
Malam ini bang Dadang pulang lebih awal. Wajahnya yang biasanya selalu nampak tak berdosa kini malah terlihat marah. Entah hal apa yang menyebabkan wajah itu kini seperti menahan emosi, seingat ku hari ini aku tak melakukan maupun mengucapkan sesuatu yang bisa memancing emosinya...
" Kamu bilang ke emak , kalau kita ngambil mekar Ti. Bisa nggak sih , sebagai istri kamu menjaga martabat ku didepan mertuamu. Jangan dikit-dikit ngadu ? kayak anak kecil aja..!"
Bang Dadang nampak melotot , rahangnya mengeras serta nada suaranya sangat terdengar jika dia sangat marah.
Aku melirik ke arah Dio dan Bara yang anteng dengan hape, alhamdulilah mereka tak terganggu dengan suara bang Dadang yang sedikit keras, Apa bang Dadang tak melihat keberadaan anak-anak ?
" Nggak kebalik bang, Lagian kok tanggung sih, mestinya kalau masalah rumah tangga kita kamu laporkan ke emak, hal seperti ini juga kamu katakan dong, biar emak nggak nuduh aku istri boros dan nggak mikir kesusahan suami. Lagian siapa juga yang kasih tahu ke emak ? Ini kampung bang, banyak orang yang kekurangan gosip. Jadi jangan asal tuduh.."
Aku masih menahan suaraku, karena bagiku mental anak-anak tetap jadi yang pertama yang harus aku pikirkan.
" kok kamu jadi nyolot sih, emak sendiri bilang dia kesini untuk menanyakan hal ini sama kamu..masih mau membantah kamu !!!"
" Emak cuma tanya bang, bahkan kesannya aku yang malah dituduh berhutang. Lagian kenapa malu sama ibu kamu sediri, sedangkan denganku kamu malah malas menghargai, sekalian saja biar emak tahu kelakuanmu.."
Aku mengendong Bara dan mengandeng tangan Dio ke kamar, Jika ditanya apakah aku menyesal telah memilih bang Dadang maka jawabannya adalah tidak. Karena meski begitu, Bang Dadang tetaplah ayah dari anak-anakku..
Tak terlalu lama aku merebahkan diri di kasur kapuk kami, aku mendengar jika pintu depan kembali dibuka dan ditutup kembali, setelahnya pintu terdengar dikunci dari luar.
Pasti bang Dadang akan bergadang lagi malam ini. Entah kenapa, aku merasa telah memilih lokasi yang salah untuk membangun rumah. Lingkungan disini dipenuhi oleh Bapak-bapak yang hobi bergadang di warung kopi milik mbak Fatma, yang juga menjual sembako. Ini jelas memberikan pengaruh buruk untuk suamiku.
Tak lama, Bara dan Dio telah terlelap. Rama memang tak ada di rumah, berapa malam ini anak sulung ku itu memilih menginap di rumah Bapak.
Tinggallah aku sendiri yang menatap kosong atap rumah yang belum terpasang plafon dengan mata berair, aku akhirnya menangis lagi.
__ADS_1
***
Tiga bulan kini berlalu, otakku semakin disesaki pikiran tentang bagaimana harus membayar angsuran mingguan maupun bulanan, sementara bang Dadang malah semakin terlihat santai tanpa beban, Kebun kopi kami juga sudah nampak kembali menjadi hutan lagi karena tak terurus, dan tentu saja ini jadi omongan tetangga, karena sejatinya aku tak pernah melihatnya secara langsung. Cicilan hutang riba selalu dijadikan alasan oleh bang Dadang sebagai penyebab dirinya tak punya waktu untuk melihat dan bahkan mengurusnya.
Kini aku lebih memilih diam, karena memang jika memulai pembicaraan, kami akan bertengkar , Tapi kini waktu pembayaran yang mepet tak urung membuat bang Dadang malah mendiskusikannya padaku, padahal dia lebih suka berucap
'Santai. masih lama kok tanggal bayarnya'.
setiap aku ingatkan kewajibannya.
Giliran pusing begini malah aku yang juga dibawa-bawa, dan disuruh mikir apa solusinya..
