Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
tulah karena fitnah


__ADS_3

" Heiii Siti. Apa-apaan kamu teriak-teriak ke menantu saya..?"


kaki bu Uci belum juga menyentuh teras rumah, tapi suaranya telah lebih dulu terdengar nyaring di telingaku !


" Santai saja, Bu !! masuk dulu, duduk. Kemudian kita bicara baik-baik. Lagian ini masih pagi, masa sudah bikin suasana panas saja .." Bang Dadang yang menyahut ..


Aku suamiku itu masih kesal dengan kelakuan bang Asep . Terlebih teriakan Bu Uci yang seolah menyalahkan tingkahku..


" Alah Dang, istri kamu itu sudah bertindak nggak sopan. Masih saja dibela. Lagian aku kesini juga mau menanyakan soal Asep, jadi nggak dia ikut kamu..?"


Meski nada suara Bu Uci masih terdengar tak enak, namun ibu dari indah itu tetap saja duduk di teras dengan santai. Diikuti Emak yang seolah tak mendengar apapun, sama sekali tak terpengaruh akan situasi yang terasa canggung diantara Bang Dadang dan tetangganya itu.


" Jadi. ? Gimana dang. Kamu jadi ajak Asep ketempat kerja kamu ?" Emak malah ikut-ikutan menanyakan hal ini ke anaknya.


" Bang Asep nya nggak mau mak. Kalau cuma ngantar, dia maunya ikut Dadang kerja juga di sana.."


Jawab bang Dadang jujur, sesuai dengan apa yang tadi diucap kan menantu kebanggaan bu Uci itu.


" Loh...loh .. kok jadi Asep mau ikut kamu kerja sih .. Dia itu cuma mau ngelihat langsung pekerjaan kamu di sana, Asep mah sudah mapan, jadi mana mungkin ikut-ikutan kamu yang kerja nggak jelas.." Bu Uci menyela lagi, dan dengan tegas tak menerima jawaban jujur dari bang Dadang.


" Mending bu Uci tanya tuh ke menantunya, Apa dia benar -benar punya perusahaan. Atau malah masih jadi buruh sawit, dan sekarang malah kebingungan karena duitnya sudah semakin menipis saja.."


Rupanya ucapan bu Uci memancing suamiku untuk berkata yang sebenarnya..


"Kamu jangan fitnah menantu saya ya Dang, bisa kena pasal pencemaran nama baik kamu, kalau saya tak senang dan melaporkan kamu ke polisi.."


Bu Uci mencak-mencak didepan bang Dadang, menunjuk tepat ke wajah suamiku.


" Ehh Mak Indah, kok makin lancang kelakuanmu sama anakku,Dadang itu saya ajarkan sopan santun kepada yang lebih tua jadi dia nggak mungkin meladeni mu . Tapi kalau kamu mau duel dengan lawan yang sepadan ,sini sama saya saja.."


Kini kedua wanita paru baya itu nampak berhadapan, mereka saling melempar pandangan penuh amarah, Emak bahkan telah menyingsingkan lengan bajunya, bersiap untuk bertarung..

__ADS_1


"Mak Salsa jangan ikut-ikutan. Anakmu yang salah kok, asal ngomong saja, nanti didengar orang malah mereka pikir benar lagi, jika menantu saya itu pengangguran.."


Aku tak sengaja menangkap sosok bang Asep dan Indah yang sepertinya ingin kesini. Suami istri itu nampaknya khawatir dengan posisi emak dan Bu Uci yang nampak hendak duel..


" Emak.. Apa-apaan sih . Malu loh dilihatin orang banyak. "


Suara Indah pelan namun penuh penekanan.


Aku mengedarkan pandangan mataku, benar saja. Ternyata telah banyak mata yang hadir menyaksikan drama ini .


" Dadang yang mulai duluan , Indah. Masa dia bilang jika si Asep suamimu itu pengangguran, kayaknya dia sengaja mau mengalihkan gosip , supaya orang nggak curiga dan bertanya-tanya tentang apa pekerjaannya di kota .."


Bu Uci masih mencibir kearah bang Dadang, gemes juga aku meladeni orang seperti bu Uci ini..


