
Siti masih memperhatikan interaksi antara perempuan muda itu dengan Fian, bahkan sekarang Sosok modis itu kini terlihat menggoda Bara yang ada di gendongan Fian, membuat Siti kikuk sendiri tak tahu harus mengatakan apa ?
" Wah , gemoynya.. Jadi pengen cepat-cepat punya anak !!"
Suara centil dan manja itu membuat telinga Siti terasa panas, bagaimana bisa seorang gadis mengatakan hal itu didepan seorang pria, apakah gadis ini sengaja memancing Fian ?
" Eh .. Jadi beneran kamu Yan ?" Bude datang juga dengan Dio, terlihat dengan jelas butiran keringat kini telah memenuhi wajah tua itu, dan juga jilbab bude Dewi yang kini telah basah. Diusianya yang tak lagi muda tentu saja membuatnya kewalahan menyamai langkah Siti yang mengejar Rama.
Fian menyalami bude sembari mengangguk. " Iyah ni bude , aku juga kaget mendengar suara Rama ditempat ramai seperti ini ! Aku pikir sedang berhalusinasi, hehhehe"
Bude Dewi menanggapi candaan Fian dengan senyuman, kemudian matanya menatap sosok asing yang berdiri di samping Fian
" Siapa ini Yan ? " Meski tak bermaksud namun ada nada kesal yang terdengar dari suara bude, bagaimanapun dia tak terima jika pria yang beberapa hari lalu merayu ponakannya, tepat didepan matanya, kini malah mengandeng gadis lain yang tampak seksi dan lebih muda.
" Ini Aini Bude !!"
" Calon istrinya Fian ..!!" Suara centil itu terdengar lagi ditelinga Siti, terlebih ucapan yang terlontar dari bibir tipis nan menggoda itu, membuat hati Siti seakan teriris, dan sekarang dia malah memalingkan wajahnya kearah lain tak mau menatap kearah Fian dan gadis yang mengaku calon istri pria yang selama ini mengaku akan menunggu dirinya, apakah Fian telah menyerah dan lebih memilih perempuan lain..
" Eh.. Aini apaan sih ?"
Fian gelagapan tak menyangka jika Aini akan mengucapkan hal itu.
Dia dapat melihat dengan jelas jika Siti telah menunjukan wajah yang entah kenapa seperti menahan amarah dan kecewa..
" Oh .. Kalau begitu !! kami duluan yah nak Fian. Soalnya baru sampai ini, belum sempat belanja..!!"
Bude Dewi yang mengerti akan perasaan Siti kini mengambil alih Bara dari gendongan Fian, dan segera mengajak sang ponakan untuk berlalu dari situ, meninggalkan Kedua sejoli yang tak tahu tempat untuk bermesraan. Karena bude Dewi sempat menoleh dan melihat jika Fian dan gadis itu kini berangkulan mesra.
***
Sepanjang kegiatan mereka berbelanja, Siti seolah kehilangan semangatnya. Pertemuannya dengan Fian dan Gadis yang mengaku calon istri dari lelaki itu, rupanya telah mencuri fokus nya.
Meski ketiga putranya kini nampak bahagia dengan semua mainan yang mereka borong, nyatanya itu tak mampu mengobati rasa sedih dan kecewa dihatinya. Harusnya dia tak seperti ini ! Namun rupanya tingkah Fian yang seolah menarik ulur hatinya kini malah membuatnya merasa patah hati.
" Siti !! Selesai ini kita kemana lagi ?"
Bude mencoba menyadarkan Siti dari lamunannya, sedari tadi bakso yang sejatinya jadi jajanan favorit Siti kini malah diabaikan oleh keponakannya itu, sejak saat pelayan mengantarkan pesanan mereka Siti hanya mengaduk-aduk baksonya saja, tanpa mencicipinya sedikitpun.
" Ehh .. Apa bude !"
" Jangan terlalu dipikirkan Nak ! kalau jodoh tak akan kemana !!"
__ADS_1
Bude mengelus tangan Siti, meski tak bicara apapun, bude sudah bisa membaca isi hati perempuan yang telah diasuhnya sejak bayi itu..
Siti memandang bude dengan mata sendu, kemudian dia menyadari jika ketiga buah hatinya bahkan sudah menghabiskan bakso di mangkuk mereka masing-masing..
" Kita mau beli apa lagi bude ?"
Siti beranjak, merapikan Bara dan Dio yang tampak berantakan karena kuah bakso yang mereka makan.
" Bude juga tanya soal itu tadi sama kamu loh Ti !!"
" Oh Yasudah kita pulang saja bude, atau bude kepengen sesuatu? Mumpung di pasar nih .."
" Enggak ah ,Ti !! belanjaan kita sudah seabrek itu, takut nggak ada mobil kalau pulangnya kesorean...!!"
Siti memperhatikan jam di hape miliknya, benar saja waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Saking cepatnya waktu berlalu, hingga ia tak sadar jika waktu telah mendekati Ashar..
" Yasudah kita pulang yah anak-anak.. !!"
" Hufhh...!! ayo Bu. Rama sudah capek.."
Rama berucap pelan, dia menyeka peluh di dahinya. Sedari tadi cuaca memang sangat terik, meski telah menjelang sore .
