Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Menantu beda perlakuan


__ADS_3

" Apa ?? Hesti hamil lagi!!"


Suara emak terdengar berteriak . Tapi bukan karena marah, seperti saat mendengar kehamilan ketiga ku kemarin. Ini terdengar lebih ke arah kebahagiaan yang diekspresikan dengan berlebihan.


" Wah selamat ya , Indra. Insya Allah banyak anak banyak rezeki.."


Nyessss.... terasa lagi ngilu di hati ini. Usia Raja anak pertama Indra, masih tiga bulan lebih sedikit. Dan kini Istri dari adik ipar ku itu telah hamil lagi. Dan Emak malah menyambut kabar itu dengan rona bahagia yang sangat kentara.


Bara yang menggeliat digendongan, mengalihkan perhatianku. Sedih rasanya mengingat reaksi emak saat aku dan Bang Dadang bilang jika aku positif hamil lagi.


Bayi kecil ini, seolah telah menjadi suatu aib.


" Anak kalian masih kecil, kok malah dikasih adik. Ekonomi aja belum stabil, kok bisa-bisanya malah tambah anak.."


Kalimat itu, bahkan masih ku hafal hingga kini. Jangan tanya gimana rasa sakit dan kecewanya hatiku ketika emak malah menyinggung finansial kami yang memang tak ada kemajuan meski dari tahun ke tahun , hasil panen selalu melimpah..


Dan kini emak malah dengan enteng dan mendukung kehamilan Hesti, yang berjarak sangat dekat. Apakah karena Hesti merupakan Pegawai Negeri Sipil. Makanya Emak memperlakukannya secara istimewa.


" Tuh dengerin dek, Bara. Banyak anak banyak rezeki. Jadi kalau mau tambah adek lagi JUGA NGGAK APA-APA..!!!"


suara Salsa terdengar nyaring , nyaris teriak. Aku tahu jika adik ipar ku itu pasti sengaja , agar suaranya bisa didengar oleh emak, Salsa selalu bisa membuatku tak terlalu memikirkan semua yang telah emak lakukan dan katakan.


saking mendalami apa yang telah aku dengar tadi. Sosok Salsa seolah terlupakan olehku.


Aku menatap kearah dimana Salsa berada. tak sengaja mataku bertubrukan dengan mata Salsa, Gadis itu malah pura -pura tak melihat kearah ku, Dan kembali fokus pada layar laptop yang ada didepannya..


Aku memilih masuk ke kamar dan kini kembali menangis tanpa suara. Rupanya tuhan semakin meyakinkan hatiku agar memiliki tekad kuat, untuk segera memiliki rumah sendiri. Agar tak lagi merasakan Sakit ketika mendengar emak lebih menyanjung Hesti, perempuan yang bahkan baru satu tahun setengah menjadi menantu di rumah ini..


***


Bara merengek, ketika kubuka mata dan melihat jam didinding kamar , masih pukul tiga dini hari. Pantas saja, rupanya aku tidur terlalu lelap . hingga lupa menyusui bayi gembul ku itu.


Sayup-sayup aku mendengar suara orang berbicara, seiring dengan lelap nya Bara, suara itu semakin terdengar jelas.

__ADS_1


" Mak sadar nggak sih kalau emak pilih kasih ? Giliran mbak Siti hamil lagi, Emak malah marah dan uring-uringan nggak jelas .. Tapi mbak Hesti kok emak perlakukan begini, bela-belain masak banyak cuma buat menyambut kedatangannya...."


" Sa, kamu itu semakin dewasa seharusnya bisa jaga ucapan mu. Gini-gini aku ibumu. Lagian Hesti itu sudah PNS, mereka bahkan sudah punya hunian sendiri. Sedangkan abang dan mbak mu Si Siti kan masih numpang disini, namanya nggak ada otak, emangnya anak-anak yang mereka lahir kan nggak butuh makan, jajan dan segala keribetan bocah. semuanya mesti didukung dengan uang. Bukan asal brojol dan lepas tangan.."


" Kenapa emak malah menyalahkan mbak Siti. bukankah sudah jelas jika sikap bang Dadang sekarang malah abai dengan kewajibannya sebagai seorang suami..Seharusnya emak bisa bersikap adil, Mbak Siti itu butuh dukungan sekarang bukan hujatan dan kebencian... Lagian aku heran , kenapa emak berubah jadi seperti ini sekarang ke mbak Siti.."


Hening.


Tak ku dengar lagi suara emak maupun Salsa.


Tak lama suara langkah kaki melewati kamar kami. Karena memang semenjak Indra dan Hafiz menikah kami pindah ke kamar belakang dekat dengan kamar Salsa dan juga dapur. Sementara kamar depan kini difungsikan sebagai kamar tamu.


