
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Author POV
Dadang datang ke rumah emak dengan air mata yang memenuhi wajahnya, kebiasaanya yang datang kesini saat ada masalah sepertinya tak akan pernah berubah, meski nanti mungkin kedua orang tuanya akan heran dengan wajahnya sembab .
Jika dulu pantang baginya untuk menangis tapi kini keadaan rumah tangganya dengan Siti seolah telah memporak porandakan hatinya hingga jadi sesensitif ini. Dia tak mengucapkan salam lagi ketika masuk dan keadaan rumah malah sepi.
Salsa yang berada diruang tamu , menatap ke arah Dadang dengan bingung. Dia juga merasa takut untuk menanyakan ada apa dengan abangnya itu. Jadilah dia hanya melihat saja, tanpa berani mendekat apalagi bertanya.
Meski jujur saja dia sangat penasaran kenapa Dadang yang biasanya datang kesini dalam keadaan emosi kini malah menangis tanpa merasa malu.
" Emak mana Sa ?" Dadang tiba-tiba ada didepannya, membuatnya sedikit kaget.
" Ke sawah bang, katanya pengerjaan sawah sudah mau mulai lagi..!"
" Bapak juga ikut ?" Dadang duduk dimeja makan , menunggu jawaban Salsa.
" Iya bang. .Oh iya, bude dewi sudah pulang ya bang hari ini..?"
Salsa mencoba mencari topik pembicaraan, tanpa mengusik kondisi abangnya yang nampak kacau sekarang.
Dadang tak menanggapi ucapan Salsa dan malah melamun..
" Sa, apa kamu sering mendengar keluhan dari mbak mu tentang Abang ?"
Salsa tak mengerti kenapa Dadang malah membahas ini , apakah mereka marahan lagi. Bukankah sudah ada surat perjanjian yang mengikat mereka.
" Nggak ada bang. Makanya Salsa puyeng denger abang mirip cewek dikit-dikit ngadu.." Salsa menutup mulutnya yang keceplosan, dan kini menatap Dadang takut-takut.
" Apakah Abang sudah menyakiti hati mbak mu sangat dalam Sa, hingga tak ada lagi maaf bagi Abangmu ini?"
Dadang menangis dan menatap nanar ke adik perempuannya, Dia tak perduli lagi akan harga diri, yang dia tahu sekarang dia mesti mendapatkan pengakuan jujur Salsa , apakah dia sejahat itu memperlakukan istrinya .
__ADS_1
"Abang kenapa lagi ? Marahan lagi sama mbak Siti, masalah apa ? Bude Dewi bahkan baru saja pulang, kenapa malah bikin masalah baru lagi bang ?"
Salsa yang Kesal, kini mencoba mengungkapkan isi hatinya. Baginya air mata Dadang sama sekali tak ada artinya, jika abangnya itu terus saja melakukan hal yang sebaliknya dan tak pernah mau mendengarkan nasehat dari keluarga atau bahkan Bapak sebagai orang tua.
" Abang tahu abang salah . Tapi abang sudah berjanji akan memperbaiki diri . Tapi mbak mu kayak trauma kalau didekat Abang Sa, abang bingung harus berbuat apa sekarang ?"
Dadang berucap lancar didepan Salsa, membuat gadis itu menatap khawatir, apakah sedalam dan separah itu, luka sang kakak ipar hingga tak memperdulikan surat perjanjian yang telah mereka tanda tangani kemarin ?
" Emangnya,mbak Siti bilang apa bang? "
" Dia nggak anggap keberadaan abang lagi. Dia hanya menuruti bude, jika bukan karena bude dia nggak akan mau lagi bersama abang.. Abang bingung sa, harus melakukan apa sekarang ?"
Salsa seolah dapat merasakan betapa Abangnya telah sangat menyesal, tapi rupanya nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan yang datang dari abangnya kini sudah terlampau jauh terlambat. Mungkin saja semua akan sia-sia belaka, mau berusaha sekuat apapun pria didepannya ini sekarang.
" Salsa nggak tahu bang, harus jawab apa ? Yang jelas kesalahan memang berasal dari abang sebagai suami...kita terkadang harus juga bisa membaca orang terdekat kita bang, bukan hanya minta dimengerti tanpa tahu yang mereka rasakan.."
