Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Suami Idaman


__ADS_3

Anak-anak akhirnya bangun, Bara yang telah aktif berjalan langsung menghampiri bang Dadang yang kebetulan sudah selesai sarapan.


Suamiku itu segera mengendong Bara, memeluk bocah gemoy itu dengan erat. Sedang Dio dan Rama lebih terlihat santai dan menunggu adik kecilnya lebih dulu melepas rindu pada sang Ayah..


" Yah, hari ini anterin Rama ya sekolah..."


" Ehh Bang, kok malah males sih kan biasanya Abang jalan kaki ?" Aku agak kaget karena biasanya anakku itu tak harus diantar jika ke sekolah, dia memilih berjalan kaki bersama teman-temannya, lokasi yang tak terlalu jauh tentu saja membuatku tak khawatir.


Anak sulung ku itu menunduk


" Kan Rama juga rindu diantar sama Ayah ke sekolah.."


Suaranya masih dapat ku dengar, sedih kini ku rasakan. Baru satu bulan saja mereka sudah seperti ini. Bagaimana jika lebih lama lagi bang Dadang merantau , , Apakah mereka benar-benar akan merasa kehilangan sosok Ayah ?


" iya, Nanti ayah antar. Sama Dio juga ya, nanti kita antar Abang Rama yang bang Dio.." Bang Dadang seperti mengerti, akan keinginan Rama, sementara Dio mengangguk antusias, saat dirinya juga diajak untuk mengantar abangnya ke sekolah.


Meski putra keduaku itu terkesan cuek, namun aku tahu jika dialah yang paling merasa kehilangan bang Dadang selama sebulan ini. Karena memang hadirnya Bara membuatku lebih disibukkan, akan adiknya itu . Dan dia malah seolah menjaga jarak denganku, Emak bilang itu karena Dio dikasih adik nya kecepatan.


kebiasaan anak-anak yang selalu sarapan tiap pagi, membuatku telah menyiapkan mereka piring satu orang satu.


Meski masih kecil, Bara lebih senang jika dia sendiri yang makan, dan tak mau lagi jika ku suapi, sedikit berantakan memang, namun kemandirian Bara membuat tugasku terasa lebih ringan apalagi saat bang Dadang tak ada di rumah.


" Assalammualaikum..."


Suara salam dari depan membuatku bergegas untuk membuka pintu, Suara itu jelas sekali, jika emak lah yang kini hendak bertamu..


"Waalaikumsalam..masuk Mak.!!"


Mertuaku itu kini masuk, dan segera menuju ke dapur, kulihat bang Dadang menyalami emak, meski masih memangku Dio, yang kini nampak minta disuapi. Sedangkan Bara malah terlihat belepotan nasi diwajahnya..


" Kapan kamu sampai Dang ?"


" Semalam.Mak. Sengaja nggak ngasih tahu ke Siti biar jadi kejutan heheh" Bang Dadang menggaruk pelipisnya yang tak gatal, ,dan cengengesan didepan emak.


" mau balik lagi kera disana kamu Dang? Terus Kebun kopi kamu apa kabarnya kalau ditinggal seperti ini. Kerja sama orang dengan gaji lumayan memang enak, tapi hasilnya bakalan nggak bisa kekumpul kayak kita jadi petani kopi dang. Lagian nggak enak, dengar omongan tetangga, masa baru bikin rumah segini saja, untuk arisan malah tak mampu bayar.."


Emak berbicara panjang lebar, tak memberi waktu untuk bang Dadang menjawabnya, meski kulihat bang Dadang sangat ingin segera memberikan pembelaan.


" Satu bulan lagi mak , Dadang bakal kerja disana, nggak enak sama Rio kalau ingkar janji. Gaji bulan ini untuk arisan, bulan depan insya Allah bisa buat beli racun rumput sama pupuk buat kebun kopi kami.."


Ucapan bang Dadang terjeda, karena rengekkan Dio yang masih ingin disuapi, aku inisiatif mengambil anak keduaku itu, membawanya kesamping Bara dan menyuapinya.


"Jangan pusingin omongan orang Mak, lagian apa yang aku kerjakan juga halal kok ."


Bang Dadang kini mematik rokoknya, dan menghisapnya perlahan.


