Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
pengakuan Siti


__ADS_3

Suara Adzan berkumandang. Tapi Siti malah menitikkan air matanya. Dia segera memberi sebutir kurma dan segelas air putih pada Rama. Agar anaknya itu terlebih dahulu berbuka.


" Makasih Bu !! " Rama menatap ibunya, dia juga terharu tak menyangka akan diberi kejutan seperti ini. ! Terlebih restoran ini telah dihias sedemikian rupa. Meski tak dibooking sepenuhnya tapi tetap membuat Rama, merasa telah diperlakukan secara istimewa.


Siti mengangguk, dia merasakan jika semuanya telah sempurna sekarang. Seolah hidupnya kini diliputi keberuntungan. Dia menatap Fian dengan senyuman hangat mencoba menyampaikan rasa terima kasih pada sosok yang tak pernah lelah berada disampingnya, meski tak mendapatkan balasan yang sama akan perasaanya..


" Kapan ? " Siti bertanya saat hidangan berbuka puasa sudah memenuhi meja .


" Apanya ?"


" Kamu mempersiapkan semua ini ? pasti mahal kan !! Apalagi kamu bahkan menyiapkan hadiah juga untuk Dio dan Bara ..!!"


Siti memandang semua tumpukan kado yang telah diberi nama itu, kemudian menatap Fian yang masih terdiam.


" Jangan tanya nominal!! Yang jelas aku melakukan ini karena aku menyayangi mereka, dan sudah menganggap mereka seperti anakku sendiri..!!" ujar Fian tersenyum, menatap Siti yang kini menampilkan raut wajah terpukau.


Mendengar jawaban Fian dan mendapat tatapan tulus itu, Siti menunduk !! akankah Fian menerima kondisinya yang tak akan bisa lagi memberinya anak .


" Aku juga punya sesuatu untukmu !!" Mendadak semua mata kini tertuju pada Fian karena pria itu bicara saat mereka tengah khusyuk menikmati aneka camilan Frozen food yang juga tersedia dimeja.


" Apa Om !! ibu kan nggak ulang tahun ..!!" Dio malah nyeletuk, membuat Fian , bude dan juga Siti kini menatapnya dengan penuh senyuman .


"izinkan om untuk meminta ibu jadi istri om ya , Dio ..!!" Fian kini menatap Dio, membuat wajah polos anak usia empat setengah tahun itu kini menatapnya dengan penuh tanya.


" Istri itu apa Om,?"


" Kalau ibu sudah jadi Istri om,itu artinya om akan jadi Ayah untuk kalian . Kamu terima nggak kalau om jadi Ayah kamu ..!!"


Dio memandang Siti , semakin dibuat bingung dengan penjelasan Fian.


" Kan Dio masih punya Ayah.. Emang boleh ,bu. Kalau Dio punya dua ayah ?"


Siti memeluk Dio dengan erat


" Kalau Dio setuju dan mau. Ibu juga akan terima om Fian sebagai ayah Dio. bagaimana ??"


" Berarti boleh..?"


" Ya . Boleh..!!"


Dio hanya mengangguk dan meneruskan memakan sosis yang masih berada didalam piringnya ..

__ADS_1


" Jadi ..? Kamu mau Ti !! " Terdengar dengan jelas jika Fian sangat bahagia.


Duda satu anak itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, mencari hadiah yang tadi dia katakan..


" Pakai ini ! Sebagai tanda kamu benar-benar menerimaku Ti !!"


Siti memandang kotak merah beludru itu dengan ragu, siapapun pasti bisa menebak apa yang berada dalam kotak itu.


" Bagaimana kalau Rama saja yang pakaikan . " Rama yang sedari tadi menyimak akhirnya buka suara. Dia mendekati Siti dan mengambil kotak persegi itu dari Fian, mengeluarkan Cincin yang ada didalamnya dan segera memasangnya dijari manis milik Siti ..


Rama tersenyum, begitupun Siti. Cincin emas putih itu sangat pas dijemarinya.


Bude Dewi melihat hal itu dengan berlinang air mata. Entah kenapa dia merasa jika kebahagiaan akan segera dirasakan oleh sang keponakan. Meski ada sedikit kekhawatiran dihati. namun dia berusaha menepisnya .


" Bude !!"


Bude menghapus air matanya, ketika Fian memangilnya dan kini menatap lekat kearahnya.


" Ya Fian, kenapa ?"


" Aku meminta restu bude . Untuk hubunganku dengan Siti. Dan aku berharap sesegera mungkin aku bisa menghalalkan Siti untukku..!!"


Bude memandang Siti,


" Apa sekarang kue nya bisa untuk kita potong ?"


