Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Dio sakit


__ADS_3

Mobil yang dibawa Rama baru sampai didepan rumah bude Dewi pada saat pukul lima sore .


Jarak yang jauh dan juga cara Rama membawa mobil memanglah sangat santai, Seolah memberi waktu pada Siti dan Aini yang sedari tadi asyik membicarakan banyak hal,


" Lain kali kita sambung lagi mbak !! Minta no Wa nya dong, biar tambah akrab..."


Siti mengambil hape yang disodorkan Aini dan segera menulis beberapa angka dilayar ,


" Nggak mampir dulu Na ?" Siti berucap ramah , memanggil Aina dengan nama kecilnya Nana, seperti yang dilakukan Rama. Dia juga kini memberikan kembali hape milik Aini.


" Nggak ah, Mbak ! Lain kali saja, sudah kesorean ini .."


Aini memperlihatkan jamnya pada Siti.


Setelah berpamitan, Rama dan Aini kini berlalu. Meninggalkan Siti dan bude Dewi yang saling melempar senyum lega entah karena apa !


Semua anak Siti rupanya berinisiatif sendiri untuk mandi, rasa lengket pada tubuh mereka sepertinya membuat para bocil itu tak nyaman. Bara juga bahkan antusias ketika Rama membaluri nya dengan Sabun cair khusus untuk mereka. Tawa riang ketiganya bahkan sampai ditelinga Siti dan bude Dewi yang kini memilih menata barang belanjaan mereka, sementara menunggu Anak-anak mandi.


"Aduh Ti. Bude lupa beli garam !!" Bude mengetuk keningnya karena benda asin itu telah benar-benar tak lagi ada di dapur milik mereka


"Nanti biar Siti yang beli di warung sari, Bude..!"


Siti ikut meneliti setiap belanjaan mereka, karena rencananya untuk berbuka besok, Siti ingin menyajikan sup buah untuk bude dan juga anak-anaknya. Untungnya semua buah sudah terbeli dan lengkap. .


melihat Rama dan adik-adiknya telah selesai mandi, Siti segera menyusul mereka kedalam kamar. berniat membantu anaknya untuk berganti pakaian meski Dio dan Rama sudah bisa sendiri namun Bara masih butuh bantuan jika memasang baju, kecuali kalau celana, bocah itu memilih memakainya sendiri,


" Bu !! Telpon Ayah Yuk !! Dio kangen , ,"


Dio tiba-tiba merengek, dan segera memeluk kaki Siti, merayu !!


Siti tersenyum, dan segera merogoh sakunya, mengambil hape hendak menuruti permintaan Dio.


Namun belum juga sampai ditangan bocah yang sudah wangi itu, gawai milik Siti berbunyi, dan dia menemukan nama Fian dilayar.


Karena saking tak sabarannya Dio malah segera menarik benda pipih itu dari tangan ibunya, dia segera menggeser layar kesamping.


" loh kok om Fian.. Dio kan mau ngomong sama Ayah. kenapa sih Ibu sibuk telponan sama om Fian terus ..! " Dio menggerutu dan mematikan panggilan video dari Fian, dia juga hendak membanting hape saking kesalnya.


" DIO KOK GITU !!!!" Siti tak sadar malah membentak anak keduanya itu, alih-alih menenangkan Dio yang kaget, Siti malah meninggalkan Dio dengan membawa hapenya.


Berniat menghubungi Fian balik.


Bude yang baru saja masuk kedalam kamar mandi kini keluar lagi, karena kaget akan teriakan Siti dan juga tangisan Dio.


Kini dilihatnya Dio menangis dengan tubuh bergetar hebat,


" Dio takut nek, ibu jahat ...Huhuhu"


Ucapan Dio membuat Dewi memandang Rama,


" Mana Ibu bang ?"


" Ibu ke kamar nek.. Telponan !!" Rama menjawab dengan jujur. Untungnya Bara anteng dengan mainan yang mereka beli di pasar tadi.


Bude Dewi mendekap tubuh kecil Dio, menyesalkan tindakan Siti yang membentak cucunya. Kenapa akhir-akhir ini Siti semakin sulit menahan emosi pada anak-anaknya.


Sementara itu di kamar , ibu tiga anak itu kini menunggu dengan harap-harap cemas, berharap Fian mengangkat panggilannya. Meski hanya melalui panggilan suara .


menit berlalu, membuat Siti semakin dilanda cemas, dia takut jika Fian tersinggung akan ucapan Dio tadi. Entahlah kenapa dia merasakan perasaan panik seperti ini .


' Hallo. Yah Ti kenapa ?,'


" Hallo, Assalammualaikum, Yan. Maaf ya soal Dio tadi. .! "


' Kenapa emangnya Ti, aku maklum kok. Anak kecil ini ' Ada tawa terdengar dari sebrang sana. ' Mana Dio nya Ti, aku mau video call sama dia ?'