Mataku tak lagi kembali dapat bersahabat saat aku mencoba tidur lagi. Aku yang biasanya abai akan ucapan Emak kini malah kepikiran dengan apa yang tadi Salsa ucapkan. Bagaimana mungkin, aku bahkan tak di beri tahu jika Hesti akan datang kesini. Biasanya Emak akan menyuruhku ini itu . Sebegitu bahagianya Emak hingga turun tangan sendiri ke dapur.


Kulihat Rama menggeliat, mata bening anak pertamaku itu terbuka.


" kenapa Ibu nggak tidur ?"


Aku tersenyum, " Dek Bara lagi ***** nih bang..! Ibu mau masak makanya belum tidur.. Mending abang tidur lagi aja."


Rama tampak tidur lagi, entah bagaimana Emak nanti memperlakukan cucu pertamanya itu. Rama memang telah terbiasa dimanja, sebagai cucu pertama. Dan juga mengingat perjuangan kami untuk menunggu kehadirannya dulu. Tak heran jika dia sering diledek Salsa sebagai cucu termanja.


" Bismillah nak, Ibu akan usahakan . Tahun ini kita bakalan tinggal di rumah sendiri.." Air mata ini menetes lagi. Sungguh sekarang aku butuh bude dan sangat rindu akan sosok itu. Tapi untuk mengadukan semua nya . Aku ragu. Karena bude selalu mewanti-wanti, Jika aib suami adalah aib Istri. Jadi, sebisa mungkin aku tidak pernah mengatakan apapun tentang perubahan bang Dadang dan juga perlakuan Emak mertua yang tak lagi sebaik awal dulu.


Tak terasa sudah dua jam aku terjaga, akhirnya aku memutuskan untuk bangun. Membantu Emak memasak, Aku pura-pura tak tahu jika Hesti dan Indra akan datang kesini.


" Emak masak rendang ?"


Sedikit terkejut akan suaraku , Emak kini menoleh..


" Iya , Emak lupa bilang kalau Hesti dan Indra bakalan kesini.."


" Loh mak, kok bisa lupa . Siti kan bisa bantu sedari tadi kalau tahu emak malah repot sendiri seperti ini.."

__ADS_1


Rasanya aku telah jadi menantu durhaka, namun apakah ini salah jika ada sedikit rasa iri, Kami sama-sama menantu, tapi perlakuan emak padaku dan pada Hesti malah seperti langit dan bumi. Sangat jauh berbeda.


Selain rendang, ada juga adonan pempek serta cuka yang telah siap didalam panci.


" Emak terlalu semangat Ti, karena ini pertama kalinya akan bertemu anak Indra, jadi emak malah antusias sendiri tanpa melibatkan kamu hheheh"


Ucap emak disertai tawa renyah. Perlakuan Emak ini , membuatku teringat akan saat pertama kali aku mengandung, sangat persis hingga aku merasa d'javu..


Tapi mendengar jika Hesti hamil lagi disaat usia anaknya masih bayi, perlakuan istimewa pada Hesti kentara sekali tak seperti saat aku hamil Bara.


"iya ya mak. mudah-mudahan anak kedua Indra perempuan ya Mak.."


" Perempuan atau laki-laki sama aja, yang penting sehat selamat sampai nanti lahiran.


Ambil Tomatnya ti, emak mau buat sambel buncis ikan teri, sama lalapan terong bulat. Kamu bersihin terongnya ya, bantu Emak.."


Aku segera melakukan perintah emak, mengiris tomat dan juga mengolah terong untuk direbus.


Biasanya hanya aku dan Salsa yang berada di dapur pada jam segini. Tapi rupanya kedatangan Indra dan Istrinya kini malah membuat emak penuh semangat masak sebanyak ini,


" Emak udah sholat subuh..? "


Aku teringat jika belum menunaikan kewajiban ku atas yang maha pencipta, berniat ingin mengajak mertuaku itu untuk sholat berjamaah. sedang Bapak memang terbiasa sholat di masjid, dan sudah berangkat sedari tadi.. bang Dadang ? jangan ditanya, suami yang biasanya selalu menjadi imam sholat ku itu kini telah abai dengan alasan lelah.


Sebetulnya aku ingin protes. tapi, Bapak dan Emak saja malah dilawan oleh bang Dadang, dan kini mereka malah membiarkan anak lelakinya itu. Bagaimana denganku yang kini bahkan tak dihargai dan tak dianggap sebagai Istri.


" Kamu aja Ti, pekerjaan emak belum selesai nih.."


Suara alat masak yang beradu memenuhi dapur , aku kecewa. Emak bahkan meninggalkan kewajibannya hanya untuk menyambut Indra dan istrinya.


" Ya udah , Siti sholat dulu ya mak.."


Aku berlalu, menuju ke kamar mandi untuk wudhu.

__ADS_1


Untuk sekarang aku masih percaya, jika satu-satunya tempatku mencurahkan isi hati dan semua rasa kecewa adalah Allah SWT, sang pencipta dan pengatur takdir. ..


__ADS_2