Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Kehancuran Dadang, sukses Siti !


__ADS_3

Rupanya kepergian Lastri membuat Dadang beranjak bangun. Sedari tadi dia memang pura-pura tidur saat Lastri masuk kekamarnya, Dia memutuskan untuk melakukan Video call dengan anak-anaknya, karena memang Sandra selalu menampakan wajah kesal ketika dia menghubungi anak-anaknya. Jadi kesempatan ini, digunakan olehnya untuk melepas rindu.


' Halo Yah !! Ayah Sehat ?'


Tampak Rama tersenyum penuh dilayar, wajahnya sekarang semakin mirip Dadang,


" Ayah Baik. Kalian gimana ? Sudah belajar belum bang ? " Dadang melihat jam ditangannya dan menatap lagi ke arah Rama. " Ayah nggak ganggu kamu belajar kan ?"


' Nggak yah, Rama sudah belajar tadi sore. Rama senang Ayah nelpon !! Rama rindu, kapan ayah mau kesini ?'


Dadang memalingkan wajah, dia seakan disadarkan akan kekeliruannya secara bertubi-tubi. Matanya berkaca-kaca sekarang. Merasakan perih hati yang menahan rindu dan juga sakit hati.


" Insya Allah secepatnya ya nak..!!


' kapan Yah ? '


Jelas terlihat di mata Dadang jika Rama, benar-benar berharap akan kehadirannya, 'Om Fian juga, sekarang jarang datang kesini !'


Rama malah curhat sedih.


"Loh kenapa memangnya, Ibu lagi marahan ?"


' nggak Yah, katanya Om Fian lagi sibuk. Rama juga nggak tahu sibuk apa ?'


Dadang tersenyum sekarang, waktu terasa sangat cepat berlalu. Tak disadarinya jika kini anak sulungnya ini sudah bisa diajak bercerita akan banyak hal..


Tak lama terdengar suara gaduh dari Bara, Layar nampak bergerak tak beraturan, rupanya Rama menghampiri Bara dan Dio yang tengah rebutan mainan.


' Siapa yang telpon bang !!' Suara Siti terdengar, kemudian wajah cantik mantan istrinya memenuhi layar , Siti yang tersenyum ke arahnya . Membuat jantung Dadang terpompa dengan cepat.


' Eh ada Ayah nih dek !! ' Siti bersuara dan mengalihkan hape pada wajah Dio dan Bara yang kini bengong, menatap Dadang. Terlihat juga sisa air mata, di wajah si kecil Bara.


" Heii Sayang !!! Lagi Apa ? Kok Dede nya nangis tadi bang Dio ?" Dadang bertanya lembut, ketika layar sudah menampilkan ketiga putranya, beserta sang mantan istri.


' Adek nggak mau berbagi Ayah. Padahal itu mainan punya Dio. Kan Dio kesel..'


Wajah cemberut Dio membuat Dadang tersenyum ' Kalau ada adek lagi, Dio nggak mau lagi punya adik lelaki maunya perempuan..'

__ADS_1


Dadang diam, diliriknya Siti dengan ekor matanya. Dadang tahu, ucapan polos Dio membuat Siti sedih. Dan benar Saja, Siti memalingkan wajah, meski masih terlihat dilayar jika Perempuan itu menyeka matanya.


' Yeyeyyeyyy nenek pulang !!' Rama tiba-tiba berdiri dengan girang. Kemudian menghilang dari pandangan Dadang, juga demikian dengan Dio dan Bara. Dadang dapat melihat jika ketiga putranya itu sangat bahagia sekarang. Dan kini tinggallah Siti yang menatap Dadang.


'Sudah dulu ya bang !! Bude baru pulang tuh, anak-anak pasti rindu karena sudah berpisah selama seminggu. Nanti saja disambung lagi..' Siti terlihat buru-buru berdiri.


"Ehh .. Dek . Tunggu !! Maaf yah, soal ucapan Dio tadi. Ini salahku, tak seharusnya..."


' jangan ungkit lagi, sesuatu yang telah lama berlalu bang !!' Siti menyela Dadang, sembari memalingkan wajahnya kearah lain


' Aku tutup ya, Assalammualaikum..'


Dadang menjawab salam dengan pelan, dan panggilan pun diakhiri oleh Siti. menampilkan wajah Siti dan ketiga anaknya pada profil WA milik ibu dari anak-anaknya itu.


"Maaf !!!"


***


Hari ini Siti akan menghadiri launching Novel karya pertamanya, semua urusan Editor, moderator dan juga tempat diselenggarakannya acara, diurus dan dipersiapkan penuh oleh penerbit, Siti hanya perlu mempersiapkan diri dan mentalnya saja.


