Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Rama Si sulung


__ADS_3

Fian akhirnya datang menjemput Siti. Mereka memang berkomunikasi semalam, namun Fian seolah menahan diri, tak seperti selama ini dia selalu bicara apa adanya dan bahkan sering menggoda Siti dengan tingkahnya yang suka bercanda. Siti tentu sangat menyadari perubahan itu, tapi dia sungkan jika harus menanyakan hal ini pada Fian. Baginya meski ada sedikit rasa sedih dihatinya akan sikap Fian yang menjaga agar mereka tak terlalu dekat, ini lebih baik. Daripada Fian terang-terangan meminta hubungan lebih dari sekedar teman padanya.


"Sudah siap , Ti ? Ayo, keburu siang.."


Fian menggendong Bara dan juga mengandeng Dio. Tak melihat kearah Siti sedikitpun.


Fian terlalu pendiam untuk menanggapi Siti. Siti yang biasanya duduk di depan tepat di samping Fian, kini harus mengalah karena Fian telah lebih dulu meminta Rama untuk duduk didepan.


Jadinya di sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam. Karena Fian lebih memilih berinteraksi dengan asik bersama Rama ketimbang Siti.


Mobil Fian, yang membawa Siti akhirnya sampai juga di rumah Emak Lastri. Membuat anak-anak dengan tak sabaran membuka pintu dan langsung keluar dari mobil, berlari dan langsung memeluk nenek dan kakek mereka yang memang telah lama tak mereka temui.


Siti memang telah memberi tahukan kedatangannya kepada Salsa, tak heran jika mantan mertua dan iparnya itu kini telah menunggu kedatangan mereka di teras rumah.


Siti juga ikut turun, diikuti oleh Fian. Mereka menyalami emak dan bapak Dadang, serta Salsa yang menyambut mereka dengan ramah.


" Ayah mana Kek ?"


Rama bertanya sekembalinya dia dari dalam rumah sang kakek, rupanya saking tak sabar ketemu sang Ayah, Rama langsung mencari sosok Dadang kedalam rumah.


Lastri dan Nurdin saling pandang, bingung juga harus menjawab apa akan pertanyaan Rama.


"Tante cari dulu ya , ayah kamu. Katanya tadi beli rokok .Tapi belum juga pulang !!"


Salsa mengusap pucuk kepala Rama, dan segera pergi menuju ke rumah Dadang.


Sebenarnya tadi pagi dia sudah mendatangi sang kakak. Tapi kata Mbak Salma, Abangnya dan sang Istri pergi sejak tadi pagi.


Kepergian Salsa membuat Siti agak merasa curiga , apakah Dadang dan istri barunya tak tinggal serumah lagi dengan Emak dan Bapak ?


Atau mungkin Istri barunya Dadang tahu jika dia akan datang, dan sengaja mengajak Dadang pergi keluar agar anak-anaknya tak bisa bertemu ayahnya.

__ADS_1


Atau mungkin Dadang mau tarik tunai di ATM terdekat ? Kemungkinan terakhir malah membuat Siti tersenyum kecut . Jika Ia , maka Dadang benar-benar tega padanya dan juga anak-anak.


" Eh , Ti. Kok malah bengong. Ayo ajak teman kamu masuk dulu gih,," Emak mengendong Bara sementara Dio kini telah menarik sang kakek mengajaknya bermain dengan robot-robotan yang tadi dibawanya.


Fian duduk dengan canggung, karena sedari tadi mata Emak seolah ingin mengulitinya, Fian menatap ke pakaian dan juga meraba penampilannya, siapa tahu ada yang memang terlihat aneh . Tapi kenyataannya adalah, dia tak menemukan hal apapun yang bisa membuat orang merasa perlu menatapnya intens seperti tatapan mantan mertua Siti ini .


" Mak , Kemana sebenarnya bang Dadang ?" Siti akhirnya mengeluarkan suaranya, menyadari jika emak memandangi Fian sedari tadi.


" Mereka nggak tinggal sama Emak dan bapak disini ?"


" Eh..Enggak Ti. Mereka sekarang tinggal di rumah anak-anak. Sebenarnya emak rada keberatan dan nggak enak sama kamu. Tapi ya, dimana lagi mereka akan tinggal ! Kan Bapak sudah usir Dadang dari rumah ini !!"


