Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Fian kecewa


__ADS_3

" Sampai kapanpun. Aku tak akan bisa memberimu keturunan, Fian !"


Fian tertawa , dia seolah mendengar hal yang lucu dari perempuan yang baru saja menerima pinangannya.


" Kenapa ?"


" aku tak punya rahim lagi !!"


Cukup lama Siti menunggu reaksi Fian. Namun lelaki itu hanya diam, tak bereaksi sama sekali. Membuat Siti dilanda gelisah ..


" Jika kamu merasa keberatan dengan itu, maka tak mengapa jika keputusanmu tentangku kamu rubah..!!"


Dering hape mengalihkan fokus Fian. Lelaki itu kini nampak menatap serius ke layar pipih ditangannya.


" Ti. Anakku sakit !! Jadi aku harus segera ke rumah sakit sekarang !!" Ujar Fian panik, dia bahkan langsung berdiri dan pergi, tanpa menatap ekspresi Siti..


Bude Dewi turut sedih ketika Siti menitikkan air matanya saat Fian pergi tadi. Dia tahu jika lelaki itu pasti kecewa akan apa yang Siti ungkapkan. Namun kenyataan itu tak bisa untuk diubah sampai kapanpun.


Hari berganti dengan cepat, tak terasa sudah satu Minggu, Fian menghilang tanpa kabar. Seolah telah menegaskan keputusannya, lelaki itu bahkan tak pernah menghubungi Siti lagi, sementara Siti, Dia takut Fian malah mengabaikan pesan dan telpon darinya jika hal demikian ia lakukan.


Jadilah dia hanya bisa menunggu dan menunggu. Membuatnya jadi pendiam dan kurang semangat.


***


Dadang akhirnya pulang ke rumah, setelah sepuluh hari bermalam di dangau milik pak haji. ketika sampai, pintu rumah tampak terbuka Dadang yang seolah dibuat terpanah akan kondisi diluar rumahnya, tepatnya dihalaman tempat dimana pohon mangga berada kini dipenuhi sampah, baik sampah daun mati dari mangga maupun sampah plastik. Dadang tak mau memikirkan itu, dia sekarang fokus masuk kedalam dan menemukan hal yang sama didalam rumah. Rumah ini seperti tak berpenghuni saja dengan debu dan juga sampah makanan siap saji ditiap sudutnya.


" Sand....Sandra !!!" Emosi Dadang sudah diubun-ubun. Dia sangat lelah dan juga lapar, tapi tak ada lauk dan bahkan nasi yang tersedia dimeja makan. Meja berukuran dua kali satu meter itu hanya dipenuhi oleh piring kotor yang telah tampak berjamur,


Dadang akhirnya sadar jika istrinya tak ada di rumah sekarang. Dia tertawa miris, entah kenapa tuhan menghukum dirinya sekejam ini..

__ADS_1


Tak lama, senyum terbit dari bibirnya namun matanya malah mengalirkan air mata. Dia benar-benar sudah diambang batas sabar.


Dadang keluar dari rumah. Tak perduli walau dia belum mandi. Dia hanya punya satu tujuan. Yaitu mencari Sandra, sang istri..


" Katanya Bu haji, hari ini Dadang pulang Sand !! Kamu sudah masak belum ?" Fatma menatap Sandra yang sibuk dengan hapenya, entah darimana Sandra bisa membeli hape itu.


" Oh ya. Beneran tan !! wah , aku pulang dulu kalau begitu . Titip Kania ya Tante. Aku mau masak..!!" Sandra meletakan hapenya disaku celana, ingin beranjak dari tempat duduknya.


" Nggak usah. ..!! jangan pulang lagi. Hari ini dan detik ini juga aku talak kamu dengan talak tiga..!!"


Dadang bicara lantang, tak perduli akan banyaknya ibu-ibu yang berkumpul karena membeli lauk masak di warung mbak Fatma..


" Astagfirullah Dang ! istigfar kamu. Ini bulan puasa, kenapa tiba-tiba kamu ceraikan istri kamu. Bukannya kamu baru pulang dari kebun kopinya pak haji ?" Mbak Salma menatap Dadang yang tampak ngos-ngosan...


" Mbak lihat sendiri kelakuan minus akhlak mahluk tuhan yang satu itu. Rumah bukannya bersih dan rapih tapi malah dijadikan TPA, isinya sampah semua..!!"


Salma memandang Sandra yang kini telah menangis dan menunduk. Dia sebenarnya tahu kelakuan Sandra yang memang tak pernah berberes rumah sedikitpun, yang dilakukan perempuan muda itu hanyalah bermain hape seharian, entah sedang apa dia dengan benda pipih itu..


