Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Rezeki tak terduga (ipar baik)


__ADS_3

Adzan Subuh terdengar nyaring, aku segera bergegas mengambil Wudhu dan melaksanakan shalat wajib dua rakaat . Hari ini aku memang sudah bersih dari haid. Dan sudah mandi pagi-pagi tadi sesaat setelah bangun tidur.


" Sudah mandi bersih dek ?"


Aku mengangguk dan membentang sajadah tak memperdulikan bang Dadang, yang baru saja pulang, entah dari mana..


Selesai sholat, aku malah menemukan bang Dadang yang seperti sengaja menungguku.


" Mau ngapain bang ?"


Suamiku itu nyengir dan menampakkan senyum aneh yang selalu aku mengerti apa maksudnya.


" Abangkan sudah lama puasa dek. Boleh ya , abang benar-benar lagi pengen ini.."


Aku mendelik tak percaya, bisa-bisanya dia berucap seperti itu. Apa suamiku ini tak tahu jika aku sebenarnya kesal dengan tingkahnya yang selalu pulang menjelang pagi. mending kalau masih bertanggung jawab akan nafkah. Tapi ini ?


" Nggak bisa bang, aku belum masak. Dan hari sudah mau siang. Aku nggak mau jika harus mandi keramas sekali lagi.."


" Ayolah dek. kenapa sih, nggak ada simpati-simpati nya sama suami..." Suara bang Dadang terdengar merengek persis seperti anak kecil yang minta permen.


" Kalau kamu menolak. Aku bakalan mogok ikut pak haji Minggu ini. Biar sekalian kita kelaparan karena nggak ada uang buat beli beras.."


" APA!!!!"


Aku tersenyum sinis dan menampakkan wajah tak percaya .


" Hanya karena Urusan Burung mu. Kamu mengancam ku bang. Aku nggak ngerti lagi, sebenarnya kamu masih punya otak nggak sih. Atau otakmu sudah pindah ke ************..!!! Hingga nggak mikirin anak-anakmu lagi. "


Bang Dadang tiba-tiba masuk ke kamar saat mendengar suara Bara yang menangis, kupikir dia ingin menenangkan si bungsu . Namun setelah lama dia berada didalam, suara tangisan Bara malah semakin terdengar kencang. Membuatku segera datang ke kamar dan malah menemukan jika bang Dadang menutup telinganya dengan bantal, matanya terlihat terpejam erat. Membiarkan Bara menangis sendirian di sampingnya.


Aku mencoba menahan air mataku yang ingin tumpah. Aku benar-benar telah diuji hati dan mental oleh kelakuan suamiku ini.


Dio menatapku, dia ternyata juga terbangun akan suara tangisan Bara. Aku ikut menatapnya dengan Nanar, dan juga mengajaknya untuk segera keluar dari kamar.


Untungnya Rama sedang tidur di rumah Emak. Jadi, aku tak perlu mengkhawatirkan jika Rama mendengar semua ucapan kami tadi.


Seminggu berlalu, rupanya bang Dadang serius dengan Semua perkataanya pagi itu. Dia benar-benar hanya berada di rumah, meski aku sedikit tenang karena sifat cerewetnya hilang , mungkin dia sengaja mendiamkan ku. Sedang aku merasa ini adalah keberuntungan karena tak lagi berdebat dengan lelaki bergelar suamiku itu.


Aku juga hanya membeli lauk untukku dan juga anak-anak. Bang Dadang yang biasanya pemilih dan harus ada kuah dan sambel sebagai lauk, kini hanya diam saja tak protes ketika aku menyajikan telur dadar dan tak pakai sambel sama sekali.

__ADS_1


Setidaknya kami hemat karena hanya perlu membeli telur dan tak perlu sayur lainnya.


Setelah mencoba berdamai dengan hati dan lebih menerima kelakuan suamiku, hari ini aku melakukan pengukuran untuk baju seragam kami. Meski agak telat, tapi mbak Ira bilang jika dia masih bisa karena masih ada waktu lenggang. Dan Soal baju seragam bang Dadang, aku sengaja hanya membawa ukuran baju yang biasa dipakai nya, supaya tak perlu mengajaknya juga untuk datang kesini.


***


" Mbak sama Bang Dadang, marahan lagi ?" Salsa kini tengah menemaniku di teras rumah emak. Karena waktu pernikahan Agung yang sudah dekat, jadi rumah emak sudah mulai ramai di datangi tetangga.


" Nggak kok Sa, emang kata siapa ? sok tahu kamu."


aku tersenyum mencoba mengelak akan tuduhan Salsa.


" Nggak usah ditutupin mbak. Bang Dadang saja cerita sama Emak. Salsa sampai hapal aduan bang Dadang yang lebih mirip keluhan itu.."


Aku terdiam, entah aduan dan keluhan seperti apa yang telah bang Dadang ucapkan ke Emak. Pantas saja, jika sekarang aku merasa emak memandangku dengan sedikit berbeda seolah ada sesuatu di diriku yang membuatnya kesal.


