Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Bude!!! Aku jatuh CINTA...


__ADS_3

Cukup lama tak ada lagi pembicaraan antara aku dan ibunya Dadang . Sepertinya dugaan ku benar , jika ibunya ini tak menyukaiku. Caranya bicara dan memperlakukanku seolah menggambarkan ketidak suka-annya padaku. membayangkan akan menjadi istri Dadang dengan sosok mertua yang seperti ini, rasanya aku mau menyerah dan mengaku kalah sebelum berperang. Tapi perkataan bude mengingatkan ku . Bude benar!!! aku harus menerima bagaimanapun perlakuan keluarga suamiku nantinya. Apakah aku harus mengusulkan ke Dadang agar kami tak serumah dengan keluarganya saat kami menikah nanti ? Sepertinya itu ide yang tak terlalu buruk.


Suara motor Dadang menyentak ku dari lamunan. Dan rupanya Emak sudah tak lagi berada disini bersamaku..Kemana perginya beliau ? Apakah aku tadi mengacuhkan emak dan membuatnya pergi begitu saja, atau aku bahkan telah diberitahu emak dia mau kemana. Tapi aku malah tak mendengarnya,,


" Loh ..Emak mana Ti..?"


Suara Dadang semakin membuatku tergagap . bingung harus menjawab Apa .


Suara langkah mendekat emak datang dengan sebuah kotak bekal yang masih tampak kosong,


" Kok Emak dengar kalian manggil nama sih ? seharusnya kalian bisa punya panggilan yang lebih sopan. Maaf ya Ti. tadi emak ninggalin kamu , tetiba emak ingat kalau kotak bekal buat Bapak masih di rumah tetangga. Kemarin dipake buat ngasih bubur soalnya.."


Kehadiran emak menyelamatkanku, namun membuatku kikuk dengan ucapan dan usulannya. Panggilan seperti apa yang Emak maksud??


Aku menatap kearah Dadang yang juga tengah menatap ke arahku.


" Usia Dadang kan lebih tua satu tahun dari kamu, jadi kamu harusnya panggil Dadang dengan sebutan Abang.."


Aku tersenyum. Geli sendiri jika harus memanggil Dadang dengan sebutan 'Abang' Rasanya aneh dan membuat lidah terasa terlilit , ahhhhh...


Apakah aku dan Dadang akan benar-benar menikah ? Tapi kenapa aku merasa jika sikap emak berubah jika didepan Dadang. Sedangkan tadi beliau berhasil membuatku sport jantung berkali-kali.


" Ahh emak . Cuma panggilan ini. Kok dipermasalahkan. Lagian kita seangkatan meski beda usia . Iyakan DEK!!!"


Kalau tidak ingat ada emak disini, sudah ku pelintir telinga lelaki itu. Untungnya kini emak malah menertawakan ucapan Dadang dan menunjukan jempolnya tanda mendukung.


" Iyah Abang...!!!!" Mau tak mau aku ikuti permainan Dadang kemudian kami tertawa bersama.


" Dang ..! Emak mau ke kebun karet yah..! Soalnya tadi Bapak minta di susulin, sekalian Mau nganterin makan siang Bapak..." Emak kini malah pamit setelah masuk sebentar mengisi kotak bekal yang dibawanya tadi.


" iyah mak. mau Dadang antar ?" Dadang berdiri bermaksud mengantar emak.

__ADS_1


" Nggak usah Dang, kan dekat..!!


Lagian nggak enak sama Siti kalau kamu tinggal sendirian di rumah..Mak pamit ya , Assalamu'alaikum...!!"


"Wa'ala iaikum salam..Hati -hati mak.."


" Iyahh.. jangan terlalu sore nganterin Siti ya Dang..."


" Iyahh Mak .. aman!!!!"


Sosok emak semakin terlihat menjauh dan menghilang ditikungan..


" Emang kebunnya dekat Dang "


Aku kini bertanya, Emang sedekat apa hingga Emak menolak untuk diantar,


" Dekat kok, sekitar 3 hektar dari jalan raya. .Biasanya memang emak jalan kaki, untunglah emak pengertian..."


