Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Kedatangan Bude


__ADS_3

Keadaan Siti semakin membaik. Dia sudah bisa melakukan aktifitas normal seperti biasa. Tapi Siti sepertinya masih enggan jika harus seatap dengan Dadang tanpa ada Bapak dan Emak mertuanya, makanya Siti kini masih betah dan bertahan di rumah mertuanya itu.


Sedang Dadang kini malah terlihat pasrah . Dia rupanya mencoba menuruti nasehat Bapak agar tak memaksakan kehendak, memberikan waktu untuk Siti. Meski entah sampai kapan.


" Mak. Hari ini bude bakalan kesini ! sekarang lagi dijalan. " Siti membuka suara ketika mereka sedang melipat pakaian diruang keluarga.


Lastri menoleh " Loh kok ngasih tahunya dadakan sih Ti, kan nggak enak kalau bude mu datang tapi nggak ada jamuan spesial,.." Ada nada kecewa di suara Lastri. Bagaimanapun, Dewi, bude Siti itu adalah besannya dan mereka jarang bertemu.


" Nggak kenapa-napa kok Mak. Bude orangnya nggak pilih-pilih kalau soal makan. Lagian bude juga suka perkedel dan kangkung rica-rica . makanya Tadi Siti masak itu sama Salsa."


Siti nampak menjelaskan, Supaya Emak tak salah paham akan sikapnya.


" Ohh pantes tadi kalian sibuk di dapur berjam-jam . " Lastri tampak mengomentari tingkah Siti dan Salsa yang memang sedikit lama memasak untuk makan Malam mereka.


" Budemu kayaknya kangen sama kamu Ti. Biasanya kan kalian yang ke sana ketemu beliau. "


Bude Dewi adalah seorang janda tanpa anak, suaminya meninggal lima belas tahun yang lalu dan hingga kini Bude memutuskan untuk tak menikah lagi. Beliau sudah seperti ibu bagi Siti. Makanya Lastri tak enak jika tak ada jamuan istimewa di kedatangannya kali ini.


" Aku bilang ke bude kalau aku keguguran dan akan bercerai dengan Bang Dadang. Makanya beliau kesini.." Wajah Siti biasa saja saat mengatakan semua itu, Dia juga masih nampak fokus menyusun baju-baju yang sudah selesai di rapikan.


" Jadi . Bude mu sudah tahu?"


Siti mengangguk " Maafkan Siti ya Mak. Siti nggak bisa jaga marwah Bang Dadang lagi didepan bude Dewi. Ini merupakan keputusan terbesar Siti. Setelah keputusan besar yang Siti ambil lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Yaitu menerima pinangan Bang Dadang"


Lastri hanya diam. Dia tak mampu berkata-kata lagi. Dia pikir Siti akan memberikan kesempatan kedua untuk rumah tangga mereka, tapi kenyataan yang didengarnya sekarang membuatnya tak mampu menahan tangis.

__ADS_1


****


Siti menunggu budenya di teras rumah mertuanya. Rasa rindunya tentu saja sudah sangat membuatnya tak sabar bertemu dengan wanita paruh baya itu. Memiliki Dewi membuat Siti tak terlalu sedih jika disinggung tentang sosok sang Ibu.


Sebuah mobil Avanza nampak berhenti tepat didepan Siti. Membuat Wanita itu tak bisa menyembunyikan senyumnya. Emak dan Salsa serta ketiga anaknya juga nampak menemaninya menunggu kedatangan Travel ini sedari tadi. budenya memang mengatakan jika dia memilih naik travel karena menghemat waktu perjalanan. Sesuatu yang dihindarinya selama ini ketika beberapa kali mengunjungi ponakan tercintanya. Siti sadar jika kabar yang disampaikannya kemarin lah yang menjadi sebab Budenya datang tanpa memikirkan kondisinya yang sering mabuk kendaraan .


Bude Dewi turun . Siti menyambutnya dengan tangis haru. Wanita itu kini terlihat semakin kurus Dimatanya. Mata sembab yang kini balas menatapnya membuat Siti ikut larut dalam rasa sedih.


Siti menggandeng Budenya kearah kamar. Meski budenya bilang jika dia tidak merasakan mabuk kendaraan diperjalanan nya kali ini. Tapi tetap saja budenya harus mandi dulu kemudian baru bergabung untuk makan malam.


