
Aku terbangun karena suara tangisan Bara yang kencang, entah sudah jam berapa sekarang ? yang jelas hari telah berganti malam, sementara rumah kini masih gelap gulita. Bahkan aku merasakan jika udara masuk melalui celah jendela yang aku yakini masih terbuka.
Tersadar akan itu,aku segera bangun, menyalakan lampu dan mencari keberadaan Bara. Rupanya bungsuku itu kini berada dipangkuan ayahnya dan masih menangis.
" Bang kok nggak dibawa masuk anaknya, ini juga kenapa rumah dibiarkan gelap dan jendela pada belum dikunci ?"
Aku mencecar bang Dadang yang santai duduk di teras , Bara kini anteng karena telah ada permen lollipop di mulut mungilnya.
"Aku juga baru sampai kok ini. Baru pulang juga dari rumah emak, kamu ketiduran atau gimana ? Kok bisa nggak sadar hari sudah malam !!"
" Aku benar-benar capek bang. Jadi kebablasan tidurnya..Aku kunci jendela dulu ya , Nanti malah banyak nyamuk yang masuk !!"
" Ehh Dek, sekalian tuh, bawa bingkisan dari Elis. Katanya kamu lupa bawa.."
Bang Dadang menendang kresek hitam didekat kakinya dengan pelan, seolah memberi tahuku akan keberadaan benda yang disebutkannya tadi.
Aku segera mengambilnya dan masuk kedalam.
Setelah memastikan jika semua jendela dan pintu sudah terkunci , aku kini duduk dimeja lesehan yang berada diruang tamu mungil kami. Berniat membuka bingkisan dan Kado dari Elis.
Bingkisan pertama berisi baju gamis dan hijab Syar'i. sedangkan kado yang kedua yang kata Elis hadiahku sebagai menantu tertua kini terasa lebih ringan , penasaran aku segera membukanya, ternyata isinya adalah sepaket skincare dan kartu member sebuah salon ternama di kota sebelah. Aku mengernyit apa maksud Elis memberiku ini ? Apakah aku terlihat kusam dan tak terawat. Atau ini karena wujud kepeduliannya kepadaku ?
" Apa itu dek ?," Suara bang Dadang terdengar, disusul sosoknya yang kini ikut duduk di sampingku.
" skincare bang. Produk perawatan wajah dan juga kartu member VIP Salon Madonna yang terkenal itu loh bang..,"
Bang Dadang meneliti kartu dan tas berisi paketan skincare itu dengan kening berkerut. " Ini pasti mahal ya Dek. Pakai saja lah dek, biar kita lihat hasilnya nanti.."
" Enggak ah bang. Nanti malah ketergantungan, aku tahu kok produk ini harga nya jutaan, katanya sebanding dengan hasilnya. Tapi ya itu. Aku takut nanti kulitku malah nyaman dan nggak bisa lagi pakai produk bayi.. hehheh"
" Ahhh kamu itu dek, sesekali nyenengin suami kenapa sih. Kamu masih cantik walau natural, tapi jika bisa terlihat lebih glowing kayak artis- artis itu kan, Abang jadi lebih betah lagi di rumah.."
" Ahhhh enggak. Kalau kamu makin betah di rumah, yang ada aku dan anak-anak bakalan mati perlahan karena kelaparan.." Memikirkan b***hi bang Dadang yang besar, membuatku sedikit ngeri jika dia benar-benar betah berlama-lama di rumah, Alasan ekonomi yang semakin tak menentu juga menjadi pikiranku.
__ADS_1
Bang Dadang tak menjawab lagi. Kupikir dia tersinggung akan ucapan ku tadi, tapi rupanya dia lagi menatap Bara yang telah tertidur meski permen bergagang masih ada didalam mulutnya . Anak bungsuku itu memang sedari tadi betah berada dipangkuan ayahnya.
Dengan hati-hati bang Dadang mengeluarkan permen yang ada di mulut Bara. setelah berhasil, dia membawa Bara ke kamar kami meletakkan anaknya di atas pembaringan, mengatur posisinya agar nyaman dan lelap.
" Dio kok nggak diajak sekalian bang ? "
Bang Dadang telah kembali duduk didekat ku saat aku menanyakan tentang Dio,
"Tadi sih, katanya Elis. Dia dan Agung mau main kesini. silahturahmi. Jadi Dio biar sama mereka barengan nanti kesini nya. "
Mendengar itu aku segera membereskan baju dan skincare pemberian Elis, tak enak jika dia melihat kami membukanya sekarang.
