Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Karma lagi ?


__ADS_3

Kini Agung dan Dadang duduk santai di teras depan rumah. Bara yang sebenarnya masih ingin duduk dipangkuan Agung, diserahkan kepada Elis.


Dan kini telah anteng dengan bundanya didepan Televisi.


" Bang !! Jujur sekarang aku bertanya-tanya, apa yang menjadi sebab perceraian Abang dan mbak Siti ? "


Agung mendapati wajah Dadang yang mendadak sedih saat pertanyaan itu terlontar dari bibirnya .


By


" Semuanya sudah berlalu, Gung !! Dan yang salah memanglah abangmu ini !" Dadang menunduk, dia sebenarnya tak mau diingatkan lagi soal ini.


Agung ikut menatap kearah lain .


" Dan Apa benar jika istri abang yang sekarang sudah melahirkan. Dan anaknya bukanlah darah daging abang !!"


" Gung !! Sebenarnya apa yang mau kamu katakan sama Abang ? kenapa kamu sekarang perduli dengan semua ini ?"


" Abang tahu hukum tabur tuai. Aku merasa sekarang aku jadi korban karena kelakuan abang dimasa lalu ..!!"


Agung tak bisa menahan rasa sesak saat mengungkapkan hal ini pada Dadang. Dia sekarang menitikkan air mata lagi. Mengingat semua cerita emak tentang kelakuan Dadang pada Siti sebelum Siti meminta cerai..


" Sebegitu besarkah nafsu yang Abang rasakan . Hingga tak sadar menyakiti orang lain, yang tak lain istri Abang sendiri . Dan Istri Abang yang sekarang , apakah Abang akan menjadikan kesalahannya untuk mengembalikan ia pada tantenya. Apakah tak ada terbesit sedikit saja di pikiran Abang jika semua ini terjadi karena takdir tuhan . semuanya adalah skenario tuhan, Abang hanya menjalani peran. Soal ini akan berakhir buruk dan baik mungkin memang sudah ditakdirkan. Namun semestinya abang tidak selalu membebankan semua khilaf abang dan mengabaikan apa yang dirasakan oleh orang lain yang merupakan pasangan abang.."


Dadang membenarkan ucapan Agung. Namun tetap saja, memang siapa sih yang mau menjalankan semua hal buruk yang kini menimpa dirinya.


" Abang tahu niatmu baik, Gung !! Tapi, jangan menghakimi sesuatu yang tak pernah engkau rasakan sebelumnya... Abang...."


" Jadi, Abang ingin kami juga merasakan perasaan abang, dan berada diposisi yang sama. Apakah abang mau jika sesuatu juga terjadi pada Salsa, setelah aku menuai karma, soal hilangnya rahim istriku ?"


" Jaga ucapan mu Gung. walau bagaimanapun aku ini abangmu. Dan aku tak mungkin menginginkan hal buruk pada keluargaku, pun dengan kalian. Kita bersaudara seburuk apapun. Saudara dan keluarga adalah tempat kembali.."


Agung memalingkan muka. Dia tahu sekarang ego yang besar telah membuat Dadang merasa paling benar dan berkuasa. Hingga semua keputusan yang dia ambil adalah hak mutlak.


" Lagian kamu itu laki-laki. Tak ada yang melarang yang namanya poligami, apalagi alasan dan tujuannya jelas.."

__ADS_1


Agung terkekeh, dia kini memandang rendah pada abangnya sendiri " Itulah yang membedakan kita bang. Abang hanya mementingkan nafsu duniawi, sedangkan aku. Bagiku hidup bukan hanya sekedar ************ dan anak. dan jika Ada hal yang tak bisa memuaskan ku itu bukanlah tentang terpenuhinya ambisi ku. Tapi kenyamanan yang bisa membuatku nyaman berbagi keluh kesah dan menjalani semuanya dengan perasaan damai.."


Dadang tetap menunjukkan wajah tak sukanya pada Agung. Jelas saja semua yang diucapkan adik nya itu adalah untuk menyentil dirinya .


" Bang !! Dio mau ketemu mbak Siti ..!! " Salsa datang dengan mengandeng Dio yang menangis, Membuat suasana yang sempat tegang antara Agung dan Dadang kini sedikit mencair.


Sebelum Dadang bicara , Agung sudah lebih dulu mendekati Dio.


" Bang Dio beneran mau pulang ?" Agung melihat jam tangannya sesaat sebelum dia menatap sang ponakan .


" nggak akan minta kesini lagi kan ? Nanti malah ayah Agung capek bolak balik karena Dio..?"


Dio semakin menangis kencang, membuat Agung segera memeluknya


" Huaaaaa....Dio mau sama ibu. nggak mau disini. Mau ibu...huhuhuhu !!"


Tangisan kencang Dio, membuat Bara yang tadinya anteng nonton televisi. Kini malah menghampiri abangnya dan ikut menangis..