" Oh Iya mbak, bajunya sudah diambil belum? Soalnya kemarin lusa mbak Ira ngirim pesan ke Salsa kalau semua baju sudah selesai. Aku sengaja belum ambil punya mbak sekeluarga, soalnya takut ukurannya masih kurang pas. Dan harus diperbaiki lagi, tapi aku malah lupa kasih tahu mbak soal ini hehhe"


" Sudah mbak ambil Sa, alhamdulilah soal ukuran semuanya pas dan nyaman dipakai juga.. Makasih ya ,sudah dibayarin.."


" Hahha tenang mbak. Itu bukan uang Salsa kok. Itu uang Mbak Elis calonnya bang Agung. Salsa akrab sama dia, orangnya juga nggak pelit kayak mbak Hesti.."


" Iya mbak. Bapaknya pemilik perusahaan batu bara, di Kalimantan. pokoknya kaya nya pollll..


Keluarganya juga ramah dan menyambut keluarga kita dengan terbuka. Nggak ada kesan merendahkan sama sekali pokoknya.."


" Oh.. Alhamdulilah ya, kalau begitu Sa. Jadi, hanya Bang Dadang mu saja yang punya Istri pengangguran sekarang, bukan sarjana lagi hehheh, "


" Jangan kayak gitu lah Mbak. Kok jadi merendah sih ..!!


Mbak memang bukan sarjana , tapi tetap kakak ipar yang terbaik bagi Salsa. Kalau yang lain kan belum tahu juga sikap aslinya kayak gimana, contohnya mbak Hesti, sebelum sah menikah aku pikir orangnya royal dan baik. Tapi nyatanya zonk..huh"


" Memangnya kenapa sih dengan kamu dan Hesti, Sa. Kok kayaknya kamu ilfill sama dia..?"


" Mbak nggak perlu tahu, apa yang telah terjadi. Yang pasti mbak ingat saja pesan Salsa, jangan terlalu dekat dengan dia ya mbak . Bahaya..!!!"


Aku jujur saja tambah penasaran karena peringatan dari Salsa, tapi untuk menekan adik ipar ku ini aku juga agak sungkan. Takut hubungan kami malah memburuk.


" Ehh ngomong-ngomong soal Hesti, Mbak mu itu sudah melahirkan belum, Sa ?"

__ADS_1


"Kemarin sih, bang Indra telpon. Katanya kalau besok belum ada tanda-tanda bayinya akan lahir maka terpaksa di cesar mbak. Tapi, sampai sekarang belum ada kabar lagi sih.."


" Ohh.. mudah-mudahan semuanya lancar ya Sa, dan baik ibu maupun bayinya sehat selamat sampai lahiran..


Aamiin...!!!"


aku dan Salsa kompak mengaminkan ucapanku.


Handphone Salsa kini berbunyi nyaring, Membuat Salsa sedikit berjingkat kaget. Dengan segera dia membuka hapenya. Dan seketika senyumnya mengembang sempurna..


" Kata bang Dadang, kalian lagi kesulitan bayar angsuran bank ya mbak ? Emang kalau boleh Salsa tahu berapa nominalnya ?"


Salsa memang masih fokus pada layar gawainya, senyumnya bahkan tak hilang sedari tadi. Tapi, sepertinya dia butuh jawaban dari ku atas pertanyaanya


" Kenapa kamu pengen tahu Sa, Emang bang Dadang sampai terbuka seperti itu ya Ke Emak.."


Salsa menyadari jika nada suaraku terdengar lemah, mungkin dia tahu jika aku sedang merasa tak enak hati akan kelakuan abangnya..


Dia memperbaiki posisi duduknya dan kini menatap lekat padaku.


" Aku nggak sengaja dengar mbak. Oh iya mbak !!"


Salsa mendekatiku, " Aku lagi ada rezeki nomplok nih mbak, Aku Transfer ke Mbak ya, mudah-mudahan bisa sedikit membantu kesulitan kalian . Mbak tenang aja, aku nggak akan kasih tahu bang Dadang soal ini. Jadi mbak bebas mau gunain uang ini untuk apa ?"


Ting !!!


Notifikasi dari gawai yang ku simpan disaku terdengar. Ada pemberitahuan transferan dari Salsa sebanyak lima juta rupiah..


" Sa.... kamu nggak salah ketik kan ,nominalnya ? "


Salsa diam saja, dan malah memperlihatkan Saldo yang masuk ke nomor rekening miliknya. Lima puluh juta, tertera dilayar .


" Ini uang Halal mbak, hasil rebahan...." Salsa mengedipkan matanya kearah ku.


" Serius Sa, kamu nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan ?"


" Aman mbak. Aku tahu batasan kok .."


Aku ikut tersenyum, mungkin Salsa akan terbuka nantinya soal semua ini. Dan tugasku, sebagai kakak yang baik adalah selalu mengawasi dan mengingatkan adik perempuan satu-satunya bang Dadang ini.

__ADS_1


__ADS_2