Jam telah berganti, Suasana makan malam ini nampak hangat. meski bude Dewi terus saja menatap kearah Dadang, memandang lelaki itu dengan tatapan aneh. Antara marah benci dan tak percaya, itulah yang dilihat oleh Siti pada pandangan budenya itu. Sebenarnya siapapun menyadari tingkah kakak dari ibu kandung Siti itu. Tapi semuanya memilih untuk tak terlalu menanggapi , lebih tepatnya tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa.


" Siti. Bude mau ngomong sama kamu habis ini ." Suara bude terdengar diantara denting sendok yang beradu dengan piring. " ....Setelah anak-anakmu tidur!"


" Ya bude."


Setelah memastikan ketiga anaknya telah terlelap, Siti menuju kamar depan. kamar yang biasanya memang diperuntukkan untuk keluarga jauh yang menginap tapi lebih sering digunakan jika Indra dan Hesti yang datang.


Dilihatnya bude tampak menangis, Wanita paruh baya itu memegang sebuah foto, sambil selonjoran di atas kasur. wajah tua itu tampak basah oleh air matanya.


" Bude kenapa ? " Siti ikut berkaca-kaca . Sebenarnya dia tahu persis jika ucapan dan keputusannya lah yang telah membuat Budenya terluka.


" Apa tak bisa dibicarakan lagi Ti. Apa kamu nggak mikirin anak-anak ?"


Meski mendapat pertanyaan yang sama dan merasa bosan untuk menjawab. Namun Siti merasakan sesak berbeda ketika pertanyaan itu datang dari bibir budenya.

__ADS_1


"Apa aku pernah mengatakan hal buruk selama ini soal Suamiku bude ? Apa aku pernah sedikit saja mengatakan betapa terlukanya aku akan semua perlakuan lelaki itu. Ini titik lelahku Bude. Aku lelah dan benar-benar menyerah.." Siti hampir saja memekik dengan kencang, jika ia tidak segera menutup mulutnya, hingga suaranya kini tampak tertahan. Bahunya berguncang hebat, tangisnya kembali pecah didepan budenya.


" pikirkan anak-anak Siti. Bibi tak perlu mengajarimu bagaimana sakitnya ketika kita tak punya orang tua. kamu pernah diposisi itu kan?"


Siti memalingkan wajahnya kearah lain. Wajah sedih bude tak bisa diabaikannya begitu saja. " Bahkan pelacur pun akan diperlakukan lebih baik. Aku sudah bertekad, dan tak akan mengubah keputusanku lagi.."


Tangis Dewi pecah. Sesakit itukah Siti ?


" Anak anak masih kecil Ti. Bagaimana bisa kamu tak memikirkan mental dan watak mereka yang akan terbentuk jika kamu memutuskan memisahkan mereka dari Bapaknya.."


"Mereka akan tinggal disini bersama Emak dan Bapak bude. Siti sudah mendiskusikan ini langsung ke Emak. Mengertilah bude . Lelaki itu telah membuatku kehilangan anak dan bahkan telah membuatku kehilangan Rahim. Aku hanya mau menjaga harga diriku dan juga kewarasan ku Bude. Aku capek, aku benar-benar capek. Semuanya telah terasa sangat menyakitkan. Bagaimana bisa aku bertahan lagi jika lelaki itu sudah menancapkan seribu pisau tanpa merasa bersalah.."


Dewi menatap Siti yang tampak berbeda dimatanya.


" Bukankah selama ini kamu bilang jika Dadang adalah suami yang baik. Bahkan tiap bulan suamimu itu selalu mengirimi bude sejumlah uang. Lelaki seperti itu bagaimana bisa kau sebut tega Siti. Ini terlalu tiba-tiba.. Bude nggak ngerti apa yang terjadi denganmu sekarang?"


Siti menggenggam erat kedua tangan budenya.


" Bukankah bude pernah berpesan jika aib suamiku juga adalah aibku bude. Mengingat semua pesan bude, bagaimana mungkin aku bisa menceritakan keburukan lelaki yang merupakan pilihanku sendiri? "


" Kamu tetap harus berpikir ulang. Jika selama ini kamu bisa bertahan, kenapa tak kamu coba sekali lagi ! Demi bude Siti.


Buktikan jika bude masih kau anggap sebagai pengganti ibumu. Buktikan jika kamu masih tetap Siti yang penurut. Yang bahkan bisa melakukan apapun untuk Bude !!"


Siti melepaskan genggamannya. Matanya menatap Dewi tak percaya

__ADS_1


" Bude aku...."


__ADS_2