Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Rumah mertua


__ADS_3

Setelah semalam direpotkan dengan barang yang akan dibawa ke rumah emak, pagi ini aku dan bang Dadang sedikit lebih santai. hanya menunggu travel yang akan menjemput, meski kami menggunakan motor tapi tak mungkin juga jika harus membawa koper yang besar.


Bude pagi-pagi sekali tadi, memang mempersiapkan masakan istimewa buatannya untuk aku bawa ke rumah besannya, yaitu rendang daging sapi yang merupakan menu andalan bude. Bude juga titip salam untuk emak dan keluarga besar.


" Semestinya emak dan bapak mu jemput kesini Dang. Biar bude sendiri yang menitipkan Siti sama mereka, karena sekarang Siti sudah menjadi anak mereka.."


aku bisa melihat jika bude kini telah menangis. Meski mata itu memilih tak menatap ke arahku yang berada persis dibelakang bang Dadang. tapi aku tahu jika bude sangat berat melepaskan ku sekarang.


" Bude titip Siti ya Dang. Jaga dia baik fisik dan hatinya. Dia adalah harta bude satu-satunya. Jadi jangan kecewakan kepercayaan bude dengan menyakitinya.."


Bang Dadang nampak berkaca-kaca.." Saya janji bude. Akan membahagiakan Siti dan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga. Terima kasih atas kepercayaan bude. Jika bude rindu sama Siti. Bude bisa datang ke rumah ataupun menghubungi kami. maka kami akan datang kesini.."


" Bude harap kamu benar-benar membuktikan semuanya Dang. Bukan demi bude tapi demi cintamu pada istrimu.."


Bang Dadang Mundur dari posisinya yang tadi duduk dihadapan bude. seolah memberiku giliran untuk duduk berhadapan dengan bude.


" Siti pamit ya bude. Terima kasih karena telah menjaga dan merawat Siti selama ini. Dan terima kasih karena telah mempercayai Siti untuk memilih bang Dadang..."


Bude mengelus rambutku yang terurai kepangkuan nya. " Ingat pesan bude Siti. Apapun masalah yang ada dalam rumah tanggamu. kamu harus bisa hadapi sendiri. Tahan lidahmu agar tak mengadukan apapun sifat dan sikap buruk suamimu. Selagi kamu bisa bertahan, kamu harus jaga marwah suamimu. baik didepan bude sebagai keluargamu atau didepan mertuamu. Kamu ngerti kan maksud bude !


Karena aib suami adalah aib istri. Jangan jadikan semuanya menjadi semakin kacau karena ulah lidahmu.."


Aku mengangguk meski memang sedikit tak mengerti akan ucapan yang bude katakan.


" Aku bakalan kangen bude. sering - sering telpon Siti ya bude. Biar ngobatin kangen ...hehhe"


Aku memaksa senyum pada diriku, agar bude tak terlalu larut akan perasaan sedih saat melepas ku.


Senyum akhirnya terbit juga dibibir bude. Membuatku menangis . Entah kenapa rasanya sangat berat pergi meninggalkan bude sendirian disini.


" Loh kamu kenapa malah nangis,, Ini memang tahapan yang harus dijalani oleh kita sebagai perempuan. ."


" Aku pamit bude ...!!" aku memilih memotong ucapan bude karena sudah tak tahan menatap wajah yang akan ku rindukan itu.


Aku berdiri dan segera berbalik tanpa menoleh lagi kebelakang, karena air mataku kini mengalir semakin deras dan membuatku merasa sesak.


Sedikit sempoyongan aku menghampiri bang Dadang dan memeluknya, entah sejak kapan travel telah datang dan barang berupa 2 koper besar milikku dan bang Dadang kini telah berpindah kedalam mobil .


" Ayo bang berang..kat..!"aku terbata, ingin segera pergi, tak mau melihat kearah bude .


***


Sepanjang perjalanan air mata ini terus saja mengalir tanpa bisa ku tahan..

__ADS_1


Bang Dadang juga hanya diam seolah mengerti jika aku sedang enggan untuk bicara. aku tak tahu kenapa rasanya sesakit ini berpisah dengan bude.


Sama seperti satu tahun yang lalu. satu jam lebih perjalanan kami tempuh untuk menuju rumah emak.


Ketika sampai, dihalaman rumah telah terlihat emak, bapak, dan adik-adik bang Dadang telah menunggu kedatangan kami. Melihat itu, pikiranku malah semakin jauh Apakah aku telah meninggalkan bude demi keluarga baru ku ini ?


Dadaku semakin sesak.


" Loh Dang Siti kenapa ? "


Emak datang menghampiriku dan memapah ku ketika akan turun dari motor.


" Nggak tega ninggalin bude, mak..."