" Mending tanya orangnya langsung saja deh Bu !! kan Bang Asep nya kebetulan lagi disini.."


Usul ku karena sepertinya sosok seperti bang Asep dan Bu Uci ini mesti diberi sedikit teguran.


" Heh, Siti. Apa maksud kamu hah ?" Indah kini maju, tepat di depanku,


"Memangnya ada apa dengan suamiku .. Jangan tebar fitnah ya Siti. Jangan cari pengalihan isu.."


" Seharusnya kamu ajari dulu suami mu itu adab, biar bisa mengajari kalian juga agar bisa sedikit berpikir . Gara-gara omongan nggak bertanggung jawab ,suamimu ini. Emak sampai menangis dan meminta bang Dadang berhenti bekerja.


Lagian minta kerjaan kok maksa, sekalinya ditolak malah main fitnah aja.."


Aku mengeluarkan uneg-uneg yang ada di kepalaku , biar saja dibilang lancang asal nama baik suamiku kembali seperti sedia kala ..


" Fitnah apa ? lagian mana mungkin suamiku minta kerjaan ke suamimu..Nggak logis banget, semua orang juga tahu siapa suamiku. Jadi jangan asal ngomong kamu ..."


" Sudah...sudah...!!!

__ADS_1


Daripada berdebat dan tak menemukan titik terangnya, lebih baik kamu bilang bang..


Atau perlu aku perdengarkan suara Abang saat Abang mengakui jika Abang hanyalah buruh sawit .."


Bang Dadang memperlihatkan hape milikku kearah Suami dari Indah itu, membuat ekspresi tegang yang ditampakkan bang Asep sedari tadi kini malah jadi pucat pasi.


Aku menyikut bang Dadang, rekaman apa ?memangnya bang Dadang sempat melakukan hal itu?


sementara warga kini nampak memandang bang Asep minta penjelasan.


" Iii....ya..... A...ku ..min..ta maaf . Terlebih ke emak dan istriku Indah. Aku memang hanya buruh sawit dan memang kemarin aku meminta pekerjaan ke Dadang, karena uangku semakin menipis akibat memenuhi kehidupan ala orang kaya Emak dan juga Indah.."


Bang Asep tertunduk, sifat menyebalkan nya tadi hilang entah kemana.


" Huuuuuuhhh...." Warga nampak menyoraki keluarga bu Uci, membuat bu Uci segera menyeret Indah , mengajaknya pulang. Tak ia pedulikan sosok bang Asep yang mengekor meminta maaf.


" Memang rekaman apa dang? "


Emak berbisik, tapi aku masih bisa mendengar.


" Nggak ada kok Mak. .".


"serius, tapi manjur gitu ya, langsung ngaku orangnya .."


Aku tersenyum, mungkin semuanya akan menemui masanya, meski tak berniat membuka borok keluarga bu Uci, tapi nyatanya keluarga itu sendiri yang malah memancing reaksi balasan. Mudah-mudahan setelah peristiwa ini, Bu Uci bisa berubah dan lebih menjaga lisannya , agar tak asal bicara yang jatuhnya malah jadi fitnah.


Kepergian bu Uci beserta anak dan menantunya juga diiringi bubarnya para warga yang tadinya asyik menjadi penonton. Hari memang masih pagi, pantas saja jika banyak petani yang belum berangkat, tapi rata-rata mereka telah mengunakan baju dan alat dinas. Yaitu baju panjang dan juga pisau untuk membuang tunas kopi yang tumbuh sebagai parasit.


" Maafin Emak ya Dang. Saat dengar hal yang tidak-tidak tentang kamu, bukannya konfirmasi dulu kebenarannya malah asal tuduh saja.."


" iya Mak, nggak apa-apa kok . Jadikan pelajaran aja untuk kedepannya.."

__ADS_1


Emak memeluk bang Dadang dan kini mereka sama-sama tersenyum lega. Setidaknya masalah ini selesai dengan semestinya. bukan soal kalah dan menang, yang terpenting adalah siapa yang benar dan siapa yang salah..


__ADS_2