
Acara syukuran malam ini berjalan dengan lancar, aku sengaja seolah tak tahu akan obrolan emak dan bude, Meski bagaimanapun aku harus bisa memposisikan diri ditengah kedua wanita yang telah menjadi sosok ibu bagiku sekarang.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mataku sebenarnya telah mengantuk sedari tadi. Namun aku tak enak jika harus tidur lebih dulu, terlebih disini akulah bintang utamanya, sehingga acara makan bersama ini diadakan.
Setelah acara penuh kehangatan dan canda tawa malam ini selesai. Tubuhku kini malah terasa remuk , ketika dengan sangat semangat aku menidurkan diri di ranjang kami.
Entah kenapa aku seolah sangat lelah, padahal aku tak dibiarkan oleh bude maupun emak untuk melakukan pekerjaan yang berat-berat, Beruntung mereka tak langsung menanyaiku Soal usulan bude dan juga pendapat emak, ketika aku bergabung di dapur. Aku tak akan tahu akan menjawab seperti apa, jika sampai mereka mendesak ku untuk memberikan keputusan .
" Bang.. Apa menurutmu nggak papa kalau aku menolak usulan bude. Karena sepertinya emak juga nggak rela kalau aku harus tinggal sama bude walau untuk sementara.. !" Aku yang tak tahan memendam persoalan ini sendirian , akhirnya memilih membicarakan ini dengan bang Dadang selaku suami, kami memang masuk ke kamar secara bersamaan.
" Terserah kamu sih dek. kalau menurut abang. karena emak juga sudah cerita masalah ini tadi sama abang. Dan semuanya balik lagi ke kamu. Emak juga nggak akan tersinggung jika kita memilih tinggal dengan bude untuk sementara, kata emak untuk sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu dan bayi kita..."
Aku termenung, Memang sejatinya keputusan berada di tanganku. " Kalau begitu, gimana kalau pas lahiran aja kita ke rumah bude, untuk sekarang biarlah kita disini dulu, pekerjaan kamu kan masih sangat banyak di kebun kita.."
" sepertinya cukup adil. Yang terpenting adalah rasa nyaman, jikapun nanti kamu merasa nggak nyaman disini, kamu bilang aja ke abang ya dek. Jangan sungkan .."
Suamiku itu kini mulai menciumi ku membuatku terkikik geli, aku paham jika dia sedang menginginkan ku dalam dekapannya. Tapi.
" Bang, untuk malam ini saja, nggak kenapa-napa kan jika aku nolak, soalnya aku bener-bener ngerasa capek sekarang.."
Aku mencium bibir suamiku itu berharap dia bisa memaklumi keadaanku.
Aku tahu jika dia sedikit kesal, tapi dia hanya diam dan tak mengatakan apapun. Kemudian Yang kulihat selanjutnya adalah hal yang membuatku mencelos, lelakiku itu malah memunggungi ku, dalam pernikahan kami yang telah lebih dari lima bulan, inilah kali pertama bang Dadang melakukan hal ini saat kami tidur. Apakah sebesar itu , nafsu birahi suamiku itu. Hingga tak dapat memaklumi istrinya yang sedang merasa capek.
****
Pagi menyapa, jika biasanya hari nampak cerah namun tidak untuk hari ini. Buktinya sedari tadi gerimis telah turun membasahi bumi. masih pukul lima subuh, meski udara terasa dingin menusuk tulang , namun aku segera beranjak, kulihat suamiku tercinta nampaknya masih betah pada posisi tidurnya semalam. Semarah itukah dia ...?
jika biasanya aku akan keramas pagi, tapi hari ini aku memilih untuk tak melakukannya, karena memang hanya semalam saja kami tidak melakukan hubungan suami istri. Sampai di dapur kulihat bude dan emak telah sibuk dengan aneka sayur dan bumbu untuk memasak.
" Nggak mandi kamu Ti..?"
__ADS_1
Suara emak mengagetkanku yang tengah menyeduh teh manis tepat disampingnya ..
" Dingin banget Mak, libur dulu mandi paginya hehhe" Aku tertawa canggung melirik bude yang ku yakin heran dengan pertanyaan emak.