Cetus Rama yang sedari tadi memandang penuh minat pada kue ultah karakter Bumblebee didepannya. mencoba mengalihkan rasa haru yang tiba-tiba menerpa.


" Boleh, tapi jangan terlalu banyak makan kue nya ya bang," ingat Siti, mengingat antusiasnya sang putra.


" Huum.. Beres Bu !!"


Rama mengambil pisau kue yang telah tersedia dan langsung memotong kue miliknya dengan hati-hati.


" Kue pertama untuk ibu !" Rama menyuapi Siti ,dengan sepotong kue.


" Kue kedua untuk nenek !!" Bude Dewi membuka mulutnya namun hanya mencicipi sedikit


" Nenek diabet nanti bang !!" Kilahnya ketika Rama menunjukkan wajah protes karena kue di sendok kecil itu tak dihabiskan oleh sang nenek.


" Kue ketiga untuk calon Ayah baru Abang ..hehhe !!"

__ADS_1


Fian memasukkan semua kue itu kedalam mulutnya, kemudian dia mengelus kepala Rama dengan penuh kasih sayang.


" Dan semua ini , untuk adik-adikku tersayang ...!!" Rama mengangkat wadah kue itu dan meletakkannya didepan Dio dan Bara yang memang duduk bersebelahan.


" Yeyeyeyyeyyeyyyy... Kue kita banyak hore....!!!" Dio dan Bara tampak kegirangan, meski tak lama Dio malah memekik kesal saat Bara dengan polosnya mengambil kue dengan kedua tangannya dan segera memasukkannya kedalam mulutnya yang mungil..


" Ahhhhh Dek Bara. Jangan gitu !!!"


Tapi terlambat karena kue sudah belepotan dimeja, wajah dan bahkan baju Bara yang baru saja diganti oleh sang ibu..


***


Kini Siti dan keluarganya sudah berada di rumah, Setelah makan di restoran tadi. Anak-anak nampak kekenyangan, mengakibatkan mereka malah mengantuk. Jadilah ketika dalam perjalanan pulang, Anak-anak telah terlelap. Untungnya semuanya sudah berganti baju, karena memang sudah disiapkan Siti sebelumnya.


Fian kini duduk diruang tamu ditemani oleh bude Dewi, sementara Siti masih memastikan ketiga anaknya tidur dengan nyaman didalam kamar mereka.


" Terima kasih untuk hari ini Yan ..! Bude sangat senang bisa melihat cucu-cucu bude sangat bahagia seperti tadi..!"


" Enggak seberapa kok soal itu bude. Jika aku ingin meminang ibunya, sudah pasti aku harus bisa memenangkan hati mereka. Lagian juga jika kami menikah nanti, anaknya Siti juga akan jadi anakku. Aku janji tak akan membeda-bedakan ketiganya meski nanti kami dikaruniai anak yang lain, dari pernikahan kami !!"


Bude terkejut, akan ucapan Fian. Apakah Siti belum mengatakan kekurangan dirinya pada Fian ?


Bude memilih diam untuk waktu yang lama, bahkan matanya tak mampu untuk menatap kearah Fian lagi.


" Heii bude kenapa kok melamun ? Kalian lagi bahas apa sih ?" Siti datang dan langsung duduk didekat bude Dewi. matanya menunjukkan jika dia tengah penasaran.


" Enggak kok Ti. Bude gerah nih ini juga badan bude pada lengket. Bude mandi dulu ya.."


Fian dan Siti hanya mengangguk saja, saat bude pamit. Siti sebenarnya agak aneh dengan kelakuan budenya, biasanya sikap diam dan tergesa ditunjukan sang bude saat dia merasa gelisah akan sesuatu. Dia kemudian menatap curiga kearah Fian.


" Kamu ngomong apa saja ke bude tadi Yan ? kok bude kelihatan gelisah begitu ?"


" Enggak kok Ti. Cuma bilang kalau aku nggak akan pilih kasih antara Rama dan adik-adiknya meski kita nanti mempunyai anak lagi.. Eh ,tiba-tiba bude malah diam begitu, aku juga agak nggak enak karena dalam posisi canggung tadi !!"


Fian tersenyum namun malah menemukan wajah pias Siti yang menatapnya serius.


" Pantas bude bersikap seperti itu. Aku belum bilang soal ini sama kamu.. Mungkin bude khawatir.. '"


" Bilang apa ?"


Siti memandang lekat pria yang beberapa jam yang lalu melamarnya,

__ADS_1


" sampai kapanpun aku tak akan bisa memberimu keturunan, Fian !!!"


__ADS_2