__ADS_1


Siti melirik kearah kamar anak-anaknya, dan segera melihat keadaan Dio. Dia lega karena Fian tak tersinggung dan masih mau bicara dengan anak keduanya itu.


" Bentar ya Yan. Aku temui Dio dulu !!" mata Siti malah bertemu dengan mata bude Dewi saat dia melongok kedalam kamar anaknya, Siti agak kaget namun dia menetralkan detak jantungnya yang sempat merasa berdebar..


" Kok bude belum mandi !!" Siti bertanya dan menatap mata bude yang memancarkan pancaran tak biasa,


" Dio nenek mandi dulu ya sayang ! kasihan tuh, nenek pasti badannya lengket-lengket!!'


" NGGAK MAU !!! Dio maunya sama nenek, nggak mau sama Ibu . "


Dio semakin memeluk erat sang nenek, seolah tidak mau jika ibunya tiba-tiba mendekatinya..


"Dio kenapa bude ?" Siti bertanya dengan suara bergetar,


" Kamu yang kenapa ? Kok bisa-bisanya kamu malah bentak anak sekecil ini ? main ditinggal aja lagi, .."


Bude Dewi berkata dengan nada marah dan kecewa, seumur-umur Siti tak pernah melihat tatapan seperti itu dari sang bude.


Siti meremas hape ditangannya, dia lupa jika dia sedang melakukan panggilan ke Fian.


" Dio, maafin Ibu ya !!"


Siti mendekati anaknya itu dengan tubuh bergetar, dia tak tahu jika baru saja membuat perasaan anaknya hancur dan mungkin saja trauma.


" Yo. Sini nak sama Ibu. Ibu minta maaf yah . sudah bentak Dio !!"


" aku nggak mau, maunya sama nenek. Ibu jahat...!!"


Dio malah histeris lagi, membuat Siti tak sadar jika dia telah ikut menangis.


" Kamu mandi duluan saja . Biar bude tenangkan Dio dulu..!!"


Siti diam saja, namun dia melangkahkan kakinya kearah dapur, setelah sampai tepat didepan kamar mandi. Siti ingat, jika ia masih terhubung dengan Fian. Namun, saat dia melihat layar hapenya, ternyata telpon telah terputus, mungkin Fian telah mematikannya atau mungkin Dirinyalah yang tak sengaja menekan tombol merah. Entahlah Siti tak mau ambil pusing.


Selesai mandi, Siti segera menuju kamar anaknya. Dilihatnya Dio kini tertidur lelap, dipangkuan sang nenek.


" lihatin Bara didepan Ti. Dia tadi ikut Rama. Takutnya malah diajak main jauh.."


Siti mengangguk, dan ternyata kedua anaknya itu kini malah asyik menonton televisi. Melihat itu Siti segera ke kamarnya untuk ganti baju.


***


Bude dan Siti kini tengah memasak untuk menu sahur. pindang daging merupakan menu yang mereka pilih, karena waktu sahur yang singkat, maka mereka memutuskan memasaknya sekarang, dan Nanti saat sahur tinggal dipanaskan saja.


" Siti !!! Kenapa bisa kamu bentak Dio sampai dia menangis seperti tadi ?"


Bude bertanya, meski tangannya tengah menumis bumbu untuk tulang yang mereka beli siang tadi.


" Dio mau banting hape Bude !!"


" Pasti ada alasannya kan kenapa dia seperti itu ?" Bude menyela tak sabaran.


Siti menunduk, dia tadi memang terpancing emosi karena takut melukai hati Fian, namun abai akan perasaan anaknya sendiri yang masih sangat kecil. ini jelas sepenuhnya salahnya.


" Siti marah karena dia berucap tak sopan, Saat Fian melakukan video call bude . Maafkan Siti yang egois.. "


Wajah itu kini dipenuhi air mata, selama ini dia selalu menutup telinga anaknya saat mantan suaminya berteriak dan membentak dirinya, tapi sekarang hanya karena sosok lelaki. Dia malah dengan tega melukai hati si kecil Dio.


" Jaga emosimu Siti !! Belakangan ini bude perhatikan kamu nggak bisa mengontrol perasaanmu sendiri. Jika memang kamu membutuhkan seorang pendamping dan bahu tempat bersandar, kenapa tak kamu terima saja lamaran Fian. Jangan korbankan lagi anak-anakmu. Hanya karena kamu merasa kesepian..!!"


Bude Dewi mengerti, karena dia juga pernah ditinggalkan oleh orang yang dia sayang. Memang sangatlah berat menegarkan hati dan masih harus ceria didepan sang ponakan yaitu Siti.


Apalagi anak-anak Siti masih bocah, belum bisa untuk diberi pengertian dan arahan dengan baik, tentu sangat sulit bagi Siti menjaga warasnya akan kesedihan yang pasti menimbulkan trauma.


" Maaf bude..!!!"

__ADS_1


Rama tergopoh-gopoh berlari menghampiri Siti, meski jarak kamar dan dapur sangatlah dekat..


