
Waktu menunjukan pukul Tiga sore, ketika Siti dan anak-anaknya pamit pulang. Meski agak berat berpisah dengan Sang ayah, ketiga putra Siti Itu menatap Dadang dengan penuh senyuman. Siti bersyukur ternyata perpisahan ini juga ada nilai baiknya bagi anak-anaknya. Karena mereka telah belajar menjadi dewasa dengan cepat.
" Mbak, nanti aku telpon ya, aku masih penasaran akan satu hal !!" Salsa berbisik ditelinga Siti, membuat Siti mengeryit heran.
" Emang apaan Sa, bikin mbak penasaran saja..!"
" Ada deh, nanti kalau mbak sedang santai.hubungin Salsa saja ,ya mbak !! Biar lebih nyaman dan lama ngobrolnya..!"
Siti mengangguk, kemudian cipika cipiki dengan Salsa, selanjutnya menyalami Emak dan Bapak, Dia pamit setelah memastikan jika ketiga anaknya telah berada didalam mobil. Pun dengan Fian yang telah berada dibelakang kemudi.
Saat mobil mulai melaju, Baik Bara, Dio maupun Rama, melambaikan tangan kearah Dadang dan keluarganya dengan senang dan bahagia. membuat Siti lagi-lagi bersyukur. akan segala anugerah yang kini didapatnya. terlebih dengan tingkah anak-anak yang tak terlalu menuntutnya dan sangat patuh..
" Kapan-kapan kita main lagi kesini ya Bu. . " Rama bersuara ketika rumah sang Nenek telah hilang dipandangan nya.
"Lihat nanti ya sayang, ibu nggak mau menjanjikan sesuatu yang tak pasti. Kalau kamu rindu, kamu bisa kok nginap di rumah Nenek. atau libur nanti saja, kamu kesini lagi, minta jemput sama Ayah! Bagaimana ?.."
Entah apa yang salah dengan ucapan Siti, tapi Rama mendadak diam dan terlihat murung. " Kata orang, ibu tiri itu jahat. Bu !!! Rama nggak mau lagi ketemu Tante yang tadi.."
Rama menyuarakan isi hatinya.
" Kata siapa ? kan ada ayah di sana bang, ada kakek nenek dan juga ada Tante Salsa. Jadi kalaupun. Kalau ya bang ? kalaupun benar Tante nya ingin berbuat jahat sama Abang, dia nggak akan berani . Karena abang pasti banyak yang membela.."
Rama menatap lekat kearah Siti,antara percaya dan tidak akan ucapan ibunya itu.
" Ibu kamu benar bang !!! Lagian kamu kan baru ketemu satu kali dengan Tante itu. kenapa malah bilang dia jahat..? Bisa saja kan Tadi itu Tante lagi banyak masalah makanya nggak bisa mengontrol emosi.."
" Ohhh,.. Kayak ayah saat masih sama ibu , Ya ?"
Siti tersentak, rupanya ingatan Rama masih sangat kuat. Siti khawatir jika ini akan jadi trauma bagi anak sulungnya tersebut .
Siti memalingkan wajah, menangis karena ucapan putra sulungnya itu. Sekarang dia tahu, sedalam apa luka pada ingatan Rama.
Sementara Fian, langsung terdiam ketika mendengar ucapan pelan Rama. Menurut pendengarannya, Otak anak ini masih diselimuti dengan kejadian yang seharusnya tak diingat lagi dalam memorinya.
Suasana mendadak hening, karena Dio dan Bara juga sudah tertidur, mungkin mereka kekenyangan dan akhirnya mengantuk lagi.
Siti terus saja menatap kearah samping,sambil tangannya menahan Bara agar posisinya tetap aman dan nyaman.
__ADS_1
Dia tahu jika Rama sedari tadi menatap kearahnya, entah apa maksud dari pandangan Rama. Tapi itu berhasil membuat Siti merasa gelisah.
" Kenapa Bang ? Ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan !!"
Suara Fian mengalihkan tatapan Rama, cukup lama Rama menatap Fian. Membuat Fian memelankan sedikit laju mobilnya, menunggu Rama untuk bicara.
" Rama mau kok, kalau Om Fian jadi Ayah Rama. Capek tahu, nungguin ayah punya waktu buat ngehubungin kita. Apalagi sepertinya posisi kami akan segera tergantikan sama sosok adek bayi. Pasti Ayah akan semakin sulit dihubungi!!"
Fian melirik kearah Siti melalui kaca spion. Rupanya ucapan Rama semakin memancing Siti untuk menangis , tetapi sebisa mungkin perempuan itu menahan suara dan isakkannya agar tak didengar dan diketahui oleh Rama .
" Abang nggak boleh ngomong gitu, Ayah masih sama kok seperti yang dulu. Dia tetap sayang sama kalian dan posisi kalian tak akan pernah terganti sampai kapanpun. Lebih baik sekarang kamu jaga ibu dan adik-adik kamu dengan baik. Karena semua ini mengajarkan Abang buat belajar bertanggung jawab, sendiri. Tak mengandalkan orang lain.. Ok ..!"
