
Hari ini Dadang dan Siti kembali ke rumah mereka sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui semalam. Mereka akan memulai semuanya dari awal, salah satunya adalah dengan kembali menghuni rumah mereka agar hubungan yang terasa dingin ini menghangat kembali. Bude Dewi juga nampak antusias Ketika Bara dan Dio menggandengnya ke arah rumah bocah itu dan menunjukkan koleksi mainan mereka yang sangat banyak, namun tak ada yang benar-benar utuh dan sempurna. Bude bisa menebak jika ini adalah ulah brutal cucu-cucunya yang memang sedang tak bisa jika dinasehati, seusia Dio dan Bara memang akan bersikap semaunya mereka sendiri.
Dadang dan Siti memang belum bicara secara pribadi berdua, Siti masih terkesan menghindar jika Dadang hendak mengajaknya bicara, Situasi ini dipahami oleh bude Dewi. Namun untuk menekan Siti dia juga merasa tak perlu. Biarlah putrinya itu, menyadari sendiri akan sikapnya yang keliru .
" Sabar ya Dang ! Walaupun bude terlihat sedikit memaksa Siti. tapi bude pastikan jika Siti bukanlah perempuan kejam dan tega . Apalagi kamu kan ayah dari anak-anaknya. Bude harap kamu mau belajar dari kesalahan, meskipun di mata bude kamu tak berbuat buruk, tapi bude juga tidak bisa menilaimu dengan objektif seperti Siti karena kondisi kita yang memang terpisahkan jarak.."
" Semoga saja Siti memaafkan Dadang bude. Aku sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi pada Siti. Maafkan aku juha bude jika telah menyakiti bude lewat Siti. Tapi kali ini aku berjanji akan belajar lebih memahami repot nya seorang istri dan ibu dari tiga anak seperti Siti. Walaupun mungkin terlambat tapi sebisa mungkin aku akan berusaha membuat Siti yang ceria dan periang kembali lagi seperti dulu.."
" Bude mau pembuktian Dadang. Seenggaknya kalian harus pikirkan anak-anak yang telah hadir ditengah-tengah kalian . Punya anak bukan sekedar memberi mereka makan, tapi juga memastikan kebahagiaan mereka, Mental dan watak mereka harus dibentuk dengan baik diusia dini. Agar tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari .di hati kita sebagai orang tuanya .."
Dadang mengangguk . sikap lemah lembut bude Dewi membuat Dadang merasa tertohok. Tak bisa dibayangkan olehnya seberapa besar dampak dari kelakuannya yang sering membentak dan membanting barang didepan anak-anaknya.
Meski kini belum menimbulkan perubahan signifikan pada ketiga buah hatinya. Bisa jadi dampak ini akan timbul dikemudian hari. Memikirkan kemungkinan itu membuat Dadang semakin merasa bersalah.
***
__ADS_1
Kini mereka tengah duduk di teras rumah. sembari mengawasi Dio dan Bara dalam bermain. Dadang, Siti dan bude Dewi juga nampak menyantap pisang goreng dengan ditemani secangkir kopi.
" Bude besok akan pulang Ti ! Rasanya terlalu lama bude menunda kepulangan bude. Nanti malah karena bude seolah lengah hal ini malah di manfaatkan pencuri yang pandai membaca peluang.."
Bude berucap dengan tenang. Matanya malah fokus ke sosok Dua bocah yang nampak ribut karena berebut mainan.
" Kalian yang akur ya, rasanya aneh saja saat bude datang kesini tapi di situasi yang membuat bude ngerasa nggak nyaman..
Untuk kamu Siti, bude minta kamu baca kembali surat perjanjian itu, jangan terlalu larut dalam dendam nak. Nggak baik. Waktu memang tak bisa diputar tapi kita bisa memperbaiki masa yang akan Datang. Sebentar lagi kan musim panen kopi. Kamu sudah bisa untuk bantu Dadang di kebun kalian. mulailah semuanya dari awal, pikirkan masa depan anak-anakmu.."
Dadang sedari tadi memperhatikan raut wajah Siti yang nampak kosong, apakah seberat dan sebesar itukah rasa benci wanita yang sudah memberi tiga anak padanya..