Fatma ikut bersuara, agak kesal Dadang menalak Sandra didepan banyak orang seperti ini.


" Nanti malah kamu tak dianggap lagi oleh keluarga kamu !!"


" mungkin itu lebih baik mbak, daripada aku malah jadi orang stress karena beristrikan perempuan seperti Sandra.."


Dadang berlalu, tak ia pedulikan tatapan para ibu-ibu yang tampak menyiratkan banyak ekspresi. Baginya dia sudah terlalu lama memendam sabarnya karena kelakuan Sandra yang tak pernah berubah malah semakin menjadi..


Karena rasa lapar yang kini tak tertahan, Dadang malah menuju rumah bu haji. Ingin meminjam uang untuk membeli nasi uduk di gang depan. Dia sama sekali tak punya uang pegangan lagi.


Bu haji menyambutnya dengan ramah, Saat bapak tiga anak itu mengucapkan salam dan ikut duduk di teras rumah bersama mereka yang memang bersantai sembari menunggu waktu buka.

__ADS_1


" Pak, saya mau pinjam uang lagi . bolehkah pak ?"


" Loh Dang, kan kemarin Sandra istrimu datang kesini pinjam uang satu setengah juta. Bukannya nggak percaya dang, tapikan kasihan kamunya kalau tenaganya sudah dibayar duluan. Hutang kemarin saja belum lunas ?"


Dadang tak sanggup berkata-kata lagi. Dia sepertinya sudah benar-benar dibodohi oleh Sandra. Dan ini tentu saja tak bisa dibiarkan..


Saat sedang sibuk bergelut dengan pikirannya, terdengar suara salam dari seseorang yang amat dikenalnya. Mbak Fatma, Tante dari Sandra rupanya mengantarkan lauk masak pesanan bu Haji. pucuk dicinta ulampun tiba akhirnya dia punya kesempatan untuk membuka kelakuan ajaib Sandra yang telah melampaui batas .


"Eh mbak bilang sama Sandra bayar sendiri hutangnya dengan Bu haji. Dia bukan lagi tanggung jawab saya..!! Dan Bu haji, maaf ya, silahkan tagih yang bersangkutan. Karena Saya dan Sandra sudah bukan lagi suami istri mulai hari ini, lagian dia berhutang juga tanpa persetujuan dan sepengetahuan saya...!!"


Fatma menatap Dadang dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Dia bingung harus bereaksi seperti apa ! Dia tahu sejarang .Rupanya, Sandra membeli ponsel karena meminjam uang pada Bu haji mengatasnamakan Dadang.


" Kalau boleh tahu, berapa nominal yang dipinjam sama Sandra bu ?"


" Satu setengah juta Fat !! bagaimana ? apakah kamu mau membantu membayarnya ! atau saya sendiri yang akan mendatangi Sandra, memintanya untuk menjadi pembantu di rumah saya selama dua bulan tanpa digaji !!"


cukup lama Fatma terdiam, dan kini seolah telah mantap dengan jawaban yang dia dapatkan Ia memandang yakin kearah Bu haji.


" Silahkan tagih dan bicarakan dengan yang bersangkutan Bu !! Saya tidak akan membantu walau sepeserpun. Semoga dengan ini bisa membuat keponakan saya jera dan berubah..!"


Fatma sebenarnya tak tega, jika Sandra bekerja di rumah Bu haji. Yang dikenal cerewet dan perhitungan. Namun jika tidak diberi pelajaran maka sampai kapanpun. Sandra akan tetap berbuat keliru dan akan merasa terbuai dengan semua kemudahan dan dukungan yang diberikan olehnya sebagai pengganti ibunya.


Fatma pamit. Sementara Dadang tetap berada disitu.


" Kamu butuh uang untuk apa Dang ?"


Bu haji akhirnya bersuara, dia memang perhitungan namun dengan Dadang seolah dia telah menjamin, karena Dadang bukanlah sosok yang perhitungan dalam bekerja. Dia takut jika Dadang malah meminjam uang dengan orang lain dan itu artinya dia akan kehilangan buruh setangkas lelaki dihadapannya ini..


" Untuk makan. Bu !! Sandra sama sekali nggak masak, ataupun cuci piring sepeninggal saya kerja sama Bapak !!"

__ADS_1


Kedua suami istri itu berpandangan, merasa jika hidup Dadang sungguh memprihatinkan. Bisa-bisanya Dadang mendapatkan Istri ajaib macam Sandra..!!


__ADS_2