Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
menikah


__ADS_3

Pernikahan kini telah didepan mata, sesuai kesepakatan jika akad akan dilaksanakan 10 hari setelah acara lamaran, Kulihat bude tampak bersemangat melakukan persiapan meski sendiri, bude lebih memilih merepotkan Fian untuk kesana kemari, dia sengaja melarang ku keluar rumah apalagi jika harus berpergian menggunakan motor.


Bude bilang jika calon pengantin menebar bau semerbak bunga, dan akan mengundang bahaya jika sering bepergian, apalagi jika menggunakan kendaraan.


Seperti itulah mitos yang dipercaya oleh petinggi desa, di daerah kami ini.


Aku pun menurut, dan kini malah sering berdiam diri dikamar .


Kadang-kadang juga membantu para tetangga yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan. Mulai dari membuat janur, memasak aneka kue serta mempersiapkan bumbu yang akan digunakan menjelang H-1 sebagai penjamu para undangan yang nantinya hadir.


Rumah kini memang tak pernah sepi, ada saja yang datang . entah sekedar ngopi bareng, maupun karaoke bareng. Kadang juga mereka menyembelih ayam yang memang dibawa oleh tetangga saat datang, sebagai buah tangan.


Hari ini bude mengajakku fitting baju pengantin, meski aku meyakinkan bude jika aku akan memakai kebaya yang digunakan ibu saat menikah namun rupanya bude kekeh mengatakan jika ini untuk persiapanku saat ganti baju nanti. karena tidak mungkin saat akad dan resepsi aku menggunakan kebaya yang sama..


" Kayak nya pas ya mbak!!" Sang desainer menyadarkan ku dari lamunan. Gaun ini sangat indah, aku tak bisa membayangkan harga yang harus bude bayar hanya untuk satu gaun ini saja.


" Iii ...ya..! " Aku tergagap dan memandang bude penuh haru, sebesar ini cinta bude untukku. Entah bagaimana jika bukan bude yang ada di sampingku saat ini. Apakah semuanya akan berjalan lancar dan bahkan semudah ini ?


" Kamu kenapa nangis ,nak ?"


Bude mendekatiku dan menatap lekat kearah wajahku yang kini dihiasi oleh air mata.


" kamu nggak suka gaunnya, padahal ini yang paling direkomendasikan disini loh Ti. Tapi kalau kamu nggak suka biar kita coba yang lain aja.."


" Aa...ku suka kok bude. Suka banget malah. Makasih ya bude. aku benar-benar beruntung punya bude..." Kupeluk erat sosok itu, meski bukan terlahir dari rahimnya aku berjanji tak akan menyakiti hati bude , entah dengan alasan apapun nantinya.


Bude mengusap lembut kepalaku dalam pelukannya,

__ADS_1


" Bude do'akan semoga pernikahanmu bahagia dan langgeng hingga maut memisahkan.. Tak ada hal yang paling membahagiakan bagi seorang ibu, selain melihat putrinya hidup bahagia, Do'a bude selalu menyertaimu Siti. ."


Kami malah larut akan suasana yang tercipta. Aku tatap lagi pantulan diriku di cermin. Aku merasa jadi putri di dunia nyata sekarang.


" Jadi gimana nih bude, jadi gaun yang ini ? calon pengantin nggak boleh banyak nangis, nanti malah kelihatan tua pas dirias, itu sih yang saya sering denger bude..."


Lelaki setengah matang itu kembali bersuara, meski tutur katanya masih normal dan tak lebay, namun tingkah gemulainya tak dapat disembunyikan. Aku kini malah terkikik mendengar mitos aneh yang baru saja keluar dari mulutnya.


" Halaah kamu Rohim sok tahu.." Bude menjitaknya dengan kencang,


" Rohima bude. Not Rohim..ckckkck" Rohim mengelus kepalanya yang pasti terasa panas karena terkena jitakan maut bude..


