Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
kejutan tak terduga


__ADS_3

Ketika keluar dari kamar mandi , aku dikejutkan dengan sosok emak yang tampak menungguku di depan pintu, Meski merasa wajahku telah kembali segar tapi aku sedikit takut juga jika bertatapan langsung dengan Emak, pasti beliau akan tahu jika aku habis menangis.


" Kalian besok mau ke dokter kandungan ya...".


" Iya mak, Emang salah ya mak..?"


Aku berucap hati-hati agar emak tak menganggap ku lancang karena tak mengatakan hal ini terlebih dahulu ke emak.


" Nggak kok, tapi emak kepikiran jika kamu mau ngelakuin ini karena ucapan emak Indah tadi ya kan ? Soalnya Dadang bilang jika kamu tadi habis nangis. Jangan terlalu mudah masukin ke hati perkataan orang Siti. Hidup bertetangga ya begini, harus tebal telinga..!! Emak nggak enak ke Dadang seolah emak yang sudah bikin kamu tertekan dengan keadaan kamu yang sampai sekarang belum hamil juga.."


" Maaf ya mak, kalau aku bikin emak merasa tersudutkan tapi aku nggak bermaksud kok mak.."


Emak meninggalkanku tanpa bicara satu katapun, aku diam dan hanya mengamati langkah kaki emak yang menjauh. Apakah karena ini hubunganku dengan Emak akan berubah..?


***


Setelah sarapan aku langsung bersiap-siap , Dokter kandungan disini memang tempatnya tak terlalu jauh, namun juga tak dekat, Jika menggunakan motor maka akan memakan waktu sekitar seperempat jam.


Itu yang bang Dadang katakan padaku semalam.


Meski kepalaku agak pusing saat bangun pagi tadi namun aku mencoba tak begitu menghiraukannya. Mungkin karena kemarin aku terlalu lama menangis, efeknya baru terasa sekarang..


" Dek, udah siap !!!"


Bang Dadang memelukku, mencium aroma shampo di rambutku yang tergerai. Matanya ikut mengawasi wajahku di pantulan kaca, aku tersenyum. Sejauh ini bang Dadang telah memperlakukanku dengan baik, semoga saja dengan ikhtiar kami ini. Impian kami tentang momongan segera terwujud sebagai pelengkap dan kesempurnaan untuk hubungan kami sebagai suami istri..


" Udah nih. Ayo berangkat ?"


" Rambutnya nggak di kuncir dek? Nanti berantakan sampai sana..".


Bang Dadang ternyata juga memperhatikan kebiasaan ku jika naik motor dengan melalui jarak yang agak jauh ." Kan pake helm bang !! Lagian rambut Ku juga masih basah nih ..."


" Oh ya udah. Ayo berangkat. Emak dan Bapak tadi sudah Abang bilangin kalau kita mau keluar, jadi kuncinya di taro dibawa pot bunga saja kata Emak..!"


Aku menurut, sementara bang Dadang memanaskan mesin motor aku segera menutup jendela dan pintu rumah, kemudian langsung meletakkan kunci dibawah pot ,sesuai saran emak. Mungkin memang seperti ini kebiasaan warga disini, karena aku juga sering memergoki bu Uci yang terlihat mencongkel sesuatu dibawa pot bunga besar miliknya . Aku langsung tersenyum. Keheranan ku tentang adanya pot bunga tunggal di rumah emak akhirnya terjawab, ternyata ada fungsi khusus di balik keberadaanya..

__ADS_1


Syukurlah tak ada kendala apa-apa dijalan, meski masih tergolong perkampungan tapi kendaraan di desa ini cukup padat jika pagi seperti ini.


Sesampainya didepan rumah praktek dokter kandungan . aku segera turun menuju tempat mendaftar .


Dokter disini memang sangat direkomendasikan, oleh karena itu aku mengajak bang Dadang datang jam 7 pagi, meski dokternya baru akan datang pada pukul sembilan pagi. Sesuai dugaan ku, kami harus rela menunggu giliran karena memang ada beberapa pasangan juga yang nampak telah stand by sedari tadi..


" Antrian no 46 ya buk, silahkan duduk dulu. "


Aku menyusuri sekitar dengan tatapan mataku, disini lebih banyak pasangan yang datang karena mau melakukan USG, hanya beberapa pasangan yang sepertinya usianya jauh diatas ku yang nampak mengantri.


" Aku pengen bakso bang, yang didepan . Kita ke sana dulu yok bang, sambilan nunggu dokternya datang.."


aku memang melihat jika ada kedai bakso yang telah buka sedari tadi, dan kebetulan berada tepat didepan rumah praktek ini.


" Ayo.."