" Siti mah, emang males kalau mandi pagi besan, apalagi keramas. Bisa seminggu cuman dua kali. ."
" Oh ya. Kalau disini, dia rajin loh mandi pagi. katanya sudah kebiasaan."
mati aku, kenapa pula emak buka cerita tentang aku yang keramas setiap hari.
" Jadi kalian berhubungan tiap malam toh nak..?" Bude menelisik ke dalam mataku mencari kejujuran.
Aku menampilkan senyum hambar, jujur saja aku merasa bingung sekaligus malu sekarang. Sifat bude yang ceplas-ceplos memang kadang meresahkan.
" Nggak juga sih bude..hheehe"
Emak mendekat ke arahku,
Aku mengangguk meski wajahku kini terasa panas, aku benar-benar terdesak sekarang
" tapi semalam nggak kok mak. Makanya Siti nggak keramas ee.."
Aku tersadar dan menutup mulutku, entah bagaimana aku bisa keceplosan didepan emak yang merupakan mertuaku..
Selesai kalimat pengakuan dari mulut ku Bang Dadang malah datang dengan muka bantalnya dia segera masuk ke kamar mandi.
Sementara emak dan bude kini malah kompak melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda karena hadir ku tadi.
Aku benar-benar malu untuk sekedar melirik kearah keduanya.
" Masak apa mak. " Suara bariton bang Dadang membuatku mengangkat wajah,
__ADS_1
Suamiku itu sekarang malah terlihat mencicipi masakan emak yang telah berada didalam wajan.
"Emak mau bicara, penting !!"
Emak mematikan kompor dan menyuruh bang Dadang duduk di kursi makan yang ada di sebelahku.
" Emak nggak suka basa -basi ya Dang. Emak cuman mau memberi kamu masukan soal hubungan badan dengan isteri mu !"
Bang Dadang melirikku yang kebetulan memang tengah menatap kearahnya." Kamu ngadu dek ke emak ?"
hah, kenapa malah aku yang dituduh sih ?
"Ngadu apa ?"
" Ya soal semalem Mak, Siti nggak mau melayaniku. makanya aku ngambek. Itukan tugas dia sebagai istri. Tapi keinginanku malah ditolak dengan alasan capek.."
" Jadi kalian lagi marahan karena penolakan Siti akan permintaanmu ?"
" Iya . ." Bang Dadang diam dan melirik lagi ke arahku kini wajahnya menampilkan raut bingung " bukannya Siti sudah ngadu sama Emak soal itu.." Kini suara itu terdengar pelan dan ragu.
" Siapa bilang kalau Siti mengadukan kelakuan kamu..!!
Dia cuma keceplosan bilang jika dia keramas setiap pagi karena ulah mu, Melayani suami memang merupakan hal wajib bagi istri apalagi soal nafkah batin. Tapi Emak mau ngasih kamu tahu sesuatu. Istrimu ini sedang hamil, dan diusia kehamilan ini janinnya rentan keguguran. Apalagi jika terlalu sering melakukan hubungan suami istri. Emak nggak larang kamu untuk melakukannya tapi tolong kurangi intensitasnya agar cucu emak sehat selamat sampai lahir ke dunia nantinya..".
" Tapi dokter nggak bilang kok mak, kalau soal ini !!" Nada suara itu kentara sekali menunjukkan ketidakpuasan dan tak terima akan usul emak.
" Ya udah nanti, kamu tanya ke dokter langsung dan dengar baik-baik penjelasan dokter itu.."
Bude yang sedari tadi terdiam akhirnya buka suara. Seolah sadar akan keberadaan bude bang Dadang menunduk dan mengangguk beberapa kali sebagai tanda setuju.
Dari bawah , tangan bang Dadang meraih tanganku. Dia menatapku dalam " Maafkan tingkah Abang yang kekanak-kanakan semalam ya dek.. Abang janji akan berusaha menahan nafsu demi anak yang ada di rahim kamu.."
__ADS_1
Aku kini malah tersipu didepan emak dan bude, karena tanpa malu bang Dadang mengecup tanganku dan mengucapkan kata manis penuh keromantisan ..