Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Dadang Pergi


__ADS_3

" jadi. Apakah rumah tangga ini bisa diteruskan ? Atau kamu mau menceraikan ponakan ku, Dang ? Keputusan tetap ada padamu, tapi Saya mohon jangan ulangi lagi, perbuatan yang kamu lakukan hari ini padanya.."


Fatma akhirnya menanyakan ini ke Dadang. Karena bagaimanapun dia juga tahu tabiat buruk Sandra.


Rasanya tak elok, jika dia malah terkesan ikut campur apalagi mengatur rumah tangga keponakannya. Dadang memang salah , meskipun tujuannya mau mendidik Sandra. Tapi Sandra juga salah karena telah membuat kesabaran Dadang menipis.


" Kalau boleh usul. Biarkan dulu, Sandra di rumah mu Fat. Biarlah Dadang, menyadari kesalahannya dan lebih mendinginkan emosi yang sepertinya masih menguasai diri. ." Nurdin menatap Dadang dan Fatma secara bergantian. Dan dibalas anggukan oleh Fatma.


" Sekali lagi maafkan kelakuan Dadang ya Fat..!! "


Fatma mengelus tangan Emak yang memegang lengannya. kemudian tersenyum.


"Semoga ini bisa jadi pelajaran bagi mereka Mak !! karena tak akan ada akibat tanpa sebab yang jelas.."


Lastri mengangguk, membalas senyuman Fatma . Kemudian wanita tiga puluh enam tahun itu berdiri untuk pamit pulang, dan Lastri berniat mengantarnya sampai depan pintu.


Tak berapa lama setelah Kepergian Fatma, Nurdin seketika mengebrak meja. Lastri dan Dadang yang nampak masih melamun kini terjingkat kaget karena tak menyangka Nurdin yang biasanya bisa menahan emosi malah mengeluarkan amarah yang begitu besar. Apakah Baginya kelakuan Dadang saat ini benar-benar sudah keterlaluan?


" Cukup sudah kamu menguji kesabaran Bapak Dang, Apapun keputusanmu tentang Sandra. silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini..." Nurdin melengos, tak mau menatap wajah putra sulungnya itu.


" Pak, istighfar, jika bukan di rumah ini. Dadang akan pergi kemana ? keadaan Dadang sekarang sedang sulit dan tertekan. Kenapa Bapak seolah semakin menekannya. Dia anak kita pak, bagaimana bisa bapak mengusirnya seperti ini ?"


Lastri menangis lagi, belum juga hilang kekalutan hatinya karena tingkah Dadang ,kini sang suami malah memberikan keputusan yang menurutnya sangat kejam.


" Bapak Lelah Bu... !!! Sabar itu ada batasnya, kita masih punya anak yang lain. yang bisa kita nasehati..Kehilangan satu, tak akan membuat kita merasa sepi..


Dadang tak pernah mau mendengarkan aku sebagai bapaknya. . Dia seolah hidup di dunianya sendiri. Jadi. Silahkan cari kesenangannya tanpa melibatkan kita sebagai orang tuanya lagi.."


Nurdin kini menangis, tak habis pikir akan kelakuan Dadang yang semakin hari semakin membuatnya dipenuhi catatan hitam. Mungkin inilah saatnya dia menyerah dan membebaskan Dadang melakukan apapun.


" Pak. Kenapa semakin kesini. Dadang merasa dianaktirikan oleh Bapak !! Apakah ini karena Siti juga, menantu kesayangan kalian. Dadang juga terluka pak, tapi kenapa kalian malah tak mau mengerti. Dan sekarang soal Sandra, Dadang sedang berusaha mengajarkan dia bagaimana harusnya bersikap di rumah ini.. Tapi kenapa semuanya seolah mutlak menjadi kesalahan Dadang.."


Dadang terduduk di kursi, menatap Bapaknya yang masih betah berdiri seraya memalingkan muka.


" Melihat tingkah mu sekarang, Bapak yakin, jika kamu yang telah menyebabkan Siti keguguran. Iya kan ,... ?"

__ADS_1


"Pak, semuanya sudah berlalu kenapa mesti diungkit lagi ?" Lastri menyahut, mencoba menengahi suami dan anaknya.


"Seharusnya yang telah berlalu bisa memberi kita pelajaran Bu. Tapi lihat, apakah menurutmu, Dadang telah belajar dari kesalahannya dimasa lalu ? Makin kesini dia malah bertingkah tak tahu diri.." Nurdin semakin berang karena Lastri seolah membela Dadang dan menjatuhkan wibawanya yang mestinya dipatuhi.


" Baik pak, jika itu sudah jadi keputusan Bapak, Dadang bakalan pergi dari sini..sekarang..!!!"


" Dang. Kamu apa-apaan, kenapa malah semakin membuat panas suasana ? Minta maaf sama Bapak Dang, minta maaflah.."


Dadang berdiri tak memperdulikan Emak yang kini menangis semakin histeris. Dia melangkahkan kakinya keluar rumah dengan mantap, tanpa beban sedikitpun..


