Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Akhir bagi Dadang , Awal untuk Siti


__ADS_3

Dadang memandang kearah rumah yang dulu baru dihuninya dua tahun saja bersama Siti, rumah yang menjadi saksi betapa dia telah menyakiti ibu dari anak-anaknya itu. Entah kenapa langkah kakinya malah membawanya sampai disini ? .


Pohon mangga yang ditanam Siti saat baru saja menghuni rumah ini,nampak berbuah lebat, karena memang merupakan mangga Cangkokan. Jadi wajar jika cepat berbuah,meski memang tampak tak terurus.


Dadang menatap kunci yang sedari tadi telah berada ditangannya, dengan pelan dia membuka pintu untuk masuk kedalam.


Debu kini memenuhi rumah, karena sudah dua bulanan ini dia tidak datang kesini bersama Salsa untuk membersihkan , biasanya seminggu atau dua Minggu sekali dia akan datang, Jika dia merindukan sosok anak-anaknya.


Memikirkan anak -anak Dadang jadi ingat jika dia tak pernah lagi menghubungi ketiga putranya, setelah dia menikahi Sandra.


mengingat itu Dadang meraba seluruh saku miliknya, berharap menemukan hapenya, tapi dia ingat jika hapenya telah sepenuhnya dikuasai oleh Sandra ,semenjak mereka menikah.


Merenung, Dadang kini duduk dimeja lesehan yang dipenuhi debu.


Matanya kini terasa panas, Dia mengingat awal-awal pernikahannya dengan Siti . Sangat manis dan harmonis . Dan kini semenjak Siti menyerah dan memutuskan untuk pergi, Dadang merasa kebahagiaan semakin sulit saja untuk dia gapai.


Apakah ini yang dinamakan karma, apakah ini hukuman dari semua kekeliruannya, memperlakukan Istri sebaik dan sesempurna Siti dengan begitu buruk.


" Tuhan !!!! Aku ingin kembali lagi, saat dimana Siti masih menjadi istriku, aku janji tak akan pernah lagi menyakitinya , apapun alasannya.."


Dadang berucap lirih, menatap foto anak-anak yang ternyata masih terpasang rapi didinding. Memancing Dadang untuk meraihnya, dia bahkan membersihkan foto itu dengan bajunya tanpa sungkan dan jijik. Kemudian dipeluknya dengan erat, menyalurkan rasa rindu lewat pelukan yang semu. Dia terisak kuat, tak perduli jika ada yang mendengar suara tangisannya.


cukup lama, Dadang terlarut dalam kenangan manis akan anak-anaknya, tak lama adzan Maghrib terdengar menggema, mengingatkan Dadang jika dia selama ini tak pernah mengingat Tuhannya, dia bersimpuh, semakin dalam terisak, kenapa malah sesakit ini?


Suasana yang remang, memaksa Dadang berdiri mencari dimana letak sakeral lampu berada,


flipp


Lampu menyala, dengan pelan Dadang masuk kedalam kamar khusus lemari pakaian, melihat apakah di sana terdapat baju ganti untuknya.


Setelah ketemu, dia berjalan ke kamar mandi, menyalahkan keran air , membiarkannya membasahi bagian kamar mandi yang nampak kering, karena telah lama tak ditinggali.


" Assalammualaikum...!!!"


Suara salam menghentikan Dadang yang hendak mandi ?


Siapa yang bertamu di saat Maghrib begini ?


Ataukah Dadang tak menyadari jika waktu telah berlalu begitu cepat...?


"Wa'alaikumsalam...!!" Dadang menyahut dan berniat membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


" San, kamu ini nggak tahu aturan Maghrib-Maghrib malah datang kesini ?"


Samar-samar, Dadang mendengar suara seseorang diluar sebelum pintu sepenuhnya terbuka.


" Jadi beneran bang ?"Sandra menatap penampilan Dadang yang nampak kacau, pria itu menatapnya dengan ekspresi dingin.


" Apanya ? ngapain kesini !! Mau ribut lagi " Dadang menatap ketus, tak memperdulikan Fatma yang kini juga ada di sana.


Sandra menerobos masuk, menilik setiap sudut rumah. Dengan gaya bak pemilik, dia segera mengambil sapu, berniat membersihkan rumah ini.


" Kalau kamu beneran diusir sama Bapak, kita tinggal disini saja bang..!! Toh rumah ini juga masih hak kamu kan ?"


Sandra menjawab dengan tegas, membuat Dadang membuang muka

__ADS_1


" Aku bakalan maafkan kamu bang, kita mulai dari awal lagi. Berdua di rumah ini !!"


