
Siti kini tak tahu harus bereaksi seperti apa ! Baginya pernyataan yang diucapkan Bude seolah tak memberi celah dan mengizinkannya untuk membantah. Tapi bagaimana dengan luka dihatinya, haruskah ia bertahan sekali lagi...?
" Bude... a- ku...!"
" Pikirkan apa yang jadi permintaan bude Ti..! Bude mohon . Bude akan memberimu waktu untuk memikirkan semuanya. Apapun keputusanmu bude harap kamu tidak akan mengecewakan bude.."
Siti memeluk bude Dewi dengan erat. Ini adalah pilihan sulit, pasalnya budenya tak pernah meminta hal apapun selama ini. Tapi sekarang ? Entah keputusan apa yang akan diambilnya nanti. Yang jelas, dia benar-benar dilema.
Sementara diruang tamu ,Dadang dan anggota keluarga lainnya mendengar semua keluh kesah Siti. Dia tidak menyangka dibalik sikap diam dan mengalah Siti selama ini . Perempuan itu menyimpan luka yang sangat dalam dihatinya. Dadang pikir dialah yang selalu benar selama ini,tapi mendengar apa yang jadi isi hati Siti selama hidup berumah tangga dengannya , membuatnya benar-benar merasa jadi lelaki paling pengecut dan tak punya hati.
Nurdin, Lastri dan Salsa melihat ke arah Dadang. Meski menunduk, mereka tahu jika Bapak dari tiga anak tersebut tengah menangis.
Lastri juga sebenarnya merasa sangat bersalah. Karena selama ini telah membiarkan Dadang membuka aib rumah tangganya kepada dirinya. Mungkin inilah juga yang menjadi sebab dia berlaku tak adil pada Siti. Karena terlampau sering mendengar hal buruk dari Dadang tentang menantunya itu, Lastri jadi tak menghargai keberadaan dan perasaan Siti sama sekali. Sedangkan Siti, menantunya. masih tetap menjaga nama baik Dadang didepan budenya. Entah dia harus bersikap seperti apa jika nanti Dewi tahu jika dia telah memperlakukan Siti dengan tak adil, selama ini.
Di kamar. Setelah hening beberapa saat, Siti memutuskan untuk membiarkan budenya istirahat sekaligus dia ingin menata kembali hatinya yang baru saja dipatahkan oleh permintaan sang Bude. keteguhan hatinya sekali lagi diuji dengan orang yang tak terpikirkan olehnya sama sekali.
Siti kini keluar dari kamar tempat budenya menginap. Diruang tamu dia menemukan jika mertua, suami serta iparnya memandang kearahnya dengan tatapan yang tak bisa Siti artikan.
__ADS_1
Siti hanya berlalu dan tak mengucapkan satu katapun. Biarlah jikapun keluarga Dadang mendengar semua isi hatinya yang tadi diutarakan langsung didepan budenya. Sudah terlampau lama dia menyimpan semua lukanya yang bisa saja menjadi penyakit hati dikemudian hari jika terus tersimpan rapat tanpa pelampiasan.
Semalaman ini Siti tak bisa memejamkan mata. Pikirannya benar-benar kacau. Jika dia bertahan maka sakit hatinya akan semakin dalam, dia memang bukan pendendam, hanya saja Siti Dia adalah wanita yang selalu mengingat. Apalagi jika ada sedikit saja yang mengganjal dihatinya. Disisi lain, bude Dewi malah memintanya untuk tetap bertahan disisi Dadang demi anak-anak, Baktinya pada budenya itu sangat besar
Mengingat hanya bude Dewi lah yang merawatnya sedari kecil.
****
" Kamu udah ambil keputusan Ti ? "
Siti yang lama nampak terdiam kini malah mengigit bibirnya, baginya pertanyaan ini masih terlalu cepat.
" Mertuamu baik Ti. Aneh saja jika kamu mengulur waktu dan malah tinggal disini. Padahal kan kalian punya rumah sendiri. Bukan bude memaksa. Tapi semakin lama kamu berpikir akan semakin banyak pengaruh yang bisa ditimbulkan oleh orang-orang di sekelilingmu. Apalagi bude sudah hampir tiga hari berada disini. Bude sungkan dengan semua kebaikan mereka."
Siti membenarkan ucapan budenya " Tapi bude. Aku..."
Siti malaj menangis, entah kenapa ia seolah sedang dihadapkan dengan pilihan hidup dan mati. Siti menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan
__ADS_1
" Aku akan memberi kesempatan Bang Dadang sekali lagi. Tapi ..! Aku mau ada perjanjian di atas kertas, hitam di atas putih Bilamana dilanggar maka aku berhak mengajukan cerai dan aku harap bude tak lagi menempatkan ku pada pilihan sulit seperti ini. Jika dulu aku bertahan karena hati tapi kini aku akan bertahan karena sebuah kekuatan hukum.."
Dewi memandang wajah Siti. Sejujurnya dia kagum dengan pribadi keponakannya itu, meski hanya lulusan SMA. Tapi Siti bahkan lebih bisa menjaga sikap dan prilakunya. Terlebih kepada orang yang lebih tua.
Dia sebenarnya tahu jika Siti tak akan membantah keinginannya. Tapi tetap saja bukan berarti Dewi kejam dan tak memikirkan perasaan Siti. Dia hanya melihat jika Dadang tampaknya bisa berubah. Apalagi selama ini tak ada hal jelek apapun yang ditunjukan Dadang jika bertemu ataupun jika menantunya itu berkunjung bahkan menginap kerumahnya yang berada di kota sebelah.
" Bude sendiri yang akan membuat surat pernyataan dan perjanjian untuk kalian. Maafkan bude, bude memang tak merasakan apa yang selama ini kamu rasakan dalam menjalani rumah tangga bersama Dadang. Tapi pernikahan itu adalah sebuah komitmen Siti. Kamu ingat bagaimana kamu meyakinkan bude jika Dadang adalah Lelaki yang baik. Lagipula Dadang adalah lelaki pilihan kamu sendiri. Jika sekarang bude membiarkanmu tanpa nasehat. Bisa jadi suatu hari nanti kamu juga akan melakukan hal yang sama pada masalah yang kamu hadapi" Dewi menyuruh Siti untuk duduk didepannya.
" Kamu punya anak-anak sebagai kekuatan untukmu. Bude janji jika sekali lagi Dadang menyakitimu maka bude sendiri yang akan menjemputmu pulang ke rumah bude.."
Siti meremas tangannya dan juga mengangguk, kemudian Dua orang perempuan beda usia itu berpelukan dalam tangis.
" Bude akan pulang besok. Lusa merupakan waktunya panen sawit ..!" Bude Dewi melepaskan pelukannya. Memandang tepat ke iris coklat milik Siti.
Meski janda budenya memang tak kekurangan kalau soal uang, karena budenya itu mempunyai 5 Hektar kebun sawit peninggalan suaminya. Soal Siti yang setiap bulan mengirimi bude uang, itu karena dia ingin jika bude Dewi tak khawatir dan malah berpikir ia hidup susah bersama Dadang. Walaupun kenyataanya adalah uang itu adalah uang tabungan Siti sendiri. Yang dia kumpulkan jika panen kopi tiba dan juga merupakan hasil dari kegiatannya berjualan online.
Baginya cukup budenya tahu jika ia hidup baik bersama Dadang. Jikapun sekarang semua aib rumah tangganya akhirnya ia buka sendiri didepan bude.
__ADS_1