" kalau begitu, biar Dadang suruh emak untuk bikin bubuk kopi bude. Kebetulan buah kopi yang dipanen kemarin sudah kering . Sebagai oleh-oleh, Bude kan pencinta kopi.."
" Bawa kesini aja bang ! Biar Siti yang buat bubuk kopinya.." Usul Siti, membuat Dadang hanya mengangguk mengiyakan. Dan segera ke rumah emak untuk mengambil buah kopi yang sudah kering untuk diolah menjadi bubuk kopi.
__ADS_1
Bude tersenyum akan respon Siti, setidaknya mereka tak lagi hanya saling terdiam dan acuh. " iyah Dang sekalian bude juga kangen ngaduk-ngaduk buah kopi di atas wajan .." senyum bude merekah.
Siti segera beranjak setelah menitipkan kedua anaknya ke bude. Dia kini menuju kearah samping mempersiapkan api untuk menyanggrai buah kopi hingga hitam dan renyah, proses pembuatan bubuk kopi disini memang dilakukan secara manual. Untuk menghasilkan bubuk kopi terbaik, dalam pengolahannya memang tak mudah. Karena harus sering dibolak balik dalam wajan khusus yang terbuat dari besi. Jika tidak maka buah kopi tidak akan matang sempurna dan tentu saja hal ini mempengaruhi cita rasa kopi ketika nanti diseduh. Jadilah para ibu-ibu akan berada didepan wajan dengan api besar menyala selama berjam-jam. Tak heran jika kualitas dan rasa dari kopi seduhan di desa mereka dapat diakui ditingkat kabupaten.
Dadang telah kembali lagi ke rumah dengan membawa sebakul biji kopi yang telah dicuci dan diletakkan dibawah terik matahari selama minimal satu jam agar biji kopi tak terlalu basah, jika basah maka prosesnya akan memakan waktu lebih lama lagi dalam menyangrai nya.
" Kebetulan emak memang mau nyangrai juga hari ini. Niatnya tadi kasih bubuk kopi yang jadi aja ke kita dek, Tapi karena kamu maunya ngolah sendiri jadi emak sengaja memberikan yang sudah sedikit kering biar nggak nunggu terlalu lama . " Dadang menjelaskan seraya menempatkan bakul berisi biji kopi itu di samping istrinya.
Siti diam saja dan masih sibuk dengan aktifitasnya menyusun puntung kayu yang akan dibakar. Dia juga menyusun tungku agar pas ketika menempatkan wajan diatasnya nanti. Dadang yang melihat kayu bakarnya kurang berinisiatif untuk mengambil lagi dibelakang, sesuatu yang tak pernah dia lakukan dulu ketika istrinya tengah kesusahan.
" Siti. Bara kayaknya ngantuk . Buruan kamu kelonin gih. Mumpung belum rewel. Biar bude aja yang nyangrai kopinya. Lagian kamu seharusnya belum bisa jika harus kerja berat. Jahitan mu bisa lepas nanti.."
Ucapan bude membuat siti mengingat luka bekas operasinya. Memang terkadang masih sangat nyilu tapi sebisa mungkin dia menahannya. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga membuatnya abai dengan kondisi dirinya sendiri.
" Emang nggak kenapa -napa bude. Kan capek loh apalagi prosesnya nanti bakalan lama.." Siti merasa tak enak. bisa-bisanya dia lupa jika luka operasinya bisa saja lepas jahitan. Seharusnya tadi dia biarkan saja Emak dan Salsa yang mengolah biji kopi ini. Jadi dia tak perlu merepotkan bude yang tak terbiasa dengan pekerjaan yang terlihat mudah namun sulit jika dilakukan.
__ADS_1
" Nggak papa. Udah gih sana. kasian Bara. Sudah ngantuk berat!!"
Siti akhirnya beranjak dan mengendong Bara ke kamar setelah mencuci kaki dan tangan bocah itu. Sedangkan Dio kini malah berlari kearah rumah neneknya untuk menemui Salsa. meski baru berusia 4 tahun tapi Dio seolah mengerti dengan kesusahan Siti, jika anak seusianya masih sering ngintil orang tua, tapi berbeda dengan Dio yang lebih mandiri dan cenderung cuek pada ibu dan bapaknya.