
Lastri masuk kerumahnya dengan tergesa, setelah tadi sempat mengikuti Salsa untuk mengejar sandra dia sengaja balik lagi ke rumah. Setelah Salsa mengisyaratkan jika biar dia saja yang mengikuti Sandra, sang kakak ipar. Mungkin putrinya takut jika dia kenapa-napa, karena harus berlarian seperti itu.
Lastri segera masuk ke kamar, dengan nafas memburu, mencoba menetralkan sejenak nafasnya yang ngos-ngosan. dia kini menatap Dadang dengan perasaan kecewa.
" Kenapa sampai bisa malah main tangan Dang ? semuanya pasti bisa dibicarakan baik-baik. Entah apa yang dipikirkan Fatma dan juga orang-orang dikampung ini tentang kamu . Bisa-bisanya kamu membuat Sandra menangis dan berlari seperti itu ?"
Lastri mencoba menetralkan emosinya, Dadang masih tetap diam menunduk di rangkulan bapak.
"Cobalah menerima seperti apapun tabiat istrimu Dang, jika Siti saja tak memuaskan ingin mu. Maka berdamailah dengan pilihan hatimu sendiri.."
Lastri kini bahkan telah menangis, rasa lelah yang dia rasakan seharian ini, dikalahkan dengan peristiwa yang baru saja terjadi pada menantunya..
" Maafkan Dadang, Mak. Tapi, Sandra sudah keterlaluan, bagaimana mungkin dia berpikir jika kebutuhanku hanya urusan ranjang...!! Aku lelaki Mak, ..Aku..."
" Sudahlah Dang, Emakmu benar !! sekarang jemput istrimu, ceritakan duduk permasalahannya dengan Fatma, sebagai kerabat dekat Sandra disini. Jadilah lelaki yang berani berbuat , berani juga bertanggung jawab.."
Nurdin akhirnya ikut menyuarakan diri, membuat Dadang tak lagi mampu membantah.
Entah kenapa Dadang malah merasa selalu salah dimata kedua orang tuanya sekarang. Apakah kepergian Siti dari hidupnya membuat harga diri dan kebahagiaanya juga ikut pergi ?
Dadang melangkah gontai, hendak melakukan apa yang tadi diusulkan Bapak. Matanya nampak sayu, tak bersemangat . Kenapa niat hati ingin melengkapi hari yang sepi dan menemukan tempat nyaman, malah membuat hidupnya jadi semakin runyam karena sosok Sandra yang menurutnya sangat buruk sebagai seorang istri.
Plakkkk
Suara tamparan itu bergema, Emak dan Bapak yang sedari tadi mengikuti Dadang kini nampak tercengang. Putra sulungnya itu ternyata ditampar oleh Fatma, sang Tante dari Istrinya sendiri.
" Apa maksudmu Dang. Seenaknya main tangan dengan keponakanku. Kamu tahu kan jika dia sedang hamil. Bukannya dilimpahi kasih sayang, malah kamu siksa fisik dan batinnya.
jangan-jangan benar kalau Siti keguguran waktu itu karena jadi korban KDRT. . .!!"
__ADS_1
Lastri melangkah terburu-buru, mencoba menengahi Dadang dan Fatma. Dengan tenang dia meminta Fatma untuk duduk, agar lebih nyaman untuk bicara. untungnya Fatma tahu adab. meski sempat menolak, Fatma akhirnya menurut juga.
" sebelum Mbak marah sama saya, kenapa mbak nggak tanya ke keponakan mbak, kenapa saya sampai melakukan hal itu..meski Siti masa lalu saya, tapi bisa mbak tanyakan ke dia langsung apakah pernah saya melabuhkan tangan padanya. untuk kasus Sandra, saya tak bisa tolerir lagi. Dia benar-benar keterlaluan."
Fatma kembali terpancing emosi mendengar ucapan pembelaan dari Dadang.
" Oh jadi begini sifat aslimu Dang ? membenarkan sesuatu yang jelas telah salah tidaklah bijak, meski sebesar apapun kesalahan Sandra, kamu nggak punya hak untuk menyakiti fisiknya.."
" DANG...!!!!" Nurdin berteriak . Habis sudah kesabarannya, pertengkaran mulut antara Fatma dan Dadang telah memancing tetangga datang untuk melihat. Membuat Nurdin malu bukan kepalang.
" Hentikan membuka aib rumah tangga mu dihadapan semua orang .."
Kini mata tegas Nurdin menatap Fatma.
" Dan untukmu Fatma, atas nama anak saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Mari kita duduk dulu. Supaya pembicaraan ini menemukan solusinya.."
Fatma masih menatap Dadang dengan nyalang. Namun karena rasa hormatnya pada sosok Nurdin membuatnya mengalah dan duduk kembali..