" Jadi yang tadi basa-basi doang Dang !! Sama ibu sendiri juga.." Tawaku pecah akan kejujuran Dadang. " tapi Emak orangnya horor ya, bikin aku merasa kayak lagi disidang tadi ."


" Begitu ya.. Mudah-mudah semuanya dimudahkan Ya. Untuk kita.." aku bergumam pelan, entah kenapa kalimat itu yang akhirnya malah keluar dari bibirku.


Dadang tiba-tiba menghadap kearah ku , karena posisi kami memang bersisian sedari tadi . tangannya kini menggenggam erat kedua tanganku mendekapnya di dada. Mata kami akhirnya bertemu, Mata itu terasa tajam menusuk netraku, aku mencoba menetralkan degup jantung yang entah kenapa menggila dan malah berakhir dengan rasa panas menjalar di pipi. Terjadi lagi.


" Aku semakin yakin. Untuk menjadikanmu istriku. Dan aku sekarang juga yakin jika kamu menginginkan hal yang sama untuk hubungan kita kedepannya . .."


ku palingkan wajahku ke arah lain. Kenapa Dadang membuatku deg-degan setengah mati begini. Apakah aku benar-benar jatuh cinta pada lelaki ini sekarang.


" Jangan kepedean , emangnya aku sudah jawab iyah !! enggak kan . kamu aja yang ngasal , pake bilang ke Emak dan keluargamu kalau aku calon istrimu.. " sebisa mungkin aku mencoba menolak tuduhan Dadang.


" Jadi ..? Iya atau enggak nih!!"

__ADS_1


Dadang semakin mendekat ,jika terus seperti ini akan bahaya untuk kesehatan jantungku


" Jangan dekat-dekat. Bukan muhrim ..."


Aku melepaskan tangannya dan mendorong Dadang sedikit menjauh. .


Dadang tertawa, kini dia kembali duduk disampingku. menghadap kearah meja didepan kami.." makanya mau aku halalkan , biar sah. Dan bisa lebih intim dari ini..."


Dadang menoleh ke arahku lagi.sembari menaik-turunkan alisnya..


" Ishhh....mesummmm.!!!..."


Aku berlari keluar, sepertinya ini akan jadi kebiasaan ku saat aku malu.


"Heiii mau kemana ??"


Dadang menghadang langkahku yang masih nampak berjalan cepat kearah halaman rumahnya.


" Maaf kalau ada kata yang salah. Lagian kamu aneh digoda dikit malah kabur, kenapa sih? Apa aku membuatmu takut !! Ayo masuk, nggak enak dilihat tetangga.."


Aku menurut tanpa menjawab Dadang, entah bagaimana wajahku sekarang. Aku benar-benar malu dan rasanya tak sanggup lagi berhadapan dengan Dadang. Kenapa aku jadi seperti anak kecil begini ? padahal dulu saat aku pacaran dengan Angga aku tak selugu dan senaif ini ..


Bahkan kami sering berciuman. Tapi kenapa jika dengan Dadang aku malah malu walau sekedar digodanya lewat kata-kata...


" Maaf yah kalau ucapan-ucapan ku membuatmu nggak nyaman ."


Dadang kini memilih duduk di depanku, posisi kami berhadapan namun ada meja yang berada ditengah-tengah kami, sebagai pembatas biar aman hhehe


" Aku yang seharusnya minta maaf. jujur saja rasanya berbeda sekarang. Aku merasa asing dengan perasaanku terhadap kamu. aku malu Dang. Tapi aku nggak bisa jawab, jika ditanya alasannya kenapa. Ada semacam aliran listrik yang mengalir di tubuhku dan itu membuatku agak takut makanya aku malah lari..!!"


Dadang tersenyum, " Itu artinya kamu jatuh cinta sama aku .. Terima kasih telah mempercayakan hati mu untukku. aku janji akan jaga hati kamu, dan sebagai balasannya aku juga akan jaga hati aku utuh hanya buat kamu..."

__ADS_1


Lelaki itu kini memberiku sebuah simbol hati dengan mengunakan tangannya.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman . bagaimanapun juga aku belum siap jika harus merasakan gejolak tak terkendali dari jantungku akibat dari perbuatan pemuda yang sejujurnya telah benar-benar menguasai hatiku ini. Bude..Aku jatuh cinta !!!!


__ADS_2