***


" Gimana keputusanmu Sandra ?" Ini adalah suara bu RT entah sudah berapa lama Sandra terdiam karena suara Salsa tadi. " Apakah kamu mau melaporkan Dadang saja ? Biar dia masuk penjara ?"


Sandra diam menunduk, dia masih menyesali diri kenapa juga dia menjelekkan Dadang dengan bualannya didepan Salsa, yang notabene tinggal serumah dengan mereka. Kalau begini gagal sudah niatnya mencari simpati warga..


Suasana hening lagi, meski para ibu-ibu sangat penasaran akan keputusan Sandra.


Ditengah keheningan, Fatma kini sampai di rumah. Rumah yang masih dipenuhi oleh tetangga yang penasaran, kebiasaan yang tak bisa dihindari jika ada peristiwa yang membuat heboh.


" Gimana Tante ? Bang Dadang mau mengakui kesalahannya dan minta maaf. Kalau dia nggak minta maaf aku nggak akan pulang ke rumah itu lagi.."


Sandra memasang wajah sedih, membuat Salsa yang sedari tadi menyaksikan drama ini malah tersenyum heran.


Tapi dia sengaja tak mau membuka aib Sandra, biar saja semua kebohongan perempuan licik ini, membuatnya kelimpungan sendiri nantinya.


" Sudah jangan bahas itu dulu. Maaf ya bu RT dan Ibu-ibu semuanya, masalah ini sudah saya bicarakan sama Dadang, dan juga orang tuanya. Jadi, ibu Rt dan juga kalian semuanya bisa pulang sekarang. Karena saya ingin bicara secara pribadi sama ponakan saya. Sandra.


Maaf jika sikap saya kurang sopan.. "


" Oh , ya sudah . Syukurlah kalau sudah selesai mbak Fatma ,..kalau gitu.saya pamit ya.. Assalammualaikum..!!"


Bu Rt beranjak dari duduknya diikuti oleh ibu-ibu yang lain.


Meski ada saja yang ngedumel karena tak bisa mendengar langsung akan kearah mana perkara KDRT ini akan bermuara..

__ADS_1


" Kok gitu sih Tan, kenapa ibu-ibu itu disuruh pulang ? Biar saja mereka jadi saksi akan kelakuan Dzolim Dadang ke aku ?"


Sandra merengek bak bocah didepan Fatma, setelah ibu-ibu telah tak terlihat lagi dimatanya.


" Oh berarti kamu siap jadi janda yang kedua kalinya ? Dan kamu juga siap membesarkan anakmu ini sendiri. Atau kamu mau punya suami narapidana..?"


Fatma berkata dengan geram, bagaimana bisa Sandra tak sadar akan apa yang telah dia lakukan ,hingga Dadang menamparnya.


"Tante kok gitu, aku kan korban . Kok kesannya tante malah nyalahin aku sih ?"


" Kalau kamu merasa kamu itu korban, ya pilihannya cuma itu..


Iyakan Sa.."


Glek


Sandra merasa telah menelan batu ditenggorokan nya , bagaimana bisa dia lupa lagi. Jika disampingnya masih ada Salsa. Kenapa gadis itu tak ikut pergi bersama ibu-ibu tadi ?


" Iya , mbak ..!! Aku juga sudah mengusulkan hal yang sama tadi. Tapi mbak Sandra nya malah diam saja .." Suara Salsa terdengar sedih..


" A...nu..anu... a...kk..akkku..aku memutuskan akan memaafkan Bang Dadang kali ini. Tap...pi.. ta-pi jika diulangi lagi aku bakalan minta cerai.."


Sandra menjawab terbata-bata, karena benar-benar terpojokkan sekarang.


" Nah itu baru betul San. lagian Emak juga sudah kasih tahu Tante gimana tabiat mu kalau di rumah mertua. Cobalah ringankan sedikit tanganmu, jangan hanya bisa tidur dan makan saja yang kamu bisa. Kalau kamu nggak berubah, mungkin Dadang bisa saja berbuat yang lebih buruk.."


" Ya Tante, Sandra minta maaf. Tapi Sandra kayak gitu juga kan karena lagi hamil !! Bawaan Bayi, jadinya malas.."


Fatma malah tertawa, membuat Salsa dan Sandra menatapnya bingung.


" Jangan membela diri dengan kebohongan San. Tante juga sebenarnya sebal dengan sikapmu yang pemalas dan jorok. Tapi kamu beruntung, memikirkan kamu yang sudah pisah dan ditinggalkan orang tua sedari kecil, membuat tante tak tega memarahimu. Dan sekarang kebiasaan itu malah kamu bawa dalam pernikahanmu dan Dadang, wajar kalau dia tak bisa menahan emosinya.."


Salsa menutup mulutnya dengan tangan. coba saja jika dia sudah dekat dan akrab dengan Mbak Fatma, sudah pasti dia sudah tertawa lepas dan puas karena telah mendengar kebenaran dari tante sang kakak ipar tersebut..


" Maka dari itu, rubah sikapmu mulai sekarang, kalau kamu tak mau jadi janda lagi. ."

__ADS_1


Sandra menunduk, tak lagi bicara. Salsa dan Mbak Fatma saling pandang, berharap Sandra bisa berubah kearah lebih baik.


__ADS_2