Fatma menoleh dan mendapati wajah khawatir Lastri yang sedari tadi hanya diam.
" masih histeris Mak, tapi sudah ada tetangga yang nenangin . Salsa juga di rumah tadi.."
Fatma menjawab dengan pelan, membayangkan saat Sandra datang dengan berlari dan menangis membuat emosinya jadi tak tertahan. Apalagi melihat wajah Sandra yang memerah bekas tamparan tangan Dadang, sang suami.
"Syukurlah kalau begitu..Maafkan saya ya , Fatma. Karena telah gagal mendidik Dadang untuk menjadi Suami yang baik.."
Lastri menatap Dadang, tampak dimatanya jika anaknya itu ingin protes namun Nurdin mencegahnya mengeluarkan suara .
" Saya juga minta maaf ya Mak. Sandra itu masih terlalu muda, tapi nasib buruk malah menimpanya. Dia yatim piatu dari kecil, menikah juga karena perjodohan. Dia korban KDRT suaminya yang terdahulu, makanya saya ikut panik dan tak mampu menahan emosi, saat Dadang seolah membuatnya mengingat kembali trauma yang dialaminya.." Fatma menunduk, Sandra memang anak satu-satunya dari kakak perempuannya yang telah lama meninggal, sebenarnya Fatma baru tahu jika sang kakak meninggalkan seorang anak perempuan. Semua cerita yang dijabarkan Fatma pada Mak Salsa adalah cerita yang didapat Fatma dari tetangga Sandra, sang keponakan yang terpaksa hidup sendiri.
__ADS_1
Lastri mengigit bibirnya antara sedih dan juga heran. Jika sesedih itu kisah Sandra kenapa menantunya itu bersikap sama sekali tak punya adab ! Apakah Sandra sama sekali tak mengenyam bangku pendidikan ?
" Fatma. Mendengar ceritamu jujur saja, saya tersentuh dan prihatin. Tapi, tingkah Sandra membuat saya tahu, kenapa dia menjadi korban KDRT, suaminya yang dulu. Dia perempuan pemalas dan sama sekali tak perduli dengan semua tugas rumah, bahkan pakaiannya saja saya yang mencuci. Apakah itu pantas ?
jangan tersinggung Fatma, tapi bisakah kamu nasehati ponakkanmu sedikit. Tentang tugas dan kewajiban seorang istri. Jika saya yang berbicara langsung padanya, takutnya nanti dia malah bilang saya mertua yang dzolim..!!"
Fatma menatap lekat Mak Salsa, sejujurnya dia juga tak merasa kerasan saat Sandra tinggal dirumahnya walau hanya beberapa bulan. Fatma sendiri bisa menilai jika Sandra memang bukanlah istri idaman karena sifat malasnya, dan apa-apa mesti ditegur agar dia mau mengerjakan , itupun akan diikuti oleh dumelan panjang dari mulut Sandra..
" Iya , Mak...!! Nanti saya coba nasehati. ." Fatma tersenyum.
Dan akhirnya kerumunan tetangga perlahan mulai berkurang karena tontonan nya sudah tak seru lagi..
Sementara itu, kini Salsa masih memeluk pundak Sandra yang sedari tadi masih menangis sesegukkan. Meski begitu omelan tentang Dadang sang suami tak pernah putus.
Seolah dia benar-benar tersiksa akan pernikahan mereka.
" Ya Sudah San..Minta cerai saja kamu.. Sudah jadi istri yang baik kok malah ditampar..." Bu Uci bersuara, mengompori Sandra yang begitu menggebu, menceritakan kejelekan Dadang .
Sandra malah gelagapan karena mendapatkan perkataan seperti itu dari Bu Uci.
" Eehh.. so..al...i-tu ..aku kan lagi hamil, Bu. Gimana nanti nasib anakku.."
" justru karena kamu sayang anakmu, makanya kamu minta cerai sekarang. Nanti kamu malah keguguran dan rahim kamu diangkat seperti mantan istrinya yang dulu, si Siti.
Kamu bisa tinggal lagi disini bareng tante mu, kok , Ibu yakin pasti tantemu mendukung penuh. jika kamu minta cerai.."
" A.....ku....Aku.."
Sandra semakin tergagap tak tahu harus menjawab apa..
__ADS_1
" Iya Mbak. Sebaiknya minta cerai saja . kalau sudah tak nyaman. Emak orangnya rada judes, semuanya malah dilimpahkan ke mbak. Aku kasihan loh, kakak iparku yang cantik ini malah diperlakukan seperti itu.."
Suara Salsa yang sengaja dikeraskan gadis itu, membuat Sandra menoleh dengan wajah pucat. Kenapa dia tak sadar jika sedari tadi adik Dadang ini berada disini. Ucapan Salsa yang terkesan mencibir juga membuatnya semakin terpojok dan lemas..