
Sebulan sudah aku berada disini, rasanya sangat nyaman karena bang Dadang selalu saja menghiburku jika ada perkataan emak yang tak enak didengar telinga.
jika seperti ini menurutku , rumah mertua tak semenakutkan apa yang selama ini aku pikirkan.
Bang Dadang baru saja datang, melihat apa yang dibawanya aku merasa penasaran, tapi ucapan emak ternyata telah mewakili rasa penasaranku.
" Loh Dang. apa yang kamu bawa. Siti sudah isi kah ?"
Emak bertanya, ketika melihat bang Dadang membawa sekantung mangga ditangannya..
" Ehh. nggak Mak ini kebetulan tadi ada yang tebang pohon mangga, Dadang dikasih takut mubasir kata yang punya.."
" Oh kirain Siti dah isi tadi "
Dapat kulihat jika ada nada kecewa dari ucapan emak.
" Belum lah Mak, lagian kami juga belum ada dua bulan menikah, kalau cepat-cepat isi kan ntar jadi omongan tetangga.."
" Iyah juga sih, tapi emak sudah pengen gendong cucu. Gimana dong Dang "
" Iya emak tenang, , kita akan lebih giat lagi berusaha, ya kan dek.." Mata suamiku itu berkedip genit,
Posisi bang Dadang yang tepat di depanku memudahkan ku untuk mencubit pinggangnya tanpa dilihat oleh Emak.
Dasar !! nggak mikir apa kalau aku malu .
Emak sepertinya mengerti akan tingkahku yang tengah malu.
" Jangan keseringan Dang, katanya kalau terlalu sering kualitas benihnya jadi berkurang..kasihan Siti, sudah capek-capek tapi nggak berhasil juga.."
Emak malah ikut menggoda dan makin membuatku salah tingkah.
" Nanti emak bikinkan kamu jamu, dan juga Siti mau yah, nanti Emak ajak ke mbok Sumi. Dia jago kalau urut biar cepat isi..."
Ide emak membuatku tak nyaman, apakah harus ? sedangkan usia pernikahan kami baru seumur jagung. Bukankah ini terlalu berlebihan...!!
" Aku belum siap Mak kalau diurut, soalnya benar-benar belum pernah ngelakuin hal itu .
...."
"Iya juga mak, apa nggak aneh nanti tanggapan tetangga baru satu bulanan nikah kok udah ngebet aja pengen anak. Kita juga butuh waktu untuk pacaran dulu Mak.." untunglah bang Dadang mau mewakili ucapannku.
" Ya maaf kalau emak salah. Lagian kan emak cuma ngasih solusi. Diterima ya syukur kalau enggak ya ,mau diapain...
__ADS_1
Sini mangga mya emak kupas, Siti kamu bikin bumbu nya ya. Kita ngerujak bareng.." Emak melangkah ke dapur dengan membawa buah mangga yang tadi dibawa bang Dadang.
" Itu mangga muda ya bang.?"
" Iya dek, Soalnya yang punya tanah mau bangun rumah dilahan itu, jadi mangga nya terpaksa ditebang.."
" Ya udah bang, aku ke dapur dulu ya. Mau bikin bumbu rujaknya.."
" Rujak apa mbak...?"
Salsa yang baru pulang sekolah tiba-tiba ikut nimbrung,
" Rujak mangga Sa, kamu mending ganti baju dulu . terus makan, baru kita ngerujak bareng, kebetulan cuaca nya mendukung. .." aku melihat keluar dimana matahari sedang terik-teriknya.
" Oke mbak..!! request pedes level sepuluh ya mbak hehhehe"
Salsa memang pecinta pedas, sama sepertiku. Jadi meski kadang bang Dadang dan emak protes akan masakan ku yang katanya terlalu pedas, akan ada salsa yang selalu membelaku. Sungguh aku benar-benar merasakan punya adik jika berada didekat Salsa.
***
Malam ini aku menidurkan diri dipangkuan bang Dadang, sementara tangan suamiku itu kini membelai rambutku dengan lembut.
Matanya tak berhenti menatap ke arahku, karena sudah terbiasa aku juga mulai berani membalas tatapan itu dengan senyum penuh di bibirku,
" Jangan terlalu dipikirkan ya dek, ucapan emak !!"
" Soal pertanyaan kapan kamu hamil ?"
Aku mendudukkan diriku, seharusnya bang Dadang tak perlu mengungkit hal itu. Biar aku tak kepikiran lagi..