Bang Dadang mengekor kemana aku melangkah, karena mengharuskan kami untuk menyebrangi jalan, jadinya bang Dadang inisiatif untuk menjagaku agar tak tertabrak kendaraan yang lalu lalang.


Setelah memesan menu bakso yang aku inginkan kamipun duduk didekat pintu keluar , karena dari sini kami juga bisa memantau kedatangan Dokter.


Aku menunjukkan menu yang tersedia, bang dadang memang kenyang. karena terbiasa sarapan nasi. Tapi disini juga tersedia aneka cemilan yang tak terlalu berat, namun suamiku itu menggeleng dan memilih menuangkan air putih dan meminumnya,


" Kamu aja yang makan, Abang beneran masih kenyang dek "


Pesanan Datang, melihat tampilan dan porsinya aku seolah sudah merasakan kenikmatannya diujung lidah.


***


Sekarang sudah pukul 10 namun kami juga belum mendapatkan giliran kami. nomor antrian masih dinomor 42, dan entah kenapa aku merasa mengantuk karena terlalu lama menunggu.


Semakin lama malah mata ini semakin berat, seiring kesadaran ku yang mulai hilang. Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi..


Saat bangun kurasakan tanganku digenggam erat oleh seseorang, Ketika mata ini telah terbuka sepenuhnya. Ternyata ada bang Dadang di sampingku,


jadi tadi aku pingsan, kenapa ?

__ADS_1


" Syukurlah dek kamu sadar, kata dokter . kamu positif dek, 4 Minggu. "


Aku mencoba untuk duduk dari posisiku, " Maksud Abang, aku hamil ? ".


Bang Dadang memelukku dan mengecup ubun-ubunku berkali-kali. sedangkan aku kini malah menangis, jika kemarin adalah tangis kesedihan tapi hari ini , ini adalah tangis bahagia.


" Alhamdullilah ya dek, Tuhan sudah menunjukkan kuasanya ..Jujur abang sedikit takut, meski usia pernikahan kita memang belum terlalu lama..".


" Siang pak buk. ." Seorang lelaki dengan seragam dokter menyapa kami, aku dan bang Dadang refleks melepaskan pelukan dan memandang pada sosok itu dengan senyum ramah. Dr Ryan SpOG. tertulis di name tag nya.


" Selamat Ya, akhirnya positif . Padahal di formulir ini dijelaskan jika kalian datang kesini cuma ingin periksa dan tes kesuburan. Dan janinnya juga sehat, semuanya baik jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan ."


" Iya Dok, Alhamdullilah.."


" Bu Siti, kandungannya baru berusia Satu bulan ya, jadi diharapkan ibu lebih menjaga diri agar tak melakukan pekerjaan yang berat-berat dulu Ya ! Karena janin dengan usia segitu rentan untuk mengalami keguguran, Jadi pak Dadang diharap bisa sedikit meringankan pekerjaan bu Siti sebagai ibu rumah tangga.."


" Iya dok pasti..Ini anak pertama kami, sekaligus cucu pertama untuk keluarga sudah pasti semua akan bersama-sama menjaga ibu dan bayinya agar sehat dan bahagia hingga proses persalinan nanti.."


ku hapus air mata yang kini menetes lagi . senang rasanya bisa melihat wajah bang Dadang nampak berseri dan bersemangat dengan kabar bahagia ini.


" Baiklah kalau begitu pak, ini resep yang harus ditebus ya, silahkan nanti didepan.semuanya lengkap tersedia. Nanti usahakan USG rutin ya pak, agar kita tahu perkembangan janin yang dikandung bu Siti ."


" Oh kalau untuk mengetahui jenis kelamin diusia kandungan berapa bulan ya dok ?"


" usia 4 bulan ,udah bisa pak !!


Tapi perlu dicatat ya pak, USG dilakukan bukan hanya untuk mengetahui jenis kelamin bayi, tapi lebih penting dari itu. karena dengan USG kita bisa tahu kapan perkiraan kelahiran bayi, posisi bayi baik atau tidak didalam rahim.. karena banyak yang bilang jika USG hanya untuk mengetahui jenis kelamin , dan malah menjadi enggan untuk melakukannya karena merasa , biar nanti jadi kejutan pas lahir, .."


" Iya Sih dok, banyak yang enggan karena merasa tak perlu, , "


" Maka dari itu,rubah pemahamannya ya pak buk, agar nanti ibu dan bayi sehat dan selamat hingga proses persalinan.."


Aku segera turun dari ranjang pasien, Dengan sigap bang Dadang menuntunku untuk berjalan menuju keluar , masih terlihat banyak pasangan yang antri diluar ,syukurlah kami malah dipermudah kan dengan kejutan yang tak terduga ini.


Tumbuhlah sehat nak, sampai jumpa delapan bulan 10 hari, lagi..

__ADS_1


__ADS_2