Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Luka dan bahagia


__ADS_3

Hari ini , Siti ikut bude ke kebun Sawit. Dia juga mengajak ketiga buah hatinya, karena memang hari ini adalah weekend. sengaja Siti mengajak Rama dan kedua adiknya, biasanya sangat senang jika diajak kesini. Mereka bisa berburu jamur sawit yang banyak dan meminta Siti, sang ibu untuk memasaknya menjadi Sup. Meskipun jarang diajak jalan-jalan, mereka sangat bisa menenangkan Siti dengan tingkah pola mereka yang selalu tampak bahagia meski hanya melakukan kegiatan ataupun hal yang sebenarnya sangat sederhana dan murah meriah bahkan gratis.


"Bu !! Kok om Fian menghilang lagi ya ?" Rama bertanya, Diantara ketiga anak Siti. Rama lah yang paling dekat dengan Fian, sebab itulah dia meminta Fian menjadi Ayahnya waktu itu.


Meski tak lagi dibahas oleh Rama, Siti tahu jika anak sulungnya itu masih menyimpan harapan yang sama.


" Sayang !! Setiap orang itu punya kehidupan sendiri-sendiri. Mungkin om Fian punya pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Jadi, Kamu jangan terlalu berharap ya, ketemu terus sama omnya, "Siti berucap ramah, mencoba memberi pengertian akan pertanyaan Rama.


Rama menunduk lesu, " Coba saja Ayah ada disini sama kita. Rama nggak bakalan kayak gini Bu, Sekarang kan Ayah sudah menikah lagi dan bakalan punya anak juga. Pasti dia nggak akan sayang lagi sama kami.!!"


Siti mencelos, Matanya menatap Bude Dewi raut wajah sedih. Selalu saja, seperti ini. Jika Rama sudah berpendapat maka Pada akhirnya pembicaraan antara Rama dan dirinya, selalu saja membahas akan sosok seorang Ayah.


" Abang ngerti kan posisi Ibu !!" Siti mencengkram kedua lengan Rama, memastikan jika anaknya itu menatap tepat dimatanya yang kini berkaca-kaca.


Bude Dewi memegang lengan Siti. seolah tahu jika Siti sudah mulai terpancing emosinya. Dapat dilihat dari raut wajah serta gerak-gerik dari ponakannya itu. Dan hal ini tentu saja tak bisa jika dibiarkan.


" Bang !! sebaiknya temenin dek Dio dan Adek Bara gih, kayaknya mereka lagi kesulitan tuh , karena wadahnya sudah penuh ." Bude mengalihkan pikiran dan pandangan Rama, agar tak melihat lagi mata ibunya.


Rama memandang neneknya dengan menganggukkan kepala, kemudian dengan segera mendekati Dio dan Bara yang nampak kesulitan karena membawa ember yang sudah penuh dengan jamur.


Melihat Rama yang telah menjauh, Bude mendekati Siti. Kini dia dapat melihat jelas jika Siti kini menangis dalam diam. Kedua matanya memandang sedih tiga buah hatinya dengan Dadang itu.


" Ti !! Jaga emosi kamu ! dan jangan meminta pengertian pada anak-anakmu, kamu ibunya, seharusnya kamu yang mengerti mereka ."


" Maafkan aku bude, tapi jujur aku lelah bude, menunggu dimana saat mereka mengerti, aku juga sakit bude, bukan inginku juga semua ini terjadi di hidupku.."


Dan mendengar ini Bude memilih untuk diam, dia memang tak pernah merasakan seperti apa hal yang telah dijalani Siti dulunya, saat masih berumah tangga dengan Dadang. jadi bukan salahnya juga mengambil keputusan untuk memilih cerai.


" Assalammualaikum Bude, Siti ! Kalian kenapa ? "

__ADS_1


Fian melihat kedua wanita itu dengan penasaran, keduanya bahkan tak mendengar suara mesin mobil Fian.


" Itu anak-anak sudah jauh di sana..!"


Fian menunjuk kearah Rama dan adik-adiknya yang berada jauh dari jangkauan, nenek dan ibunya.


" E eh Rama !!! Kesini Bang, jangan terlalu jauh cari jamurnya ..!" Siti berteriak nyaring, dan berhasil menarik perhatian ketiga anaknya.


Ketiganya kini berlari, dengan bahagia. Bahkan ember yang berisi jamur tak lagi mereka perduli kan. Meski agak aneh dengan reaksi ketiga anaknya namun setelah dekat, Siti mengerti. Rupanya sosok Fianlah yang berhasil membuat raut bahagia ketiga buah hatinya kembali lagi.


