
Satu minggu setelah suntik KB, kondisi perutku semakin parah dan tak membaik. Meski begitu aku tak mengatakan hal ini pada suamiku, berharap jika tamu bulanan yang akan datang adalah penyebabnya.
Aku tetap menjalani aktifitas seperti biasanya, dan kini lebih aktif lagi bersosmed , memperluas konsumen dan juga mencari agen terpercaya, untuk menjadi resellernya, Entah kenapa rasanya hari-hari terasa lebih nyaman dan damai sekarang..
Mungkin karena aku lebih enjoy dalam menanggapi masalah ekonomi yang kini kami alami.
Semalam bang Dadang berpesan jika hari ini dia akan menyelesaikan borongan nya dengan pak haji yang telah dikerjakannya selama dua Minggu.
Jadinya aku bangun lebih pagi dan memasak lauk agak banyak , karena mungkin mereka akan pulang sore demi mengejar target.
Bang Dadang yang biasanya bangun pukul tujuh kini telah terjaga dan menungguiku memasak, juga menawarkan bantuan sekiranya aku merasa kerepotan.
" Dek, jangan terlalu pedas ya, soalnya bang Randi kurang suka pedas.. "
Bang Dadang mengurangi cabe yang sudah ku siapkan untuk sambel. Randi merupakan teman kongsi bang Dadang.
Aku tak menanggapi, Dan melanjutkan masakan ku yang memang hampir selesai. Akhir-akhir ini selain merasa lebih enjoy, entah kenapa aku malah malas jika berbicara terlalu banyak entah pada siapapun itu.
" Kamu kenapa ? belakangan ini Abang lihat kamu kok jadi pendiam gitu dek, ada masalah sama anak-anak ?" Bang Dadang sedikit mendekat ke arahku ketika dia bertanya. Menunjukkan bahwa dirinya sedang khawatir.
" Nggak tahu bang. Mending Abang diam aja soalnya bikin aku tambah pusing..." Tiba-tiba aku kesal, dan membanting pelan panci masakanku.
" lah kok jadi marah sih dek ? Abang kan nanya baik-baik !!"
Aku memilih diam lagi-lagi tak ingin menanggapi, memilih menyiapkan wadah untuk bekal suamiku itu.
***
Sebagai seorang wanita yang pernah hamil, dan melahirkan tiga orang anak, aku tentu saja tahu rasanya hamil, makanya ketika bang Dadang pulang, aku langsung menyuruhnya membeli testpack , Seharian ini aku merasakan perutku kurang nyaman, dan juga merasa mual-mual disertai pusing.
__ADS_1
" Kenapa mesti beli alat begituan dek, kamu nggak KB. Intonasi suara bang Dadang telah meninggi membuatku merasa terpojokkan. Aku hanya butuh dukungan bukan penyalahan diri seperti ini.
" Aku KB ,dua Minggu yang lalu. Tapi siapa tahukan aku hamil ? makanya perlu alat itu..!!!"
Bang Dadang terdiam, dan meneliti tubuhku dari atas kebawah, kemudian dia akhirnya pergi juga setelah menerima uang dariku.
Aku menunggu bang Dadang dengan gelisah, aku benar-benar tak sabar ingin menggunakan alat tes kehamilan itu, memastikan bahwa kecurigaan ku tidaklah benar.
Aku tak bisa membayangkan jika aku benar-benar hamil lagi. Di kondisi ekonomi dan juga sikap bang Dadang yang masih abu-abu. Entah apa yang akan dikatakan emak dan para tetangga nantinya, Bara masih kecil untuk diberi adik lagi, apalagi di kondisi kehidupan kami yang stuk ditempat, tak ada peningkatan , malah tergolong menurun..
Uang yang Masih ada telah ku belikan berbagai baju, yang belum sempat terjual, dan sisanya malah aku bayar ke bank untuk beberapa bulan ke depan.
Aku langsung menghampiri bang Dadang yang baru saja sampai di teras, dengan segera merebut kantung kresek ya g kuyakini berisi testpack.
" Loh dek. Mau dites malam ini juga ? Bukannya dianjurkan saat pagi ya ?"
