
Dadang menghabiskan waktu dengan tiduran sambil menonton televisi di rumah Emak. Sebenarnya ia ingin sekali pulang ke rumah, tapi mengingat ucapan dan kelakuan Siti tadi, membuatnya mengurungkan niatnya, Mungkin dia harus bicara dan mendengarkan nasehat seperti apa dari kedua orang tuanya terlebih dahulu, biar dia tak merasa tertekan juga dengan keadaan ini.
Hari kini menjelang sore, emak dan Bapak akhirnya pulang juga. Dadang yang sedari tadi telah duduk di teras memang telah menunggu kedatangan keduanya, kini berdiri menyambut kedua orang tuanya itu.
" Loh Dang, kenapa sore-sore sudah disini ?" Emak bertanya langsung, menilik tingkah Dadang yang datang saat ingin mengadukan sikap Siti, tentu saja Emak malah berpikir kearah sana .
" Jangan bilang ada masalah lagi..!!"
" Udah lah Bu, nanti saja interogasinya, mending kamu mandi duluan sana..!!"
Nurdin mendorong Lastri istrinya kedalam. Sementara dia kini memilih duduk dulu didekat Dadang menunggu giliran sampai istrinya selesai mandi.
" Apa benar tebakan ibumu tadi Dang ?" Nurdin menyalakan rokoknya, agak heran Dadang tak ikut merokok juga, biasanya anak sulungnya itu bahkan selalu menagih terlebih dahulu, menanyakan tentang rokok..
" Ya pak ...!!!"
Dadang menjawab lesu, dan kini menangis. Sesuatu yang tak pernah Nurdin lihat semenjak Dadang beranjak dewasa.
Nurdin menepuk pundak Dadang dengan pelan,
" Masalah apalagi Dang ? Kamu apakan lagi istrimu ?"
"Sepertinya Siti nggak bisa maafin Dadang pak ? Dia tadi sampai histeris didepan Dadang, membuatku takut terjadi apa-apa sama dia pak. Dia seperti trauma kalau dekat-dekat denganku pak !!"
Nurdin menghela nafas panjang, dia pikir semuanya sudah selesai dan rumah tangga Dadang akan baik-baik saja , tapi nyatanya, tak semudah itu mengobati luka hati Siti.
" Jujur saja Dadang, Bapak kehabisan kata kalau sudah seperti ini. Jika saja dari awal kamu mau mendengar nasehat bapak , semuanya nggak akan seperti ini kejadiannya. Jangan salahkan sikap Siti Dang Bapak nggak tahu sedalam apa kamu sudah membuat hatinya terluka, ,?" Nurdin menyadari jika sifat keras kepala Dadanglah yang membuatnya menjadi rumit seperti ini,
__ADS_1
" Terus pak ...,Apa yang mesti Dadang lakukan ? Siti minta Dadang bersikap biasa saja, tapi dia bahkan tak mau bicara dan bersentuhan denganku, pak !!"
" Telpon Dewi, Dang. Jika sudah separah itu kondisi Siti. Lebih baik kita biarkan dia bebas dulu. Tekanan pada Batin bisa membuat orang menjadi Depresi, kasihan anak-anak jika sampai hal itu terjadi.."
"Bagaimana jika bude minta aku menceraikan Siti Pak ? Aku masih sayang sama dia, dan tak mau cerai..."
" Dang,.kamu belum sadar juga kesalahanmu ? kalau kamu sayang, maka lepaskan dulu dia. Biarkan dia tenang tanpa hadirmu, jangan Egois lagi. Jikapun kalian bercerai, itu lebih baik untuk sekarang .."
Dadang histeris , dia bersimpuh.
Sungguh dia tak ingin bercerai, tapi melihat Siti seperti tadi, membuat naruni nya terketuk juga, tak ingin melakukan hal yang lebih kejam lagi pada Sosok ibu dari anak-anaknya itu.
Lastri datang dan menenangkan Dadang, meski tak tahu apa yang menyebabkan Dadang seperti ini.
" Kenapa dengan Dadang Pak ?"
" kita harus kerumah Dewi , Lastri. Hubungan mereka sepertinya tak bisa diperbaiki lagi, jikapun memaksa, maka Siti yang akan terkena imbasnya.."
