
Siti mengiringi brangkar yang membawa Dio dengan air mata berderai, kondisi Dio sekarang sudah tak sadarkan diri. Semakin membuat luka dihatinya menganga, karena penyesalan akan sikapnya pada Dio sore kemarin.
" Maaf kan Ibu Nak..!!" Mata itu hanya mengawasi saat Dio masuk keruang PICU..
Tubuhnya bergetar, dia tak menyangka jika tindakan refleksnya bisa menjadi hal fatal bagi sang anak.
Siti menunggu dengan harap-harap cemas, satu menit keberadaan Dio di ruangan itu serasa satu hari baginya. Dia sekarang malah mondar-mandir sambil mengigit kuku jarinya.
" Mbak..!!! " Suara itu mengalihkan fokus Siti.
Ternyata itu adalah Salsa, yang kini menatap kearahnya dengan tatapan yang juga penuh dengan rasa cemas.
Dengan pelan, Salsa memeluk Siti. Mencoba sedikit menenangkan wajah tegang ibu dari keponakannya itu.
" Gimana Dio ?"
Siti menggeleng sebagai jawaban. Dia tak sanggup untuk bicara apapun sekarang. Bayangan bayi mungil perempuannya yang meninggal tiba-tiba hadir di pelupuk matanya, membuat dia semakin tersayat. Dia takut jika harus kehilangan lagi.
Tak lama berselang Dadang, emak dan Bapak juga datang. Rupanya Salsa bisa tiba lebih dulu karena berangkat terpisah dan memang lokasinya dekat dengan rumah sakit umum daerah ini.
" Kenapa Dio bisa sakit ?" Dadang memberondong Siti dengan pertanyaan . Namun tak ditanggapi oleh mantan istrinya itu. Tatapan mata Siti kini malah terlihat kosong.
" Siti ! aku....."
" Dang !! Jika kamu ingin bikin keributan jangan disini " Bapak menyela, dan menatap tajam Dadang. Tak mengerti juga kenapa anaknya itu malah memancing keributan.
" Pak.. aku hanya bertanya, apa salahnya coba menjawab..!!"
" Dang !! Kami wanita yang bergelar sebagai ibu, akan hancur hatinya jika ada anak kami yang sakit. Jadi jangan tambah beban Siti dengan pertanyaan mu. Semua pasti ada waktunya !"
Dadang mencelos, kenapa sekarang dia malah dipojokkan. Tak tahukan kedua orang tuanya jika dia sekarang tengah khawatir akan keselamatan Dio.
Kehadiran bude Dewi, memancing reaksi Siti. Dia menatap budenya dengan wajah bingung " Anak-anak sama siapa bude ?"
" Sama Rama dan Aini, Ti !! Bude kesini diantar Fian."
Siti mengangguk, dan dia juga melihat Fian mengekor budenya.
" Gimana Dio ?" Bude bertanya cepat.
" Masih ditangani Dokter, bude..!!"
Tak lama pintu ruangan itu terbuka, seorang pria berpakaian dokter tampak keluar, dengan cepat Siti, bude dan seluruh keluarga Dadang mengerumuni sang dokter.
__ADS_1
" Gimana anak saya Dok ?" Dadang dengan cepat bertanya, diangguki oleh Siti.
" Anak Bapak terkena tipes, dan harus dirawat inap. Dia juga seperti trauma akan sesuatu, hingga sedari tadi mengigau..!!"
Siti lemas, Dio sampai Trauma !! Ini karena ulahnya.
Jika hal buruk yang lebih dari ini terjadi pada Dio, maka dia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
" Tipes Dok ? Kalau boleh tau itu disebabkan karena apa ya Dok ?"
Dadang bertanya namun matanya melirik Siti, seolah menyalahkan mantan istrinya yang merupakan ibu dari Dio.
" Tipes biasanya disebabkan karena anak mengkonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi bakteri salmonella typhi. Untungnya kondisi anak bapak cepat ditangani dan masih pada tahap awal yang belum terlalu parah..
Tapi tetap harus dirawat, supaya bisa sembuh maksimal..!!"
" Oh yasudah Dok. Kami ikut kata dokter saja, jika harus dirawat..!!" Dadang menjawab bijak, sedangkan Dokter itu tersenyum dan menunduk untuk pamit undur diri.
" Emangnya kamu kasih makan apa anakku ? Kok bisa sampai sakit begini ?"
Dadang langsung saja ngegas, saat Dokter itu baru beberapa meter, melangkah pergi.
Siti diam saja, dia malas menanggapi Dadang yang bicara kasar menyalahkan dirinya.
" Apa pak, aku benar kan ! kenapa bisa Dio sampai seperti ini. Jika begini, lebih baik jika Dio diberikan ke Agung saja, setidaknya istrinya Agung itu Dokter. Pasti lebih memperhatikan apa saja yang di makan anak-anak..!" Dadang bicara tanpa dosa tak perduli saat Siti kini menatapnya dengan mata nyalang penuh amarah.