" kelamaan, lagian Abang beli dua kan. Aku bisa mati penasaran jika menundanya sampai besok.."
Aku meninggalkan bang Dadang menuju kamar mandi kami , menampung urin dan langsung menggunakan alat tes kehamilan tersebut . Setelah selesai aku masih juga was-was menunggu hasilnya, tapi sejam berlalu garis pada alat itu hanya ada satu dan tak menunjukkan tanda positif. Aku tersenyum lega. Namun begitu besok aku akan tetap melakukan tes ulang dan berharap mendapatkan hasil yang sama, pikirku mencoba menyemangati diri.
" Gimana hasilnya dek ?"
" Negatif bang."
Aku memamerkan alat itu didepan bang Dadang, senyum senang kini memenuhi bibirku.
"Kok bisa kamu berpikir kalau kamu hamil dek ? kamu sendiri bilang kalau kamu KB. ."
" Insting bang. aku kan pernah hamil dan gejala yang aku alami sekarang ini sangat mirip, Awas saja kalau aku beneran hamil , aku nggak akan maafkan kamu.." Aku malah mengancam bang Dadang karena kesal dengan ucapannya, yang masih seolah menyalahkanku.
__ADS_1
" Ehh dek, kok malah kamu marah ke aku ? Seharusnya kamu bisa jadi istri yang jujur, nggak akan kamu kebobolan kalau kamu nya rutin KB.."
" Pokoknya salah kamu bang , aku nggak mau tahu.." Aku tetap ngotot bagai anak kecil didepan lelaki bergelar suamiku itu.
" Terserah, bukannya hasilnya juga negatif itu ?"
Aku tak memperdulikan ucapan bang Dadang, dan memilih masuk ke kamar dan pura-pura tidur didekat dengan anak-anak. yang tumben tidur lebih awal malam ini. Karena biasanya mereka akan tidur pada jam sembilan keatas .
Ternyata bang Dadang juga menyusul dan menatap ke arahku dengan sendu, aku mendelik heran dan semakin dibuat tak percaya
" Nggak ada jatah buat malam ini bang, Aku capek dan mumet, bisa-bisa aku beneran hamil kalau terus didekati seperti ini setiap malam. ."
Bang Dadang menutup mulutku ketika Bara menggeliat seolah terusik akan suaraku yang memang kubiarkan sedikit keras, sengaja. Biar Bara bangun dan aku tak perlu dipaksa bang Dadang untuk melayaninya.
" Sudah diam, aku nggak akan maksa, jadi jangan bertingkah bodoh yang bisa membuat anak-anak terbangun lagi.."
Dia berucap pelan takut menganggu anak-anak.
" lagian kamu salah bang, sudah tahu aku lagi kesal, malah minta begituan. Kayak nggak pernah bosen aja, yang dipikirin soal bawah perut Mulu, Seharusnya..."
" Sudah ..Sudah..!!! Nggak usah memancing perdebatan. Aku mau keluar saja, cari angin. Daripada disini malah kena omel nggak jelas,, " Ucapan ku dipotong lagi,, Tapi jawabannya membuatku tambah kesal saja
" iya cari angin, sudah dapet nanti, malah aku yang jadi pawangnya, minta kerokin karena meriang. Kenapa sih selalu nggak betah kalau di rumah ? "
Bang Dadang malah terkekeh dengan protes ku, Dia menatapku dengan lekat masih di sertai senyuman.
" Kalau didekat kamu, bawaannya nafsu aja dek, pinginnya arah situ mulu, apalagi anak-anak sudah pada tidur begini, bawaannya syahdu dan hawa jadi semakin dingin.hehe berhubung kamu males, yang jadi pelarian ya nongkrong sambil main gitar sama bapak-bapak yang lain, tapi aku nggak akan pulang pagi kok, jadi kamu tenang saja.."
Aku membungkus tubuhku dengan selimut dan membiarkan bang Dadang berlalu tanpa kata . percuma jika dilarang, akan ada banyak alasan yang akan dijadikannya alibi, untuk keluar bergabung dengan sebayanya. Entah apa sebenarnya yang mereka bahas , hingga tak ada bosan-bosannya begadang setiap malam.
__ADS_1