Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Karma ?


__ADS_3

Dadang menatap datar pada pohon mangga didepan rumahnya, penjelasan Bidan Mira tentang anak Sandra yang memang telah cukup bulan, membuatnya langsung pulang ke rumah dengan tergesa. Baginya sudah cukup jelas jika Sandra telah membodohi dirinya. Sudah cukup lama berada disini, namun dia seolah enggan untuk masuk, meski perutnya sudah berteriak minta diisi.


Tak ia perduli kan juga saat para tetangga, yang notabene ibu-ibu kini berbisik-bisik seraya menatap ke arahnya. Entah sejak kapan mereka berkerumun di sana. Tapi diaa tahu, jika gosip akan cepat menyebar. Jadi dia berusaha untuk cuek, meski pikirannya kini dipenuhi rasa kesal, marah, kecewa dan rasa tidak percaya jika perempuan yang kini berstatus istrinya itu ternyata benar-benar bernilai Mines dalam segala hal.


" Dang !! Benar Sandra melahirkan ?"


Suara Lastri mengalihkan perhatian Dadang, saking tak fokusnya Dadang, dia bahkan tak sadar jika Emak telah berdiri tepat didepannya .


" Iyah Mak..!!!" Dadang menjawab lesu, pertanyaan emak mengingatkannya akan ucapan bidan Mira lagi, yang kini seolah diputar bak kaset kusut di memori otaknya.


" Terus, dimana istrimu sekarang Dang ? kenapa kamu malah santai disini ? Anak kalian sudah lahir, perempuan atau laki-laki..?"


Lastri memberondong Dadang dengan banyak pertanyaan dan juga wajah penasaran. meski merasa agak aneh, dia malah menemukan sang putra duduk melamun di teras seperti ini.


" Entahlah Mak..


Aku bingung harus bagaimana bersikap. .!!" Mata itu menatap Emak dengan senyum pedih


"Kami baru kenal bahkan belum delapan bulan, Mak !! Masa, Sandra sudah melahirkan secepat ini ? bagaimana aku tak merasa heran ? Jujur saja, aku berpikir mungkin itu bukan anakku Mak !!"


Lastri tersentak, Dia memandang Dadang dengan lekat " kenapa kamu meragukannya Dang, banyak kok orang melahirkan diusia kehamilan tujuh bulan, artinya anak kamu lahir prematur Dang !! Jangan berprasangka buruk dengan Sandra, kasihan dia jika merasa tertekan dengan ketidak hadiran kamu disampingnya , saat dia berjuang melahirkan anakmu, apalagi jika sampai ucapan ini sampai ke telinganya !!"

__ADS_1


" anak itu lahir cukup bulan , Mak ! yang artinya memang seharusnya sudah lahir..!!" Dadang hampir berteriak didepan Emak. Susah paya dia menahan emosinya, dan membuat matanya kini memerah, antara marah dan kecewa. Dia benar-benar merasa jika harga dirinya selalu dipermainkan oleh Sandra. padahal, dia telah bertekad menerima Sandra apapun sikap dan tingkahnya. Namun jika sudah separah ini , bukankah sangat tak pantas baginya sebagai seorang lelaki, menutup aib wanita yang tak pernah dia tahu asal usulnya ?


Lastri yang sedari tadi betah berdiri kini terduduk lemas, Dia memandang Dadang dengan prihatin. Nampaknya putra sulungnya ini benar-benar telah kena Karma karena telah mengecewakan dan menyakiti hati Siti. Istri pertamanya,


" Jadi intinya kamu nggak akan jemput Sandra dan bayinya ?


Apa kata orang nanti Dang !!"


" Aku sudah kebal dengan cerita orang lain , Mak. Dan sudah pasti sekarang mereka mengolok-olokku, karena telah dibodohi oleh perempuan seperti Sandra. Jika dulu anakmu ini dikenal dengan lelaki yang kejam, maka sekarang aku akan diingat sebagai lelaki idiot, dan bodoh karena tak mengetahui perempuan yang aku nikahi telah lebih dulu hamil dengan pria lain.." Dadang bicara panjang lebar, mata yang biasanya dingin dan selalu menampakkan aura kemarahan kini malah diselimuti kabut hitam penuh penyesalan, apakah dia kualat karena dulu pernah menolak dan menyesali kehamilan Siti ?