Dadang memilih duduk lagi dimeja , Tak mempersilahkan sang tamu tak diundang dia seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. lagi-lagi merenung. Dia menatap Sandra dan mulai memikirkan . Langkah apa yang akan dia ambil sekarang ?


Memulai semuanya dari awal lagi dengan Sandra atau menceraikan perempuan itu dan memilih hidup sendiri di rumah ini ?


"Kok diam bang, kamu masih marah sama aku ?" Sandra menatap Dadang lebih dekat, mengelus perutnya yang buncit. Dia mencoba meruntuhkan keteguhan dan emosi yang masih ada didalam diri suaminya


" Ingat anak kita bang, aku janji bakalan berubah demi kamu..Kita mulai semua dari awal ya bang "


" Sandra. Kamu nggak.lupa kan apa yang tante bilang ke kamu tadi ?" Fatma memandang Sandra yang berdiri dan masih betah memegang sapu, tanpa pergerakan sedikitpun. sementara dia memilih untuk tetap berdiri didekat pintu, yang terbuka.


" Aku benar kan Tante, jika kedua orang tuanya sudah tak mau lagi serumah dengan bang Dadang. Aku sebagai istrinya akan siap menerima suamiku dengan tangan terbuka..


Toh ini rumahmu kan Bang ? jadi sewajarnya kita memang tinggal disini sedari awal. Bukan malah serumah dengan Emak dan Bapak yang akhirnya membuat kita jadi berantem begini "


Fatma menarik Sandra kesisinya, mencubit pinggang Sandra dengan cubitan kecil,membuat perempuan hamil itu meringis


" Jika Dadang menamparmu didepan Tante sekarang, Tante pastikan , bahwa Tante akan diam saja . Dan malah akan mendukungnya untuk membungkam mulutmu yang lancang.."


Dadang terdiam, sebenarnya dia mendengar semua apa yang telah dibicarakan Sandra dan sang Tante. Tapi untuk membantah dan menunjukkan emosinya Dadang seolah telah kehilangan tenaga. Dia ingat jika terakhir dia makan adalah siang tadi, saat di sawah Emak.


" Belikan aku nasi , maka aku akan memaafkan mu..!!"


Suara Dadang pelan, namun tegas. membuat Sandra dan Fatma saling berpandangan,


" Mana duitnya bang ?" Sandra menengadahkan tangannya didepan Dadang, memasang wajah tanpa dosa.


sementara Dadang terdiam, tapi matanya menatap tajam kearah Sandra, bukankah baru kemarin dia memberi uang tiga ratus ribu ke istri nya itu, lantas kenapa masih meminta padanya, meski hanya sebatas nasi bungkus.


" Ini belikan untuk suamimu San. " Fatma mengalah, dan memberikan uang Lima puluh ribu ke tangan Sandra. Dia tahu jika Dadang menunjukkan wajah yang seolah mengatakan ' dimana uang yang kemarin aku berikan ' kearah Sandra. Dan Fatma bisa menebak jika uang itu sudah ludes tak tersisa. Mengingat Sandra memang suka jajan dan makan.


Sandra melenggang pergi ke warung makan yang baru saja buka sebulan lalu, didepan perempatan tepat sebelum rumah Dadang berada.


Fatma memandang kepergian Sandra dengan menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir, dia sama sekali tak menemukan kemiripan sedikitpun sang keponakan dengan mendiang kakaknya. Meski logikanya kadang meragukan , tapi Hatinya malah tak sejalan.


" Dang. Maafkan Sandra ya. Maaf juga karena tadi mbak nampar kamu. .!!"


Dadang menatap Fatma,


" Mungkin tuhan menyuruhku untuk lebih bersabar, Mbak..


Jika sebaik Siti saja tak cukup bagiku, mungkin sosok seperti Sandra membuatku untuk tetap banyak bersyukur !!"


Fatma memandang Dadang tak mengerti ,kenapa malah jawaban seperti ini yang didengarnya..


Apakah Dadang sedang putus asa sekarang ? kenapa Fatma merasa jika Sandra seolah jadi pilihan terakhir bagi Dadang. sebagai tempat mengadu segala keluh kesah, atau entah untuk apa ?


" Dang, sebaiknya kamu tidur di rumah mbak dulu. Besok rumah ini dibersihkan dulu supaya lebih nyaman untuk kalian tempati. .


Tapi, Apa benar kamu sudah diusir oleh Bapakmu Dang ?


Apakah ini menyangkut tindakan Kamu pada Sandra tadi..!!"