Acara berjalan lancar, meski Siti agak sedikit gugup ketika bertatap langsung para pengemar novelnya.


Tapi, Siti tak merasakan canggung lagi, karena dia telah bertekad untuk menatap masa depan saja. Dan fokus pada anak-anaknya.


"Selamat Mba.!! Aaa... Aku senang ! Mba bisa sampai ditahap ini..!"


Salsa memeluk Siti dengan erat. Dia memandang takjub dan kagum pada sosok Siti. Meski sekarang mereka sesama penulis namun pencapaian Salsa masih jauh dibawah Siti, soal popularitas.


" ini semua terjadi berkat kamu Sa, makasih karena telah memberikan support penuh pada Mbak !! Jika bukan karena kamu mbak juga nggak akan tahu, mau cari penghasilan dari mana untuk masa depan anak-anak ?"


Salsa melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat, dia kemudian menatap kearah Angga seolah mengisyaratkan pada sang kekasih untuk memberi selamat juga.


" Selamat ya !! Aku turut bahagia dan bangga dengan pencapaian kamu !!"


Angga mengulurkan tangannya, dan disambut Siti dengan antusias . Dia sangat bahagia sekarang, dan ingin perasaan ini juga tertular pada orang-orang disekitarnya..


" Ibu !!! " Suara Rama menggema, membuat Siti, Salsa dan Angga menoleh secara bersamaan, mencari sumber suara.

__ADS_1


Rama memeluk Siti, disambut sang ibu dengan air mata bahagia.


Ternyata Rama tak sendiri, Dio, Rama, Bude Dewi kini juga menampakkan diri, mereka berpelukan dengan penuh haru.


" Bude !!! Kenapa nggak bilang kalau mau kesini ? katanya kemarin ada urusan mendadak " Siti sedikit manyun, meski hatinya bahagia juga akan kehadiran keempat orang yang paling penting dalam hidupnya.


" Kalian naik taksi ?"


" Nggak kok !! Kita diantar Om Fian, sekarang dia lagi cari tempat parkir .." Rama bersuara, anak Sulung Siti itu kini tampak memeluk sang Tante, Salsa.


Siti menoleh kearah bude Dewi, seolah tak yakin dengan ucapan Rama.


" Benar Bude !! Kapan emangnya Fian balik dari rumah mertuanya ?"


Siti bertanya tak sabaran, dia menatap lekat sang bude ,berharap mendapatkan jawaban memuaskan, entah kenapa dia jadi deg-degan, memikirkan akan ketemu dengan Fian lagi setelah Dua bulan tak bertemu.


" Assalammualaikum !!" Suara Fian terdengar dari belakang tubuh Siti, membuat Siti agak gemetar ketika hendak berbalik badan untuk menyapa Fian.


" Acaranya sudah selesai Bude?" Fian bertanya dan langsung berdiri di samping Siti yang mendadak kaku.


" Sudah Yan. Kita terlambat, eh sini Vanny sama nenek ya, ."


Mendengar nama Vanny, membuat Siti menoleh dengan cepat. Dia melihat ada gadis kecil seumuran Bara yang nampak digendong oleh Fian, dan juga ada sosok gadis berhijab modis nan cantik kini memegang sebuah tas kecil yang Siti yakini merupakan milik Vanny , anak Fian.


" Nggak. Aku mau sama Bunda !!"


ucapan gadis kecil itu semakin membuat perasaan Siti tak karuan, apakah Fian sudah menikah ? Dan pergi ke rumah mertuanya yang meninggal merupakan alibi belaka..


" Selamat ya ,Siti !! Akhirnya mimpi kamu terwujud, aku ikut senang !!"


Fian bersuara setelah menyerahkan Vanny pada gadis asing itu . Dia juga mengulurkan tangannya pada Siti. membuat Siti yang terlihat linglung kini gelagapan dan menyambut tangan itu dengan gemetar,


" Ehh iyah..makasih !!" Suara Siti terdengar serak, mata itu juga memandang Fian dengan sedih.


Semuanya seolah menyadari perubahan sikap Siti, setelah kedatangan Fian. Sementara Angga nampak berbisik ke Salsa, dia jelas tahu tingkah Siti ketika sedang sedih. Dan juga gelagatnya ketika dia berada di situasi yang tak membuatnya nyaman.


Salsa sendiri sudah tahu akan hubungan Siti dan Angga di masa lalu.

__ADS_1


" Eh.. Traktir dulu dong Mbak !!! mumpung lagi kumpul.. "


Salsa nyeletuk dan menarik Siti mendekat lagi kearahnya yang kini mengendong Bara. Mencoba menyelamatkan Mantan kakak iparnya itu dari situasi yang terlihat rumit..


__ADS_2