Benar saja ,tak berapa lama suara salam terdengar, disusul suara cempreng Dio yang memanggilku .
" Eh bang Dio, Sama ante dan sama om yah ?"
" Jangan Ante dong Mbak, mami aja biar lebih manis , ya kan Dio.." Elis nimbrung, melangkah menuju ke arahku, tak sungkan perempuan yang telah resmi menjadi istri dari Agung itu duduk santai didekat ku
" Huum.. " Dio mengangguk senang dan menatap Elis dengan mata berbinar. Aku semakin takjub, bukan hanya kepada yang lebih tua dan sebaya. Bahkan dengan anak kecil pun Elis mampu untuk beradaptasi dengan baik, wajar saja jika dia disukai.
" Iya mami deh biar keren, berarti sekarang om agungnya harus dipanggil papi sama Dio. .!"
Aku menasehati Dio, tapi niatku adalah menggoda Agung, aku langsung melirik kearah Agung, ingin melihat reaksinya . Benar saja pemuda yang biasanya kalem dan bijak itu kini terlihat salah tingkah dan memilih tak menanggapi ucapan ku dan Elis, istrinya.
" Hhuumm ... Kami sudah berencana punya banyak anak mbak, minimal lima. kayak Emak dan Bapak iyakan Mas ?"
Agung semakin menunduk , tak tahu harus bereaksi seperti apa, menanggapi ucapan Elis yang cerewet.
Aku mendadak terkikik, Membayangkan malam pertama mereka. Apakah Elis lebih aktif dan agresif ? sementara Agung akan Pasrah dan diam saja, hihihihi , otakku bahkan sudah traveling kemana-mana..
Rupanya raut wajahku, mampu dibaca oleh Elis. " Mbak kenapa, kok mukanya merah gitu ?"
" Hahhaha " Tawaku malah pecah, mendengar pertanyaan dari Elis,
__ADS_1
" Mbak cuman membayangkan bagaimana malam pertama kalian jika Agung selalu sekaku ini ...upssss"
aku refleks menutup mulutku dan meneliti ekspresi adik ipar ku yang baru menyandang status sebagai suami itu, Tapi wajah manis Agung masih seperti Seolah tak mendengar ucapan vulgar ku barusan.
"hahahhah" Elis ikut tertawa,
" Kalau itu, Agung ahlinya mbak. Dia ganas kalau di ranjang mah...Iyakan.Mas..hihi"
" Sudah-sudah kasian bagus kalau kalian goda terus-terusan. Emangnya adik ku ini kuat berapa ronde , adik ipar ?"
Bang Dadang malah ikut-ikutan menggoda adiknya. Dan kali ini berhasil membuat Agung salah tingkah dan memberi cubitan pada kaki bang Dadang yang kebetulan berada didekat tangannya.
"Hushh sudah dek. Katanya mau kayak mbak Siti, mbak Siti mana pernah mojokkin suaminya didepan orang lain. Itu aib loh.."
Agung menoel hidung mungil Elis dan memeluknya sebentar.
" Bercanda doang Mas, nggak usah baper deh.."
Elis malah menjauh dari Agung, kini dia mendekat ke arah Dio, yang sedari tadi memang masih berada di pangkuanku.
" Dio ikut Mami aja , mau nggak ?"
Anak kedua ku itu mengangguk antusias, dan malah dengan cepat memeluk tubuh Elis, membuat mami barunya itu terkekeh senang dan semakin gemas dengan tingkah Dio yang sangat manis padanya.
" Ahhhh ... Ajak pulang aja ya Mas, gemes banget deh.." Elis menciumi Dio bertubi-tubi saking gemesnya.
" Nanti kita bikin aja deh, yang banyak. Jangan usik punyanya bang Dadang, kan beda pabrik. Pasti juga nanti gemesnya beda
kalau pabrik kita sendiri
heheh"
Kami semua kini malah tertawa, ternyata dibalik sikap Agung yang kalem, pemuda itu juga bisa bercanda soal seperti ini..
__ADS_1
Malam yang semakin larut membuat kami malah semakin asyik berbagi cerita. Hingga akhirnya Dio tertidur karena tak bisa menahan kantuknya..