Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
keputusan Siti 2


__ADS_3

Nurdin dan Lastri melihat perubahan yang signifikan pada diri Dadang. Anaknya itu seolah telah meresapi semua kelakuannya, karena Dadang lebih banyak diam setelah kepulangan mereka dari rumah sakit.


Dadang juga nampak lebih semangat dan tak mengenal lelah ketika mengerjakan pekerjaannya yang kini tengah panen kopi, meski bukan buah musim.


" Dang ! istirahat dulu, kita minum " Ajak emak yang memang sudah menyelesaikan tugasnya menyiangi rumput yang tumbuh disekitar tanaman kopi. Lastri memang lebih suka jika tanaman kopinya di rumput manual dan tidak mengunakan pestisida sebagai pembasmi rumput-rumput liar itu.


" Bentar lagi Mak. Tanggung ! sedikit lagi selesai." Dadang menjawab seraya meneruskan pekerjaannya memetik buah kopi dari dahannya. Buah tahun ini alhamdulilah lebat dan melebihi tahun kemarin.


"kamu ada ngomong sama Siti Dang ? "


Dadang yang baru saja duduk mendapat pertanyaan itu dari emak "Belum Mak ! Entahlah Dadang terlalu takut jika Siti trauma akan kehadiran Dadang. kalau dipikir-pikir Dadang sudah sangat menyakiti Siti Mak. Mungkin ini hukuman buatku Mak. Biarlah jika memang Siti tetap kukuh dengan keinginannya."


" Emak sebenarnya sekarang malah nggak enak sama budenya Dang. Emang iya kamu kirim uang ke bude mu itu rutin beberapa bulan ke belakangan ini ?"


Dadang menggeleng


" Sebenarnya aku nggak pernah Mak kirim uang atau apapun ke bude. Siti juga nggak bilang apapun . Aku juga bingung denger bude bicara seperti itu. Aku makin malu sama bude. Bagaimanapun juga aku sudah mengecewakannya.."


"Hati istrimu itu baik, berarti Dang. Mungkin Siti mau menunjukkan kalau ekonomi kalian kini semakin baik, mungkin dia sudah merasa sungkan karena Dewi selalu saja mengirim uang sebelum kalian memiliki rumah sendiri. Kamu kan tahu sendiri bude mu itu bukan orang susah.."


Dadang semakin merasa bersalah. Selama ini dia hanya bisa berkomentar akan sikap Siti yang menurutnya salah .Tapi tak pernah mau bercermin dan mengakui kesalahannya sendiri.


" Aku malu. Pak...Aku benar-benar malu "


Lastri menenangkan Dadang, sementara Nurdin hanya memandang interaksi ibu dan anak itu dalam diam.

__ADS_1


***


Siti dan Salsa kini telah selesai melakukan kegiatan mereka pada sore hari yaitu memasak untuk makan sekeluarga, sedang bude Dewi mereka suruh untuk momong ketiga anak Siti . Tentu saja hal ini menjadi kesenangan sendiri bagi Dewi.


Apalagi pada sosok gemoy Bara. Dia sangat gemas dan sesekali menjahili cucunya itu dengan ciuman beruntun.


Setelah menata semua menu masakan di atas meja . Kini mereka menuju ruang Tv. Melihat keseruan bude Dewi dan anak-anak.


Dewi kini mendekat kearah Siti. Rasanya tubuhnya terasa remuk menghadapi tingkah pola Bara dan Dio yang memang sedang aktif-aktifnya.


Tapi bisa merasakan hal ini lagi setelah Siti dewasa rasanya hal yang tak bisa dia bayangkan . Dia senang sekaligus terharu, ia tak menyangka jika Si kecil Siti yang diasuhnya sedari kecil kini telah melahirkan cucu-cucu yang lucu untuknya.


" Bude nggak bisa bayangkan jika mereka kamu tinggalkan disini. Di rumah mertuamu. Bude saja yang baru beberapa hari bersama mereka malah rasanya berat jika nanti harus berpisah.."


Siti memperhatikan anak-anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Bude jangan membuatku merasa bersalah karena pernah mengutarakan tentang perceraian dengan bang Dadang ..Aku juga sebenarnya berat. Tapi ..."


Baginya mengingat semua itu tetap saja terasa sakit.


" Maafkan bang Dadang ya mbak ! Tapi aku senang karena mbak mau memberi kesempatan lagi ke abang ku yang rese itu. ."


