Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Harapan


__ADS_3

Malam ini tak seperti biasanya. Bapak meminta kami berkumpul diruang keluarga. Beliau bilang ada hal penting yang akan dibicarakan.


Meski penasaran , namun aku menduga jika ini terkait keinginan bapak kemarin . Yang memutuskan untuk pensiun dini.


" Bapak mengumpulkan kalian disini ingin menyampaikan, jika bapak telah mengajukan pensiun. Dan bulan depan Bapak akan sepenuhnya berhenti dari pekerjaan, memilih menemani Emak mengurus kebun kopi dan juga kebun karet. Agung, Kamu adalah anak lelaki bapak, walaupun sejatinya kamu masih sangat muda. Tapi bapak ingin kamu menyaksikan ini, sebagai saksi. Bapak akan memberikan Siti dan Dadang uang sebesar 30 juta. Uang ini akan digunakan untuk membangun rumah Abang dan mbak mu, "


Bapak mengedarkan seluruh pandangannya pada kami berlima,


" Berkumpulnya kalian disini, karena Bapak ingin kalian menjadi saksi dan hendaknya tak mengungkit perihal uang ini dikemudian hari , Apalagi jika hubungan mbak dan abang kalian. Tak berjalan baik.."


" Bapak mau anak kita pisah, enak di Siti dong Pak. Setelah bangun rumah. Pisah, pasti akan dapet bagian.."


Emak memotong ucapan Bapak. ada rasa sedih di hati karena ucapan tak beralasan yang emak lontarkan.


" Makanya itulah gunanya hal ini. Bapak menghindari ucapan yang tak berbobot seperti apa yang barusan Emak katakan. Emangnya emak sendiri mau, anak perempuan kita , mengabdi dengan begitu tulus dan ketika berpisah malah tak dianggap turut andil, hanya karena bapak membantu uang segitu.."


Aku mengerti , Jika Bapak ingin melindungi hak ku, dan juga anak-anak.


" Lagian, jika dihitung-hitung, Siti dan Dadang sudah lebih dari itu membantu kita menguliahkan anak-anak loh Mak.."


" Itukan masih tugas Dadang pak, jadi wajar saja. ."


" Apa yang wajar hah ? Anak kita ya tanggung jawab kita, jikapun hendak membantu, tapi tak disetujui oleh Siti, maka kita bisa ngomong apa ? Memang bakti anak lelaki sepenuhnya masih pada Emak ,sebagai ibunya. Tapi Dadang tak bisa dzolim ke istri hanya karena, ingin membahagiakan Kita, sebagai orang tuanya.."


" Agung ngerti pak, insya Allah amanat Bapak akan Agung pegang, Dan tak akan membahas ini lagi sampai kapanpun.." Ucapan bijak Agung menghentikan perdebatan antara Emak dan Bapak. memang Diantara Ke empat anak laki-laki bapak, bisa dibilang sosok Agung lah yang sepenuhnya memiliki sifat bijaksana seperti bapak.


Meski usianya terbilang muda, namun pemikirannya sudah sangat matang dan penuh perhitungan.


" Baiklah jadi semua sudah setuju kan? hafiz dan Indra juga sudah setuju dan mendukung , semua yang Bapak utarakan tadi didepan kalian.."


Kini Bapak menatap ke arah bang Dadang " Jadi kapan Dang, kamu mau mulai pembangunannya..?"

__ADS_1


" Insya Allah secepatnya Pak, Soalnya Siti tadi juga dapat arisan, dan rencananya akan digunakan untuk biaya tukang.."


Aku yang menjawab pertanyaan bapak, meski terlihat tidak sopan, tapi ucapan emak tadi membuatku yakin untuk segera melakukan pembangunan agar cepat pindah ke rumah sendiri.


Kata orang, jika sudah memiliki hunian sendiri, hati kita akan merasa damai dan tentram..


" Oh baguslah kalau begitu, bapak doakan semua persiapannya dilancarkan.."


" Aamiin.."


kami berucap serempak, hanya emak yang diam saja, tanpa semangat. Apakah mertuaku itu masih kepikiran akan uang 30 juta yang dijanjikan Bapak?


Haruskah aku menolak demi menjaga perasaan emak .