" Tapi, Fatma di sana kan Dang ? Dan dia tahukan tentang ini ?" Meski paham perasaan Dadang , namun tetap saja Emak khawatir, jika Sandra benar-benar sendirian saat melahirkan. Dia tahu betapa takut dan sakitnya kontraksi saat melahirkan, apalagi ini juga adalah anak pertama bagi Sandra.


" Sudah ada Mak. Aku juga sudah bayar biaya persalinannya, Tapi untuk menemui Sandra dan anaknya sekarang !! aku belum siap. Aku harap Emak tak memaksa dan menghargai semua keputusan yang sudah aku ambil ini sekarang.!!"


Sesuatu yang tak pernah ada dalam bayangkan Lastri, karena dulunya, Dadang selalu diperlakukan bak Raja oleh Siti.


Tapi sekarang, semua hal positif yang ada di sosok Siti malah seperti bertolak belakang akan sikap dan sifat Sandra.


***


Hari sudah menjelang Petang, namun tak ada tanda-tanda jika Dadang akan menjemput Istrinya. Ini membuat Fatma berinisiatif ingin membawa ponakan dan cucunya pulang dulu kerumahnya dan nanti saja mereka akan membicarakan hal ini pada Dadang.

__ADS_1


Sementara Sandra sedari tadi selalu saja mengeluarkan air matanya dalam diam. Meski sudah dibujuk Fatma dan juga bidan Mira, tapi rupanya perempuan muda itu tengah merasakan kecewa dan luka yang amat dalam, entah karena belangnya sudah diketahui, atau karena dia merasa jika dia sebenarnya telah berada dijalan yang menurutnya benar.


" Sand.. Kalian pulang dulu ke rumah Tante ya !! Sepertinya Dadang masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Tante nggak akan paksa kamu untuk menceritakan awal mula dari hal ini ? Tapi, Jangan keras kepala untuk sekarang, padahal kita sama-sama tahu persis jika Dadang nggak akan mungkin menjemput kalian hari ini, disini !!! "


Sandra mengangguk, mengiyakan ajakan sang Tante. Dia tak pernah terpikir akan hal ini ? Dia pikir hidupnya akan mudah setelah semua cerita pahit masa lalu yang seolah tak akan hilang , dulunya..


"Maafkan Sandra Tan.. Maaf !!!"


Kini Sandra benar-benar terisak baginya kini semua mimpi indahnya seolah telah berakhir. Lelaki bodoh mana yang mau menerima perempuan yang terlanjur hamil oleh pria lain.


Harusnya dia sadar akan hal itu, bukan malah semakin membohongi Dadang dan menikah dengan laki-laki itu.


Fatma tak mau mendengar apapun sekarang, yang penting cucunya kini harus pulang dulu ke rumah. Bagaimanapun dan sebesar apapun kesalahan Sandra, Bayi cantik ini tidaklah tahu apa-apa dan tak pantas jika harus dilibatkan dan disalahkan.


"Tegarkan diri kamu, San !! Jangan terlalu berpikiran berat untuk sekarang, pikirkan diri dan bayi kamu saja. Soal masalah kalian. Biar jadi urusan Tante..."


Sandra memeluk Fatma, Dia sebenarnya tahu jika hal seperti ini akan terjadi, Tapi sifat egois dan cintanya pada Dadang, membuatnya membohongi lelaki itu sampai dititik dimana Lelaki itu Muak dan dipenuhi amarah.


" Aku ikhlas jika bang Dadang menceraikan ku Tan. Tapi, jangan paksa aku untuk mengatakan siapa Ayah dari anak ini. Aku sudah berjuang ditahap ini dengan susah payah, jadi biarkan aku menjalani hidupku dengan putriku, meski tanpa sosok pendamping dan juga sosok lelaki yang bisa dipanggil Ayah olehnya !!..."


Sandra memandang Bayinya dengan mata berkaca-kaca. Dia memang teledor dan selalu saja bisa mencari alasan atas kekeliruan sikap dan prilakunya.

__ADS_1


Tapi Dia seorang ibu, sekarang !! Jika dulu dia egois untuk dirinya sendiri, maka dia akan egois untuk sang putri, mulai hari ini dan detik ini juga .


__ADS_2