" Om Fian !!! " Suara Rama bertepatan saat mereka menghambur ke pelukan Fian yang sudah berjongkok, seolah telah siap dengan serangan ketiganya.


Sementara Siti semakin merasa terharu ketika Fian menyambut ketiga anaknya dalam pelukan lelaki itu, dalam hati Siti mengucapkan terima kasih tak terhingga akan kehadiran Fian disini sekarang, namun dia tak bisa untuk mengatakan langsung pada sosok lelaki itu, memilih diam dengan air mata penuh kebahagiaan.


" Kenapa nggak main lagi ke rumah Om !! Kita kangen loh " Suara Dio terdengar, meski tak sedekat dengan Rama, namun rupanya Dio yang biasanya agak cuek kini mampu mengutarakan perasaannya dengan manis ke Fian.


"Om juga kangen kok !! ini oleh-oleh, sekaligus hadiah permintaan maaf om karena sudah membuat kalian kangen.." Fian menyerahkan kresek pada masing-masing anak Siti.


" Hayooo !!! Bilang apa ke om nya ?"


Siti mendekat mengelus kepala Bara ,sembari membantu bocah itu mengeluarkan isi Kresek ternyata berisi mainan berupa mobil-mobilan dengan remote kontrol.


" Makasih om..!!"


Kompak. baik Rama,Dio dan juga si bungsu Bara, mengucapkan kata itu dengan ceria.


Dan jiwa anak-anak yang hanya ingin bermain kini sepertinya mulai dilakukan ketiganya, apalagi mereka sekarang punya mainan baru. Jadilah kini mereka sibuk dengan mainan masing-masing. Tak lagi memperdulikan tiga sosok dewasa yang sedari tadi menatap mereka dengan penuh senyum bahagia.


" Makasih ya Fian !! " Siti berucap tanpa menatap kearah Fian, dia masih fokus pada ketiga anaknya.

__ADS_1


" Aku benar-benar merasa beruntung, karena ada kamu di hidupku ..!"


Seolah tak sadar akan apa yang telah dia ucapkan. Siti tetap saja, fokus pada anak-anak.


Sementara Fian, dia jelas saja merasa bahagia akan ucapan Siti, kini menatap wanita pujaan hatinya itu dengan senyum penuh, tak menyangka jika akhirnya Siti mengatakan hal manis itu untuknya.


" Kemana kamu beberapa hari ini Yan ? Tumben nggak ke rumah, dan hanya nyuruh sopir buat jemput sawit.." Bude tak tahu dengan reaksi Fian akan ucapan Siti. mencoba membuka obrolan.


Fian kini menatap bude,


" Aku baru pulang antar Vanny dan Aisha Bude !! Vanny benar-benar nggak bisa jika dipisahkan sama bundanya itu,," Fian menarik nafas dengan berat, mengingat jika putrinya itu benar-benar tak bisa jauh dengan Aisha, bundanya. Yang merupakan Adik kandung dari ALMH istrinya,


"untungnya calon suami Aisha mengerti, dan tak masalah jika harus mengasuh Vanny.."


Fian menjelaskan, masih tampak kesedihan saat ia mengatakan itu. Ayah mana yang rela dipisahkan dengan anak satu-satunya, meski sebelumnya mereka memang tak bersama.


" Sabar ya Yan, suatu saat Vanny akan mengerti jika kamu juga menyayanginya.."


" Semoga bude. Makanya aku senang saat Rama dan adik-adiknya menyambutku seantusias tadi. Aku merasa ruang kosong itu telah terisi meski tidak seutuhnya.." Senyum tulus kini terbit dibibir Fian.


Siti yang mendengar penuturan Fian , ikut merasakan kesedihan yang sama. Baginya, seorang anak siapapun itu memang butuh sosok ayah, apalagi seusia Vanny.


" ....Dan semoga, aku diberi izin untuk mendapatkan panggilan bapak dari mereka. Tentunya setelah ibunya setuju akan hal itu ?" Fian kini menatap kearah Siti.


Sementara sang objek ,rayuan gombal Fian. kini malah memalingkan wajah , salah tingkah. Siti tak menyangka jika Fian selalu saja mencari celah kelemahan dari dirinya.


" Sebaiknya kamu jaga jantung ponakan bude ,Fian !! Jangan mendadak begini,..!!"


Bude nyeletuk, saat melihat kedua orang dewasa ini tatap-tatapan dengan wajah malu-malu.

__ADS_1


" Eh Bude, kenapa malah merusak suasana yang romantis ini sih ?" Fian memang menggerutu, namun matanya masih sempat-sempatnya mengedip genit kearah Siti yang semakin salah tingkah.


...,...


__ADS_2