk LDR, yang artinya aku melarangnya untuk datang ke rumah. Dan kami hanya berhubungan lewat telpon saja.


Dadang juga tak membahas tentang janjinya setahun yang lalu jika kami berbicara lewat telpon, jujur saja aku mulai ragu dengan hubungan kami yang tak seperti pasangan pada umumnya..


" Bude, ini Dagingnya mau dimasak apa ?"


Bude tengah mengulek cabe , pekerjaan yang paling aku hindari jika di dapur,


" Rendang aja Ti. Bude rasanya pengen makan itu sekarang.."


Setahun belakangan aku memang mulai membiasakan diri untuk bangun lebih awal, kami akan masak bersama-sama. Dan selalu berdiskusi tentang menu yang akan kami santap setiap harinya, sepertinya hobi ku sekarang berubah menjadi memasak, karena memang aku tak lagi sibuk membaca novel maupun menulis .


"Bumbunya sudah ada di kulkas ya, cabainya jangan terlalu banyak,," Bude kembali bersuara karena aku hanya diam sedari tadi.


" Oke bude..!! Siap laksanakan.."


Aku mulai aktivitasku, dengan menumis bumbu yang sudah digiling dan disiapkan oleh bude, tak lupa tambahan sedikit cabai sesuai instruksi bude. Tak lama bau harum rendang menguar dari wajan di depanku , Setelah dirasa cukup waktu aku memasukkan daging yang telah dicuci bersih dan juga disangrai didalam wajan sebelumnya ,agar kadar airnya sedikit berkurang dan mengurangi waktu proses pematangan yang memang sangat lama.


Setelah menambah air pada tumisan daging tadi aku menutup wajannya dengan tutup transparan, kemudian duduk didekat bude yang masih mengulek cabe. Bude memang suka ngulek sendiri tanpa menggunakan blender, kata bude cabai akan terasa pahit jika diblender. jadilah dia akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk aktifitas yang satu ini..


" Gimana Dadang Ti ? Udah ada kemajuan ? Atau dia belum bisa berhasil memenuhi janjinya pada kamu ?"


Aku terdiam, memandang pada nyala api kompor masakan ku tadi. Kenapa bude tiba-tiba membahas Dadang. Hal yang selama ini aku hindari jika terlibat pembicaraan dengan bude.


" Jadi... Kapan dia datang dengan keluarganya untuk melamar mu ?"


" Aku nggak tahu bude. Dadang nggak pernah bahas soal rencana pernikahan lagi. mungkin bude benar jika kami terlalu mudah mengambil keputusan kemarin, dan sekarang baru merasakan dampaknya meski bahkan kami belum menikah..


pembuktian itu memang tak semudah ketika kita bicara.."


Bude menghentikan gerakan mengulek nya Dan mencuci tangannya pada wadah yang memang telah disiapkan sebelumnya . Kini menatapku yang juga balas menatapnya dengan tatapan penuh kecewa.


" Kalau Dadang nggak bahas, kenapa nggak kamu aja yang mulai duluan..!! mungkin ucapan bude padanya yang membuatnya merasa berat dengan niatnya . Atau bagaimana kalau Dadang kamu suruh datang kesini dan biar bude yang tanya. Gimana hubungan kalian kedepannya....."

__ADS_1


" Bude !!"


Aku memotong ucapan bude yang penuh semangat membahas tentang Dadang.


" Kenapa bude malah menanyakan hal ini ?"


Bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan aku melihat jika Air mata bude mengalir, membuatku panik dan tak mengerti.


" bude kenapa ?"


Aku memegang bahu bude dan memeluknya.


" Ada apa bude, apakah Siti melakukan kesalahan ?" ku hapus air mata bude dengan tanganku.


" Bude tahu jika kamu ingin menjaga perasaan bude, dengan tidak lagi menemui Dadang. Tapi bude juga tahu jika hatimu tertekan karena itu. Kamu sering bengong sekarang, dan itu membuat bude merasa jahat Siti. seharusnya bude nggak egois dengan dalih mengkhawatirkan masa depan rumah tangga yang akan kamu jalani nanti..