" Entahlah Mbak. Aku juga tak tahu, yang jelas aku sudah membuat mereka kecewa,."

__ADS_1


Sandra pulang dengan bersenandung riang, tanpa rasa berdosa sama sekali. Dadang memandang istrinya dengan tatapan heran, bisa -bisanya perempuan hamil itu bergerak lincah dan gesit seperti sekarang ? Apa memang ibunya benar jika morning sickness yang dikeluhkan Sandra adalah sebuah bualan belaka..!!


" Ini bang, nasinya pake rendang, sudah lama loh bang aku ngidam mau makan ini.."


Sandra berucap manja, Namun malah dipandang Fatma dengan tatapan heran


" Bukannya kamu kemarin beli juga San. pake jasa ojek segala buat nganterin ?"


Sandra melirik kearah Dadang, syukurlah suaminya itu kini tengah lahap memakan nasi yang tadi dibelinya. Gawat juga jika Dadang mendengar apa yang diucapkan sang Tante. Bisa-bisa dia tak diberi uang jajan lagi oleh Dadang..


***


Sementara itu , Siti kini sangat menikmati hobinya menghalu, apalagi sebentar lagi, buah dari kerja kerasnya akan dia petik.


Satu novel karangannya kini meledak di sebuah platform kepenulisan .Bahkan banyak penerbit yang memintanya untuk bergabung. Siti seolah benar-benar sedang di atas awan. Semua kesedihan yang dirasakannya dulu, kini berubah jadi rasa syukur untuk dirinya. karena bisa menuliskan tentang kisah tragis rumah tangganya. Bukan ingin menyebar aib, tapi mencoba memberikan pelajaran tentang hal-hal yang tak boleh ditinggalkan dalam hal berumah tangga.


Hari ini Siti sengaja mandi sebelum subuh, Dia sudah meminta Fian mengantarnya ke kantor bank terdekat. Ingin melihat Saldo yang selama ini berhasil dikumpulkannya.


Siti memang tak pernah lagi menggunakan kartu ATM miliknya karena mungkin tertinggal di rumah milik anak-anaknya.


Jadinya dia kini hanya menggunakan buku tabungan, untuk mengambil uang,


" Ti, Dadang ada telpon anak-anak lagi ?"


" Belum bude, emangnya kenapa ?" Siti melirik bude sembari tangannya membalik ayam goreng yang kini berada didalam wajan.


" Kayaknya Dio benar-benar rindu deh, sama Ayahnya ? Dia sekarang sering melamun, meski masih kecil, entah kenapa Bude merasa jika Dio menyimpan dendam mendalam pada Dadang, sang ayah ."


mendengar itu, Siti ikut merenung, Dio memang tak secerewet biasanya dalam minggu- minggu terakhir.


" Menurut bude gimana ? Apa aku harus ke sana , demi mempertemukan mereka pada sang Ayah ?"


Bude mendekati Siti


"Apa kamu nggak kenapa-napa, kalau ke sana Ti ? Kamu nggak trauma gitu ?"


" Nggak kok bude, lagian bang Dadang juga sudah beristri, jadi apa yang mesti Siti takutkan !!"


Siti memang telah mengatakan tentang mantan suaminya tersebut kepada sang Bude. Meski awalnya tak percaya, tapi setelah melihat pesan yang dikirim Salsa, kini Dewi akhirnya Yakin jika itu adalah kebenaran. jika sang mantan menantu, kini telah menjalani biduk rumah tangga bersama wanita lain.


.


" Gimana kalau kamu ajak Fian ke sana nya Ti, biar nggak usah nginep di sana !!"


" Apa nggak apa bude, nanti malah ngerepotin Fian lagi.."


Siti berucap pelan, meski hubungannya dengan Fian kini semakin dekat, tapi dia masih sungkan terlalu mengakrabkan diri, takut jika Fian salah sangka, dan merasa diberi harapan palsu. Karena sejujurnya Siti belum bisa membuka hati untuk lelaki.


mendengar ucapan Siti, membuat bude berpikir


" Hari ini jadi kan kalian ke bank ?


Nanti biar bude aja yang ngomongin soal ini ke Fian, kasihan anak-anak jika mereka terlalu lama menahan rindu... oke "


Siti mengangguk pasrah dan melanjutkan masakan, pada menu selanjutnya.

__ADS_1


Dia bersyukur tak lagi menjalani hidup penuh drama sekarang.


Meski dia mesti menjadi singleparent bagi ketiga buah hatinya. Apalagi kini dia semakin dekat dengan kesuksesan. Meski hanya akan menjadi penulis dibalik sebuah nama pena..!!!


__ADS_2