Salsa memilih pergi ke kamarnya, meninggalkan Dadang yang masih menangis dan meratap penuh penyesalan, sebenarnya Salsa kasihan, tapi mengingat kelakuan Dadang selama ini membuatnya berpikir, jika ini merupakan teguran dan pembelajaran bagi sang kakak.
Siti terbangun dengan mata yang bengkak. Ditatapnya anak-anak masih terlelap dalam tidurnya, rupanya dia tertidur karena kelelahan menangis dan mengenang masa lalu antara dirinya dan Dadang, yang serasa sangat manis diawal pernikahan.
" Mata Ibu kenapa ?"
Tiba-tiba Dio terbangun, dan langsung melontarkan pertanyaan, saat Siti tengah menatap anak keduanya itu dengan lekat.
" Kelilipan Bang . Jadinya bengkak deh .hehe "
Siti menampilkan senyum terbaiknya dan kembali mengelus punggung Dio siapa tahu anaknya itu masih ngantuk dan ingin tidur lagi. Tapi Dio malah menggeliat tak ingin jika ibunya melakukan hal itu ,
" Abang mau pipis,Bu !!"
Siti beranjak bangun mempersilahkan Dio untuk keluar dan membuang hajatnya.
Posisi badan Siti yang menahan pintu membuatnya harus berdiri agar tak menghalangi sang anak untuk keluar kamar.
__ADS_1
Tak begitu lama, Bara juga ikut membuka mata. Tatapan mata kecil Bara bertumpu pada wajah Siti, kemudian anak itu minta digendong untuk bangun.
Mata Bara menatap lekat kearah Siti, kemudian tangan kecilnya menyentuh wajah sang ibu dengan lembut, Siti terharu ingin menangis lagi. Dia tahu meski Bara belum terlalu bisa melontarkan kekhawatiran seperti abangnya Dio,Tapi anak ketiganya ini selalu memeluknya memberi kekuatan, itulah yang membuat Siti selalu terharu dan seolah diberi kejutan manis, sebisa mungkin dia menahan butiran bening dari matanya yang hendak mengalir.
" Kenapa Dek Humm"
Siti menciumi tangan Bara, mengalihkan rasa haru dan sedihnya, Bara hanya menatapnya dengan mata polos, seolah tak mengerti akan ucapan ibunya.
Dio kini kembali ke kamar,
" Eh Dek, kita ke rumah nenek Yuk ?"
Dengan penuh semangat Dio mengajak Bara, Siti yang masih mengendong Bara kini malah mengandeng Dio untuk keluar kamar, menyuruh Bara untuk pipis sebelum kebablasan hingga kencing di celana.
" Ayo dek.." Dio rupanya belum menyerah dan masih ingin ke rumah neneknya dengan mengajak Bara.
"Nenek sama kakek kan ke sawah bang. Jadi nggak akan ketemu, lagian kenapa ngajak adek, nanti malah ditinggalin lagi dijalan, kayak kemarin kan kasihan adeknya.."
"Mau nonton Tv bu !!! Suntuk dirumah, kita nggak punya tivi.." Dio memanyunkan bibirnya dengan diiringi protes.
" Nanti kalau kita ada rezeki pasti kita beli kok bang,, "
" Abang tahu kok, makanya mau nonton di rumah nenek aja..Kalau pinjam hape ibu pasti nggak punya kuota kan ?"
Siti tersenyum, merasa lucu dengan cerita sang anak, bisa-bisanya anak seusia Dio bisa bicara seolah sudah diajari oleh seseorang seperti ini ?
" Ya udah ayo, Biar ibu yang antar kalian Oke...!! Sebentar ya , ibu ambil sendal dede Bara dulu..."
" Yeeeyyyy... "
Dio bersorak senang diikuti Bara yang juga latah akan tingkah Abangnya. melihat mereka sesenang itu, lagi-lagi membuat Siti hendak menangis.
Siti bergegas kedalam, dia sepertinya memang harus mengajak anak-anaknya ke rumah Emak agar mereka senang , lagian di sana juga ada Salsa yang bakalan jaga, jadi Siti hanya berniat mengantarkan saja, dia tahu pasti suaminya ada di sana sekarang. Dan Siti belum siap jika harus berhadapan lagi dengan Dadang setelah perdebatan penuh Drama mereka beberapa jam yang lalu.
__ADS_1