" Ini bukan kesempatan Sa. Tapi kesepakatan, mengenai akan seperti apa hasilnya nanti mbak nggak akan berharap lebih lagi. kamu tahu sendiri kan berapa lama mbak bertahan dengan semua ini. ."


Salsa terdiam. bude juga nampak termenung. Siti sepertinya tak bisa melupakan apa yang telah dia alami.


" Sa , Semua berkas yang tadi bude kasih ke kamu udah selesai belum ?"

__ADS_1


" Udah kok bude . Bentar Salsa ambil,..."


Salsa pergi ke kamarnya mengambil sebuah map yang berisi lembar perjanjian yang akan ditanda tangani oleh Abang dan iparnya itu.


Kepergian Salsa sepertinya memang disengaja bude Dewi, demi untuk berbicara empat mata dengan Siti " Nggak seharusnya kamu ngomong begitu ke salsa. Ti. Bagaimanapun Dadang itu abangnya Siti. Walaupun wibawa Dadang telah nol di matamu. Tapi bukan berarti kamu seolah mempengaruhi Salsa untuk tak menghormati Dadang sebagai Abangnya.."


" Aku nggak bermaksud begitu. bude. Tapi entah kenapa masih ada kesal jika nama itu disebut. Aku masih belum bisa melupakan perlakuannya padaku yang membuatku harus kehilangan rahim dan anakku.."


" Kamu juga harus berkaca dengan kesalahanmu Ti. Bude dengar jika kamu bahkan ngotot ingin mengugurkan kandungan mu kali ini. Mungkin saja yang terjadi padamu adalah timbal balik dari kelakuan kejimu pada darah dagingmu sendiri.."


Siti menatap budenya. Entah kenapa Siti bisa lupa soal itu. Bukankah ini juga kesalahannya, Dadang memang jahat. Tapi bukankah kelakuannya lebih jahat lagi pada anaknya sendiri.


Bude memeluk Siti " Ikhlaskan yang terjadi nak. Tuhan pasti punya alasan kenapa membuatmu harus melewati semua ini. Jangan simpan dendam di hatimu nak. apalagi pada seseorang yang telah memberimu tiga bocah yang lucu dalam hidup ini. Lihat mereka . Bukankah mereka sangat mengemaskan....


Semua orang pasti pernah salah termasuk dirimu sendiri.."


.... ....


Siti terdiam dan menatap bude..


" Maaf sekali lagi untuk semuanya bude. Siti janji akan memperbaiki diri. Apapun nanti yang akan terjadi, doakan Siti ya bude biar lebih banyak diberi kesabaran dan kesadaran lagi. Agar tak lupa dengan semua kekeliruan dan kesalahan diri sendiri.


Dewi menatap Siti. Dia bersyukur ada sosok Siti yang menghiasi masa tuanya, Kehadiran Siti Membuatnya merasakan Bagaimana Rasanya memiliki seorang anak meski Siti tak lahir dari rahimnya sendiri. Apalagi Siti merupakan anak yang berbakti, tak pernah sekalipun perempuan itu menyakiti hatinya baik perbuatan maupun perkataan.


"Bude selalu mendoakan yang terbaik untukmu ,nak !

__ADS_1


Maaf jika kamu merasa bude terlalu memaksa tapi percayalah. Ini akan indah pada waktunya, Dadang juga sudah bude anggap seperti anak sendiri, insya Allah jika dia nantinya mengingkari perjanjian . Bude sendiri yang akan memberi lelaki itu hukuman. Hukuman seorang ibu yang tersakiti hatinya, karena anak perempuannya disia-siakan. percayalah tak ada seorang ibupun yang mau menjerumuskan putrinya ke jurang yang sama. jika sebelumnya kamu yang telah memberikan Dadang kesempatan. Maka kini anggaplah jika bude yang telah menyodorkan sosok itu untukmu. Bude masih percaya padanya . Bahwa dia akan membahagiakanmu. Nanti dan selamanya..."


Siti kembali menangis, meski tak yakin jika dirinya akan mampu bertahan . Tapi mendengar apa yang diucapkan bude Dewi . Siti merasa hal ini akan terasa mudah, terlebih kini dia punya seseorang yang akan mendengarkan keluh kesahnya. Dia tak akan menyimpan lagi semua kesakitan nya sendiri, karena kewarasannya akan dipertaruhkan didepan anak-anak nya.


__ADS_2