" Ini kenapa sih Pak ? Bingung aku, padahal kan Dewi baru saja pulang tadi pagi. Kenapa sudah seperti ini hubungan mereka ? Kamu buat salah lagi Dang ? "
" Sudah Mak, jangan bikin Dadang semakin sedih.. Nanti saja bapak ceritakan semuanya.."
***
Siti kini tengah menemani Bara dan Dio di rumah Mbak Salma, sebenarnya dia tadi telah ke rumah emak. Namun melihat ada Dadang dan juga bapak diteras, Siti mengurungkan niatnya dan malah berbalik arah untuk kembali pulang ke rumah
Untungnya baik Bara maupun Dio tak ada yang mengeluarkan protes dan memilih mengikuti langkah Siti, Teringat wajah Dadang tadi.membuat Siti semakin benci. Apakah suaminya itu mengadu lagi dengan orang tuanya dan akhirnya dia yang akan dihakimi dan disalahkan lagi..
__ADS_1
memikirkan itu membuat Siti kini malah melamun, dia bahkan tak lagi mendengarkan ucapan Salma yang kini tengah bermain dengan anaknya.
" Rahim kamu benar-benar diangkat Ti ? Kok bisa ? Kamu nggak jadi korban KDRT kan ? Soalnya banyak yang bilang kamu teriak sebelum Dadang keluar untuk minta pertolongan waktu itu, Mbak pikir , cuma salah dengar karena ikut panik.. !!"
Hening. Siti hanya menunduk, membuat Salma menyentuh pundaknya , dan berhasil membuat Siti sedikit kaget.
" Kamu mikirin apa lagi ? Masalah rumah tangga kalian kan sudah selesai, Ti..!! "
" Entahlah Mbak . Aku masih trauma, dan mungkin tak akan bisa sembuh. aku kini benar-benar menyerah Mbak. Tapi ? Aku bingung mau pulang kemana ?"
Salma menghela nafas, dia tahu persis luka hati yang dirasakan Siti,.terlebih setelah kejadian yang telah merenggut anak bahkan rahimnya, tak akan mudah bagi Siti untuk bersikap seperti sedia kala pada sosok Dadang sang suami.
" Bukankah kalian sudah buat surat perjanjian Ti. Apa itu tak cukup bagi kamu sebagai penguat dan pegangan jika sewaktu-waktu Dadang berulah lagi.."
" Aku bingung mbak, Bang Dadang memang tak berulah banyak, tapi sikapnya yang pemalas yang membuatku muak, apalagi jika nafsunya tak dipenuhi, akan dia jadikan alasan membenarkan semua sikapnya. Ini bukan satu atau dua kali mbak , aku menyerah, aku nggak mau dia minta maaf tapi kembali ke sifat asalnya terus menerus.."
Siti menangis meski tertahan takut kedua anaknya yang bermain menjadi terganggu. Sejujurnya dia tak mau bercerita terlalu banyak, namun menahan perasaan sakit ini sendirian akan membuat dirinya semakin tertekan dan bisa saja kehilangan akal sehat.
" Mbak juga nggak tahu harus memberi nasehat seperti apa, yang menjalani rumah tangga ini adalah kalian, jikapun Dadang akhirnya benar-benar berubah kali ini, tapi hati kamu masih menyimpan dendam dan luka. Itu tak akan berakhir baik juga bagi hubungan kalian.."
Siti memeluk mbak Salma, sejauh ini hanya perempuan ini yang dia percaya untuk mencurahkan isi hati dan kekecewaannya atas sikap Dadang, " Apa aku harus menghubungi bude, agar dia datang kesini menjemput ku , Mbak ? Tapi, pasti bude bakalan sedih dan aku nggak mau melihatnya seperti itu, terlebih karena nasib rumah tanggaku yang sangat berantakan, dan tak mampu lagi diselamatkan.."
Salma memandang Siti dengan prihatin, Siti masih terlalu muda untuk menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, dia juga hanya sebatas penonton disini, meskipun dia seolah ikut merasakan perasaan Siti. Tapi yang paling tahu dan menyadari semuanya adalah diri Siti sendiri.
" Lakukan apapun yang menurutmu terbaik, Siti. Anak-anak butuh seorang ibu yang tetap bisa menjaga kewarasannya. Jika bertahan disisi Dadang membuat kamu trauma dan tertekan. Maka lepaskan,, Mbak akan dukung apapun yang jadi keputusanmu nantinya.."
.
__ADS_1