" Dek ,gimana dong. Abang kehabisan ide nih, mau pinjam bapak nggak enak , mau pinjam ke pak haji apalagi. Nanti malah jadi omongan beliau kan meski sudah haji, tapi mulutnya tetap saja lemes. Kayak perempuan..
Aku sudah menduga jika pembicaraan ini akan mengarah ke sosok bude, tapi aku memilih cuek dan tak menghiraukan ucapan bang Dadang.
" Dek, kamu dengar nggak sih Abang ngomong ?"
" Dengar kok. Ini hapenya, Abang telpon aja sendiri.."
Aku meletakkan hape ditangan bang Dadang, meninggalkan suamiku itu lagi.
Rupanya tangapanku membuat bang Dadang kesal, dan kini malah berdiri di depanku ." Dek kamu apa-apaan sih !! Suami kamu ini lagi susah, kok malah nggak mau bantu. Apa susahnya sih telpon bude dan ngomong "
" Nah itu Abang tahu, apa susahnya telpon bude dan ngomong sendiri !!"
__ADS_1
" bude kan ibu kamu, kenapa harus aku yang ngomong..Bantuin kek, biar bude bersedia kasih pinjaman.."
" Bang, seharusnya Abang malu loh, Emangnya aku setuju saat Abang tiba-tiba ngomong mau ngambil uang bank, Aku menolak bang, tapi sekarang kamu malah melibatkan ku saat sudah kepepet seperti ini. Aku nggak mau, dan soal bude, jangan libatkan beliau dengan masalah yang kamu ciptakan sendiri. Kamu sendiri kan yang bilang jika kamu mampu buat bayar, nah sekarang . waktunya membuktikan..,"
" Dek, uang itu juga aku gunakan buat menyelesaikan rumah ini. Kok kesannya malah aku yang makan semua uang itu.."
" Memang bang, memang !! Tapi aku nggak maksa kamu, itu inisiatif kamu sendiri , dan sekarang jangan libatkan aku untuk mikirin solusinya,.."
Suamiku itu kini terdiam, sebenarnya aku agak gemas kenapa bapak dan emak sama sekali tak mengembalikan uang lima juta itu juga hingga saat ini. Padahal ekonomi kami semakin kritis dan menyebabkan pertengkaran ini berlarut-larut dengan masalah yang sama.
Bang Dadang juga seakan telah lupa dengan itu, jika ku tanyakan takutnya malah aku dilabrak oleh emak..
" Uang yang dipakai Bapak apa kabarnya bang. Apa salahnya kamu minta bantuan untuk mencicil, kan itu atas nama kita saat peminjaman.."
Bang Dadang menghentikan kegiatannya yang sedari tadi main bilyard di hape . Aku sempat heran bisa-bisanya dia sesantai itu saat kami tengah membahas masalah pembayaran bank, yang waktunya sangat mendesak..
" Kok malah jadi uang yang dipakai bapak yang dibahas, seharusnya kamu ikhlaskan , mereka bantu kita lebih dari itu, jadi biar saja , jangan dibahas. kecuali kalau Bapak dan emak membayarnya langsung, ya kita terima .."
" Iya aku tahu bang, tapi yang namanya pinjam . Itu mestinya dikembalikan. Lagian kondisi kita yang seperti ini , seharusnya Bapak dan emak, bantu lah, mungkin kita perlu mengingatkan mereka sedikit, tentang uang itu. ."
" aku nggak suka ya dek, kamu malah perhitungan ke orang tuaku, lagian emak dan bapak itu masih banyak butuh biaya buat Salsa, karena Salsa kan lagi skripsi.. Harusnya kamu ngerti dong.."
"Ya udah kalau begitu, jangan bahas ini lagi denganku. Cari sendiri solusinya . Aku lepas tangan sekarang, toh tiap aku bicara malah disalahkan, maunya kamu sendiri terus yang kamu utamakan, Meski tak menerima seharusnya kamu menyikapi dengan baik, usulanku. Bukan malah menuduhku jahat dan perhitungan.."
Aku segera mengambil hape yang berada didepan bang Dadang. Tentu saja tak ada yang bisa ku lakukan lagi selain pergi dengan segera dari hadapannya..
__ADS_1