" Denger kamu ngomong !! Aku merasa, kamu deh bang yang kepikiran .. Kenapa emangnya ?"
Bag Dadang tersenyum " kok jadi Abang sih dek. ?
"Ya, nggak biasanya kamu nenangin aku dengan mengungkit sesuatu yang sebenarnya kamu tahu jika itu sedikit menggangu pikiranku. Pasti kamu kan yang tertekan sekarang, ayo cerita kenapa ?" Aku mendesaknya karena bang Dadang, seolah tak mau menatap mataku. Tanda jika benar-benar ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
" Bapak dek..!! Beliau bilang mungkin Abang nggak tokcer makanya kamu belum isi sampai sekarang ?"
"pasti bapak bilangnya sambil bercanda kan Bang ?"
" Iya sih. Tapi.."
" Tapi kenapa Abang malah baper sih, kan tinggal bilang kalau pernikahan kita baru juga seumur jagung yang bahkan belum siap panen..hehheh"
__ADS_1
Aku berharap bisa menularkan senyum ke bang Dadang tapi lelakiku itu tetap saja terdiam entah memikirkan apa.!!
" Abang sebenarnya takut dek, gimana kalau kita nggak punya kesempatan punya..."
"husss jangan diterusin, ucapan adalah doa bang..."
Aku menutup mulut bang Dadang dengan tanganku dan kemudian malah teringat sosok bude, Apa bude mandul ?
Jika ia berarti ketakutan bang Dadang bisa saja terjadi. Karena aku ada gen yang dapat mempengaruhi.
Niatku yang mau menenangkan bang Dadang malah jadi batal, pikiranku sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan buruk kedepannya.
Aku mengeleng-gelengkan kepalaku mencoba mengenyahkan semua bisikan yang kini lebih seperti peringatan ..
"Kamu kenapa dek ?"
" Apa bapak ada menyinggung bude yang nggak punya anak bang..?"
Bang Dadang mendekap ku erat. " Seharusnya Abang nggak bikin kamu mikir kearah sana dek. Tapi bener kok Bapak hanya bercanda dan nggak ngungkit hal apapun apalagi tentang bude..!!"
Aku diam dan memilih menyadarkan kepalaku di pelukan bang Dadang, Dari nada suara nya aku tahu. Bapak mungkin saja tak terpikir kearah sana. Tapi jauh dipikiran bang Dadang dia pasti tengah teringat akan hal itu. Apakah dia takut jika aku mandul?
" Dari pada melow, kita usaha lagi yuk dek, biar cepat berhasil..."
kami kini malah terlarut dalam ciuman penuh gairah, sungguh kegiatan ini sudah seperti candu bagiku dan juga bang Dadang.
******* kami kini memenuhi kamar, karena jarak kamar kami yang agak berjauhan dengan kamar yang lain, maka kami tak khawatir jika ada yang mendengar.
Ditengah kegiatan intim kami, aku panjatkan doa pada yang kuasa, agar segera diberi kepercayaan dan secepatnya dikarunia i momongan.
Memikirkan itu aku malah tersenyum, Entah kenapa bayangan memiliki sosok mini di kehidupan rumah tangga kami akan menjadi hal yang paling indah dan aku paling aku inginkan untuk sekarang.
" Sssss....ahhhh.." Aku mendesis, semakin ku benamkan kepala bang Dadang pada dadaku , ketika puncak kenikmatan itu datang.
Sementara suamiku kini masih berusaha dibawah sana untuk mendapatkan hal yang sama.
Jika memang intensitas hubungan suami istri itu memang mempengaruhi proses pembuahan, mungkinkah Bang Dadang rela, mengurangi ronda malam kami. mengingat suamiku itu punya birahi yang sangat tinggi.
" Bang !! Sepertinya saran Emak perlu kita terapkan deh.."
Bang Dadang masih terengah-engah ,saat aku mengajaknya bicara " yang mana dek ?"
" Soal mengurangi jatah malam kamu.."
__ADS_1
Bang Dadang mendadak duduk, membuatku sedikit kaget mendapat reaksi yang tak terduga itu " Nggak bisa. Abang nggak bisa kalau soal itu. Abang nggak setuju, lagian bukankah kalau kita sering melakukannya kesempatan untuk benih itu tumbuh akan semakin besar dek.."
Ku pejamkan mataku yang telah terasa berat. Seharusnya aku tak perlu mengutarakan usul itu, karena pada dasarnya aku sudah tahu jawaban seperti apa yang akan diberikan bang Dadang, yaitu sebuah penolakan..!!!!