Bude restui kamu Siti, bude Ridho'i kamu atas pilihanmu. Ajaklah Dadang kesini ketemu bude, meskipun dia belum bisa menepati janjinya."


" Bude nggak usah menyalahkan diri sendiri. Lagian aku sudah pasrah untuk hubungan ku dengan Dadang. Jika kami berjodoh, kami akan dipertemukan dalam ikatan pernikahan jika tidak, berarti memang hubungan ini hanya akan sampai disini, aku baik-baik saja bude. jadi jangan khawatir !"


***


Hari mulai beranjak siang. aku kini duduk di teras depan rumah..


Memandangi benda pipih yang tengah menampilkan sebuah acara proses memasak . Meski aku jarang mengeksekusi apa yang ku pelajari namun tak ada salahnya kan menambah ilmu. Mungkin suatu saat nanti bisa direalisasikan ketika sudah berumah tangga..


Memikirkan itu aku tersenyum.


" Assalammualaikum...!!!"


Aku refleks berdiri, itu suara Dadang. Aku tak mungkin salah mendengar.


Aku jatuhkan pandanganku kearah depan. benar. pemuda itu yang datang bertamu, warna kulitnya lebih gelap dari terakhir pertemuan kami. Rambutnya juga dipotong pendek, membuat wajah manisnya tampak lebih segar..


Tukk..

__ADS_1


keningku jadi sasaran petikan jari Dadang, rasa sakit kurasakan namun kekagetan ku akan kehadirannya lebih dominan hingga aku tak terlalu memikirkan tentang rasa sakit ku.


" Kok bengong sih dek. orang ngucapin salam bukannya dijawab malah diam. Kenapa ? Kaget apa kangen...!!"


kupalingkan wajah yang terasa panas kearah samping.


" Emh kaget sih. Ayo duduk dang , e Bang..hehhe"


Aku kikuk sendiri karena belum terbiasa memangilnya dengan sebutan itu secara langsung, padahal kami sudah lama sepakat.


" Bude mana dek ?"


Dadang sempat melihat kedalam tadi sebelum dia duduk dan bertanya.


" Biasa patroli bang.."


Aku tiba-tiba tak tahu harus berkata apalagi, jadi memilih untuk tetap diam menunggunya untuk bicara lebih dulu.."


" Sekarang tepat 12 bulan, 54 Minggu dan 365 hari. Satu tahun dek. Dan hari ini sesuai janjiku aku akan melamar mu. Meski aku belum memenuhi target sesuai janjiku, tapi aku akan buktikan ke bude jika aku akan memberimu mahar sesuai penghasilanku selama setahun belakangan. Kamu mau kan jika soal mahar hanya sesuai kemampuanku dek..."


Dadang berucap mantap, dan kini memintaku untuk menyetujui usulannya.


" Memangnya menurutmu aku akan minta mahar apa untuk pernikahan kita ?"


aku tertawa dengan ucapannya yang seolah menganggap Ku akan meminta mahar yang besar untuk pernikahan kami.


" Bagiku cukup seperangkat alat sholat, dan juga sebuah Al-Qur'an. Yang penting sah dan tidak memberatkan kamu sebagai calon suamiku.."


Dadang tampak berpikir ," Tapi dek, maknanya sangat dalam soal mahar itu, apa Abang sanggup jika diamanatkan soal akhirat . ." ucapannya memang pelan tapi masih mampu kudengar.


" Tapi.. Kita bisa sama-sama belajar soal agama kan. jadi Abang akan sanggupi maharnya.. Dan juga sejumlah uang dari pribadi Abang. Sebagai sebuah wadah untuk menepati janji yang telah Abang ucapkan padamu setahun yang lalu.."


Aku mengangguk tanda setuju, melihat itu Dadang rupanya sangat bahagia hingga tak sadar dia telah berdiri dan memelukku yang masih berada di kursi..


" Ehemm... kalau mau mesra-mesraan, kangen-kangenan. Kalian mesti ingat tempat. Jangan asal sosor....!!!"

__ADS_1


Suara bude terdengar membuat kami membeku seketika..


__ADS_2