****


Meski memang niat awalnya pembangunan rumah kami akan dilakukan sesudah panen kopi ,tapi ketika aku mengatakan apa yang emak sampaikan padaku kepada bang Dadang, akhirnya suamiku itu bisa mengerti. Rupanya ia juga mengamati saat Hesti disini,terlihat jelas jika emak memperlakukanku sangat berbeda dengan menantu PNS nya itu. .


" Ya bang, tapi apa nggak sebaiknya aku ikut. Aku jago loh soal negosiasi.. hehheh"


" Nggak usah, nanti bara bangun dan nyariin kamu. lagian kita ini mau gunakan jasa dia buat bangun rumah dek, nggak baik jika terlalu mencekik leher tukangnya meskipun keluarga dekat sekalipun, yang ada kita nggak nyaman dan kerasan nanti di rumah yang baru.."


Aku mengangguk tanda mengerti . Bang Dadang memang sebaik dan sepengertian itu, jika menyangkut orang lain.


Kini pandangan bang Dadang menatap lekat ke arahku,


" Memangnya uang kita cukup dek..?"


Bang Dadang bertanya pelan, mungkin dia takut jika aku tersinggung akan ucapannya.


" Nanti malah patah ditengah dek, uang habis tapi rumahnya belum bisa dihuni. Kan sayang, apa mending kita tunda aja pembangunannya. Tunggu satu tahun lagi ? "

__ADS_1


" insya Allah jika seadanya dulu cukup kok Bang. yang penting tegak payung dulu, nggak banyak perintilan..,"


Aku mengambil buku dan pensil milik Rama, dan menulis semua barang yang sudah dibeli di kertas itu dan juga jumlah uang yang kini ada di tanganku.


Aku sengaja tak menghitung dan memasukan uang dari Bapak, Agar nanti jika uang itu akhirnya memang bukan rezeki kami. Aku tak terlalu berharap. Mengingat sikap emak tadi, jujur saja aku berpikir ulang untuk menerimanya.


" semua barang bangunan ini sudah aku beli bang, uang untuk pintu dan jendela sudah aku pisah dan persiapkan. Insya


Allah cukup kok.."


Bang Dadang menatap lekat pada kertas yang kuberikan, sedikit lama baginya untuk meneliti tulisanku itu.


" Ini uang biji kopi belum masuk hitungan Dek ? "


" Iya bang. Belum. Soalnya kan ada yang belum kering. Sekalian aja nanti kita bawa ke mesin. Biar uang nya terkumpul, buat nambah kekurangan.."


" Uang dari Bapak juga belum dihitung ya dek.."


" E..A-nu bang. Apa nggak sebaiknya kita tolak saja, uang itu. Emak benar kok bang. Agung dan Salsa masih kuliah . Nggak etis kalau kita seolah malah memanfaatkan uang pensiunan Bapak. Padahal kan mereka masih banyak kebutuhan.."


" Kita lihat saja nanti , dek. Berdo'a saja supaya semuanya dilancarkan untuk kita dan juga untuk keluarga ini. oh Iya bude sudah kamu kasih tahu belum ?"


" Belum bang, sebaiknya memberi tahu bude nanti saja, kalau proses pembangunannya sudah dimulai. Abang kan tahu , bude itu sibuk mengurus dan mengawasi kebun sawit miliknya"


" Ohh yasudah sih kalau begitu, terserah kamu saja. Abang berangkat sekarang ya, Assalammualaikum.."


" Wa'alaikumsalam.."


pikiranku kini menerawang jauh, Sebenarnya aku belum memberi tahu bude karena takut jika bude langsung datang kesini. Bude memang se sigap itu jika ada kabar gembira, apalagi ini adalah sesuatu yang selalu dibahas bude ditelpon. mengenai kapan kami membangun rumah.


Bahkan bude menawarkan untuk memakai uangnya saja terlebih dahulu, tapi aku sungkan takut bang Dadang malah terlena, sama seperti Uang kiriman bude yang selalu saja dia tanyakan. Padahal itu adalah hak anak-anak.

__ADS_1


Rumah tangga ini, semakin terasa hambar saja, tapi aku tak putus harapan . semoga perubahan bang Dadang bisa permanen dan mengembalikan rasa hormat serta menghilangkan sakit hati yang sudah terlanjur bersarang .karena kelakuannya setahun belakangan ini.


__ADS_2