Kini mereka tengah duduk menunggu ditempat pemberhentian Taksi. Sudah hampir setengah jam, namun mobil ranjang yang ditunggu tak juga datang, membuat bude gelisah karena cucu-cucunya kini nampak sangat kelelahan.
" Lain kali nggak usah lagi diajak anak-anak , Kasihan mereka kecapekan.." Bude mengemukakan pendapatnya dan di angguki oleh Siti. Dia juga tak tega dengan keadaan ketiganya yang menampakkan raut wajah yang sangat lelah.
Tiba-tiba sebuah mobil tampak berhenti, Siti yang memang Asing dengan mobil itu cuek saja. Dia pikir ada orang lain yang sedang ditunggu si pemilik mobil..
" Heii.. Mbak !! " Rama, lelaki yang mengaku sepupu dari Fian itu tampak keluar dari dalam mobil, membuat Siti dan bude Dewi mengernyit heran.
Tak lama setelah itu kaca kabin mobil terbuka, menampakkan sosok Aini yang tadi bersama Fian.
" heii mbak, bareng kita aja yuk !!" Dengan ramah sosok itu berucap, membuat Siti jadi tak enak hati.
" Yups ...Ayo mbak. Yang punya mobil sudah kasih izin, kalau aku antar kalian pulang .." Rama tersenyum, menampilkan deretan giginya yang ternyata tak rata karena gingsul di bagian atas , namun tak mengurangi kesan manis pada wajah lelaki itu, bahkan menjadi nilai plus baginya..
kebingungan Siti dan Bude terjawab, dia tahu sekarang jika Rama sebenarnya yang nebeng pada gadis yang bernama Aini ini. Jika Aini naik mobil ini, bukankah seharusnya Fian juga ada didalam mobil ?
" Emang muat Ram ? " Siti berucap ragu, sambil melirik Pintu tengah mobil yang masih tertutup rapat.
" Muat lah Mbak .. Bangku tengah kan kosong, Biar belanjaannya ditaro di bangku belakang aja.."
__ADS_1
Siti bengong. jadi, Fian tak ada didalam mobil, lalu kemana pria itu, sebegitu percayanya kah dia dengan sang sepupu hingga membiarkan Calon istrinya bersama dengan Rama.
" Mbak.. !! ayo, kasihan anak-anak kalau terlalu lama menunggu disini !!"
Siti tersentak, tak sadar dia malah melamun. Dilihatnya Rama dan bude Dewi telah menyusun belanjaan mereka di bangku belakang, sedangkan ketiga jagoannya telah lebih dulu duduk manis di bangku tengah.
Siti akhirnya masuk juga kedalam mobil, dia memangku Bara, yang sudah sedari tadi memejamkan mata..
Sepanjang perjalanan Siti memilih menatap keluar, seolah menghindari wajah Aini. Dia sadar jika gadis itu selalu saja mencuri pandang kearahnya, entah untuk tujuan apa .
" Mbak !! Maaf ya soal tadi !"
Suara Aini kini terdengar lebih sopan, membuat Siti mau tak mau menatap gadis itu,
" Aku bukan calon istrinya bang Fian. Aku pacarnya Rama mbak Hehehe "
" Apaan sih , Na !! Jadi tingkah jahil kamu kumat lagi dan sekarang mbak Siti dan bang Fian yang jadi korban keisengan kamu.. Dasar ...!!" Rama menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya akan ucapan Sang kekasih.
" Maaf.. !!! lagian juga kata Bang Fian Mbak Siti belum memberi kepastian untuk hubungan mereka, tapi..." Wajah usil Aini membuat Rama mencubit kekasihnya itu dengan gemas
" Tapi apa ? Hah !!"
Rama bertanya tak sabaran tak peduli akan ringgisan kesakitan Aini.
" Tapi. . Sebagai seorang perempuan aku tahu, jika mbak Siti menaruh perasaan yang sama , sama bang Fian..."
" Maaf ya mbak. Aini memang produk langkah yang mungkin gagal, jadinya malah jadi sotoy, alias sok tahu..!"
Jika saja tak sedang menyetir Rama bisa saja menutup mulut bocor sang kekasih yang sok tahu itu.
Diluar perkiraan Fian. Siti malah tersenyum kecil, merasa lucu akan tingkah Rama dan Aini sebagai pasangan.
" Dia nggak sok tahu kok Ram !! mbak memang cemburu tadinya. Dan sempat patah hati sepanjang kegiatan belanja kami tadi. Tapi sekarang mbak lega, karena semua yang mbak pikirkan ternyata bukanlah kebenaran.."
Siti menampilkan senyum penuh, hingga menularkannya pada ketiga sosok dewasa yang ada didalam mobil, sementara anak-anak Siti kini telah terlelap.
" Mbak nggak tahu sih, betapa gusarnya bang Fian tadi melihat mbak pergi dalam diam dan tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.."
Aini kembali berceloteh dengan wajah antusias. Dia tahu jika Siti memang sosok yang menyenangkan dan bisa diajak bercanda, sekali lihat diapun tahu. Karena memang dia adalah lulusan psikologi..
Dan kini mengalirlah cerita yang tampak seru dari perempuan beda usia itu, sedangkan bude dan Rama kini memilih fokus pada jalanan yang mereka lalui.
__ADS_1