" Bu !! dek Dio demam. .badannya panas , tapi kayak orang kedinginan..!!"


Bude Dewi dan Siti segera menghentikan aktivitas memasak mereka. Dan langsung melihat ke kamar, memastikan ucapan Rama.


Benar saja, bocah 4 tahun setengah itu kini berkeringat dingin, dan mengigau dengan suara pelan. Tak seperti kata Rama. Badan anak kedua Siti itu kini malah dingin meski keringat keluar cukup banyak.


" Dio, bangun sayang !! heii..."


Siti memangku Dio, dan menepuk pelan pipi chubby anaknya. " Maafkan ibu nak. Ibu nggak akan bentak Dio lagi..! " Siti menangis sedangkan Bude Dewi kini berinisiatif menemui Kasih, yang merupakan bidan kota yang dipindah tugaskan di desa ini.


Tak berapa lama, bude Dewi telah kembali bersama sang bidan. karena untungnya jarak rumah bude dan tempat bidan menginap hanya berselang tiga rumah saja.


" Bangunin Adeknya mbak !!" Sang Bidan meminta Siti,


sementara dia menyiapkan semua alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan Dio..


Siti melihat semua yang dilakukan bidan itu dengan berurai air mata. Dio adalah anaknya yang paling jarang sakit. Tapi jika demam seperti ini biasanya anaknya ini akan membuat was-was.


" Ini adeknya masuk angin Mbak. Kayaknya mau flu juga. Nanti aku beri sirup saja, sekalian kerok pake bawang merah ya adeknya.."


Bidah kasih mengucapkan hal itu dan tentu saja membuat Siti sedikit lega.


" Bude !! Bude ikut saya yah. Buat ambil sirup untuk Adek..!!" Bidan itu bicara dengan sopan. Dan akhirnya pamit pulang, dengan bude yang mengekor dibelakangnya. .


" Ibu...ibu...!!!"


Dio kembali mengigau dengan mata setengah terbuka, padahal tadi dia sempat menatap sang bidan saat memeriksa tubuhnya.


" Ya sayang ! Ibu disini, Dio mau apa nak Hmm?" Siti semakin mendekap anaknya sembari ikut berbaring di samping Dio.


" Dingin... gendong !!!"


" Iyah ibu ambil gendongannya dulu yah ! Biar bisa gendong Dio.."


Dio mengangguk, wajahnya kini tampak pucat dengan keringat dingin yang semakin deras.


Siti kembali dengan kain jarik ditangannya, setelah membentuk simpul agar bisa mengendong Dio, dia segera mengangkat sang anak kedalam kain gendongan. Siti bahkan lupa kapan terakhir dia mengendong Dio sedekat ini ! Sakitnya Dio mungkin teguran akan kelalaiannya pada anak-anak.


Bude menatap Siti yang tengah mengendong Dio. Dia kemudian berlalu ke dapur mengambil air minum dan juga bawang merah seperti intruksi dari bidan kasih tadi.


" Dio, sini sama nenek dulu ya. Minum sirup..!"


Dio diam saja dengan mata sayu, tapi tetap membuka mulutnya ketika bude Dewi menyodorkan sendok berisi Sirup.


" Anak pintar.. Sini Dio bobok dulu. Biar nenek kerokin..!"


Lagi-lagi Dio menurut, Dia menelungkup kan diri dibantal yang telah disiapkan Siti. membuat Siti tersenyum lega karena tak perlu memaksa anaknya itu.


Belum juga selesai bude membalurkan bawang merah dan sesekali menekannya agak kuat dibelakang dan punggung Dio, anak kecil itu rupanya malah tertidur.


" Siti!!! Kalau bude nggak salah ingat, Dio selalu akan sakit, jika dibentak kan ? Kenapa kamu malah melupakan soal itu ! "


Nada kesal bude begitu kentara membuat Siti menunduk dalam, semakin merasa bersalah.


Dia hanya mampu menggumamkan kata maaf berkali-kali dengan suara pelan.


Semalaman Siti terjaga, karena rupanya Dio tak lama saat tertidur. Dan Dio malah rewel sejak semalam. Dio akhirnya tenang saat berada dalam gendongan ibunya. Membuat Siti agak kewalahan ,meski begitu sebisa mungkin dia menekan sabarnya. Agar tak membuat anaknya takut lagi.


Bude Dewi pun akhirnya sahur sendiri sementara Siti memilih meminum air putih saja, sambil membaca niat puasa.


Menjelang pagi, bukannya membaik, badan Dio malah semakin terasa panas, membuat Siti panik dan memanggil budenya yang tengah mencuci pakaian..


" Bude !!! kita bawa Dio ke rumah sakit sekarang.. Tolong telpon kang Barja bude ... CEPAT!!!" Siti berteriak saking paniknya, dan melempar hapenya pada bude Dewi dengan tangisan keras...

__ADS_1


" DIO...!!!!"


__ADS_2