" Ohh ..pakaian kalian mana ? "


" Dibawa travel tadi mak. Soalnya nggak muat kalau di taro di motor.."


Aku mengekor bang Dadang, dengan emak yang masih memapah ku. Aku lihat salsa ,dan adik-adik bang Dadang yang lain nampak tersenyum ramah padaku.


Ada perasaan hangat menghampiri semoga saja, ini adalah awal yang baik bagi ku dan hubungan kami sebagai satu keluarga..


Aku memutuskan pamit ke kamar mandi. Ingin mencuci muka ku, yang aku yakini telah terlihat sembab .


Diusia nya yang remaja aku sedikit salut akan kepribadian Salsa yang nampak sopan dan tahu memperlakukanku yang memang masih malu-malu sebagai anggota keluarga baru mereka.


" Ini mbak kamar mandinya. Oh iya, mbak mau mandi atau cuci muka aja. Kalau mau mandi Salsa ambilkan handuk sama peralatan mandi Salsa dulu, ."


Aku menahan tangan Salsa yang hendak melangkah pergi


" Mbak cuma pengen cuci muka aja Sa. maaf ya jadi ngerepotin.."


" Biasa aja kali mbak. aku malah senang akhirnya bisa punya kakak perempuan, soalnya tuh empat kakak laki-lakiku , semuanya pada rese. Posesif nggak jelas.."


aku lagi-Lagi takjub dengan sikap Salsa.


" Tapi kamu sayang kan..."


Wajah manis Salsa tersenyum.


" Iyalah Mbak, resenya dikit doang kok. Tapi enaknya banyak hehehhe ""


Aku pun ikut tersenyum akan ucapan gadis kecil ini.

__ADS_1


" Silahkan mbak, ,"


Aku hampir lupa tujuan awal ku. karena terlalu asyik akan pembicaraanku dengan adik bungsunya bang Dadang.


Aku segera masuk ke kamar mandi . kini cermin telah memantulkan sosokku yang nampak berantakan. mata bengkak dengan hidung merah. Serta rambut yang acak-acakkan.


Ternyata berpisah dengan bude membuatku sehancur ini. Ketakutan ku soal rumah mertua ternyata tak beralasan.


Aku bahkan lebih takut jauh dari bude....


" Mbak..mbak nggak kenapa-napa kan ?"


aku tersentak, rupanya Salsa masih menungguku diluar. Dengan cepat aku segera menyelesaikan aktifitas ku dan segera keluar.


" Maaf ya Sa, belum apa-apa mbak udah bikin kamu repot !!"


"nggak si mbak. Tapi kupikir tadi mbak kenapa-napa didalam ? Syukurlah kalau mbak sudah mendingan"


Emak datang dari depan, dengan membawa rantang yang tadi diberikan oleh bude.


" Ti nggak kenapa-napa kan kalo emak buka ?"


Emak malah bertanya sambil mengangkat rantang itu kearah ku.


" Iya Mak Nggak apa kok !! aku minta maaf , karena aku nggak langsung ngasih ke emak. Aku terlalu sibuk dengan kesedihanku sendiri.. Itu titipan bude, beliau juga titip salam sama keluarga disini.."


" kita perempuan memang akan melewati hal yang baru saja kamu alami Siti. Emak ngerti kok perasaan kamu sekarang. Tapi biasanya akan terasa jika kita sudah jauh dari orang tua lebih dari seminggu. Sedangkan kamu ?" Emak sedikit tersenyum.


" Emak pikir kamu nangis karena nggak mau kesini "


Aku tersenyum kikuk, Antara ingin membantah dan membenarkan . Apakah emak emang tipe ceplas-ceplos seperti ini. Atau ini hanya perasaanku saja karena dilanda kekhawatiran yang berlebihan.


" Sekali lagi maaf ya Mak. Jika membuat emak merasa tersinggung.."


" Nggak kenapa-napa kok mbak Siti. Emak mah santai aja orangnya, kalau beliau salah tegur aja, karena emak nggak suka ngaca hhehe"


Suara Salsa menggema, diiringi dengan tawa puasnya melihat ekspresi wajah emak yang memerah menahan amarah. Sosok gadis kecil itu telah jauh berlari menyelamatkan diri.


" Dasar bocah, , " Emak bergumam pelan, kemudian mata itu kembali menatap ke arahku " Mending kamu istirahat dulu, kamar kalian didepan ya. Oh iya tadi kopernya juga sudah dianterin sama travelnya, biar sekalian kamu tata di lemari yang udah emak siapin..semoga kamu kerasan disini. Jangan sungkan ya, Anggap aja rumah sendiri.."


aku memeluk mertuaku itu, dan mengucapkan terima kasih.


Kemudian berlalu ke depan, menuju kamar yang tadi emak sebutkan...

__ADS_1


__ADS_2