" Ya Syukurlah kalau kamu masih mikirin kebun kalian!


oh iya ..Rama mana ? Ditunggu Bapak didepan rumah, soalnya mau ngajak berangkat bareng..."


" Rama masih ganti baju Mak, Tadi ayahnya sudah janji kalau bakalan nganterin Rama..."


Aku menimpali sembari masih menyuapi Dio.

__ADS_1


" Siti Rama itu kamu kasih berapa buat jajan ? kok katanya Bu Sinta, gurunya. Rama sering bengong di kelas, kalau jam istirahat ."


Aku menatap kearah Rama yang kebetulan telah berdiri di samping Bang Dadang, mengamati wajah anakku itu dengan diam,


"Uang yang ibu kasih, Abang kemanakan bang ?"


" Ditabung buk ! Lagian Rama juga nggak laper, kan setiap pagi selalu sarapan.."


" Anak nabung kok kamu sebagai ibu nggak tahu sih Siti.."


Emak protes lagi, namun ku acuhkan saja. Bang Dadang juga memilih diam.


Akunlebih memilih memposisikan diri berlutut didepan Rama.


" Abang nabung buat Apa? Terus kalau dikelas, jangan suka bengong ya nak. .Nanti kesambet loh !"


Aku berucap pelan dan lembut, memancing kejujuran dari anakku .


" Buat beli sepeda Bu, soalnya kan sepeda Rama sudah kekecilan dan dipakai Dio. Abang nggak melamun kok buk, Abang belajar, supaya dapet juara. Kata ibu kan bakalan tambahin uang Buat beli sepeda kalau nanti Rama juara kelas.."


Aku memeluk Rama dengan gemas dan menciuminya bertubi-tubi,meskipun anak sulung ku itu tampak risih dan berusaha menghindar


" Yasudah, berangkat sana sama Ayah. Ini jajan hari ini yah,.."


Aku menyelipkan selembar uang lima ribu kedalam kantong celana Rama.


Merapikan bajunya dan kembali memberinya sebuah ciuman.


Meski telah aku larang membawa Dio, bang Dadang tetap kekeh membawanya bersama ke sekolah Rama.


Kini tinggallah aku dan Emak yang terdiam , aku tahu jika ibu dari suamiku itu kini tengah memperhatikan aktivitasku yang sedang membereskan bekas makan Bara yang tampak sangat berantakan.


" ehee cucu nenek belum mandi ya, bau acem tau.."


Kini kulihat Emak membawa Bara ke depan, mungkin tahu jika kau butuh seseorang buat menjaga Bara sementara aku melanjutkan lagi pekerjaanku.


***


Entah sudah berapa lama, aku berada di dapur, yang jelas aku mengejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. memanfaatkan waktu saat Bara ada yang momong, hari ini biarlah anakku itu mandi agak siang.


Ditengah kerepotan ku, bang Dadang mengendong Bara, mengatakan jika Bara pup. Aku yang menawarkan untuk menyeboki Malah dicegah bang Dadang , dan dia malah melakukannya sendiri. sekalian kulihat dia memandikan anak bungsunya itu.


Aku lagi-lagi mengucap syukur pada Allah, ternyata jarak bisa membuat bang Dadang berubah menjadi ayah yang peduli dan gesit..


"Emak mana bang ?"


" Pulang dek, nanti abang di suruh ke sana buat jemput Dio.."


Aku mengernyit bingung, merasa aneh " Jadi Dio diajak, dan nyuruh Abang buat jemput , tumben biasanya Dio nggak mau loh bang kalau nggak sama Bara sekalian ke rumah neneknya .."


" sempet nolak Dionya dek, tapi aku yang bujuk biar mau."


" Oh.. Pantes kalau begitu.."

__ADS_1


Bang Dadang berlalu membawa tubuh gemoy Bara kedalam kamar, dengan handuk yang kini melingkar ditubuhnya.


Tak berapa lama anakku itu terlihat sudah berpakaian rapi , bocah kesayanganku itu berjalan menghampiriku dan memelukku, Harum khas bayi menyapa indera penciumanku membuatku mengendong Bara dan membawanya kembali ke depan.