Jadilah suasana disiang hari ini menjadi ramai akan suara tangisan anak-anak Dadang ..


" Loh bang !! bukannya abang bakalan nginep selama seminggu ? kok dadakan pulangnya...?"


Salsa mengendong Bara menenangkannya sembari menatap heran kearah Agung.


" Ya kalau bukan abang emang siapa yang bakalan antar mereka dek ? "


Salsa malah melirik Dadang yang kini menunduk seolah tak berkutik " Sudah sana kamu siapkan baju- baju mereka. Kasihan nanti suara mereka malah habis karena kelamaan menangis. Lagian satu minggu kalau tanpa anak-anak pasti akan terasa lama..!!"


Salsa masuk kedalam dengan tetap mengendong Bara.


Emak yang sudah terbangun dari tidur siangnya, kini mengikuti langkah Salsa. melihat anak gadisnya sibuk meneliti setiap pakaian milik Rama dan adik-adiknya , Emak mengambil alih Sang cucu.


" Eh Sa, mereka kenapa Sih ?kenapa bisa barengan nangisnya..?"


" Mereka mau ibu mereka Mak. Bang Agung mau anterin mereka pulang sekalian juga katanya bang Agung dan mbak Elis mau pulang hari ini.. !!" Salsa menjelaskan meski tangannya dengan cekatan menyusun baju-baju kedalam tas besar milik Siti...

__ADS_1


" loh kok mendadak si Sa ? kan emak jadi nggak punya persiapan mau ngasih apa ke Siti dan budenya !! juga untuk besan Emak. Orang tuanya Elis..!!" Emak malah sekarang mondar-mandir nggak jelas, dengan Bara dalam gendongannya. Membuat Salsa malah tersenyum,


" Gampang mak, emak kan kemarin baru saja buat kopi. kasih saja itu, gimana ? pas kan !!" Salsa menaikturunkan alisnya kearah Emak, membuat Emak memberhentikan pergerakannya.


" Bara. Bara duduk dulu sama ante ya, nenek mau bikin oleh-oleh buat nenek Dewi .. Yah...!!"


" Oke nek !!" Bara menunjukkan jempol mungilnya kearah sang nenek, lengkap dengan senyum dua jari memenuhi wajahnya.


Lastri buru-buru ke dapur menyiapkan bubuk kopi. Tak lama berselang Lastri sudah bergabung di ruang keluarga, Saat melihat Rama dan adik-adiknya. Dia segera memeluk ketiga cucunya itu dengan perasaan haru. Rama sebenarnya tadi sedang tidur siang dan dia bangun karena tangisan Dio dan Bara tadi..


" Bang Dadang mana ? " Salsa yang telah lama berada disini rupanya tak melihat lagi keberadaan Abangnya Dadang, meski ketiga ponakannya kini sudah siap untuk pulang kepada ibu mereka. Tapi abangnya seolah tak perduli, Salsa lagi-lagi kecewa akan sikap Abangnya yang satu itu..


"Bang Dadang tadi pamit , katanya mau ambil sesuatu Sa !!" Elis menimpali, karena agung yang sebenarnya juga dipamiti oleh Dadang tadi, hanya diam saja. Tak berusaha menjelaskan akan ketidak hadiran abangnya .


Semua pandangan kini tertuju pada Elis,


" Iyah Mak, Pak !! Abang pamit tadi kok , sama kita !"


Agung akhirnya buka suara, membuat wajah semua keluarganya sedikit lega. karena takut Dadang malah menghilang seperti saat Siti dan anak-anaknya pertama kali pindah dari sini.


Suara langkah kaki yang cepat kini terdengar, membuat Semuanya kini memandang kearah pintu. Memastikan siapa yang datang.


Ternyata Dadang. Lelaki itu tampak berkeringat banyak, dan mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan. Dan ketika matanya menemukan Anak-anaknya dia segera mendekat dan memeluk mereka dengan erat. Tak sadar Dadang kini malah menangis. Dan mengusap kepala anak-anaknya


" Rama, Jaga adik- adikmu dengan baik ya !! Kamu adalah kebanggaan Ayah dan Ibu. Jadilah kakak yang bisa ditiru dan mengayomi.."


Dadang merogoh sakunya, dan memberikan amplop yang cukup tebal ke tangan Rama.


" Kasih kan sama ibu,Ya !! ini untuk keperluan kalian. Soal baju lebaran , nanti ayah akan usahakan lagi.. !!"


Dadang memeluk ketiga anaknya lagi, dan kali ini dia malah menangis terisak, membuat emak menyentuh bahunya mengingatkan sang anak jika tingkahnya tak baik bagi anak-anaknya.


" Ayah sayang kalian !!!"


" Kami juga sayang sama Ayah..!!" Rama kini ikut menangis, Menularkan kesedihan yang sama akan siapapun yang melihat hal ini.

__ADS_1


Meski kadang menyebalkan, ternyata Dadang masih punya rasa yang dalam pada anak-anaknya.


__ADS_2