Sungguh aku tahu rasanya, karena memang bude punya kebiasaan melakukan itu jika sedang kesal..


***


Aku mengambil kaca dan melihat lagi riasan di wajahku sebagai pengalihan dari rasa gugup yang datang.


"Saya terima nikah dan kawinnya NURSITI HANDAYANI Binti Zakaria. dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Alqur'an serta uang 100 juta rupiah, TUNAI !!!"


Kata Sah menggema di rumah ini. Aku tak tahan untuk tidak menangis, meski berkali-kali aku menahannya tetap saja pipiku basah oleh air mata..


Bude menghampiriku, Tangannya dia ulurkan padaku, memintaku untuk berdiri, keluar dari bilik dan menemui lelaki yang baru saja sah menjadi suamiku..


Aku terus menunduk, menahan haru yang tak henti menguasai hati. Aku tak menyangka begitu sulit menahan haru bahagia yang kini mendera, Sampai didepan Bang Dadang aku segera menyalami tangannya takzim, dan aku mendapat balasan satu kecupan di keningku.


Acara kini dilanjutkan , dengan do'a serta nasehat pernikahan yang diberikan oleh kepala KUA.

__ADS_1


Sepanjang mengikuti acara lelaki yang telah resmi menjadi suamiku itu selalu saja menggenggam erat tanganku, enggan untuk melepaskan.


" Kamu cantik dek, Abang nggak nyangka kamu memilih Abang, meski dikelilingi oleh lelaki tampan nan mapan.." Lagi, bang Dadang mencium tanganku, Dunia kini serasa milik kami berdua.


Ternyata seperti ini jika kita menjalani hubungan pacaran dengan sehat, tanpa ada sentuhan fisik yang berarti. Hanya dengan duduk berdekatan dan memandang bang Dadang sedekat ini hatiku sangat bahagia,


Memikirkan akan menjalani hidup berdua nantinya semakin membuatku malu, Sialnya kata malam pertama tiba-tiba melintas di otakku.


" Kenapa bengong. Acaranya sebentar lagi selesai dek. Ayo kita ke depan, menyalami tamu yang sudah selesai santap siang.."


Aku mengikuti langkah bang Dadang, kami berjalan beriringan saling mengandeng. Aku benar-benar belum bisa percaya jika kami kini telah resmi menjadi suami istri..!


Tamu yang hadir kini menyalami kami satu persatu, mereka berbaris berurutan dengan menampakkan wajah ramah.


Ketika suasana mulai sepi, aku menyandarkan diri di sofa yang memang telah disiapkan untuk pengantin, rasanya tubuhku remuk, meski tak ada aksesoris berat yang ku kenakan entah kenapa lelah malah menghampiri badan ini. Tapi mungkin karena terlalu lama berdiri makanya aku jadi selemas ini sekarang.


Bang Dadang ikut duduk di sampingku " kamu kenapa dek ? "


" Nggak tahu nih bang. Badan rasanya remuk, sakit semua.."


Bang Dadang tersenyum,


" Sebentar lagi acaranya selesai dek, sabar Ya "


Aku mengangguk dan memperbaiki posisi dudukku agar terlihat lebih anggun dan sopan, bukan apa-apa. Wajah bude yang menatap lekat sedari tadi seolah mengingatkan ku. Beliau memang tersenyum pada para tamu namun matanya malah mengawasi ku.


Bude memang telah mewanti-wanti agar aku menjaga sikap, jika nanti didepan tamu. Tapi kan kita mana bisa mengendalikan rasa lelah yang tiba-tiba mendera. Aku tadi hanya refleks saja tapi ternyata, bude malah memperhatikan. Bisa turun citra anggun ku hari ini jika tiba-tiba bude malah menghampiri dan mengatakan hal yang telah tersirat dimatanya sedari tadi.

__ADS_1


cepat-cepat kuarahkan senyum terbaikku ke bude, sebagai tanda mengerti dan tanda permintaan maaf..


__ADS_2