Didepan rupanya Bang Dadang kedatangan tamu. Bang Asep, tetangga Emak, yang merupakan Menantu dari Bu Uci.


Aku mendekat ke sana, meminta bang Dadang menjaga Bara. Berniat membuat kopi buat tamu suamiku itu, sedangkan kopi bang Dadang masih nampak utuh meski telah sedikit dingin.


Selesai membuatkan kopi, aku juga ikut duduk di depan.


Bukan tak sopan, tapi beginilah kalau dikampung, jika tuan rumah malah tak lengkap, maka akan dikatakan sombong. Terlebih ini adalah menantu bu Uci. Bisa satu kecamatan yang mengunjing jika mulutnya tak disiasati dengan bertindak sesuai kebiasaan.


" Maaf ya bang Asep, bukannya saya nggak mau ngajak Abang, tapi saya disini juga diajak. Terkesan tak sopan, kalau tiba-tiba saya bawa orang buat ikut kerja sama saya di sana..!!"


Mendengar ucapan bang Dadang, aku langsung tahu alasan dibalik kedatangan suami dari Indah ini. Indah memang menikah sudah empat tahun, namun belum juga dikaruniai momongan, mungkin bu Uci ketulah omongan sendiri, karena dulu aku bahkan dikatakan mandul saat usia pernikahan kami masih seumur jagung.


" Tolonglah Dang, Abang beneran bingung ini. Tabungan Abang sudah habis karena membiayai kehidupan keluarga Indah sekeluarga. Gaya hedon, tapi nggak modal..hhhh"


Aku menatap penampilan necis bang Asep, bukannya bu Uci bilang jika menantunya ini adalah orang kaya, dan merupakan pemilik perusahaan sawit di kota ?


" Emangnya perusahaan sawit Abang lagi krisis ya bang..?"


Tak tahan , akhirnya aku juga menyuarakan isi pikiranku.


Bang Asep nampak celingak-celinguk ke kiri, ke kanan, dan juga kesamping.


" kalau Abang punya perusahaan sawit nggak mungkin lah dek, abang datang kesini minta pekerjaaan sama suamimu..


Abang ini cuma pekerja, dan terpaksa bohong supaya bisa ngedapetin Indah..hehhe"


Ckckckkc, jadi. Indah dan Bu Uci sudah ditipu mentah-mentah! Pantas saja, Indah yang sangat cantik mau sama modelan kayak bang Asep ini. Ternyata karena harta toh, tapi malah dapatnya tetap zonk..


Aku sebenarnya ingin tertawa, mengingat betapa bang Asep sangat dipuja oleh Bu Uci.


Rupanya ekspresi ku yang menahan tawa, dilihat oleh bang Dadang, membuat suamiku itu malah menginjak kakiku , mengingatkanku akan kesopanan.


" Maaf Bang, apapun alasannya aku tetap nggak bisa ngajak abang..Sekali lagi, aku juga diajak jadi aku tak punya wewenang untuk memutuskan.."


" Alahh...... Sia-sia dong saya datang kesini, bener kata ibuk, palingan kamu kerja nggak halal di kota sana, makanya nggak mau orang-orang pada ikut, biar nggak ketahuan busukmu itu.."


Aku dan bang Dadang saling memandang heran, mengikuti langkah kaki bang Asep yang tampak marah, bahkan kopi buatan ku tadi sama sekali tak disentuh olehnya.


Ternyata, Bu Uci dapat menantu yang sepadan, sama-sama ngeselin dan tak tahu malu..


Tak lama tawaku dan bang Dadang pecah, entah kenapa bukannya marah tapi kami merasa lucu akan kelakuan bang Asep tadi..


" Ya udah dek .Abang ke rumah Emak ya, jemput Dio. Dan soal Asep jangan sampai kamu ceritakan sama orang lain ya dek, biar saja orang pada tahu sendiri nantinya.."


" Iya bang, beres!! Ehh Bara kok diajak juga sih bang.."


" kamu selesaikan pekerjaan kamu aja. Bara biar neneknya yang jaga.."


Aku dibuat terkejut lagi, dengan ulah bang Dadang, sebesar itukah pengaruh rasa rindu ??

__ADS_1


__ADS_2