" Oh..Jadi kamu lebih suka melempar tanggung jawab pada adikmu. Aku pikir tadinya kamu mau mengatakan jika akan mengasuh Dio. Tapi ..."
Siti tersenyum sinis.
" Kamu masih orang yang sama bang !!! kurang tanggung jawab dan simpati.. Dan jangan tanya aku kasih makan apa untuk anakku ? Yang jelas dia memakan makanan yang lebih baik daripada saat kami masih bersama denganmu..!!!"
Siti hampir berteriak, namun Bude Dewi menyadarkannya, karena mereka sedang berada di rumah sakit sekarang.
Siti segera mengikuti Dio yang kini dibawa suster keruang perawatan khusus anak. Dio ternyata sudah sadar, dan memandang wajah Dadang sang ayah dengan tersenyum penuh
" Ayah.. Dio kangen !!" Ucapnya seraya memandang Dadang yang mempercepat langkahnya mengikuti para suster.
" Ayah juga kangen sayang !!! kamu mesti sehat dan kuat ya. supaya ikut ayah..!!" Dio diam, meski tangannya menggenggam jemari Dadang namun matanya melirik ke sosok ibunya, Siti. Yang kini tersenyum meski dengan wajah penuh air mata.
****
Kini semua berkumpul diruang perawatan Dio, Siti sengaja memilih kamar VIP, agar dia lebih leluasa mengawasi sang anak.
__ADS_1
" Apa nggak kemahalan Ti, Dio dirawat disini ?" Emak bertanya dengan hati-hati. Takut menyinggung mantan menantunya itu.
" Enggak kok mak !! Insya Allah uangnya ada .." Siti menjawab sambil tersenyum, kemudian memandang wajah damai Dio yang kini telah tertidur lelap, sambil menggenggam erat tangan ayahnya, Dadang.
Sementara Dadang, mendengar ucapan Siti akan komentar emak. kini tampak menunduk, dia merasa jika dia tak ada harga dirinya. Jangan kan membiayai biaya rumah sakit Dio, untuk beli rokok saja dia minta sama emak saat akan berangkat kesini tadi.
" Nanti Bapak akan bantu sedikit Ti !!" Bapak bicara sembari ikut menatap kearah Dio.
" Assalammualaikum ...!!"
Suara salam terdengar, dan munculah sosok Agung dan istrinya Elis dari balik pintu.
" Mbak !!" Elis mendekati Siti memeluk sosok itu dengan penuh rasa rindu. " Dio kenapa ?"
" Dio kena tipes, El !! kata dokternya harus dirawat.."
Elis mendekati brangkar Dio dan mulai menggunakan keahliannya sebagai dokter, karena Elis merupakan seorang dokter anak.
Elis menganguk-anggukan kepalanya " Memang mesti dirawat ini mbak..Insya Allah Dio bakalan baik-baik saja..!"
Siti tersenyum, dia mengucapkan terima kasih melalui gerakan bibirnya.
Agung melihat Elis dengan binar bahagia, dia tak menyangka jika keputusannya pamit pada Elis tadi akan membuat istrinya itu tampak normal kembali.
Mungkin karena kedekatannya dengan Siti dan juga rasa sayangnya pada Dio. Membuat Elis berhasil mengalahkan sedih dan rasa depresinya.
Entah kenapa dia malah menyesal karena telah membuat kesal Siti akan permintaannya tempo hari.
" Kok kalian kesini ?"
Siti bertanya heran, " Kan jaraknya cukup jauh !!"
Elis tertawa " Agung nggak kasih tahu mbak. Kalau aku dipindah tugaskan ke rumah sakit ini. Beberapa Minggu ini aku kurang sehat, jadi aku memang sedang cuti.."
Siti dapat melihat dengan jelas raut kesedihan yang tersirat di wajah Elis, meski perempuan itu berusaha menutupinya dengan tersenyum..
" Aku turut prihatin ya El..!! "
Elis semakin mengembangkan senyumnya, dan memilih memeluk Siti. " Sebaiknya mbak mandi dulu gih.. Ada aroma-aroma nggak enak nih hehehhe"
Siti tahu Elis tengah mengalihkan topik pembicaraan . Namun ucapan Elis berhasil membuat Siti tersenyum malu. Terlebih matanya kini malah beradu pandang dengan mata tajam milik Fian. Dia memang belum mandi, apalagi dia sudah begadang semalaman tadi.
" Ayo aku antar Ti, kalau mau ganti baju sekalian jemput anak-anak..!!" Fian ikut bersuara, menawarkan diri.
__ADS_1
" Iya mbak. Jemput saja Bara sama Rama. Biar Salsa yang jagain mereka, !!" Salsa ikut berkomentar dan menatap penuh harap pada Siti. Dia kangen dengan sigemoy Bara dan si ganteng Rama. Dua ponakan laki-lakinya itu...