Rama tersenyum, menoleh lagi kearah Siti. yang masih betah dengan posisinya seperti semula.
" Semoga saja, Om mau mempertimbangkan ucapan Rama..!!"
***
Dadang akhirnya pulang ke rumah, untungnya anak-anak tadi pulang dengan bahagia dan tak terlalu banyak drama. Jujur saja, rindu masih menguasai hati dan jiwa Dadang, namun tentu saja, keadaan mereka kini tidak sama seperti dulu, terlebih sekarang ada Sandra yang harus dia jaga perasaannya.
Teringat akan Istrinya itu, membuat Dadang menelusuri setiap sudut rumah, nihil. Sandra sepertinya belum pulang juga , setelah kepergiannya pada saat Dadang pulang sebentar siang tadi.
" Bang...! BANG...BANG...!!!"
Dadang mengucek matanya, hari ternyata sudah gelap, dan dia bahkan tertidur saat Maghrib tadi, dan kini Sandra tengah membangunkannya dengan suara keras.
" Bang. Abang ambil uangku didalam tas ini ya ?"
Sandra melempar tas bahunya didepan Dadang sang suami. Sementara Dadang , seolah diingatkan lagi akan hal memalukan tadi siang. Dan tentu saja ini membuat darahnya mendidih, siap untuk memberi pelajaran perempuan lancang yang berstatus istrinya ini.
"Kenapa Abang ambil semuanya Sih ? Ambil saja satu atau dua juta, sudah nggak kasih nafkah beberapa hari ini, kok sekarang malah nyuri uang Istri.."
Sandra semakin nyerocos, kesal. perempuan muda ini rupanya tak mampu membaca situasi, meski raut wajah Dadang terlihat jelas dibawah lampu kamar yang terang benderang.
" KEMBALIKAN KARTU ATMNYA..!!! Sekarang.."
Suara Dadang menggema, membuat Sandra mundur dari posisi semula, kenapa malah suaminya yang marah, ada apa ?. Apakah Dadang sudah tahu jika dia mengambil uang Siti.
__ADS_1
Dadang bangun dan langsung mencengkram tangan Sandra
" Kembalikan San. Sebelum kesabaranku habis !!"
Sandra merasakan sakit yang sangat pada tangannya, tapi untuk melawan dan menjawab ucapan Dadang jujur saja dia takut. Kenapa juga sih, Dia bisa ketahuan begini.
" Lepas Bang, kamu nggak mau kan terjadi sesuatu sama anak kamu. ? tanganku sakiit.."
Sandra merintih,
Ada senyum sinis nan kejam, kini terbit disudut bibir Dadang
" Aku tahu kamu, San. Meski singkat. Kamu sudah mengeluarkan belangmu di hadapanku. Kamu terlalu tangguh jika hanya mendapatkan tekanan seperti ini. Sekali lagi, kembalikan kartu ATM Siti dan ganti uang anak-anak yang telah kamu pakai.."
Sandra gelagapan " Jangan Asal tuduh bang, aku bisa saja teriak sekarang. Karena perlakuan kamu ini sudah termasuk KDRT.."
" Oh ya, silahkan saja teriak. Dan pada saat warga datang kesini karena teriakan mu, maka detik itu juga aku akan menceraikan mu dengan talak tiga.."
Sandra melotot, bagaimana bisa Dadang malah balik mengancamnya. Nyalinya yang tadinya berkobar akhirnya ciut juga..
" Aku nggak mencuri bang.." Sandra memalingkan wajahnya, tak tahan beradu tatap dengan Dadang yang melotot marah.
"KEMBALIKAN. SEKARANG!!!!!!"
"OKE !!!" Sandra ikut berteriak ketika suara Dadang menggema keseluruh rumah, mungkin saja sekarang para tetangga sudah mendengar keributan mereka ini.
" Lepaskan dulu tanganku, aku ambil kartunya.."
Sandra menyentuh tangan Dadang yang mencengkram tangannya. meminta suaminya membiarkannya mengambil benda yang sedari tadi selalu disebut Dadang.
Beberapa menit kini telah berlalu, Dadang menatap lekat ketika Sandra seolah sibuk mencari, dengan raut wajah seolah tengah kebingungan.
" Mau alasan apalagi ? Kartunya hilang, atau kamu buang karena sudah diblokir yang punya ..iyah...?"
Sandra menunduk, dan mengangguk.
" Dimana ? Temukan dan bawa pulang kesini, berikan padaku. Jika belum ketemu, mangka jangan pernah pulang kesini ! NGERTI..!!!"
__ADS_1
Mendengar itu Sandra menyentuh perutnya, mencoba mengingatkan Dadang akan kondisinya yang sedang hamil. Tapi Dadang cuek saja, dan malah mendorong tubuh Sandra kearah pintu keluar, kemudian menutupnya kencang, tepat pada saat Sandra hendak bicara entah apa ?
Sandra menatap pintu dengan kesal, selalu saja dia yang kalah Hhhhh....