Emak Lastri bicara pelan, karena posisi sang suami tak begitu jauh dari tempat mereka duduk sekarang.


Siti sebenarnya kepo, tapi dia menahannya. Karena menyadari jika dia sekarang punya batasan untuk bertanya maupun berkomentar


" Nggak apa kok Mak. Lagian kan bang Dadang memang berhak jika mau melakukan apapun dengan rumah itu. Tapi kalau sampai dijual Siti nggak akan rela Mak.."


" Kalian mau menikah ?"


Siti yang sedang minum air teh yang sedari mereka datang tadi telah dipersiapkan kini malah terbatuk-batuk. Dia kaget, kenapa emak malah berpikir ke arah situ ?


Sementara Fian, refleks menepuk punggung Siti dengan pelan, membantu janda tiga anak itu menetralkan kondisi tenggorokannya lagi.


" Enggak kok Mak !!!"


Siti menolak pelan perlakuan Fian, membuat pria itu mengerti dan menarik kembali tangannya .


" Sudah dua bulan lebih bang Dadang nggak pernah bicara sama anak-anak. mereka jadi murung dan menanyakan bang Dadang terus-menerus. Aku nggak tega Mak. Makanya aku datang kesini. Dan soal Fian"


Siti menoleh kearah Fian,

__ADS_1


" Kami hanya sekedar berteman Mak !!"


Siti menjelaskan dengan penuh senyum.


Lastri mengangguk mengerti. Dia menelisik penampilan Fian dan juga cara anak-anak memperlakukan pemuda ini tadi, sangat dekat dan patuh. Membuat Lastri yakin jika Fian berharap lebih pada mantan menantunya itu,


" Ya begitulah Ti. Beda Istri, beda kelakuan ..!!" Emak menjawab singkat, sebenarnya dia ingin mengumpat dan berkeluh kesah akan kelakuan ajaib istri baru Dadang, namun rasanya tak etis dan takut jika Siti mengingat perlakuan buruknya dulu..


Tak lama terdengar suara salam dari luar. Siti hapal itu adalah suara Dadang.


Bapak yang sedari tadi sibuk bermain dengan cucu-cucunya kini menyingkir seolah memberi ruang pada Dadang untuk melepas rindu kepada anak-anaknya..


Keheningan mendadak terasa, semua mata kini seolah terfokus pada pertemuan Ayah dan anak itu, Rama bahkan terisak, dan mengatakan hal-hal rindu yang bisa membuat yang mendengarnya patah hati.


Sementara Dadang kini malah menangis dan dengan lembut menciumi ketiga putranya secara bergantian.


" Yah, kenapa nggak pernah Vc lagi sama kita ? Ayah nggak sayang lagi sama kita, karena sudah ada pengganti ibu ?"


Rama berucap kuat, sembari menangis. Ucapannya membuat semua yang ada di sana menjadi kaget, dan menatap Siti secara bersamaan. Apakah Siti yang telah mengatakan semua ini pada Rama. Kenapa Siti tega mematahkan hati sang anak dengan mengatakan hal pahit ini secara mendadak !! Dan juga , kenapa Rama seolah sangat benci, hingga hilang hormat kepada sang Ayah.


Sementara Siti malah kebingungan, Ia juga menatap ke arah Rama dengan heran, kenapa anak sulungnya bisa mengetahui akan hal itu ?


" Kenapa kamu bilang begitu bang ? Ayah sayang kok sama kalian, tapi belakangan Ayah memang lagi sibuk, jadi nggak sempat pegang hape !"


Rama melempar sebuah kertas yang nampak telah diremas kuat, tepat didepan kaki Dadang. Anak itu terisak semakin keras dan menunjuk Dadang dengan kecewa


" Lalu Siapa wanita difoto itu ? Kenapa Ayah dan dia berpose sedekat itu ?"


Dadang mengambil kertas itu dengan gemetar, dan dugaan yang ada di kepalanya ternyata benar. Ini adalah fotonya dengan Sandra , beberapa saat setelah mereka melakukan ijab Qabul. Tapi bagaimana anaknya bisa mendapatkan ini ?


Dia menoleh kearah Siti. Bingung harus menjelaskan seperti apa , pada Rama !!

__ADS_1


__ADS_2